Better You

Memahami Pandemic Flux Syndrome dan 4 Tips Untuk Menghadapinya

  by: Alexander Kusumapradja       25/8/2021
  • Dear Cosmo babes, how are you? Semoga sehat selalu ya, tidak hanya secara fisik tapi juga mental. Kamu masih ingat tidak, beberapa bulan lalu di kuartal pertama tahun ini kita seolah punya harapan kalau pandemi di Indonesia akan segera berlalu atau setidaknya terkontrol. Okupansi pasien COVID-19 di Wisma Atlet dan rumah sakit sempat menyurut dan program vaksinasi mulai gencar dilakukan untuk masyarakat umum. Toko-toko dan restoran mulai terasa normal (a new normal, mind you) dan bahkan mungkin beberapa dari kita sempat terlena dan pergi berlibur atau mudik walau masih melakukan prokes dengan memakai masker atau social distancing. We finally feel good again and hopeful.

    But then, tiba-tiba kasus positif melonjak begitu pesat. Muncul lah virus varian baru seperti Delta, Alpha, Beta yang membuat rumah sakit dan Wisma Atlet kembali dipenuhi pasien COVID. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) kembali digalakkan, dan rasanya kita seperti terlempar kembali ke masa-masa awal pandemi: takut, cemas, dan frustrasi.

    Banyak rencana yang akhirnya terpaksa diundur atau dibatalkan lagi dan banyak aturan baru yang diperketat seperti wajib menunjukkan bukti vaksinasi saat mau masuk ke mal dan penutupan tempat umum. Jadi, merupakan hal yang wajar kalau kita merasa stres, cemas, dan takut lagi seperti di awal pandemi. The Washington Post menyebut hal ini sebagai “Pandemic Flux Syndrome.”




    via GIPHY


    Walaupun bukan istilah medis yang resmi, namun sindrom itu mengarah pada perasaan cemas dan keinginan untuk mengubah hidup secara drastis selama pandemi ini. Dalam artikel tersebut, seorang pekerja sosial bernama Nidhi Tewari yang memiliki spesialiasi pada trauma dan kecemasan menjelaskan: “Banyak orang yang merasakan kekosongan selama pandemi yang membuat mereka merasa tak nyaman dan rasa tak nyaman itu yang bisa membuat kita merasa tak punya kontrol pada hidup kita. Kita pun berusaha merebut kontrol itu kembali dengan mengubah apa yang kita bisa, termasuk pekerjaan, hubungan, atau tampilan fisik. Kita berusaha meredefinisikan self-concept yang kita kenal selama ini.”

    Hasrat akan perubahan besar dalam hidup itu cenderung dialami orang yang mengalami perasaan cemas (anxiety), sementara mereka yang depresi akan cenderung menutup diri dari lingkungan mereka. Kedua hal ini berakar dari keinginan untuk lari dari realita yang ada sekarang. Siapapun bisa mengalami dua spektrum ini. Ada yang jadi lebih melankolis dan memilih untuk diam di kasur sambil bingewatching atau mendengar musik dengan headphone. Di sisi lain ada yang jadi overthinking dan tergerak untuk mengubah drastis hidup mereka dengan mencari kesibukan atau pekerjaan baru.

    Ketidakpastian tentang masa depan dan kapan pandemi ini berakhir membuat banyak orang merasa lelah secara mental dan fisik, yang hasilnya membuat mereka jadi mudah burned out dan sulit fokus pada hal yang dikerjakan. Coba ingat ke diri kamu sendiri dulu deh, Cosmo babes: Apakah kamu bangun bukannya merasa segar tapi lelah? Apakah kamu merasa harus memaksa diri kamu untuk melakukan rutinitas seperti keluar kamar dan membuka laptop untuk bekerja? Apakah kamu kok rasanya jadi sering kehilangan fokus dan cenderung procrastinating saat bekerja? Apakah orang sekitarmu merasa kamu jadi lebih pendiam, mudah marah, dan lebih emosional? Apakah kamu mulai merasa ragu dengan pekerjaan dan masa depanmu?

    Kalau jawabannya adalah iya, mungkin kamu memang sedang mengalami yang namanya Pandemic Flux Syndrome ini. Tapi ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk mencegahnya tambah parah.

    via GIPHY

    1. Bicarakan perasaanmu

    Selama pandemi ini, orang jadi lebih mudah terbuka dan membicarakan tentang isu kesehatan mental yang memang bisa dialami siapa saja. Jangan malu untuk membicarakan semua kegelisahanmu baik dengan tenaga profesional maupun orang-orang terdekat yang kamu percaya. Terkadang mengekspresikan secara verbal semua perasaan negatif yang kamu rasakan bisa membantumu memahami dan mencernanya dengan lebih baik dibanding hanya disimpan di kepala sendiri. Mungkin juga, orang sekitarmu sebetulnya merasakan hal yang sama namun belum nyaman untuk membahas hal itu secara terbuka.




    via GIPHY

    2. Melakukan self-care

    Dibanding memaksa diri duduk di depan laptop tapi sebetulnya kamu hanya menunda pekerjaan dengan melakukan hal tak produktif, lebih baik sisihkan waktu yang cukup untuk benar-benar melakukan self-care dan fokus pada kesehatan fisik dan mentalmu. Mulai dari menekuni hobimu, melakukan yoga, atau olahraga lain di rumah, dan menikmati matahari pagi. Kurangi waktu untuk scrolling your social media mindlessly dan membuatmu malah makin lelah. Sebagai gantinya coba get in touch lagi dengan keluarga atau teman-teman lama yang mungkin sudah lama tidak ngobrol.


    via GIPHY

    3. Jangan ambil keputusan gegabah

    Dalam kondisi seperti sekarang, jangan terburu-buru mengambil keputusan seperti mengajukan resign dari kantor. Sebelum mengambil keputusan, coba tenangkan dirimu dengan melakukan meditasi kecil, pastikan kamu punya waktu tidur yang cukup (jangan berlebihan), dan hindari konsumsi alkohol atau junk food yang berlebihan. Kalau kamu merasa ada masalah dengan pekerjaanmu, Sebelum bulat memutuskan resign coba komunikasikan dengan manager atau tim HRD segala hal yang jadi beban pikiranmu dalam bekerja. Dari situ, mungkin kita bisa mencari jalan tengah dari mulai ambil cuti, pindah job desc, atau penyesuaian tanggung jawab. Sampaikan hal yang menurutmu bisa membuatmu lebih produktif dan bahagia saat bekerja yang tentu hasilnya akan lebih baik bagi kantor dibanding saat kamu melakukan pekerjaan dengan setengah hati dan frustrasi. 


    via GIPHY

    4. Fokus pada goals idealmu

    Kalau kompromi tak tercapai dan kamu tetap memutuskan untuk resign, jangan berkecil hati karena ini waktunya bagimu untuk benar-benar memikirkan ulang apa karier atau goals yang ingin kamu wujudkan. After all, what doesn’t kill us only make us stronger. Ada alasan kenapa kita tetap bertahan kuat sampai sekarang. Pandemi ini juga membuat kita makin menyadari kalau waktu kita di dunia sangat terbatas dan kita berhak untuk mengejar yang terbaik untuk diri kita. Jadi ayo fokus dengan apa yang ingin kamu wujudkan sambil mengecek lagi kondisi finansialmu saat ini. We got this, babe.


    (Alexander Kusumapradja / Image: visuals on Unsplash)