Lifestyle

5 Film Indonesia yang Lolos ke Festival Film Internasional

  by: Givania Diwiya Citta       17/8/2019
  • Selamat hari kemerdekaan Indonesia! Tak ada yang lebih membanggakan selain merayakan keberhasilan karya-karya anak bangsa yang bahkan diapresiasi oleh panggung dunia. Seperti lima karya film Indonesia berikut yang lolos ke festival film internasional. Bahkan tak hanya lolos ditayangkan ke dalam film festival dunia, beberapa di antaranya pun meraih titel penghargaan yang bergengsi! Simak, girls!


    Hiruk-Pikuk Si Al-Kisah (2019)





    Dengan judul internasional The Science of Fictions, film terbaru dari sutradara Yosep Anggi Noen ini berhasil terpilih masuk pada seksi kompetisi utama “Concorso Internasionale”, dan tayang perdana pada Locarno International Film Festival pada 7 hingga 17 Agustus 2019 ini. Film yang turut dibintangi oleh Asmara Abigail ini pun mengisahkan tentang seorang pemuda di pelosok Yogyakarta, yang melihat shooting pendaratan manusia di bulan oleh kru film asing di Pantai Parangtritis tahun 60an. Namun ia tertangkap dan dipotong lidahnya, hingga kemudian penduduk desa menganggapnya gila. Dengan ide cerita distingtif ini, Yosep sekali lagi membawa karya filmnya ditayangkan ke festival film internasional, mengikuti jejak karya-karya sebelumnya Vakansi Janggal dan Penyakit Lainnya (2012) serta Istirahatlah Kata-Kata (2016). Salute!


    Kucumbu Tubuh Indahku (2018)



    Dengan judul internasional Memories of My Body, film garapan sutradara Garin Nugroho ini juga tak kalah gaungnya di industri film internasional. Film ini sudah mendapat kurang lebih enam penghargaan dalam beberapa film festival dunia, seperti Venice Independent Film Critic, Asia Pacific Screen Awards di Australia, serta Guadalaraja International Film Festival di Meksiko. Bahkan, film ini memenangkan Cultural Diversity Award di bawah naungan UNESCO, lho! Film yang dibintangi oleh Muhammad Khan, Sujiwo Tejo, Teuku Rifnu Wikana, sampai Randy Pangalila ini memang tidak dapat dipungkiri menjadi perdebatan dalam negeri. Namun film ini juga berhasil mentransfer pengetahuan sub-kultur bangsa kita yang sejarahnya jarang terekspos, terutama dari sudut pandang tari lengger. Kudos!


    Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)



    Dengan judul internasional Marlina The Murderer in Four Acts, sang sutradara Mouly Surya berhasil memboyong berbagai penghargaan dari festival film dalam negeri hingga apresiasi dari berbagai film festival dunia. Bahkan sebelum ditayangkan di Indonesia, film ini justru diputar perdana pada Directors Fortnight Festival Film Cannes 2017, lho! Selama perhelatan film festival Cannes pun, kita bisa menyaksikan Mouly bersama sang aktris utama, Marsha Timothy, berjalan di karpet merahnya. Yang dominannya kita menyaksikan berbagai nama aktor aktris internasional di sini, pada tahun 2017 lalu kita bisa menyaksikan sineas tanah air kita berjalan di sana! Selain itu, setelah penayangan film Marlina pun, Mouly mendapatkan standing applause dengan durasi yang cukup lama oleh para sineas internasional… we couldn’t be more proud!




    Sekala Niskala (2017)



    Dengan judul internasional The Seen and Unseen, film garapan Kamila Andini ini telah ditayangkan di Toronto International Film Festival sampai Busan International Film Festival sebelum dirilis perdana di Indonesia pada tahun 2018. Lebih dari itu, film ini meraih titel sebagai Best Youth Feature Film di Asia Pacific Screen Awards 2017, dan memperoleh Grand Prize dalam Tokyo FILMex International Film Festival 2017. Bagaimana tidak, film ini tak hanya emosional berkat ikatan kuat yang ditampilkan oleh dua karakter kembar Tantri dan Tantra, namun ekspresi kesenian yang mengangkat kultur Bali – mulai dari bentuk penghormatan yang dipercaya masyarakat setempat terhadap Buta Yadnya, Dewa Yadnya, Manusia Yadnya – seluruhnya mengalir magis dalam layar perak. 


    Ave Maryam (2018)



    Setelah tayang di bioskop tanah air pada bulan April lalu, Ave Maryam juga menjadi salah satu daftar karya sineas Indonesia yang lolos ke panggung festival film internasional. Film yang digarap oleh Robby Ertanto ini sukses ditayangkan di Cape Town International Film Market & Festival 2018, serta di Hong Kong Asian Film Festival 2018. Dan sekali lagi, film yang dibintangi oleh Maudy Koesnaedi dan Chicco Jerikho ini, mengangkat tema bold yang jarang kita temukan di film indonesia pada umumnya. Yakni tentang perjuangan batin seorang biarawati dan pastur yang terlibat dalam forbidden love, dan ujian kesetiaan terhadap sumpah serta kepercayaan yang mereka anut. Exquisite!


    (Givania Diwiya / Image: Outnow.ch / Layout: S. Dewantara)