Better You

Mengenal Eating Disorder dan Bahayanya Saat Pandemi

  by: Redaksi       16/8/2021
  • Pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama lebih dari satu tahun telah banyak mempengaruhi kondisi fisik, ekonomi, dan mental seseorang. Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh CDC, diketahui bahwa sebanyak 40.9 persen masyarakat Amerika Serikat berumur di atas 18 tahun merasakan penurunan kondisi mental mereka akibat tekanan yang dirasakan selama pandemi.


    Tekanan ini bisa datang dari mana saja, mulai dari rasa takut, gelisah, insomnia, dan lain sebagainya. Untuk beberapa orang, tekanan tersebut pada akhirnya tersalurkan dalam bentuk eating disorder. Kondisi dunia yang sedang dalam ketidakpastian memicu banyak orang untuk memikirkan ulang tentang diri mereka. Pada akhirnya, banyak yang merasa bahwa ini kesempatan yang bagus untuk “memperbaiki” diri sendiri. Sayangnya, bagi mereka yang memiliki eating disorder, hal ini diartikan dengan membuat diri mereka kelaparan dan terobsesi untuk menurunkan berat badan.




    Penyakit Kejiwaan Paling Mematikan

    Melansir dari situs American Psychiatric Association, eating disorder diartikan sebagai kondisi yang ditandai dengan gangguan terhadap kebiasaan makan seseorang secara terus-menerus. Biasanya, eating disorder juga dikaitkan dengan terlalu fokus pada makanan, berat badan, dan bentuk tubuh serta memiliki kecemasan tentang apa yang dimakan serta konsekuensi ketika mengonsumsi makanan tertentu. Sekilas mungkin pengidap eating disorder terlihat seperti orang yang sedang menjalankan diet seperti biasa, padahal apa yang mereka lakukan itu sangat berbahaya. Bahkan, eating disorder sendiri sering dikatakan sebagai penyakit kejiwaan paling mematikan dengan angka kematian 4 kali lebih besar dari depresi. Tingginya angka kematian ini sebagian dikarenakan karena komplikasi lain yang datang akibat eating disorder.



    Eating disorder sering kali dikaitkan dengan penyakit kejiwaan lain di mana dari 10.000 remaja dengan eating disorder, 88 persen memiliki gangguan kecemasan, depresi, atau gangguan kepribadian dan sebanyak 50 persen dari penderita eating disorder menyalahgunakan obat-obatan. Tidak hanya itu, dalam jangka panjang pengidap eating disorder juga dapat terkena penyakit lain seperti gangguan pada jantung karena BMI yang rendah, obesitas, serta gangguan lambung dan usus.


    Eating Disorder di Tengah Pandemi

    Tingginya tekanan dan stres di masa pandemi dipercayai telah mendorong banyak orang untuk memiliki kebiasaan yang diasosiasikan dengan disordered eating. Bahkan, beberapa orang justru menggunakan eating disorder sebagai coping mechanism mereka di tengah kondisi dunia yang sedang dalam ketidakpastian. Kebiasaan eating disorder seperti menghitung kalori dan olahraga berlebihan dapat menjadi pengalihan perhatian bagi sebagian orang. Sedangkan, bagi mereka yang merasa sedih atau kehilangan, biasanya beralih ke makanan untuk mengisi rasa hilang tersebut.


    Tanda-Tanda Eating Disorder

    Sebenarnya, terdapat lebih dari satu jenis eating disorder dengan cirinya masing-masing. Namun, secara umum penderita eating disorder memiliki dorongan untuk melakukan:

    1. Membatasi atau menghindari makanan tertentu
    2. Tidak nyaman untuk makan di depan orang lain
    3. Sering melakukan body checking
    4. Moodswings yang ekstrim
    5. Sering mengalami gangguan pencernaan
    6. Selalu merasa dingin
    7. Perempuan akan mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur
    8. Memiliki permasalahan pada gigi dan mulut

    Satu hal yang tidak kalah penting untuk diketahui adalah eating disorder dapat menyerang siapapun. Tidak peduli umur, gender, maupun berat badan seseorang. Salah satu permasalahan utama yang menghambat seseorang dengan eating disorder untuk meminta pengobatan adalah karena mereka takut kalau orang-orang tidak mempercayai mereka. Adanya stigma bahwa eating disorder hanya bisa terjadi pada perempuan remaja yang kurus membuat pasien lain yang tidak terlihat seperti ini terlalu takut untuk angkat suara. Ingat: Eating disorder adalah penyakit mental yang menyerang psikis seseorang, bukan fisik.


    Jenis-Jenis Eating Disorder

    Menurut National Eating Disorder Association (NEDA), terdapat 6 jenis eating disorder yang paling umum dijumpai:

    Anorexia Nervosa

    Dari semua jenis eating disorder, mungkin Anorexia yang paling familiar didengar dan biasanya diartikan dengan tindakan self-starvation yang mengakibatkan penurunan berat badan berlebih. Tanda-tanda dari pengidap Anorexia antara lain seperti makan terlalu sedikit, penurunan berat badan yang drastis, dan terpaku pada ukuran badan.

    Bulimia Nervosa

    Berbeda dengan Anorexia yang mengurangi konsumsi makanan, Bulimia ditandai dengan adanya suatu siklus makan. Siklus ini dimulai dengan melakukan self-starvation, binge eating, merasa bersalah, dan purging atau upaya untuk “membersihkan” diri agar mengurangi risiko berat badan naik (seperti menggunakan obat pencahar atau memaksakan untuk muntah)

    Binge Eating Disorder (BED)

    Di antara semuanya, mungkin BED adalah salah satu yang paling jarang dibicarakan atau bahkan orang-orang tidak menyadari bahwa ini termasuk bagian dari eating disorder. BED ditandai dengan mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak dalam jangka waktu tertentu secara terus-menerus.

    Avoidant Restrictive Food Intake Disorder (ARFID)

    Kondisi ini merujuk pada seseorang yang membatasi jumlah dan jenis makanan yang mereka konsumsi. Perbedaannya dengan Bulimia dan Anorexia adalah, pengidap ARFID biasanya melakukan hal ini bukan karena berat badan mereka melainkan karena rasa takut akan tersedak atau muntah jika memakan makanan tertentu.

    Orthorexia

    Orthorexia merupakan jenis eating disorder paling baru yang ditandai dengan obsesi bahaya seseorang untuk menjaga diet mereka hanya terdiri dari makanan sehat. Karena masih baru, masih belum ada kriteria diagnostik secara spesifik yang dapat menjelaskan apakah Orthorexia termasuk satu penyakit sendiri, bagian dari eating disorder yang sudah diketahui, atau bentuk lain dari obsessive-compulsive disorder (OCD).



    Other Specified Eating or Feeding Disorder (OFSED)

    Untuk eating disorder satu ini, biasanya akan diberikan pada seseorang yang memiliki gejala gangguan makanan yang mengakibatkan penurunan kesehatan mental, tetapi tidak memenuhi kriteria eating disorder yang sudah ada. Contohnya seperti purging disorder, night eating syndrome, pengidap Anorexia dengan BMI normal, serta penderita Bulimia atau BED dengan frekuensi rendah.


    Kalau Kamu Merasa Dirimu atau Orang Terdekatmu Memiliki Eating Disorder...

    You are not alone! Kunci dari menangani eating disorder adalah mendapatkan pengobatan secepat mungkin. Kamu dapat membuat janji dengan psikolog atau psikiater yang dapat memberi saran pengobatan yang terbaik untukmu. Selain itu, terbuka dan membicarakan perjalanan serta perasaanmu kepada orang yang kamu percaya juga penting untuk dilakukan agar mereka dapat membantu kelancaran proses recovery-mu.

    Jika kamu merasa orang terdekatmu memiliki eating disorder, usahakan untuk jangan langsung mengekspos dirinya karena banyak penderita eating disorder yang tidak mengakui atau bahkan tidak sadar apa yang mereka lakukan itu salah. Secara perlahan bicarakan kekhawatiranmu terhadapnya lalu temani dan dengarkan ceritanya. Pastikan ia merasa kalau dia tidak harus melawan ini semua sendirian.


    (Nabila Nida Rafida / Image: Dok. Alex Green, SHVETS production on Pexels; Vonecia Carswell, Jacqueline Day, Diana Polekhina on Unsplash)