Lifestyle

Seorang Perempuan Muda Afghanistan Berbagi Kisah Mengenai Keadaannya

  by: Alvin Yoga       27/8/2021
  • 2021, dua puluh tahun setelah membuka pos di Afghanistan, Amerika Serikat mulai memanggil kembali pasukan dan personel militer mereka, dengan tenggat waktu rencana untuk sepenuhnya meninggalkan negara tersebut pada 31 Agustus. Pertengahan Agustus, pejuang Taliban mulai memasuki ibukota negara tersebut, dan dengan cepat mengambil alih Kabul, menanamkan rasa takut ke seluruh penjuru negeri dan dunia. Pada 24 Agustus, meski mengklaim bahwa perempuan dapat mempertahankan kebebasan untuk bekerja dan mencari pendidikan, Taliban mengeluarkan isu kebijakan "sementara", mendesak para perempuan untuk tetap berada di dalam rumah. Seorang juru bicara Taliban menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan sebuah langkah keamanan yang dimaksudkan untuk melindungi para perempuan dari para pasukan yang mungkin belum dilatih untuk tidak menyakiti mereka.

    Berikut ini merupakan sepenggal cerita dari seorang perempuan muda Afghanistan, yang berbagi pada Cosmopolitan US ketakutannya akan keselamatan keluarganya, dan juga masa depan negaranya.




    Sejak masih sangat muda, saya ingat pemerintah memberitahu para perempuan bahwa kami memiliki hak dan kebebasan—bahwa pemerintah ada untuk memberikan rasa aman sehingga kami bisa tumbuh besar dan membalas kebaikan tersebut pada masyarakat nantinya. Karena alasan tersebut, saya selalu ingin mempelajari ilmu politik: Saya berencana untuk mendapatkan edukasi terbaik yang bisa saya dapatkan dan kemudian menggunakan apa yang saya pelajari untuk membantu negara saya.

    Sekarang, saya tak tahu apa yang bisa saya lakukan.


    Nama saya Halima. Saya berumur 21 tahun, dan saat ini sedang menempuh tahun kedua di universitas. Kurang dari dua minggu lalu, saya melihat Kabul diambil oleh Taliban dari dalam asrama saya di Colorado. Sudah dua tahun saya tidak kembali ke Afghanistan, sejak sebelum pandemi. Saya tidak bisa makan ataupun tidur; bahkan saya tidak bisa mengikuti kelas. Saya juga berhenti bekerja, karena saya merasa takut dan depresi. Rasanya terlalu sulit untuk melanjutkan hidup ketika saya merasa khawatir bahwa saya mungkin tidak akan melihat keluarga saya lagi.

    Saya lahir di sebuah desa kecil, dan pindah ke Kabul begitu saya memasuki tahun pertama sekolah. Di sana, saya mendapatkan beasiswa untuk pindah ke sebuah sekolah lokal, yang didukung sepenuhnya oleh orang-orang Amerika. Sepanjang hidup saya, saya diberitahu bahwa Amerika Serikat ada di sana untuk membantu Afghanistan bangkit, untuk melindungi kita, untuk memfasilitasi perkembangan, terutama bagi perempuan; dan selama dua dekade terakhir, banyak perempuan Afghanistan telah mendapat kemajuan seiring terbukanya berbagai kesempatan. Kami telah berhasil menjadi profesor di universitas dan anggota pemerintahan, apapun yang kami inginkan. Tapi sekarang rasanya kami kembali ke titik awal. Kembali ke situasi sebelum semuanya terjadi.

    Di dalam berita dan di media sosial, saya melihat orang-orang berkata bahwa tak ada yang berubah sejak Taliban mengambil alih kekuasaan, bahwa tak ada pembatasan baru dan semuanya berjalan normal. Tapi semua itu tidak benar.

    Rasanya seperti ingatan saya sedang dihapus. Seakan-akan kami semua hanyalah sekumpulan tubuh, melayang melewati hari.

    Biar saya beritahu apa yang berubah: Sebelum ini terjadi, kakak perempuan saya bisa bekerja. Ia bisa keluar rumah sendirian—untuk membeli sesuatu atau untuk berolahraga—karena ia dianggap sebagai seorang manusia seutuhnya. Sekarang, seorang pria harus menemaninya ke mana pun.



    Teman-teman saya sangat, sangat ketakutan. Di dalam obrolan grup dengan seluruh mantan teman sekelas saya, pesan-pesan yang masuk penuh dengan kegelisahan dan kegilaan. Setiap orang sedang berusaha untuk mencari tahu apa yang sebaiknya mereka kenakan agar mereka terlindungi, bagaimana cara bersikap agar bisa memuaskan sekumpulan radikal di luar sana. Saya berbicara dengan sepupu saya yang lebih muda di telepon—seorang perempuan yang selalu memiliki impian besar—dan tahukah kamu apa yang ia beritahukan pada saya? "Kami harus menerima kenyataan bahwa perempuan harus berada di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Semua sudah berakhir." Mendengar hal itu hati saya hancur.

    Keluarga kami juga sedang berada dalam bahaya, karena saya dan seluruh saudara saya mengikuti pendidikan di sekolah yang dikelola oleh orang Amerika dan bekerja bersama orang Amerika. Orang tua saya tak pernah peduli soal politik. Yang mereka inginkan hanyalah merawat dan membesarkan kami. Tapi saat ini, mereka tidak bisa melindungi kami. Minggu ini, saudara-saudara lelaki saya mengumpulkan seluruh koleksi buku kami, seluruh karya seni dan juga bahan-bahan kesenian mereka—untuk dijual, atau dibakar—karena kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika seseorang dari rezim baru ini menemukan barang-barang tersebut di rumah kami.

    Jadi mungkin untuk para orang Amerika di Kabul, segalanya bisa saja terlihat normal. Tapi tidak seperti itu bagi para perempuan dan pria Afghanistan. Seperti yang dipikirkan oleh orang-orang Amerika, "Masa bodoh, kami sudah selesai mengurusi kalian dan masa depan kalian. Kami akan meninggalkan tempat ini dan membiarkan orang-orang datang ke sini untuk mengambil alih."

    Saya merasa tak punya rumah. Rasanya seperti kultur dan memori saya sedang dihapus. Seakan-akan kami semua hanyalah sekumpulan tubuh, melayang melewati hari, karena kehidupan kami telah berakhir. Rasanya seperti orang-orang yang kami anggap sebagai teman telah mengkhianati kami. Dan sekarang pilihan kami satu-satunya adalah menunggu dan melihat apakah yang kami yakini akan terungkap ke permukaan.


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Ditulis sesuai dengan yang diberitahukan pada Elizabeth Kiefer / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Cosmopolitan US)