Celebrity

Interview: Arti Fearless Menurut Dian Sastrowardoyo

  by: Alexander Kusumapradja       13/9/2018
  • Dalam rentang karier yang panjang dan aktivitas yang kian padat, Dian Sastrowordoyo terus berlari kencang walau tak lupa untuk menghela napas dan mensyukuri hidup—termasuk dengan cara menikmati makanan.  


    Dian dan makanan punya hubungan yang lebih karib dibanding yang orang kira. Dihadapkan dengan pertanyaan “makan untuk hidup atau hidup untuk makan?” tanpa ragu Dian memilih opsi kedua dan menyebut dirinya sebagai seorang pleasure seeker dalam soal makanan. Sisi lain Dian sebagai si petualang kuliner bisa kita intip dalam film terbarunya, Aruna dan Lidahnya




    Disutradarai oleh Edwin dan diangkat dari novel Laksmi Pamuntjak, dalam film tersebut Dian berperan sebagai Aruna, seorang ahli wabah unggas dengan passion khusus pada kuliner. Bertema makanan dan persahabatan, Dian menyebut film ini sebagai “a nice break” dari film-film sebelumnya yang lebih intens. Apalagi film ini turut dibintangi oleh Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid, dan Oka Antara yang merupakan teman-teman baik Dian di dunia nyata sehingga chemistry persahabatan yang tersaji di film ini pun terasa jujur. 


    “Berkat film ini, saya jadi bisa lebih mengapresiasi proses makan dan menghargai proses ‘campur’. Misal, nasi campur itu baru enak kalau di satu sendok ada semua elemennya terus dikunyah bersamaan dibanding cuma makan nasi dan satu lauknya. Ada nasi, lauk, kerupuk, sambal… Kalau semuanya dicampur di dalam mulut, itu baru enak banget,” ungkap Dian sambil tertawa renyah.  


    Proses syuting yang berlangsung di 5 kota dengan total 21 makanan lokal yang ditampilkan, konsekuensi naik berat badan pun hal tak terelakkan. Untuk film ini, Dian mengaku berat badannya naik sampai 5kg. Mengatur pola makan dan olahraga adalah cara Dian menyiasatinya.  


    Anda tentu familiar dengan tagar #PertemananSehat yang kerap tersemat di Instagram Dian. Dalam seminggu, Dian bisa tiga kali menekuni olahraga lari. Di akhir pekan khususnya, Dian dan pertemanan sehatnya bisa melakukan long run dari 10 hingga 20 kilometer. Selain sebagai personal time, Dian mengaku bahwa saat ini ia memang sedang berlatih untuk ikut full marathon, salah satu poin bucket list yang ingin ia coret. 


    Selain membakar lemak dengan olahraga, Dian pun mengatur pola makan dengan cara mengurangi asupan karbohidrat. Kebetulan, Dian bersama beberapa temannya memang memiliki usaha di bidang makanan sehat, yaitu catering diet 3 Skinny Minnies dan healthy food resto MAM. “Kebetulan badan saya termasuk tipe yang cepat turun kalau mengurangi karbo, jadi saya ikut menu diet no carbs dari 3 Skinny Minnies,” ujarnya lugas tanpa bernada promosi. Diet no carbs yang ia maksud adalah menghindari nasi putih, memperbanyak sayur dan buah, serta menghilangkan gula dari teh dan kopi yang ia minum. 


    Di luar kuliner, akting, dan maraton, ia pun masih berkecimpung di dunia sosial lewat Yayasan Dian Sastrowardoyo yang didirikan tahun 2009 dengan berbagai program yang telah dilakukan, termasuk pengadaan air bersih di Sumba dan memproduksi film pendek Laut Bercerita. Kali ini yang menjadi fokus adalah Beasiswa Dian yang sudah berjalan tiga tahun. 




    Lewat program ini, Yayasan Dian membiayai beberapa anak dari keluarga ekonomi rendah di Gunung Kidul dan Bantul serta seorang penyintas kekerasan seksual di Ambon untuk lanjut ke jenjang kuliah. Bukan hal mudah, baik secara beban materi maupun moril. Lebih dari kemiskinan ekonomi, yang menjadi tantangan menurut Dian adalah memberikan motivasi kepada mereka untuk berani bercita-cita yang lebih tinggi.  


    “Saya sadar yang saya tolong memang masih sedikit, skalanya kecil sekali dibandingkan filantropis yang lebih besar, tapi saya tetap punya faith daripada kita tidak menolong sama sekali, lebih baik kita tetap menolong semampu kita, karena kalau tidak, we’re just become part of problem and not the solution,” tukasnya serius. 


    Menjadi Fearless menurut Dian adalah perkara state of mind. “Walaupun pasti ada keraguan, tantangan, hambatan dalam apapun yang kita lakukan, sebagai perempuan modern kita memang harus punya resiliensi tinggi karena kompetisi hidup makin berat. Pasti akan ada kendala, tapi semua bergantung dari mentalitas apa yang kita pilih. Apakah cuma mau mengeluh atau justru putar otak dan tetap semangat.”


    Bagi orang sekaliber Dian sekalipun, bukan berarti ia tak punya ketakutan sama sekali. “Oh banyak sekali… Takut keriput, takut gendut, haha” ujarnya berseloroh. Namun, ketakutan yang lebih besar baginya adalah seandainya dia tak berhasil mewariskan nilai-nilai hidup kepada kedua buah hatinya. Sebagai wanita karier, istri, dan seorang ibu, persoalan work-life balance adalah hal yang kerap menghantuinya. Untungnya, Dian punya tip untuk itu dan dengan senang hati membagikannya ke Cosmo

     

    “Saya pakai tip yang diberikan teman saya yang seorang psikolog keluarga. Intinya adalah kita harus punya time allowance dan menentukan prioritas. Setiap hari kita harus menentukan apa yang jadi prioritas dan membagi waktunya. Jangan panik, yang penting bikin plan, semua hal dikasih alokasi energi dan waktu yang harus kita patuhi. Walau eksekusinya nanti susah atau ada yang berubah, at least kita sudah punya plan,” paparnya.  


    Menyoal ultah Cosmo yang ke-21, usia 21 ternyata juga punya arti spesial bagi Dian. Di usia itu, Dian telah tampil di Ada Apa Dengan Cinta? yang melambungkan namanya dan kita tahu popularitas datang seiring perhatian publik yang tentu tak semuanya positif. “Saya dulu terlalu banyak memikirkan apa yang orang pikirkan tentang saya. Padahal, seharusnya energi itu saya fokuskan ke diri sendiri dan ke cita-cita yang ingin saya kejar. Kalau bisa kasih pesan ke teman-teman yang berusia 21, saya akan bilang: kejarlah semua ambisi dalam hal karier, pendidikan, pengembangan diri, whatever you want to do, do it now. Karena hidup itu bukan orang lain yang mengatur, tapi diri kita sendiri.” 


    (Foto: Andre Wiredja - NPM Photography. Stylist: Alia Husin. Makeup Artist: Philipe Karunia. Hairstylist: Eva Pical.)