Lifestyle

Honest Review: Serial The White Lotus (2021)

  by: Alexander Kusumapradja       19/8/2021
  • Dear Cosmo Babes, kangen gak sih suasana liburan di hotel dengan bersantai di kolam renang, menikmati spa, dan menyantap breakfast buffet yang menggoda? Well, kerinduan itu lumayan terobati dengan menonton The White Lotus, serial nomor satu di HBO Max saat ini.

    Ditulis dan disutradarai oleh Mike White, serial ini bercerita tentang orang-orang yang menginap di sebuah resort mewah bernama The White Lotus yang terletak di Hawaii. Mirip seperti Emily in Paris, The White Lotus juga termasuk perfect pandemic series karena di serial ini gak ada yang namanya pandemi COVID-19. Para karakter yang terdiri dari para staf hotel dan tamu (yang mostly orang-orang kulit putih kaya raya) tak ada yang memakai masker. Jadi rasanya memang menjadi eskapisme tersendiri untuk ikut menikmati cerahnya matahari dan birunya laut Hawaii di serial ini.



    (Image: Dok. Instagram @thewhitelotus)


    Tapi jelas bukan hanya itu saja yang membuat serial ini jadi begitu disukai banyak orang. Yang lebih penting dari latar adalah plotnya sendiri yang memang menarik untuk diikuti. Pertama kali tayang 11 Juli lalu, episode pertama The White Lotus dibuka di sebuah bandara di mana sekotak peti mati akan diterbangkan keluar Hawaii. Dari sini, kita dibuat penasaran mayat siapa di dalam peti itu dan apa penyebab kematiannya di resort mewah tersebut.

    Untuk tahu jawabannya, kita harus menonton keenam episodenya, di mana setiap episode menceritakan satu hari penuh dari kejadian yang terjadi di White Lotus, dari mulai bangun dan sarapan hingga makan malam dan berbagai konflik yang muncul di larut malam. Biar kamu makin penasaran, simak honest review dari Cosmo berikut ini.

    (Image: Dok. Instagram @thewhitelotus)


    PROS

    Cerita yang cerdas tapi menyentil dan ensemble cast yang sempurna.

    Lebih dari sekadar misteri pembunuhan, serial ini sebetulnya lebih ke arah drama komedi satir tentang privilege dan social gap yang disampaikan lewat deretan karakter menarik.

    Dalam perahu VIP yang menuju White Lotus, kita berkenalan dengan Rachel (Alexandra Daddario) dan suaminya Shane (Jake Lacy) yang akan berbulan madu namun ditempatkan di kamar yang salah. Shane si man child yang gak terbiasa menerima kata "tidak" terus uring-uringan dan meneror Armond (Murray Bartlett), sang manager hotel mantan pecandu narkoba yang sudah sober selama 5 tahun.

    (Image: Dok. Instagram @thewhitelotus)

    Hal ini membuat Rachel tak nyaman dan mood bulan madu tersebut makin rusak saat mertuanya datang. Sebelum menikahi Shane yang berasal dari keluarga tajir, Rachel adalah jurnalis dari keluarga dan latar belakang yang biasa-biasa saja dan bulan madu ini justru membuatnya mempertanyakan apakan ia siap meninggalkan kariernya dan menjadi sekadar trophy wife?



    Turut hadir di rombongan ini adalah keluarga Mossbacher yang terdiri dari Nicole (Connie Britton), sosok girlboss sukses dan suaminya Mark (Steve Zahn) yang merasa inferior dari istrinya, anak mereka Olivia (Sydney Sweeney) dan Quinn (Fred Hechinger), serta Paula (Brittany O’Grady), teman kuliah Olivia yang sama cantik dan sarkastiknya.

    Olivia dan Paula mungkin terlihat seperti mean girls pada umumnya yang cantik dan suka mengomentari orang lain di sekitar mereka, namun yang bikin mereka lebih intimidatif adalah mereka termasuk generasi woke yang gak segan untuk cancel dan calling out orang lain, termasuk keluarga Olivia sendiri. Misalnya saat ada atraksi tradisional Hawaii di acara makan malam, mereka menganggap hal itu sebagai bentuk kolonialisasi kultur setempat.

    The White Lotus sendiri dibangun di atas tanah warisan penduduk asli yang harus terusir dari pulau kelahiran mereka atau bekerja di hotel tersebut sebagai staf, seperti Kai (Kekoa Scott Kekumano), staf ganteng yang kemudian menjalin hubungan dengan Paula dan membuat persahabatan Paula dan Olivia jadi renggang.

    Ada juga Tanya McQuoid (Jennifer Coolidge), janda kaya yang ingin menyebar abu ibunya dan menjalin pertemanan dengan Belinda (Natasha Rothwell), manajer spa hotel itu, setelah sesi refleksi yang healing. Pertemanan itu membuat Tanya berjanji akan memberikan modal agar Belinda bisa membuka usahanya sendiri, namun ia bertemu dengan tamu pria seumurnya dan membuat Belinda harap-harap cemas menunggu janji yang bisa mengubah nasibnya tersebut.

    Yang menarik, setiap interaksi yang terjadi benar-benar menjadi sebab dan akibat dari semua kejadian di White Lotus, bahkan pada karakter yang tak pernah berinteraksi secara langsung. Dan semuanya akan mencapai klimaks di episode terakhir yang kalau menurut Cosmo sih very satisfying dan tak tertebak.


    CONS

    Alur yang lambat dan banyak dialog.

    (Image: Dok. Instagram @thewhitelotus)

    Serial ini cenderung lebih banyak dialog dibanding aksi jadi rasanya kurang cocok kalau kamu lebih suka serial yang banyak action. Itu sebabnya mungkin beberapa episode awalnya bisa terasa membosankan karena kita baru diajak perkenalan dengan para karakter dan kepribadian mereka dan belum tahu ceritanya mau dibawa kemana. Tapi kalau sudah paham konflik setiap karakter, kamu pasti penasaran untuk tahu nasib mereka di episode akhir. Selain itu, ada beberapa adegan yang terbilang frontal seperti alat kelamin hingga adegan di episode akhir yang tak bisa diceritakan sekarang karena spoiler alert. So, viewer discretion is advised.


    Dikemas dalam dialog witty, akting hebat, dan pemilihan soundtrack yang pas membuat serial ini banjir respons positif dari pecinta series di media sosial. Bahkan sebelum episode finalnya tayang 15 Agustus lalu, HBO sudah mengonfirmasi akan ada season 2 The White Lotus namun tak berhubungan langsung dengan season pertama ini. Mirip seperti cerita antologi, season dua nanti akan menampilkan cast dan cerita baru di cabang White Lotus di tempat lain. So exciting!


    (Alexander Kusumapradja/Image: Dok: HBO)