Celebrity

Angga Yunanda Bangga Cerita tentang Daerah Asalnya di Lombok

  by: Givania Diwiya Citta       23/8/2020
    • Angga Yunanda, aktor muda kebangsaan Indonesia ini berasal dari suku Sasak yang berada di Lombok.
    • Angga menceritakan berbagai kebanggaan lokal Lombok, mulai dari tradisi Nyongkolan sampai kekayaan alamnya.


    Aktor muda Indonesia, Angga Yunanda, berbagi pada Cosmo mengenai budaya suku Sasak dari Lombok yang mengalir dalam dirinya. Nyatanya, budaya ini menjadi akar diri Angga, lho, dalam berbagai aspek hidupnya. Ia pun membagikan berbagai kebanggaan lokal Lombok, mulai dari kekayaan alamnya, adat Nyongkolan sebelum menikah, sampai prinsip hidup yang dipegang oleh orang-orang Lombok, termasuk dirinya. Tak luput, ia pun menyampaikan harapannya untuk Indonesia di Hari Kemerdekaan yang-75! Hear him out, girls!




    Apa makanan khas dari Lombok favorit kamu?

    Yang paling spesial adalah Ares. Semacam sayuran namun hanya ada di acara-acara besar seperti pernikahan, sunatan, atau sebelum berangkat untuk Haji. Ares dibuat dari inti kedebong pisang yang dimasak dengan kuah bumbu santan. Sebenarnya Ares juga ada di Bali, tapi makanan ini cukup khas di Lombok. Selain itu, saya juga suka makan Ayam Taliwang. Dan kalau mau mencicipi Ayam Taliwang terenak, semuanya hanya ada di Lombok! Bahkan selama di Jakarta, saya belum pernah menemukan Ayam Taliwang seenak di Lombok, lho… 



    Apa yang wajib Cosmo babes lakukan jika berkunjung ke Lombok?

    Saya suka sekali dengan alam, dan saya bersyukur bahwa Lombok diciptakan dengan alam yang begitu indah. Di Lombok, kalau kalian mencari pantai, ada. Cari savana, ada. Mau cari tempat yang eksotis? Ada. Cari pegunungan, ada. Air terjun pun ada. Saya sendiri suka pantai dan air terjun, dan menurut saya air terjun yang terbaik adalah Tiu Kelep di Lombok utara. Kita harus menyusuri sungai yang mengaliri Tiu Kelep untuk menuju ke ujung air terjun selama 20 hingga 30 menit. Sesampainya di sana, air terjunnya sangat besar dan indah! Lalu ada pula yang jadi bucket list saya – semoga saya bisa ke sana, dan semoga bisa ke sana bersama kalian! – yaitu Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak. Saya selalu lihat di media sosial, rasanya keindahannya tidak bisa dibayar dengan apapun. Menurut saya, selama saya hidup, saya harus bisa ke sana suatu saat nanti.


    Apa adat dalam budaya di Lombok yang paling membekas dalam diri kamu?

    Adat yang paling tidak bisa saya lupa adalah tradisi Nyongkolan. Ini adalah adat yang dilakukan saat kita menikah, jadi seperti diarak tapi dalam bentuk seperti pawai. Biasanya itu arakan saat kita akan menuju rumah pengantin. Menurut saya, itu adalah salah satu hal yang keren karena saya beberapa kali ikut sebagai peserta dari adat Nyongkolan tersebut, sebagai anggota keluarga ataupun sebagai tetangga-tetangga dekat. Kalian harus lihat tradisi ini kalau ke Lombok, karena biasanya ada setiap hari Sabtu atau Minggu di berbagai jalan di Lombok. Pasti ada saja satu atau dua orang yang melakukannya! Karena tradisi ini biasanya hanya dilakukan sekali seumur hidup. Karena menikah sekali seumur hidup, bukan? Jangan berkali-kali… 



    Seberapa besar peran budaya Sasak dalam pertumbuhan hidup kamu sedari kecil sampai dewasa?

    Di Nusa Tenggara Barat ada berbagai budaya, ada Sasak seperti milik saya, ada Mbojo, Samawa, dan kebetulan saya tumbuh dari percampuran berbagai suku tersebut. Ibu saya berasal dari suku Sasak, ayah saya dari suku Sumbawa dan Bima. Bisa dibilang, saya sedari kecil sudah tumbuh dengan budaya beragam, dan itu yang membuat saya tumbuh menjadi seseorang yang semakin mudah untuk bertoleransi. Rasanya luar biasa bisa tumbuh di budaya Sasak, saya merasa budaya ini sangat tinggi adat ketimurannya. Mungkin juga karena Islam di Lombok sangat kental, jadi rasanya ini terbawa ke dalam diri saya, dan membentuk karakter saya sampai sekarang. 




    Apa yang paling kamu banggakan dari budaya Sasak?

    Saya bangga menjadi bagian dari budaya Sasak karena banyak sekali tradisi yang bisa membuat kita menjadi sosok yang lebih baik. Dan yang paling menarik, budaya Sasak itu punya bahasa sendiri. Dalam Bahasa Sasak, ada banyak yang berbeda di berbagai daerah, semisal bisa berbeda di Lombok Timur, berbeda juga di Lombok Tengah, berbeda juga di Lombok Barat ataupun di Mataram. Ada perbedaan dari segi aksen, dialek, dan mungkin kata-katanya juga bisa berbeda arti. Jadi bisa saja kita tidak mengerti apa yang disampaikan oleh orang-orang Lombok Utara kalau kita semisal dari Lombok Timur. Menurut saya itu luar biasa, sangat unik dan diverse, bahkan di setiap desa bisa saja kata-katanya berbeda. 



    Apa pelajaran terbaik yang bisa kamu dapat dari budaya Sasak?

    Orang Sasak sangat luar biasa terhadap gotong royong. Apalagi saya tumbuh di desa yang membuat saya dekat dengan lingkungan sekitar, jadi setiap ada kegiatan apapun, semisal ada acara Roah yang besar, pasti semua orang gotong royong untuk saling membantu. Jarang sekali di sana menggunakan jasa EO ataupun catering, karena biasanya kami akan masak bareng, buat tenda bareng, dan semoga hal ini bisa berlangsung hingga di masa mendatang. 


    Apa yang paling kamu banggakan sebagai seorang warga Indonesia?

    Saya bersyukur bisa tumbuh di Indonesia, meski sekarang kita berjuang lebih terutama semasa pandemi. Tapi Indonesia adalah tanah yang tak bisa digantikan oleh apapun, mulai dari sumber daya alam dan manusianya. Dan saya bersyukur bisa menjadi bagian dari hal ini. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya tidak ada di Indonesia.



    Apa harapan kamu untuk Indonesia di Hari Kemerdekaan yang ke-75?

    Semoga kita tidak pupus harapan dan tetap semangat, karena saya yakin rakyat Indonesia sangat kuat dalam berjuang, dan ini yang tak membuat rakyat Indonesia mudah patah arah. Semoga kita selalu menjadi bangsa yang selalu bangkit!


    (Images: Dok. Instagram @anggayunandareal16)