Better You

Keuntungan Mengonsumsi Makanan Organik

  by: RedaksiCosmopolitan       22/9/2014
  • Pastinya Anda tidak asing lagi mendengar makanan organik. Apalagi hidup sehat sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern dewasa ini. Beruntunglah bagi Anda yang sudah memulai untuk mengonsumsi makanan sehat ini. Karena ada beberapa keuntungan yang bisa Anda dapatkan dari makanan organik.

    Lebih Bergizi
    Berdasarkan penelitian organic.org, menunjukkan hasil bahwa buah-buahan dan sayuran organik mengandung 27% lebih banyak vitamin C, 21,1% lebih banyak zat besi, 29,3% lebih banyak kandungan magnesium, 13,6% lebih banyak kandungan fosfor, dan 18% lebih banyak kandungan polyphenol. Nah, terbukti kan kalau makanan organik baik untuk dikonsumsi dan memiliki nilai gizi yang tinggi?

    Tidak Mengandung Pestisida
    Pelabelan organik pada suatu makanan tidak dilakukan secara sembarangan. Harus mendapat sertifikasi yang sah dan terpercaya. Selain itu, proses pengembangbiakannya pun harus dilakukan dengan cara organik. Semisal tidak menggunakan pestisida seperti fungisida, herbisida, maupun insektisida pada tumbuhan. Karena tiga pestisida ini memiliki kandungan kimia yang tinggi dan berbahaya. Apalagi mengingat sisa pestisida tidak bisa dihilangkan dengan proses mencuci, karena terserap oleh akar dan mengendap di dalam tumbuhan.

    Pertanian Organik Ramah Lingkungan
    Pertanian organik mengurangi polusi (udara, air, dan tanah). Tidak hanya itu, pertanian organik juga menghemat air, mengurangi erosi, meningkatkan kesuburan tanah, serta menggunakan lebih sedikit energi. Jadi bisa dikatakan pertanian organik berdampak baik bagi ekosistem yang berada di sekitarnya.





    Tidak Direkayasa Secara Genetika
    Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi semakin canggih. Tidak heran saat ini banyak sekali pengembangbiakan bahan makanan dilakukan dengan cara rekayasa genetika. Tapi hal ini berbahaya karena bisa memicu tumor di otak. Jadi satu lagi keuntungan mengonsumsi makanan organik karena tidak melalui proses rekayasa genetika. (Rachelle Kandou/FT/Image: thinkstock)