Career

Cara Menghadapi Berbagai Penolakan dalam Pekerjaan

  by: Givania Diwiya Citta       28/8/2019
  • Cosmo tahu betapa tidak menyenangkan untuk mengalami penolakan. Tapi seperti yang kita tahu, penolakan adalah bagian terikat pada kehidupan, apalagi dalam dunia kerja. Baik itu tidak menerima promosi, tidak terpilih sebagai kepercayaan untuk memimpin suatu proyek, ditolak beberapa kali oleh atasan saat mengajukan gagasan, atau bahkan saat tim kamu kalah saing dengan pihak kompetitor. Seluruhnya merupakan bentuk penolakan dalam dunia profesional, bahkan melebihi dari saat lamaran kerja kamu tidak diterima oleh suatu perusahaan. 


    Kadang ada pula bentuk penolakan dalam pekerjaan yang lebih ekstrem… pemberhentian kontrak kerja. Perlu diketahui, seorang Cheryl Bachelder, mantan CEO Popeyes Louisiana Kitchen (rantai restoran ayam goreng multinasional asal New Orleans) yang memimpin kesuksesan tim selama sembilan tahun, mengaku bahwa ia tak akan sampai pada titel CEO tersebut tanpa mengalami pemberhentian kerja sebagai President dan Chief Concept Officer di KFC. 





    Tentu saat mengalami proses penolakan tersebut, ia tidak menyukai kenyataan bahwa ia diberhentikan dari pekerjaannya. Namun ia sadar bahwa tak ada yang bisa disalahkan. Ia lantas belajar dari kesalahannya yang gagal dalam meraih angka revenue ideal KFC, lalu menjadi dalang dalam meningkatkan revenue Popeye selama enam tahun berturut-turut. Rahasianya? Selama proses menerima rejection tersebut, ia menemukan gagasan lain tentang arti kesuksesan – yaitu adalah saat menjadi seorang pemimpin yang bisa membantu orang di sekitarnya menjadi sukses. 


    Berbeda lagi dengan bounce back dari penolakan yang diarungi profesi lain. Seperti aktris teater Anjali Bhimani basis Amerika yang profesinya dalam industri kreatif memiliki dinamika lebih unpredictable. Baginya, penolakan mana yang tidak dihadapi saat bekerja di industri profesional ini?


    The Positive Reaction

    Saat menghadapi penolakan, Anjali memiliki cara ampuh untuk melewatinya. Yaitu adalah dengan tidak ikut-ikutan menolak dirinya sendiri. Seperti saat ditolak memainkan suatu peran, ia sendiri juga yang harus mengingat untuk tetap berlaku baik pada diri. Karena pada akhirnya, mungkin penolakan terhadap suatu pekerjaan berarti proyek tersebut memang bukan hal yang tepat bagi diri versi saat ini. Tapi hal ini memiliki arti juga bahwa dengan menerima penolakan, tidak menjadikan kemampuan yang dimiliki terkotak-kotakkan dalam keterbatasan yang mutlak. 


    Seperti yang dilalui Morra Aarons-Mele, konsultan bisnis basis Amerika yang telah menjalani profesinya lebih dari 20 tahun. Tidak sedikit juga klien yang berakhir tak memilihnya untuk menyelesaikan suatu proyek, atau beralih pada konsultan lain. Penolakan seperti ini pun mampu membuatnya berpikir negatif bahwa mungkin itu pertanda bahwa performanya tengah memburuk.



    Meski terguncang setiap kali penolakan terjadi, namun Morra memiliki pola pikir mengenai proporsi. Anggaplah bahwa kamu memiliki sebuah pai, namun di luar kendali, kamu harus kehilangan satu slice dari pai tersebut. Banyak yang akan tenggelam dalam pikiran bahwa kamu lantas kehilangan seluruh pai tersebut karena ada bagian yang kosong. Namun yang luput diperhatikan, masih ada beberapa potongan pai di sana, selayaknya masih ada berbagai ‘yes’ untuk kesempatan lain di luar sana, meski pernah mengalami beberapa kali penolakan ‘no’. 




    Pada akhirnya, penolakan memberi ruang untuk merefleksikan kekuatan serta kekurangan yang dimiliki, dan memberi pelajaran untuk menghadapi situasi ini dengan pendekatan yang lebih baik. Intinya, di masa depan, kamu akan jauh lebih kuat dan kreatif dalam menghadapi dan menciptakan balik sebuah peluang, out of rejection.


    How to Deal with It

    1. Kelola emosi saat penolakan melanda. Terima rasa tidak nyaman itu, namun tahan untuk tidak bereaksi terburu-buru. Inhale-exhale, minumlah segelas air, tenangkan diri, dan serap apa yang sedang terjadi. Untuk bisa melepas rasa negatif tersebut adalah dengan tidak memosisikan diri sebagai korban. Justru di fase ini, kamu diuji untuk bisa menerima kesedihan serta frustasi, namun selanjutnya, mari move on. Tetaplah berusaha ramah terhadap coworker atau atasan meski masih terasa mengganjal setelah ‘ditolak’.



    2. Mintalah feedback konstruktif untuk memahami mengapa kamu ditolak dari suatu delegasi tugas atau dari pekerjaan lainnya, ketimbang bertanya-tanya serta berspekulasi sendiri mengapa penolakan terjadi pada kamu. Jika mampu membuka diri, akan banyak feedback yang kamu terima, bahkan dari rekan-rekan yang tulus ingin membantu kamu bangkit. Dan yang penting, hindari berargumen, karena inilah saat krusial yang bisa mengubah cara pandang tentang penolakan yang biasanya dimasukkan ke dalam hati, menjadi aksi positif dalam mengarunginya secara profesional.



    3. Pelajari dan mulai bangun perubahan. Karena penolakan bukan berarti pekerjaan yang tertunda tersebut tuntas dari kamu. Kerahkan moto “coba lagi, push the limit” dan dorong diri kamu untuk tertantang menemukan pendekatan alternatif lain dalam turut berkontribusi pada suatu proyek atau pekerjaan tersebut, meski kamu bukan sang Person in Charge. Tak masalah jika yang bisa kamu tawarkan merupakan bantuan kecil, namun dengan determinasi yang muncul dari kamu, aksi positif tersebut menyiratkan bahwa kamu nyatanya mampu diandalkan. Lalu siapa yang tahu, ternyata kamu punya peran lain yang lebih tepat dengan kapabilitas diri di sana. Arise for a bounce back!


    (Givania Diwiya / FT / Image: Kaboompics.com Porras on Pexels.com / Artikel ini dimuat pada Cosmopolitan Indonesia edisi Juni 2019 dengan judul "Bouncing Back Out of Rejection")