Lifestyle

Cosmo Opinion: Tinggal di Indonesia dengan Kekurangan & Kelebihannya

  by: Alvin Yoga       17/8/2021
  • Jujur saja, pernahkah pernyataan seperti ini terlintas dalam pikiranmu, "Duh, pasti enak ya, kalau saya lahir dan tinggal di Singapura (atau Kanada, atau Korea Selatan)". Atau, pernahkah topik seperti itu masuk ke dalam salah satu obrolanmu bersama sahabatmu? Bagi saya sendiri, tentu saja saya pernah memikirkan dan memperbincangkan hal tersebut bersama teman-teman saya. Bahkan sepertinya tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Carut-marut yang ada di Indonesia tidak jarang membuat beberapa orang benar-benar mangkir dari negeri ini, dan kini (mungkin?) saya juga memiliki niatan yang sama. Pertanyaannya, apakah saya benar-benar tidak bisa tinggal di Indonesia? Apa yang kurang dari negeri ini hingga membuat saya berpikiran seperti itu?


    Karena Rasanya Tidak Mudah Tinggal di Indonesia

    Betul, kekurangan yang dimiliki Indonesia memang banyak. Siapa sih yang tidak kesal melihat keadaan jalanan ibukota yang begitu kotor hingga membuatmu menggelengkan kepala? Sungguh berbeda keadaannya dengan negara sebelah yang peduli soal polusi. Belum lagi kenyataan bahwa gaji di Indonesia lebih kecil jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Menurut Timboel Siregar, Sekjen Organisasi Pekerja Indonesia (OPSI), upah minimum (UP) Indonesia adalah sekitar USD 189 per November 2020 lalu, masih lebih kecil dibandingkan dengan Kamboja, Thailand, dan Malaysia.



    Oh, dan jangan lupa juga soal masalah korupsi yang kerap kali terjadi—terutama di kalangan pemerintahan yang katanya merupakan "wakil rakyat". Ha! Yang paling segar di ingatan—dan yang paling membuat saya kesal—adalah korupsi dana bantuan sosial alias bansos yang dilakukan oleh mantan Menteri Sosial baru-baru ini. Maksud saya, kok bisa-bisanya, di tengah kesulitan yang harus kita hadapi dengan situasi pandemi ini, seseorang justru mengantongi uang negara yang seharusnya diterima oleh masyarakat? Well, inilah faktanya: tinggal di Indonesia memang tidak mudah.

    Kenyataan nomor dua: kamu tak bisa berpaling tiap kali menyadari bahwa biaya hidup terus saja bertambah—yes Cosmo feels it, too! Rasanya seperti dicubit setiap kali ingin memesan kopi favorit di kafe kesayangan namun harganya merangkak naik sedikit demi sedikit. Semua kekurangan tersebut membuat saya kesal hingga rasanya tawaran kerja di luar negeri terlihat begitu "menggiurkan". Atau dengan kata lain, dengan berbagai alasan, negara ini gagal untuk membuat saya (dan kamu, mungkin?) ingin tetap berada di Indonesia.



    "Rumput Tetangga" yang Lebih Hijau

    Menurut hasil survei global yang dilakukan oleh Boston Consultan Group (BCG) dan The Network bekerja sama dengan Jobstreet dan JobsDB pada tahun 2020 lalu, setidaknya 1 dari 2 pekerja asal Indonesia lebih memilih untuk bekerja di luar negeri. Sebanyak 57% penduduk berpendidikan tinggi di Indonesia mengatakan bahwa mereka lebih ingin bekerja di luar negeri, hal ini juga diakui oleh 59% kaum muda di Indonesia yang saat ini masih menjadi mahasiswa dan pelajar, yang turut memilih untuk bekerja di luar negeri nantinya. Tak hanya itu, menurut studi yang sama, dari negara-negara yang menjadi pilihan tempat bekerja, Singapura merupakan negara yang paling diminati dengan menduduki posisi ke-8 secara global atau posisi pertama di ASEAN, disusul oleh Malaysia di peringkat ke-19 secara global atau peringkat kedua di ASEAN, dan berikutnya Thailand di posisi ke-35 secara global atau peringkat ketiga di ASEAM. Di sisi lain, posisi Indonesia masih tertinggal jauh, dengan berada di posisi ke-53 secara global.

    Selain itu, menurut survei mengenai kebahagiaan di tempat bekerja dan preferensi bekerja di luar negeri yang dilakukan oleh Jobstreet pada tahun 2016 lalu pada 4600 responden, setidaknya 4000 responden menyatakan  bahwa mereka siap meninggalkan tempat bekerjanya sekarang apabila ada tawaran untuk bekerja di luar negeri. Ketika ditanya mengenai alasannya, 52% responden mengaku bahwa mereka menginginkan tawaran gaji yang lebih besar serta tunjangan finansial yang lebih tinggi.


    Namun, Sudahkah Kamu Mengenal Indonesia Lebih Jauh?

    Dan kenyataannya ialah, ya... Ada banyak sekali keuntungan yang bisa didapatkan jika kamu memilih untuk tetap tinggal di Indonesia. Kebutuhan jasa bisa didapatkan dengan (sangat) mudah, dan harganya pun lebih terjangkau. Sebut saja jasa asisten rumah tangga yang mungkin juga kamu gunakan saat ini. Belum lagi bidang jasa lainnya, seperti jasa teknisi, atau ketika kamu membutuhkan ahli bangunan, juga jasa para pekerja di salon seperti kapster atau jasa pijat yang bisa kamu dapatkan dengan mudah. Akui saja, jasa seperti ini akan sangat sulit kamu temukan di negara lain.

    Selain itu, di bidang pariwisata, Indonesia kini semakin unggul dibandingkan dengan negara-negara pesaing. Berbagai opsi wisata eksotis yang bermunculan di seluruh wilayah tropis Indonesia membuat negara ini semakin dilirik sebagai tempat berlibur. Ya, kamu tinggal di surga tropis. Menurut hasil laporan Tripadvisor, Bali merupakan destinasi paling populer dan paling diminati dengan menduduki peringkat nomor satu dalam 2021 Travelers' Choice Awards. Selain itu, DIVE Travel Awards di tahun 2020 lalu juga menyebutkan bahwa Batu Bolong di Pulau Komodo serta Toyapakeh di Nusa Penida merupakan lokasi diving terindah di dunia, disusul dengan Blue Corner, Manta Point dan Crystal Bay di Nusa Lembongan dan Nusa Penida pada peringkat kedua. Matt Kepnes, pengarang buku "How to Travel the World on $50 a Day" juga mengakui bahwa deretan pulau Gili merupakan lokasi terbaik ketiga di dunia untuk scuba diving. Oh ya, tahukah kamu bahwa hutan hujan tropis di Sumatra juga sudah masuk daftar UNESCO World Heritage sejak tahun 2004? Ini menunjukkan betapa indahnya negeri pertiwi, and you shouldn't taking them from granted.

    Plus, berlakunya Perpres Nomor 21 sejak tahun 2016 memberikan visa bebas kunjungan bagi 169 negara, yang membuat para turis kian berdatangan dan menambah pemasukkan negara. Peraturan tersebut memang mungkin kurang relevan selama masa pandemi ini, namun hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sebenarnya sedang mengusahakan yang terbaik untuk meningkatkan ekonomi negara, and maybe the grass there ain’t always greener.


    Jadi, Haruskah Kita Pindah dari Indonesia?

    Benarkah kenyataannya bahwa tinggal di negara lain jauh lebih baik daripada tetap berada di Indonesia? Hmm, Cosmo merangkum beberapa poin penting untuk membantumu menemukan jawabannya.



    REMAIN

    Layanan Pemerintah

    Ya, sebenarnya pemerintah saat ini sedang berusaha untuk mendukung pertumbuhan ekonomi negara serta mengurangi kesenjangan ekonomi. Hal tersebut dilakukan dengan memberikan kartu prakerja, insentif keringanan pajak ppH Pasal 21, dan pemberlakuan nominal baru PTKP bagi para pekerja dengan jumlah gaji tertentu. Belum lagi keringanan denda pajak kendaraan serta keringanan pajak tanah bangunan dan IMB bagi para pemilik rumah dengan luas tanah tertentu. Pemerintah juga kini memberikan jaminan kesehatan, dana pensiun, serta bantuan dana pendidikan yang terjangkau bahkan bagi para warga yang tidak mampu.

    Di tengah pandemi ini, pemerintah juga terus berusaha untuk memberikan bantuan, semisal yang terbaru adalah subsidi sebesar Rp1 Juta (yang dibayarkan masing-masing Rp500.000,- per bulan Juli dan Agustus) bagi para pekerja dengan gaji di bawah Rp3.500.000,- dan telah terdaftar sebagai peserta jaminan sosial tenaga kerja. Selain itu, pemerintah juga memberikan keringanan pajak berupa insentif pajak UMKM, insentif PPh Pasal 22 impor, insentif Angsuran PPh Pasal 25, serta insentif PPN.

    Biaya Hidup Rendah

    Well, nyatanya biaya hidup di Indonesia termasuk salah satu yang terendah di dunia. Bahkan, Indonesia merupakan negara yang paling rendah biaya hidupnya jika dibandingkan dengan negara lainnya di ASEAN. Itulah yang diungkapkan hasil riset Consumer Price Index 2021 yang dilakukan oleh situs Numbeo baru-baru ini. Biaya hidup untuk tinggal di Indonesia bahkan 56,49% lebih murah dibandingkan di Singapura (negara dengan biaya hidup tertinggi di ASEAN, bahkan biaya hidup di Singapura lebih tinggi dibandingkan biaya hidup di Amerika Serikat), dan biaya sewa akomodasi lebih murah 84,7% dari Singapura. Jika dipikir kembali, pendapatan yang besar di negara lain belum tentu dapat memenuhi biaya hidup yang besar pula.


    ...OR NOT

    Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

    Sejak akhir 2015 lalu, sepuluh negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN sepakat untuk membentuk sebuah pasar tunggal yang disebut dengan ASEAN Economic Community (AEC) atau yang lebih dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Keberadaan MEA tidak hanya membuka arus perdagangan barang dan jasa tetapi juga pasar tenaga kerja profesional. Hal ini dapat menjadi peluang bagi kamu untuk mencari “peruntungan” di negara Asia Tenggara lainnya. 

    Korupsi

    Bukan rahasia lagi kalau Indonesia terkenal sebagai negara yang korup. Pada tahun 2020 lalu, Transparency International mencatat bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-102 negara terkorup dari 180 negara, dan memperoleh skor 37 dari 100—dengan skor 100 berarti bersih dari korupsi. Hal ini cukup mengejutkan, karena peringkat Indonesia menurun tajam hanya dalam waktu setahun. Bagi kamu yang belum tahu, laporan dari Transparency International di tahun 2019 lalu menunjukkan bahwa Indonesia sempat berada di peringkat ke-85. Ini berarti, peringkat kita menurun sebanyak 17 posisi hanya dalam hitungan waktu beberapa bulan.

    Tak bisa dipungkiri lagi, korupsi hingga saat ini masih menghambat pertumbuhan negara serta menyebabkan ketidakadilan yang signifikan di masyarakat. Belum lagi korupsi cenderung membuat pelayanan pemerintah kepada masyarakat menjadi buruk. Bisa dikatakan, masih ada jalan panjang sampai akhirnya Indonesia dapat bebas dari korupsi karena Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) sepertinya sudah mendarah-daging di dalam domain politik, hukum, dan korporasi negeri ini.


    Make It Through

    Truth is, we can’t just flee—and even if we could, we LOVE this place. Akui saja, kita memiliki love and hate relationship dengan negara ini. Namun untuk benar-benar meninggalkan Indonesia? Hmmm... Ada banyak sekali alasan yang patut menjadi pertimbangkan.

    Kamu mungkin sudah mendengar beberapa kabar bahwa banyak yang berusaha untuk mencapai kesuksesan di negara tetangga namun gagal dan pulang dengan tangan hampa. Kemungkinan buruk memang selalu ada di mana pun kamu berada, dan mungkin jawaban yang terbaik bagi kita ada pada penggalan lagu dari God Bless, "Lebih baik di sini, rumah kita sendiri."

    Jadi ingat selalu hal ini ketika kamu merasa muak dengan keadaan Indonesia: Sebagaimana pun menyebalkannya negara ini, ada banyak orang yang berusaha untuk membuat negara ini menjadi lebih baik lagi. Pertanyaannya sekarang, apakah kamu akan melakukan hal yang sama?

    (Hana Devarianti / Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Nick Agus Arya on Unsplash, Tusik Only on Unsplash, Cok Wisnu on Unsplash, Rival Sitorus on Unsplash, Layout by: Rhani Sakurani)