Celebrity

Yang Perlu Kamu Tahu Soal Skandal Pajak Fan Bingbing

  by: Alexander Kusumapradja       11/9/2018
  • The brightest stars burn out the fastest. Terutama jika sang bintang tidak hati-hati dalam melangkah.





    Cerita bermula ketika Fan Bingbing, salah satu bintang film paling bersinar di Cina saat ini, menghilang dari mata publik tak lama setelah tersebar kabar ia sedang dicari pihak berwajib terkait dugaan penggelapan pajak. Akun sosial medianya yang biasanya ramai oleh posting terbaru kegiatan dirinya dalam balutan busana-busana desainer terkenal pun mendadak senyap.   


    “Apakah ia masuk penjara?”, “Jadi tahanan rumah?”, “Apakah ia kabur ke luar negeri?”, “Dengar-dengar ia akan meminta suaka ke Amerika Serikat!” hanyalah segelintir desas-desus mengenai dirinya yang membanjiri media sosial dan internet. Publik begitu penasaran ke mana gerangan sang bintang.


    Tak akan ada asap tanpa api. Dan yang menyalakan api untuk kasus ini adalah Cui Yongyuan, seorang presenter terkenal dari televisi pemerintah China Central Television (yang secara ironis disingkat CCTV), yang di bulan Mei lalu mengunggah sebuah surat kontrak yang mengindikasikan Bingbing menerima gaji ilegal. Dokumen tersebut seolah menunjukkan Bingbing secara tak resmi menerima bayaran 50 juta yuan (± Rp108 miliar) dari kontrak yang hanya menyebut angka 10 juta yuan untuk sebuah pekerjaan selama empat hari.


    Praktik semacam ini disebut “kontrak yin-yang”, kontrak bermuka dua di mana satu kontrak berisi detail pembayaran yang dilaporkan ke petugas pajak, sementara satu kontrak lagi dalam jumlah yang lebih besar disembunyikan untuk menghindari pajak. 


    Setelah dokumen tersebut menjadi viral, badan administrasi pajak Cina pun mengumukan mereka akan melakukan penyelidikan untuk kasus kontrak ganda tersebut di dunia entertainment Cina. Target utama mereka? The always picture perfect, Fan Bingbing.



    Nama aktris kelahiran Qingdao, 37 tahun lalu ini muncul di permukaan sejak akhir tahun 90-an dan meledak berkat peran-peran suksesnya di “My Fair Princess”, serial drama yang berlatar Dinasti Qing dan “Cell Phone”, film paling laris di Cina tahun 2005. Tak hanya bersinar di negerinya, pesona timeless beauty dirinya pun terpancar di beberapa film internasional seperti film Prancis “Stretch” (2011), film Korea “My Way” (2011), dan film superhero Hollywood, “X-Men: Days of Future Past” (2014). Statusnya sebagai mega bintang diperkuat dengan kemunculannya di berbagai ajang bergengsi, mulai dari karpet merah premiere film hingga bangku-bangku terdepan fashion show bergengsi. 


    Menanggapi isu tersebut, studio tempat Bingbing bernaung sempat mengeluarkan statement bahwa dirinya hanyalah korban dari fitnah dan siap menyewa tim pengacara untuk membelanya. Namun, mereka juga tidak secara tegas membantah keabsahan dari dokumen yang diungkap oleh Cui tersebut. Menghilangnya Fan Bingbing tak lama kemudian justru memperkuat dugaan bahwa ia bersalah dalam kasus ini.


    Kehidupan glamor dan bayaran setinggi langit yang diterima oleh para bintang film dan televisi di Cina telah menjadi topik perdebatan di internet sejak bertahun-tahun lalu. Termasuk Fan Bingbing yang senantiasa masuk daftar Forbes untuk selebritas berpendapatan tertinggi di Cina dan bahkan tiga kali menempati posisi pertama daftar tersebut dengan pendapatan sebesar 300 juta yuan tahun lalu.


    Selain menuai kecaman netizen, isu ini pun dikabarkan telah mendorong naiknya ongkos produksi sebuah film dan mendorong anak muda Cina untuk bermimpi menjadi artis, menurut kantor berita Xinhua yang melaporkan di akhir Juni lalu, lima kantor pemerintahan Cina, termasuk badan pajak dan badan pengawas siaran dan film akan mengupas kasus pembayaran berlebih dan penghindaran pajak yang konon marak di dunia entertainment. Kasus Fan Bingbing menjadi tembakan pelatuk bagi pemerintah Cina untuk menginvestigasi pendapatan lebih dari 200 bintang film lainnya.


    Hal itu sekaligus untuk menegaskan kebijakan yang dirilis tahun lalu tentang pembayaran para bintang yang tampil di film layar lebar, serial televisi, maupun program online. Berdasarkan aturan yang disahkan oleh Badan Administrasi Radio dan Televisi Negara, para aktor tidak boleh dibayar lebih dari 40 persen dari total produksi film dan para aktor utama tidak boleh mendapat lebih dari 70 persen dari total pembayaran para pemain. Kebijakan itu sendiri mendapat dukungan penuh dari banyak produser dan rumah produksi di Cina.






    Hampir empat bulan telah berlalu sejak Fan Bingbing menghilang dari mata publik di bulan Juni, dan tanggal 6 September lalu, publikasi nasional Cina, Securities Daily melaporkan bahwa ia telah berada di penanganan pihak berwajib dan akan diproses secara hukum. And its not gonna be pretty.


    Berdasarkan artikel Securities Daily, kasus kontrak yin-yang ini hanyalah puncak gunung es dari berbagai dugaan lain seperti utang-piutang ilegal dan bentuk korupsi lainnya. Tak ada yang bisa memastikan akan seperti apa nasibnya nanti dan beberapa insider dunia film Cina menyebut kasus ini seperti “hukuman mati” bagi karier yang telah dibangunnya.



    Dengan menghilangnya Fan Bingbing dan kabar penahanan dirinya, nasib berbagai produksi yang melibatkan dirinya pun menjadi luntang-lantung, termasuk film Hollywood garapan Simon Kinberg berjudul “355” yang bergenre spy thriller di mana Fan Bingbing seharusnya menjadi cast bersama deretan aktris terkenal lainnya seperti Jessica Chastain, Penelope Cruz, Lupita Nyong’o, dan Marion Cotillard. 



    Kasus ini pun berimbas kepada orang-orang dekatnya, terutama adik lelakinya, Fan Chengcheng yang saat ini menjadi anggota idol group Nine Percent dan dilarang meninggalkan Cina. Begitu pun dengan Li Chen, aktor terkenal yang bertunangan dengan Fan Bingbing di hari ulang tahun sang aktris, 16 September tahun lalu. Setelah sempat dikabarkan ikut menghilang, Li Chen kembali muncul di publik akhir Agustus lalu tanpa mengenakan cincin tunangan di jarinya yang menimbulkan gosip tentang berakhirnya pertunangan mereka. 



    Selain itu, yang juga dikabarkan menjauhi Fan Bingbing adalah para brand besar yang menjadikannya sebagai brand ambassador. Selain film, sumber pendapatan yang tak kalah besar bagi kekayaan Fan Bingbing adalah honornya sebagai brand ambassador. Bukan hal yang aneh, mengingat ia punya angka pengikut yang sangat besar di media sosialnya (62,9 juta di Weibo, 3,8 juta di Instagram, dan 10,6 juta di Redbook). 


    Salah satunya adalah label mewah asal Jerman, Montblanc yang menunjuk Fan Bingbing sebagai brand ambassador bulan April lalu. Merebaknya kasus ini membuat mereka berhenti berhubungan dengan Fan Bingbing di akun Weibonya sejak akhir Mei lalu. Begitu pun dengan label perhiasan De Beers. Brand lainnya adalah Guerlain, label kosmetik Prancis yang telah membuat video kampanye bersama Fan Bingbing untuk mempromosikan salah satu produknya namun tidak mengunggahnya secara resmi. Sebuah fans club Fan Bingbing pun entah bagaimana caranya mendapat video tersebut dan mengunggahnya ke Weibo dengan komen-komen yang menyebut Bingbing terlihat pucat dan kurang sehat di video tersebut.



    Selain kerjasama resmi bersama label-label tersebut, nama Fan Bingbing juga kerap diasosiakan dengan banyak label terkenal lainnya seperti Louis Vuitton (yang mengirimkan koper eksklusif sebagai kado pertunangannya), Valentino, Chopard, L’Oreal, dan masih banyak lainnya.


    Kasus Fan Bingbing dan investigasi pemerintah yang sedang memanas ini juga dikabarkan akan mengubah dinamika antara brand dan selebritas di Cina. Selain aturan honor aktor yang sudah disebutkan di atas, tanggal 1 Agustus lalu pemerintah Cina juga memberlakukan tingkat pajak pendapatan baru yang naik hingga 42 persen dari angka sebelumnya yang berkisar antara 6,7 sampai 10 persen. Artinya? Para selebritas Cina akan memasuki zaman baru di mana pendapatan mereka berkurang drastis dan harus lebih menundukkan kepala untuk menghindari investigasi pemerintah yang lebih runyam.


    Skandal penggelapan pajak ini memang merupakan isu serius di Cina karena perbedaan ekonomi yang kian lebar antara si kaya dan si miskin. Alhasil, toleransi publik terhadap skandal pajak yang dilakukan oleh orang-orang berpendapatan tinggi seperti Fan Bingbing bukan hal yang mudah dilupakan dan pemerintah Cina sendiri telah berkomitmen untuk menangani fenomena ini demi meredam amarah publik. 


    Kondisi ini sendiri sebetulnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia saat ini di mana praktik endorsement masih berkembang liar di ranah digital dan banyak public figure atau influencer dunia maya yang belum transparan mengenai pajak pendapatan mereka. Bedanya, sampai sekarang pemerintah dan Dirjen Pajak Indonesia belum memperkenalkan aturan yang lebih jelas dan spesifik untuk menarik pendapatan negara dari pajak penghasilan para selebritas, khususnya di ranah dunia maya. Bercermin dari kasus Fan Bingbing, mungkin ini saat yang tepat untuk mempertimbangkannya kembali.