Better You

Alasan Psikologis Mengapa Kamu Menonton Instagram Story-mu

  by: Kissy Aprilia       24/8/2020
    • Menonton ulang Instagram story diri sendiri bukanlah gangguan kepribadian narsistik.
    • Kebiasan ini merupakan keinginan alami manusia untuk merasa terkoneksi dan diakui orang lain.
    • Namun, hal ini bisa menjadi indikator dari self-worth yang rendah.


    Kamu mungkin tidak perlu membutuhkan fitur weekly screen time report untuk memberitahukan berapa lama waktu yang sudah kamu habiskan di Instagram. Rasanya seringkali kita scrolling Instagram—bahkan tanpa sadar—seperti saat bangun tidur, saat menonton televisi, dan sebelum tidur.

    To be honest, scrolling Instagram tanpa henti memang mengasyikan. Tapi pernahkah kamu mengunggah foto atau video di Instgram story, lalu menontonnya berulang berulang, mengecek berapa jumlah views dan siapa saja yang juga sudah menontonnya? Well, apakah hal itu menandakan bahwa kita terobsesi dengan diri sendiri? Cosmo mendapatkan jawabannya dari pakar psikolog. 




    Bukan gangguan kepribadian narsistik.

    Merasa kebiasaan tersebut sangat relate dengan kepribadianmu? Pertama-tama: jangan panik! Itu normal, kok, dan kamu tidak perlu beranggapan bahwa kamu memiliki gangguan kepribadian narsistik (seriously, you’re not). Dr Elena Tourini, seorang konsultan psikologis asal London sekaligus co-founder dari klinik Chelsea Psychology, mengatakan bahwa hal ini merupakan bentuk pengakuan dan keinginan untuk menggambarkan citra tertentu dari diri sendiri ke orang lain.

    “Kita menonton ulang postingan Instagram story yang sudah kita unggah (bahkan berulang kali), dengan maksud untuk melihat konten apa yang sudah kita ciptakan, berapa orang yang menonton, siapa saja yang menonton, dan dengan kata lain: siapa saja yang tertarik dengan kita. Artinya, hal ini membuat kita merasa lebih terkoneksi satu sama lain,” ungkap Dr. Elena menjelaskan. 


    Sudah menjadi sifat alami manusia sejak dulu.  

    Faktanya, ada pula alasan evolusioner mengapa seseorang bisa merasa terkesima dengan cara orang lain memandangnya dari sisi luar. Pada dasarnya, manusia secara alami memiliki sifat berkelompok. Kita memiliki keinginan untuk selalu terhubung dan diterima oleh orang lain. Dr. Elena menejelaskan lebih lanjut bahwa dulu, memastikan posisi diri di dalam sebuah kelompok adalah hal terpenting untuk kelangsungan hidup. “Itulah mengapa manusia memiliki keinginan kuat untuk menyesuaikan diri; karena seperti masalah hidup atau mati.” jelasnya. 




    Menjadi kebiasaan yang tidak sehat jika...

    Ilmu psikologis juga menjelaskan bahwa menonton ulang Instagram story tidak mendadakan bahwa kamu adalah orang yang egois, tapi dapat menjadi indikator self-worth yang rendah. Menurut Dr. Elena, pengakuan eksternal lebih terkait dengan bentuk penilian diri yang rendah. Terdengar membingungkan? Oke, Cosmo akan menjelaskan lebih detail. 

    Keinginan untuk merasa terkoneksi dan mendapat pengakuan adalah sifat manusia yang sangat normal. Tapi hal ini bisa menjadi sesuatu yang negatif jika kita membutuhkan pengakuan dari orang lain hanya untuk merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Jika kamu merasa terobsesi untuk memerika penonton di Instagram story dengan harapan untuk mendapatkan pengakuan, hal itu akan menimbulkan kebiasaan yang tidak sehat. Well, self-worth itu seharusnya dapat dari dalam diri, bukan?


    Kamu bisa mengurangi kebiasaan ini dengan...

    Dr. Elena mengingatkan bahwa jika kita menghabiskan waktu hanya untuk mengatur bagaimana kehidupan kita di mata orang lain, kita tidak benar-benar menikmati momen kehidupan yang sedang berlangsung, dan hal ini akan membuatmu menyesal di kemudian hari. Untuk mengurangi pola perilaku ini, ia memberikan tips yaitu dengan membatasi penggunaan aplikasi hanya beberapa jam sehari saja. Kamu juga dapat menonaktifkan notifikasi Instagram agar tidak tergoda untuk scrolling Instagram, dan pastikan kamu mengikuti akun Instagram dengan konten positif yang membuatmu merasa nyaman dengan diri sendiri.


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com.uk / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Kissy Aprilia / Image: Unsplash)