Lifestyle

Film Review: Selesai, Perselingkuhan yang Dikemas dalam Dark Comedy

  by: Alexander Kusumapradja       20/8/2021
  • Kalau Cosmo babes termasuk pecinta film yang aktif di media sosial, mungkin kamu sudah tahu kalau seminggu terakhir ini ada satu film lokal yang sedang hangat dibicarakan, yaitu “Selesai”, film terbaru garapan Tompi dan Imam Darto setelah sebelumnya mereka bekerjasama membuat “Pretty Boys” (2019). Dibintangi oleh Gading Marten, Ariel Tatum, Anya Geraldine, film ini mengundang perhatian sejak trailer-nya memperlihatkan adegan serta dialog yang cukup frontal untuk ukuran film Indonesia dan membuat orang jadi makin penasaran.

    Setelah resmi tayang terbatas dan berbayar via platform streaming Bioskop Online Jumat lalu (13/8), banyak tanggapan pro dan kontra yang muncul untuk film ini. Banyak yang memuji film ini secara visual, dialog yang real, dan cerita perselingkuhan serta percekcokan rumah tangga selama pandemi. Tapi banyak juga yang menilai plot twist film ini kurang masuk akal dan hanya menempatkan perempuan sebagai korban.



    (Image: Dok. Instagram @bioskoponlineid)



    Ceritanya tentang apa sih?

    “Selesai” berfokus pada prahara rumah tangga Broto Hadisutedjo (Gading Marten) dan Ayudina Samara (Ariel Tatum) yang sudah tak lagi harmonis akibat orang ketiga dalam pernikahan mereka yang kian hambar ibarat roti tanpa mentega. Puncaknya adalah ketika Ayu pulang dengan membawa celana dalam perempuan dengan tulisan nama Anya (Anya Geraldine) yang ia temukan di mobil Broto. Saat itu juga Ayu langsung meminta cerai dan akan meninggalkan rumah. Namun, tanpa diduga ibu mertuanya yang bernama Sriwedari Hadisutedjo (Marini Soerjosoemarno) tiba ke rumah mereka untuk menginap selama beberapa waktu.

    Walaupun Ayu sebelumnya sudah beberapa kali kali mengetahui perselingkuhan suaminya, namun ia memilih bertahan karena tak ingin menyakiti perasaan ibu mertua yang sangat disayanginya tersebut. Tapi kali ini Ayu tetap bulat pendiriannya untuk meninggalkan rumah secara diam-diam. Sayang, kebijakan lockdown terlanjur dimulai dan rumah mereka disegel jadi tak ada yang boleh keluar atau masuk rumah mereka.

    Ayu pun mau tak mau terjebak di rumah dengan amarah memuncak ke suami tapi di saat yang sama harus pura-pura harmonis di depan mertua. Sementara itu, Broto pun mulai mencium ada sesuatu yang janggal dan dirahasiakan Ayu darinya. Klimaksnya, rahasia demi rahasia pun akhirnya terkuak di meja makan dan memakan korban perasaan yang berat.


    Lalu, apa yang membuat film ini begitu mengundang opini?

    Secara tema, film ini sebetulnya cukup menarik, yaitu tentang fenomena pasangan suami istri yang selama karantina COVID-19 ini bukannya makin mesra, justru jadi sering cekcok dan mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan di ponsel masing-masing, termasuk perselingkuhan. Tapi jangan bayangkan film ini akan seperti film pernikahan semacam Marriage Story (2019) yang cukup serius dan mentally draining. Kehadiran Tika Panggabean sebagai Asisten Rumah Tangga bernama Yani dan Imam Darto sebagai Bambang, pacar Yani yang bekerja sebagai supir dan ikut lockdown secara diam-diam di kamar Yani hadir sebagai comic relief yang mencairkan ketegangan di film ini.

    Dalam diskusi film ini yang digelar di Twitter Spaces tadi malam (19/8), Imam Darto sebagai penulis naskah menyebut film ini sebetulnya lebih ke arah dark comedy. Bagaimana menyajikan cerita yang serius dengan selipan humor. Namun, sayangnya humor yang disajikan kadang terasa tidak pada tempatnya dan cenderung berbau seksual. Dalam sebuah adegan, diperlihatkan Bambang bermasturbasi sambil memandangi sosok Ayu dari kejauhan, serta beragam jokes yang mengarah ke selangkangan lainnya.

    Seperti yang terlihat di trailer, film ini memang tak ragu menampilkan adegan atau dialog yang cukup frontal, mulai dari adegan seks di mobil, adegan Gading mandi yang memperlihatkan tubuh bagian belakangnya yang telanjang, hingga umpatan-umpatan kasar dalam dialognya. But in its defense, kata kasar dalam dialog penuh emosi itu memang dibutuhkan di film ini yang membuat akting Gading dan Ariel jadi lebih cair dan meyakinkan. Walaupun banyak juga bagian yang dialognya terasa kaku dan klise.

    (Image: Dok. Instagram @gadiiing)




    Kenapa banyak yang kontra?

    Dari yang kontra, banyak yang merasa plot film ini bagian awalnya telah memiliki set up yang menarik, namun makin ke belakang makin terasa terburu-buru dan dipaksakan. Dalam diskusi Twitter Spaces yang sama yang berlangsung sekitar 3 jam dan didengar oleh sekitar 3 ribu orang, Tompi dan Darto menjelaskan kalau sebenarnya film ini awalnya direncanakan sebagai serial berjumlah 3 sampai 5 episode namun akhirnya diputuskan untuk menjadi satu film. Mungkin hal itu yang membuat akhirnya banyak detail plot yang terpaksa dipangkas dan terasa ada informasi yang hilang dan membuat penonton berpikir “film ini mau dibawa ke mana sih arahnya?”

    Banyak juga yang menyayangkan representasi karakter perempuan di film ini terasa kurang maksimal. Walaupun Ayu bisa dibilang sebagai protagonis, namun pada akhirnya ia lebih terlihat sebagai korban utama di film ini, begitu pun Yani yang selain menjadi karikatur sosok ART yang trendi juga menjadi korban laki-laki. Peran Anya sebagai katalis rusaknya pernikahan Ayu dan Broto pun terasa kurang digali dan hanya sekadar tempelan, terlepas sosok Anya Geraldine juga hadir sebagai karakter dominan di poster dan trailer film ini. Hal itu membuat film ini memang terasa seperti film yang dibuat laki-laki dari sudut pandang laki-laki untuk fantasi laki-laki tanpa insight dari perempuan.


    Apa iya seburuk itu?

    Well, secara visual film ini tak bisa dibilang jelek, walau banyak juga yang merasa terganggu dengan tone warna kuning yang mendominasi banyak adegan di film ini. Tapi hal itu dijelaskan Tompi kalau secara psikologis hal ini untuk menggambarkan warna kuning yang seharusnya memancarkan energi bahagia justru di film ini menjadi pertanda “hati-hati” dan keadaan yang makin depresif. Secara teknis dan produksi, rasanya tak ada kesalahan fatal dari film ini.

    Selain itu, walau banyak yang mengkritik, Tompi mengaku banyak juga yang menyambut positif film ini dan merasa tema perselingkuhan ini relate dengan banyak orang. Terlepas dari pro dan kontranya, film ini sukses meraih 100 ribu penonton dalam waktu kurang dari seminggu, tak termasuk yang menonton secara ilegal. Suka atau tidak suka, hal ini termasuk kabar bagus bagi perfilman Indonesia yang turut terdampak selama pandemi dan menyiratkan bahwa penonton Indonesia masih bersedia menonton film-film lokal, terlepas dari motivasi dan pandangan setelah menyaksikan filmnya. Nah, bagaimana Cosmo babes? Tertarik untuk menontonnya juga atau nggak nih?


    (Alexander Kusumapradja / Image: Dok. Bioskop Online, Instagram @bioskoponlineid @gadiiing)