Love & Sex

Menurut Ahli, Ini 10 Cara Terbaik Balikan dengan Mantan

  by: Alvin Yoga       22/8/2020
    • Mantan adalah sosok yang sulit dilupakan, dan kamu mungkin kangen dengannya.
    • Ada banyak cara untuk bisa kembali pada mantan, berikut tips dari ahli relationship untuk bisa kembali ke pangkuannya.


    So let's say, di suatu Sabtu malam yang random, kamu tiba-tiba saja teringat sang mantan ketika sedang menonton sebuah serial drama di Netflix. Entah kenapa, rasanya ingiiinn sekali menghubungi si dia. Kangen? Mungkin. Ingin balikan? Yah, begitulahhh. Dan dalam hitungan menit, terkirimlah pesan yang seharusnya tidak pernah kamu kirimkan. Tentu saja itu bukan ide yang cerdas...

    ...Tapi yah, bagaimana pun juga itu sudah terjadi. Dan tidak mengagetkan jika si dia kemudian hanya membaca pesanmu tanpa membalasnya. Normal, bahkan. Mungkin ia juga terkejut, mengapa tiba-tiba sang mantan mengirimkan pesan untuknya. Dari sinilah kamu mulai berpikir, "Duh, tamat riwayat gue." Tapi karena sudah telanjur, dan mungkin karena kamu juga kangen (damn you, Netflix!), detik berikutnya, kamu langsung mencari tips bagaimana cara balikan dengan mantan dan kemudian membuka artikel ini.



    Oke, biarkan Cosmo membantu. Sekarang tarik napas pelan-pelan, kemudian buang kembali. Tenangkan diri. Saran Cosmo, sebelum kamu selesai membaca 10 tips di bawah, cobalah untuk tidak membuka pesan itu lagi. Atau, yang lebih buruk lagi, mengirim pesan lain. Jangan. Coba. Coba.

    Biar kita ikuti saran dari ahli untuk bisa keluar dari masalah ini. Cosmo punya tips yang benar-benar jitu untuk bisa kembali pada mantan. Lagi pula, menurut polling yang Cosmo lakukan, 95 persen dari kalian para Cosmo babes, ternyata masih mau berbalikan dengan mantan. Jadi kalau kamu mau sedikit bersabar dan berusaha keras, berikut 10 cara yang bisa membantumu. Selamat mencoba.


    1. Beri si dia waktu dan ruang untuk dirinya sendiri.

    Yang pertama ini mungkin sulit dilakukan jika si dia yang memutuskan hubungan, karena ia pasti butuh waktu untuk menjaga jarak denganmu, tapi percayalah, tips ini benar-benar penting. Kalau kamu tak bisa menghargai keinginan paling mendasar dari mantanmu—yaitu waktu untuk dirinya sendiri—kamu mungkin kehilangan awal yang baik untuk bisa membuatnya jatuh cinta padamu lagi.

    Tentu saja, kalau kamu berusaha untuk kembali dengan sang mantan, kamu perlu menghubungi dirinya lagi. Pertanyaannya: kapan waktu yang tepat? Menurut Mariana Bockarova, PhD, seorang pengajar relationship psychology di University of Toronto, tak ada durasi waktu yang tepat soal seberapa lama kamu harus menunggu. Tips terbaik dari Mariana: Kamu boleh mengirimnya pesan ketika kamu sudah yakin bahwa kamu ingin kembali dengan si dia dan si dia sepertinya sudah bisa melanjutkan hidupnya dengan normal.

    Lalu bagaimana jika kamu yang memutuskan hubungan tersebut? Kamu boleh menghubungi si dia ketika kamu sudah bisa berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Pastikan bahwa kamu memang benar-benar merindukan si dia dan ingin kembali padanya, bukan karena kamu sedang bosan atau karena kamu merasa kasihan dengannya.


    2. Jangan memandangnya sebagai sebuah kompetisi.

    "Ini bukan soal siapa yang kangen duluan atau siapa yang punya daya tarik luar biasa," ujar Mariana. Seringnya, kultur kita membuat relationship terkesan seperti sebuah "kompetisi", dimana segala sesuatunya dinilai dengan siapa yang lebih kuat dan siapa yang lebih lemah. Sejujurnya, ini bukanlah suatu pemikiran yang sehat, apalagi jika sekarang keinginanmu adalah untuk kembali pada sang mantan. "Tak ada yang menang atau yang kalah dalam suatu hubungan," lanjut Mariana. Kalau ternyata si dia memandang situasi ini sebagai suatu hal yang berbeda—di luar tujuan utama yaitu untuk saling berbaikan—dan tidak mempertimbangkan usaha juga perkembangan diri masing-masing, mungkin ini tanda bahwa sebaiknya kalian tidak kembali menjalin hubungan.


    3. Tahan keinginan untuk menjelek-jelekkan si dia.

    Tentu saja, putus hubungan memang terasa menyebalkan. Normal-normal saja (dan memang perlu) kalau kamu ingin menceritakan seluruh kekesalanmu pada sahabat-sahabat terbaikmu. Namun ingat, kamu tak bisa menceritakan hal tersebut pada setiap orang—karena jika tiba-tiba kamu ingin kembali pada mantan, kamu akan berada di posisi yang sulit.

    "Bayangkan dirimu berada di posisi mantanmu," ujar Mariana. "Apakah kamu bisa menerima kembali seseorang yang (tadinya kamu cintai dengan tulus) menceritakan hal-hal buruk tentangmu pada semua orang, mengirimmu pesan-pesan penuh amarah, atau menceritakan rahasia terdalammu pada orang lain padahal itu adalah rahasia antara kalian berdua?"

    Jadi ingat, menyebarkan cerita yang buruk mengenai sang mantan pada teman-temanmu tidak akan banyak membantu, terutama jika nanti kamu ingin kembali membangun jalan untuk kembali pada sang mantan. Kalau kamu pernah melakukannya, maka buat hal itu menjadi suatu pembelajaran. Apabila nanti kamu harus menghadapi putus cinta, meskipun kamu yakin kamu tidak akan kembali pada si dia, bukanlah suatu keputusan yang baik untuk menceritakan kisah yang super-personal mengenai mantan pada semua orang—plus, hal tersebut juga tidak membuatmu merasa lebih baik, kan?


    4. Ubah hidup dan cara pandangmu sebelum kembali menghubungi sang mantan.

    Ketika kalian putus hubungan, sah-sah saja kalau kamu merasa kesepian dan sendirian. Ini karena kamu terbiasa melakukan segala sesuatunya berdua dengan si dia. Menghabiskan akhir pekan? Dengan si dia. Menonton film terbaru? Bersama si dia juga. Jika biasanya kamu memandang hujan sebagai suatu hal yang biasa, kini kamu merasa hujan bisa membuatmu galau.

    Merasa kesepian itu wajar, namun jangan lupa, putus hubungan juga merupakan waktu terbaik untuk kembali fokus pada diri sendiri. Mariana memberi saran untuk kembali pada sahabat-sahabatmu, dan bukalah diri untuk berkenalan dengan orang baru. Lakukan hobimu, dan bersenang-senanglah, karena kamu pantas mendapatkannya—meskipun mungkin kamu masih sedih karena kalian putus.

    Ketika kamu merasa bahwa ternyata kamu sudah bisa melanjutkan hidup tapi kamu tak bisa sendirian tanpa seorang partner, maka, dan hanya di waktu inilah, kamu boleh mempertimbangkan apakah kamu ingin kembali pada hubunganmu yang sebelumnya—atau justru kamu membutuhkan orang baru. "Kalau kamu hanya merindukan mantanmu ketika kamu sedang kesepian, atau ketika kamu sedang membandingkan hidupmu dengan teman-temanmu yang memiliki pacar, namun tidak pernah ketika kamu merasa bahagia dan nyaman, maka mungkin kamu tidak boleh kembali pada sang mantan," ujar Mariana. Percayalah, yang kamu butuhkan adalah: pasangan baru.


    5. Evaluasi jika masalah kalian bisa diperbaiki.

    Okay, jadi kamu sudah bisa melanjutkan hidup dan kamu yakin bahwa kamu memang benar-benar ingin kembali dengan si dia. Sekarang, tanyakan dirimu: Apakah alasan kalian putus sebenarnya bisa diperbaiki?



    "Jika kalian bisa mengetahui apa masalah yang membuat kalian putus, maka kalian bisa memperbaikinya, atau setidaknya kalian bisa berkompromi menghadapi masalah tersebut," ujar Bockarova. "Semisal, kalian putus karena si dia mendapatkan pekerjaan di kota lain dan kalian merasa hubungan jarak jauh adalah suatu hal yang sulit, maka mungkin masalah tersebut bisa diatasi jika salah satu dari kalian mengorbankan egonya dan pindah."

    Tapi kalau kalian memiliki terlalu banyak perbedaan mengenai nilai hidup atau rencana masa depan (seperti di mana kalian akan hidup atau kapan kalian ingin memiliki anak atau mengenai pekerjaan) kamu mungkin harus mempertimbangkan kembali hubungan tersebut. Karena maaf saja, kalian mungkin akan berada di posisi yang sama seperti sebelumnya, sehingga kalian akan putus kembali.


    6. Jangan terlalu banyak berpikir soal bagaimana kamu menghubungi si dia.

    Begitu kamu yakin bahwa kalian bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan baik dan kamu yakin bahwa si dia tidak sedang berkencan dengan orang lain, maka ini adalah waktu yang tepat untuk memulai pembicaraan. Memang akan terasa sedikit canggung, itu pasti, tapi kamu harus ingat bahwa kamu melakukan hal tersebut untuk tujuan yang baik.

    Jika kalian sempat berhubungan untuk waktu yang cukup lama, Mariana menyarankan agar kamu bisa lebih terbuka dan jujur mengenai perasaanmu, katakan saja bahwa kamu merindukan si dia dan berharap bisa segera bertemu. Tapi jika hubungan kalian kemarin belum lama, maka lakukan hal yang simpel, dan ajak si dia bertemu jika ia punya waktu luang. Jika ia menolaknya lebih dari satu kali, saatnya melupakan si dia karena itu artinya ia sudah tak tertarik untuk kembali.


    7. Pilih tempat bertemu yang kasual.

    Tempat seperti bar dengan penerangan yang agak gelap, atau restoran dengan lilin-lilin yang menyala cantik dan bunga mawar di atas meja memang terasa familier dan romantis, tapi tempat-tempat tersebut bukanlah lokasi terbaik untuk situasi ini. Alih-alih, Mariana menyarankan supaya kalian bertemu di suatu kafe untuk mengobrol sambil menikmati kopi atau teh, dengan begitu "kedua belah pihak tidak memiliki ekspektasi apapun ketika bertemu, dan si dia tidak merasa tertekan jika ia memang tidak nyaman." Plus, di siang hari pikiran kalian masih cukup segar, dan tempat yang terbuka bisa membuat kalian dengan jujur membicarakan perasaan tanpa merasa tertekan.


    8. Bicarakan masalah kalian terlebih dahulu.

    Kamu mungkin sangat tergoda untuk memuji atau merayu mantanmu untuk membuatnya merasa senang dan tenang, tapi kecuali mereka memang benar-benar buta dengan keadaan, mereka pasti tahu apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan. Menggodanya di saat-saat seperti ini hanya akan membuatmu terlihat kurang tulus, bahkan jika intensimu sebenarnya baik.

    "Jika ada isu yang butuh klarifikasi, atau sesuatu yang butuh permintaan maaf darimu, katakan hal tersebut terlebih dahulu," ujar Mariana. "Membicarakan isi hati akan membuat partnermu bisa menyadari bahwa kamu telah memikirkan masalah tersebut matang-matang, dan bahwa hal yang kamu inginkan bukanlah suatu keputusan yang kamu ambil secara tiba-tiba."


    9. Bicarakan momen yang berakhir manis, dan lupakan sisanya.

    Okay, jadi kalian sudah bertemu dan kamu sudah berhasil mengutarakan apa yang harus dikatakan serta apa keinginanmu. Di detik ini, si dia pasti sudah mulai menunjukkan apa yang ia rasakan. Mungkin si dia secara antusias menyambutmu kembali—atau mungkin si dia menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tidak sepikiran denganmu. Apapun pilihannya, kamu harus merefleksikan padanya hal-hal terbaik dalam hubungan kalian.

    "Pastikan bahwa kamu selalu mengakhiri pembicaraan secara positif—dengan selipan memori yang kamu suka, atau mungkin alasan mengapa kamu senang si dia ada dalam hidupmu," ujar Mariana. Kalau kamu memang sangat mencintai mantanmu dan ingin kembali padanya, kalian berdua harus bisa memandang masa lalu tanpa adanya penyesalan, apapun yang terjadi.


    10. Jika kalian kembali bersama, pastikan kalian memperbaiki problem di masa lalu.

    Ingat bahwa sebuah hubungan cinta bukanlah soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Jika kalian memutuskan untuk kembali bersama, ketahui bahwa perjuangannya tidak berakhir di detik tersebut. Kalian masih perlu menyelesaikan PR yang tersisa.

    "Perlu banyak usaha untuk bisa menumpuk kembali rasa percaya terhadap satu sama lain, dan sebenarnya ini adalah kesempatan yang tepat untuk membangun hubungan yang lebih erat," ujar Mariana. "Hal tersebut hanya bisa terjadi jika kalian jujur mengutarakan apa yang kalian rasakan, yaitu mengenai apa yang kalian sukai dan apa yang tidak kalian sukai, apa yang membuat kalian merasa terluka dan apa yang membuat kalian bahagia, serta yang paling penting adalah: Bagaimana kalian harus menghargai dan memperlakukan satu sama lain."

    Poin pentingnya, meskipun kalian berdua bahagia bisa kembali seperti dulu lagi, ada alasan yang jelas mengapa hubungan kalian sempat berakhir, dan ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaikinya. Kalian sudah mendapatkan kesempatan kedua, jadi jangan sia-siakan hal tersebut begitu saja.


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / Image: Dok. Jonathan Borba / Unsplash)