Better You

6 Pertanyaan Kesehatan yang Sering Ditanyakan di Google + Jawabannya

  by: Giovani Untari       30/8/2021
  • AM I....NORMAL?


    “Normal” dapat menjadi sebuah kata yang berdampak buruk, sebab pada dasarnya kita semua berbeda. Tetapi setelah apa yang terjadi tahun ini, sangat mudah bagi kita untuk penasaran dan saling berbagi mengenai masalah kesehatan. Untuk itu, Cosmo membawa segala pertanyaan tentang kesehatan yang paling banyak ditanyakan di Google kepada para experts.




    Pandemi ini tidak hanya sekadar memberi dampak besar bagi kehidupan kita semua (erm,duh), ‘ia’ bahkan ikut membawa berbagai efek unik di dalamnya, seperti: kita bisa melihat bagaimana kelas olahraga di rumah menjadi kembali populer, antusiasme masyarakat atas memasak, berkebun, dan bersepeda yang semakin meningkat, sampai ramainya berbagai kuis dan kelas pelajaran bahasa di Zoom.



    Tetapi jelas ada efek yang lebih serius atas pandemi ini. Di mana kecemasan akan terserang penyakit begitu menyebar pada semua sisi kehidupan. Ini membuat kita akhirnya jadi lebih sering bertanya kepada Dr Google untuk menemukan jawaban yang sesuai dengan berbagai gejala yang tengah tubuh kita rasakan. Tidak terlalu mengejutkan juga jika pandemi ini sangat mudah membuat kita terserang rasa cemas berlebihan, sebab tahun ini kita jadi mempunyai banyak waktu luang untuk memikirkan banyak hal.




    Bila biasanya kita memiliki jadwal hangout dan mencicipi berbagai kafe seru, tiba-tiba saja kita hanya menghabiskan sepanjang weekend di rumah. Dan sembari menikmati waktu luang dengan ditemani segelas alkohol, mendadak rasa panik muncul karena kamu merasa terserang alergi alkohol (di mana wajahmu berubah menjadi merah setelah minum).

    Kita juga mulai mencari tahu jawaban mengapa mata mendadak sering berkedut (dengan tambahan pertanyaan: “kenapa ini bisa terjadi?”), serta apakah normal jika nafsu makan terasa begitu besar ketika sedang fase menstruasi (jawabannya adalah ya). 

    Lalu masih ada begitu banyak kekhawatiran yang muncul dan membuat kita penasaran sekaligus ingin mengetahui semua jawabannya. Seperti pertanyaan: “Apakah berbahaya jika Miss Cheeful berdarah setelah melakukan seks?”


    Untuk itulah, Cosmo bertanya kepada sejumlah ahli demi menemukan jawaban atas segala concern kesehatan yang paling banyak kamu tanyakan di Google. Jadi mari menyingkir sejenak dari forum online (jujur, mereka terkadang tidak meredakan rasa gelisahmu) dan bacalah artikel ini.

    Selalu ingat pula jika kamu masih merasa khawatir, segeralah berkunjung ke dokter untuk mendapatkan jawaban dan penanganan yang tepat.


    1. Apakah normal... jika sering merasa kedinginan?

    Apakah kamu termasuk orang yang sering mengigil, padahal sudah menggunakan pakaian tebal hingga tiga lapis?

    Ada beberapa penyebab kamu mengalami hal ini, ujar seorang personal trainer bernama Jason Briggs.

    Salah satunya karena otak tidak mendistribusikan sinyal secara efektif untuk menghangatkan tubuh. Termasuk pilihan lifestyle yang buruk juga ikut berpengaruh. “Bagian otak bernama hipotalamus berperan mengirimkan pesan kepada tubuh untuk menghangatkan atau mendinginkan tubuh,” tukas Jason. “Bagian otak tersebut juga berfungsi untuk mengatur nafsu makan dan metabolisme tubuh- sebuah bagian yang sangat penting dalam menentukan temperatur tubuh, sekaligus fungsi membakar kalori dan menghasilkan panas.”



    Pilihan lifestyle juga bisa membawa dampak pada hal ini– di mana jika kamu jarang berolahraga, tubuh akan lebih mudah merasa dingin dibandingkan sahabatmu yang sering pergi ke gym (sebab olahraga dan berkeringat akan membantu kinerja jantung serta paru-paru secara lebih efektif dalam mengalirkan oksigen dan nutrisi penting lainnya ke dalam tubuh). “Kurangnya waktu tidur juga membuat tubuh menjadi tidak sepenuhnya ‘recharging’ sehingga membuatnya lebih sulit untuk menghasilkan rasa hangat,” tambah Briggs.


    Kekurangan vitamin B dan zat besi juga bisa membuat kamu mudah merasa kedinginan. Briggs menyarankan kamu memiliki diary yang mencatat rincian temperatur suhu tubuh kamu (seperti kapan kamu merasa begitu kedinginan hingga membuat gigi bergemeletuk, apakah rasa dingin tersebut membuat kamu merasa mengantuk atau mungkin gelisah?).

    Catat juga apa yang menjadi penyebab dari rasa dingin tersebut. “Sering merasa kedinginan ditambah dengan munculnya rasa pusing, kulit yang bertambah pucat, rambut rontok, dan juga kuku yang rapuh biasanya merupakan tanda dari adanya masalah kesehatan.” Jika kamu mengalami hal ini, waktunya memeriksakan diri ke dokter.


    2. Apakah normal... jika sering terlambat datang bulan?

    Well, sepanjang pandemi ini kamu jadi lebih menyadari bahwa siklus menstruasi ternyata bisa sama membingungkannya dengan pria yang meng-ghosting kamu. Ada kalanya menstruasimu juga datang terlambat (atau bahkan tidak sama sekali!). Sedangkan hari di mana kamu berpikir sedang terbebas dari zona merah tersebut, ‘ia’ justru mendadak muncul!

    Patut diingat bahwa siklus menstruasi perempuan berusia produktif umumnya terjadi setiap 28 hari. “Di mana sebenarnya masih wajar jika menstruasi Anda menjadi maju ataupun mundur sebanyak tujuh hari dari tanggal menstruasi bulanan,” terang Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi dan Konsultan Fertilitas RSIA Brawijaya Antasari, dr. Malvin Emeraldi, Sp.OG, KFER.



    Apakah sering terlambat menstruasi adalah sesuatu yang buruk? 

    Ada banyak faktor yang membuat kita mengalami terlambat datang bulan, di antaranya: faktor hormonal, stres (sangat masuk akal di saat pandemi ini!), sampai aktivitas olahraga yang terlalu keras. “Kondisi tubuh yang terlalu lelah dan disebabkan karena aktivitas olahraga yang keras seperti lari jarak jauh, membuat kondisi hormon progesteron dan esterogen menjadi tidak stabil dan berpotensi membuat siklus menstruasi Anda terganggu," tambah dr. Malvin.

    Rasa stres juga membuat hormon tidak bekerja dengan seharusnya. Hormon tubuh yang berubah inilah dapat ikut memengaruhi kinerja sistem otak besar serta otak kecilmu saat mengatur masa menstruasi. Dampak lainnya, stres juga ikut memicu kondisi fisik tubuh seperti penurunan atau kenaikan berat badan yang akhirnya berimbas pada perubahan hormon.


    Tapi waspadai juga adanya gangguan kesehatan lainnya. “Apabila Anda mengalami mengalami beberapa hal seperti: tidak menstruasi selama tiga bulan lebih, menstruasi yang panjang dan di atas tujuh hari, pendarahan di luar masa menstruasi, ini saatnya Anda harus memeriksakan diri ke ginekolog. Tujuannya untuk memastikan ada atau tidak gangguan kesehatan seperti kista atau miom pada sistem reproduksi Anda,” tukas dr. Malvin. Apalagi jika beberapa tanda di atas juga kamu alami dengan rasa nyeri yang berlebih.



    3. Apakah normal... mata mendadak mengalami kedutan?

    Kita semua rasanya pernah mengalami momen di mana: sedang duduk bersantai sembari menonton film Love Actually untuk yang ke-75 kalinya dan tiba-tiba saja kelopak mata kita berkedut dengan begitu cepat.


    Apakah mata berkedut ini merupakan suatu masalah kesehatan yang serius? Luckily, menurut Dhruvin Patel, seorang optometris dan founder dari Ocushield, jawabannya adalah tidak. Phew!

    “Mata berkedut terjadi karena adanya aktivitas listrik di otak yang menyebabkan saraf secara random mengirimkan sinyal kepada otot dan itu membuatnya mengalami sedikit kejang. Ini juga menjadi cara tubuh untuk memberi tahu bahwa Anda kurang tidur atau sedang merasa stres dan gelisah.” Patel juga ikut menambahkan jika mengonsumsi kopi terlalu banyak bisa membuat mata mengalami kedutan.





    “Jangan mengabaikannya, beristirahatlah, serta perhatikan apa saja yang Anda minum.” Mengompres mata dengan sesuatu yang hangat bisa membuat area mata menjadi lebih rileks selama beberapa menit. Atau kamu juga bisa menggunakan obat tetes mata yang dijual di apotek untuk mengurangi rasa kering di mata (yang ternyata menjadi salah satu penyebab lainnya dari mata berkedut).

    Bila kamu sering merasa otot mata mengalami kejang atau bahkan kedutan terjadi dalam periode yang lama hingga dari satu minggu, itu bisa menjadi pertanda mungkin adanya masalah yang lebih serius. “Apalagi jika kedutan atau mata kejang sampai membuat Anda mengalami kesulitan saat membuka dan menutup mata, ini adalah sebuah red flag di mana Anda bisa saja terkena blepharospasm atau Bell’s Palsy. Saatnya memeriksakan mata Anda ke dokter sekarang juga,” nasihat Patel.



    4. Apakah normal... wajah dan tubuh berwarna merah setelah mengonsumsi alkohol?

    Jika setelah mengonsumsi minuman beralkohol pipi kamu mulai terasa terbakar, bisa saja itu pertanda kamu sedang mengalami intoleransi alkohol.


    Seorang nutrisionis bernama Jade Taylor menjelaskan “Rasa panas bisa muncul setelah mengonsumsi alkohol. Dan itu bisa menyebabkan wajah seseorang berubah menjadi merah. Ini merupakan indikasi bahwa tubuh sedang mengalami kesulitan dalam mencerna alkohol atau bisa juga karena ternyata Anda alergi alkohol.” Semua alkohol mengandung zat bernama etanol yang ketika dikonsumsi, tubuh kita akan melakukan dua mekansime terhadapnya. Pertama tubuh akan mencoba untuk mengubahnya menjadi zat lain atau justru membuat sistem metabolisme mengeluarkannya.



    “Senyawa asetaldehida yang dihasilkan dari proses metabolisme ini, ternyata sungguh beracun. Umumnya tubuh tidak memiliki masalah saat proses metabolisme terhadap alkohol, terlebih jika seseorang mengonsumsinya dalam porsi yang wajar. Tetapi bagi mereka yang mengalami intoleransi alkohol, tubuh mereka akan kesulitan dalam mencerna alkohol dan akhirnya menghasilkan senyawa metabolit bernama asetaldehida.” Jika jumlah senyawa ini terlalu berlebihan dalam tubuh, ia bisa memicu rasa sakit, detak jantung yang tidak beraturan, dan wajah yang berubah menjadi kemerahan. Taylor juga menjelaskan bahwa intoleransi alkohol bisa terjadi karena faktor genetik.


    Ini juga bisa disebabkan kamu mengalami reaksi alergi (dengan munculnya histamin, zat kimia yang diproduksi saat tubuh mengalami infeksi dan alergi). Sehingga sangat memungkinkan kamu mengalami sesak napas setelah mengonsumsi alkohol. Adanya zat tambahan seperti sulfit yang terkandung dalam alkohol juga bisa memicu alergi (biasanya dokter akan menentukannya melalui tes alergi). Sampai hasilnya tes alergi tersebut keluar, saran terbaik yang bisa kami berikan? Jika beberapa minuman beralkohol memang tidak cocok untukmu, maka pilihannya adalah dengan menghindarinya. Sorry.



    5. Apakah normal... jika kita ingin makan lebih banyak saat menstruasi?

    Kamu merasa ingin menghabiskan lebih banyak makanan saat menjelang dan ketika menstruasi?

    Ini merupakan sebuah tanda yang normal jika Anda merasa ingin makan banyak menjelang tanggal menstruasi, ujar Dr Shahzadi Harper, founder dari The Harper Clinic. “Juga menjadi sebuah hal yang wajar jika Anda merasa lebih cepat lapar di awal siklus menstruasi – sebab hormon progesteron dalam tubuh menjadi lebih dominan dan sebaliknya kadar estrogen justru menurun.”

    Tidak mengherankan jika ini menjadi penyebab kamu mudah merasa mengantuk, cepat lapar, dan memicu munculnya mood swings. Tubuh sedang bekerja keras (ini juga menjelaskan mengapa beberapa di antara kita merasa lebih cepat kepanasan ketika sedang menstruasi). Dr Harper menambahkan, kita juga membutuhkan tambahan 200 atau lebih kalori harian saat menstruasi.



    “Saya menyarankan pasien untuk mengabaikan sejenak rasa bersalah saat mengonsumsi makanan dan membebaskan mereka untuk memilih makanan yang mereka inginkan,” tukas Dr. Harper. Tetapi jika Anda merasa sangat lapar hingga akhir periode menstruasi, itu bisa saja pertanda kelenjar tiroid Anda bekerja terlalu aktif (apalagi jika ditambah adanya gejala lain seperti tubuh gemetaran, berat badan tidak bertambah, dan jantung berdebar). “Bila Anda mengalami hal ini, sangat penting untuk memeriksakan kondisi kesehatan Anda.” Konsumsi karbohidrat kompleks yang lebih lama dicerna tubuh (seperti oat dan roti wholegrain) selama menjelang dan awal periode menstruasi. Makanan tersebut juga dapat membantu kamu merasa kenyang lebih lama.


    6. Apakah normal... vagina berdarah setelah seks?

    Saat kamu pergi ke toilet setelah sesi seks dan menemukan Miss Cheerful berdarah, tentu saja ini bisa menjadi terasa begitu mengerikan.


    Meski kemungkinannya kecil, tetapi bisa saja vagina yang mengeluarkan darah setelah sesi seks mengindikasikan sesuatu yang serius seperti kanker ginekologis (kanker organ intim perempuan), terang Dr. Pixie McKenna, seorang dokter umum di The London Clinic. Ia pun mengajurkan para perempuan agar selalu memeriksakan kesehatan vaginanya. Sebab ada begitu banyak penyebab terjadinya hal ini, mulai dari yang bisa ditangani seperti infeksi menular seksual hingga kanker serviks (meski ini cukup jarang terjadi), aktivitas seks yang terlalu kasar ataupun sering sehingga smenyebabkan timbulnya lecet di vagina. Ada pula faktor seperti tumbuhnya polip yang ikut menjadi salah satu pemicu mengapa vagina berdarah setelah seks.




    “Vagina yang kering juga menyebabkan terjadinya pendarahan- jadi menggunakan pelumas bisa membantu mengatasi hal ini, tetapi sebaiknya Anda memilih pelumas yang berbahan dasar air,” ujar Dr McKenna. Ketika Anda mencoba sesuatu yang eksperimental (seperti: posisi seks yang baru, berhubungan seks telalu ‘panas’, dan menggunakan sex toy, semua hal ini bisa memicu terjadinya gesekan yang membuat Miss Cheerful berdarah). Pendarahan juga bisa terjadi saat kamu mulai aktif kembali melakukan seks setelah lama break.

    ”Jika pendarahan ternyata sering Anda alami, Dr McKenna mengatakan sebaiknya Anda tidak mengesampingkan beberapa faktor penyebabnya. Segera lakukan check up ke dokter.


    Polip merupakan daging kecil yang tumbuh di mana saja pada tubuh, termasuk pada serviks (atau yang dikenal dengan polip serviks) dan bisa menjadi penyebab terjadinya pendarahan atau bisa juga karena kehamilan. Untuk memastikannya segeralah ke dokter. Bila kamu sudah aktif berhubungan seks, sangat penting untuk melakukan pap smear demi mengetahui lebih detail mengenai kondisi kesehatan kesehatan organ intim. “Jika Anda tidak memenuhi syarat untuk memastikannya sendiri, kunjungi dokter dan lakukan pemeriksaan fisik untuk mencegah terjadinya dugaan kesehatan yang salah.”



    (Artikel pernah dimuat di COSMO UK edisi Desember 2020 - Januari 2021 dengan judul "AM I....NORMAL?" / Penulis asli: Jennifer Savin, Additional Reporting Catriona Harvey-Jenner / Alih bahasa: Giovani Untari / FT / Images: Dok. Giulia Bertelli on Unsplash, Sasun Bughdaryan on Unsplash, Brooke Cagle on Unsplash, Kelsey Chance on Unsplash, Brooke Lark on Unsplash, Ava Sol on Unsplash, Thought Catalog on Unsplash, Tenor.com)