Lifestyle

Serunya Belanja Online di Shopee 9.9 Super Shopping Day

  by: Alexander Kusumapradja       31/8/2018
  • Ladies, kamu pasti setuju kalau sekarang ini belanja online sudah bukan lagi alternatif dari cara belanja konvensional tapi sudah menjadi bagian gaya hidup. Apalagi kalau sedang musim sale, ya kan? Tapi, dengan begitu banyaknya e-commerce yang ada di luar sana, bagaimana kita tahu yang mana yang benar-benar mengutamakan konsumen? Bagi Shopee, its always about trust. Seperti yang diutarakan oleh Rezki Yanuar, Country Brand Manager Shopee Indonesia dalam perbincangan santai bersama Cosmo.


    Muncul di Indonesia tahun 2015 lalu, dalam waktu yang terbilang singkat platform e-commerce asal Singapura ini telah menjadi salah satu pemain terbesar pasar e-commerce di Indonesia saat ini. Dengan jumlah kunjungan ke aplikasi Shopee setiap bulannya lebih dari 110 juta pengunjung, di saat yang sama jumlah penjual di Shopee pun terus meningkat hingga 2 juta. 




    Menjawab antusiasme tersebut, Shopee pun mengadakan kampanye regional bertajuk Shopee 9.9 Super Shopping Day, sebuah festival belanja online tahunan terbesar di Asia Tenggara dan Taiwan di mana para pengguna Shopee dapat menikmati rangkaian penawaran dari lebih dari dua juta penjual dan 1500 brand


    “Fokusnya untuk merayakan mobile commerce,” ujar Rezki, “Makin ke sini kita melihat mobile commerce semakin kuat. Dua atau tiga tahun lalu memang sudah ada aplikasi belanja online, tapi rata-rata orang masih memakainya untuk mencari referensi harga dan produk, tapi pas mau beli mereka tetap ke desktop. Kebetulan kalau Shopee, dari awal muncul kita memang mulai dari mobile dulu. Makin ke sini pembeli Shopee juga 95% berasal dari aplikasi,” paparnya.


    Tahun lalu, Shopee pun sudah pernah menggelar festival belanja bertajuk 10.10, tapi tahun ini 9.9 Super Shopping Day adalah event pertama Shopee yang diadakan di tujuh negara, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Taiwan secara serentak. “Kenapa dipilih September, karena memang berkaitan dengan ulang tahun Shopee,” ucap Rezki.

     

    Yang unik, bila program sale lain umumnya bersifat general dalam arti semua produk dilempar dalam waktu yang sama dan mengakibatkan persaingan dan tumpukan traffic, Shopee punya cara khusus mengakali hal tersebut, yaitu dengan membuat 14 tema berbeda setiap harinya. Diadakan dari tanggal 27 Agustus sampai 9 September 2018, festival belanja ini memiliki tema berbeda setiap harinya. Misalnya Super Fashion Day, Super Electronic Day, Super Mom Day, Super Beauty Day hingga Super Men Day. Semua orang jadi punya kesempatan untuk mencari produk incaran mereka sesuai segmen masing-masing. 


    Di antara 14 hari tersebut, ada beberapa hari yang menjadi highlight, yaitu Super Flash Sale Day di tangal 6 September di mana akan ada 14 kali flash sale dalam sehari dari mulai harga Rp99. Yup! Less than one hundred Rupiah! Puncaknya adalah tanggal 9 September di mana Shopee mengadakan flash sale setiap jamnya selama 24 jam. Selain dua hari tersebut, Shopee juga menghadirkan versi terbaru dari in-app game mereka, yaitu Goyang Shopee di mana pengguna dapat bermain hingga 9 kali dengan menggoyangkan ponsel di Super Goyang Shopee Day (31 Agustus) dan Super Shopping Day (9 September). Selain dua hari tersebut, selama festival belanja ini kita juga bisa bermain Goyang Shopee sebanyak 3 kali sehari untuk mendapatkan kesempatan total hadiah sebesar 9,9 miliar berupa koin Shopee dan grand prize Pajero Sport.


    “Shopee tidak mau hanya sekadar jualan, tapi mau ada engagement juga. Itu kenapa di apps Shopee suka ada games, kaya adu suit dengan selebriti, tebak juara piala dunia, dan sekarang si Goyang Shopee ini. Pemikirannya simple saja, sekarang kita lihat orang banyak yang nggak bisa ke mana-mana tanpa bawa hape, so why don’t we do something to engage them? Kalau namanya jualan doang, people will get bored. Dulu kita mikir e-commerce itu we need to force people to shop, sekarang ini kita juga harus engage dan kenal dengan pengguna kita,” papar Rezki.


    Kemampuan membaca keinginan pasar, diakui Rezki menjadi bekal utama Shopee dalam bersaing dengan e-commerce lain yang telah dan terus bermunculan. “Kalau ditanya Shopee strateginya itu apa, kita selalu mendengarkan konsumen dari sisi apapun. Kalau bikin sesuatu yang baru kita akan tes dulu ke Forum Group Discussion, konsumen yang dipilih acak untuk tes. The way we’re communicating, kita selalu ambil yang trending di masyarakat, kaya lagu Baby Shark, Via Vallen, atau Lisa Blackpink kemarin yang responsnya positif banget. Seller juga kita dengarkan, maunya apa, apa yang bisa di-improve, dan yang terakhir, kita juga mendengarkan our own employee.”


    Bermula dari 40 orang karyawan saat berdiri, kini Shopee Indonesia telah memiliki sekitar 3 ribu karyawan yang mayoritas tergolong millennial yang selaras dengan pasar yang memang mereka incar. “Ekosistem e-commerce di Shopee memang dibuat untuk fokus ke millennial karena the future of this business is millennial dari semua sisi. Dari employee, konsumen, sama seller-nya. 80% di bawah 30 tahun. Kalau ngomongin millennial, selain karyawan, most of our users juga millennial, umur terbanyaknya adalah 25-35 tahun dan ke bawahnya. Jadi kita harus cari cara untuk berkomunikasi dengan mereka,” terang Rezki. Salah satu cara yang ditempuh Shopee adalah merengkuh para Key Opinion Leaders atau yang sering juga disebut sebagai influencers.




    Dibanding sekadar endorsement, Shopee punya cara lain untuk menarik konsumen lewat sosok-sosok influential tersebut lewat apa yang mereka sebut sebagai Shopee Celebrity Squad alias para artis yang punya bisnis dan berjualan di Shopee. Sebut saja nama-nama seperti Nagita Slavina, Laudya Cynthia Bella, Nana Mirdad, dan Prilly Latuconsina di antara 40-an nama selebriti papan atas lainnya. Tak cuma Shopee yang diuntungkan lewat program ini tapi juga para artis yang terlibat. How?


    “Kita bantu dua hal. Satu, knowledge tentang e-commerce itu sendiri. Kita banyak kasih insight barang apa yang banyak dicari dan share ke mereka untuk mengembangkan produk. Yang kedua dari sisi operasional, di mana mereka pakai sistem Shopee dan terbantu dari sisi inovasi maupun cara pembayaran yang beragam. Kalau cuma dari Instagram atau media sosial, opsi pembayarannya mungkin cuma transfer, sedangkan banyak juga konsumen yang belum tentu punya bank atau kartu kredit tapi mereka bisa bayar lewat minimarket, misalnya. Itu yang Shopee kasih,” jelas Rezki.


    Yang juga menarik, dibanding e-commerce besar lainnya, Shopee disebut sangat kuat memancing konsumen wanita, walaupun menurut Rezki hal itu sebetulnya ketidaksengajaan. “Seller kami memang banyak yang berasal dari Instagram di mana banyak di antaranya adalah wanita. Tapi tahun ini sudah mulai balance dengan banyak male products juga,” cetusnya, sebelum melanjutkan, “Data dari bulan Februari, 70% seller adalah perempuan dan kalau untuk buyer, perempuan juga masih lebih besar sedikit. Tapi sebetulnya tidak adil untuk sebut mana yang lebih banyak karena the way perempuan belanja sama laki tuh beda banget. Kalau dari komposisi, perempuan terlihat lebih banyak karena transaksi mereka juga lebih banyak. Pria mungkin sebulan cuma belanja dua kali tapi nilai transaksinya bisa dua kali lebih besar dari perempuan.”


    Dengan kata kunci pencarian paling banyak adalah sepatu dan fashion perempuan karena dominasi konsumen perempuan yang mengakses, menurut Rezki hal itu berarti Shopee sudah berada di jalur yang sesuai tren saat ini. “Kita baca insight-nya kalau pasar e-commerce di Indonesia masih didominasi perempuan, which means Shopee is on the right track. Kalau pasarnya 60% wanita dan Shopee kebetulan pasarnya juga 60% wanita, berarti sesuai kan? Itu hal yang bikin kita semangat tapi juga challenging, karena kita terus ditantang harus bikin apa lagi selanjutnya,” aku Rezki.


    Kembali ke soal 9.9 Super Shopping Day dan khususnya perkara flash sale, kita tentu punya kekhawatiran kalau promosi semacam itu sebetulnya hanya gimmick dan rentan aksi nakal seperti internal fraud yang baru-baru ini tengah menjadi buah bibir. Namun, Rezki menegaskan bahwa bagi Shopee, hal itu adalah masalah trust antara Shopee dan konsumen. 


    “Kalau bicara fraud, kita punya tim untuk itu karena e-commerce adalah masalah trust. Di Shopee sendiri flash sale bukan sesuatu yang baru, sudah ada dari tahun sebelumnya, jadi persiapannya juga tidak mendadak dan sistemnya sudah disiapkan untuk kuat dan adil. Adil dalam pengertian kamu bisa lihat jumlah produk yang terjual, bisa dilihat timing-nya, itu adil dari platform-nya. Yang kedua, adil dari sisi bagaimana caranya orang beli. Dari sisi kita ada banyak brand yang suka bikin flash sale khusus, contohnya seperti handphone yang misal setiap orang cuma bisa beli satu kali, itu kita siapkan seadil mungkin. Flash sale utamanya pasti untuk user, secara garis besar kita sudah pengalaman soal flash sale dan di program ini kita siapkan unuk lancar. Ekspektasinya traffic tentu akan jauh lebih besar dari biasanya, jadi kita harus tambah bandwidth yang lebih besar agar orang bisa gampang masuk, pilih barang, dan bayar,” ungkap Rezki serius.


    So, what’s the target? Rezki mengaku tidak ada target transaksi secara khusus karena e-commerce memang belum ada pakem khusus untuk mengukur hal itu. Namun, dengan optimis, ia menambahkan, “Tahun lalu kita reach satu juta transaksi dalam satu hari, lalu di event Ramadhan, kita pernah dua kali reach 1,5 juta transaksi dalam 1 hari. Tentu, sekarang harapannya bisa lebih dari itu,” tandasnya sambil tersenyum.


    Well, ladies, you know what you need to do. Meskipun program ini sudah berlangsung selama 5 hari, tapi kita masih punya sembilan hari untuk ikut dalam keseruan ini. So grab your phone, install Shopee, and may the odds be ever in your favor!


    (Image: dok. Shopee Indonesia)