Lifestyle

Setan Jawa, Film Bisu Pertama Garin Nugroho

  by: Redaksi       4/9/2016
  • Bagaimana orang biasanya merayakan hari jadi ke-35 tahun? Well, jika Anda bertanya pada sutradara sekaliber Garin Nugrho, ia akan membuat serangkaian karya seni untuk dipamerkan, termasuk membuat film bisu pertamanya yang musiknya diiringi langsung oleh gamelan. Amazing, right?

    (Luluk Ari memerankan Setan Jawa dengan sangat apik.)



     

    Merayakan 35 tahun berkarya di industri film, Garin Nugroho didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation mempersembahkan Setan Jawa, sebuah film bisu yang mengangkat mitologi Jawa dan menyesuaikannya dalam film tari kontemporer yang terinspirasi oleh karya Friedrich Wilhelm Murnau, Nosferatu. Yang spesial, perilisan film Setan Jawa di Jakarta akan menjadi special preview sebelum diputar world premier di Opening Night of Asia Pacific Triennial of Performing Arts di Melbourne, Februari 2017.

    Setan Jawa di Luar Tanah Jawa

    Di negeri tetangga, tepatnya di Melbourne, Garin memberi keterangan tanggal 2 September lalu di depan wartawan jika iringan musik yang ditampilkan tidak hanya gamelan. Di Australia, sekitar 20-25 pengrawit akan berkolaborasi dengan 150 pemusik orkestra. Tak hanya Australia, menurut sutradara kelahiran 6 Juni 1961 ini, Singapura, Inggris, dan Belanda bahkan telah siap untuk menampilkan Setan Jawa di tanah mereka.

    Plot Film

    Film ini mengambil latar waktu di awal abad ke-20 dan bercerita tentang kisah cinta dan tragedi yang dialami Setio, pemuda dari desa miskin yang jatuh cinta dengan Asih, seorang putri bangsawan Jawa. Lamaran Setio yang ditolak orangtua Asih membuat Setio mencari jalan pintas dengan membuat kesepakatan bersama iblis yang dikenal sebagai Pesugihan Kandang Bubrah. Setelah kaya, Asih dan Setio pun menikah. Hingga akhirnya Asih tahu jika suami tercintanya ternyata mengabdi pada setan.

    (Rahayu Supanggah sang komposer kembali "reuni" dengan Garin Nugroho setelah Opera Jawa.)

     

    “Film ini menyatukan perspektif kontemporer dengan tari tradisi, musik, hingga fashion dalam ruang bebas intrepretasi,” ungkap Garin Nugroho, produser sekaligus sutradara film yang sudah direncanakan sejak dua tahun lalu ini. Menurutnya juga, film bisu yang mengambil latar di awal abad 20 ini selaras dengan waktu tumbuhnya film hitam putih sekaligus merebaknya fashion, sastra, dan berbagai bentuk seni hiburan di puncak kolonialisme Belanda. Pada era ini pula, mistik Jawa tumbuh. Dalam konteks ini, pesugihan jadi populer untuk meraih masa depan yang lebih baik di tengah dunia baru yang penuh tekanan.

    Apresiasi 35 Tahun Berkarya



    Setan Jawa merupakan film bisu hitam putih pertama karya Garin Nugroho yang diiringi musik gamelan aransemen Rahayu Supanggah. Keduanya dipertemukan kembali setelah 10 tahun lalu berkolaborasi dalam proyek Opera Jawa. Cosmo sendiri tak bisa membayangkan sebelumnya bagaimana film ini akan terasa dan bisa dinikmati. Tapi ketika film ini dimulai dan adegan dalam film berjalan harmonis dengan musik yang dibawakan secara langsung dengan 20 pengrawit (pemusik gamelan), yang tertinggal hanya decak kagum.

    (Asmara Abigail, Garin Nugroho, dan Heru Purwanto saat pemutaran perdana Setan Jawa di Gedung Teater Jakarta, 2 September 2016.)

    Menampilkan Asmara Abigail sebagai Asih, Heru Purwanto sebagai Setio, dan Luluk Ari sebagai Setan Jawa, film yang ditampilkan di Gedung Teater Jakarta tanggal 3 dan 4 September 2016 ini (atau Cosmo lebih suka menyebutnya sebagai sebuah performance utuh) rasanya pantas disebut sebagai puncak karya untuk merayakan 35 tahun kehadiran seorang Garin Nugroho di dunia seni Tanah Air. (Vidi Prima / Image: doc. Instagram @setanjawamovie)

     

    BACA JUGA:  

    Garin Nugroho Bikin Film Bisu Hitam Putih, Setan Jawa

    Kamilla Andini And Big Dreams Come True

    Adaptasi Karya Pramodeya dalam Bunga Penutup Abad

    97 Karya Seni Hiasi ArtJog 2016