Career

Ingin Membuat Bisnis? Ini Cara Memulai Bisnis Dari Nol!

  by: Alvin Yoga       19/9/2018
  • Cosmo tahu membangun bisnis itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi bukan berarti kamu tak bisa ikut memulai bisnis. Ingin memiliki restoran sendiri? Atau justru kamu ingin membuat clothing line pribadi? Bisa saja. Ingin tahu cara memulai bisnis sendiri dari nol? Worry no more, Cosmo sudah bertanya pada beberapa pengarang buku terkenal, para CEO, serta para entrepreneur mengenai cara jitu membangun bisnis dari awal. Here are their answers.


    Yes,
    berdasarkan hasil riset yang dilakukan Global Entrepreneurship Monitor, jumlah wirausaha wanita di Indonesia kini telah mencapai 14 persen dari total populasi. Angka ini ternyata terhitung cukup tinggi, dan berhasil membuat Indonesia berada di peringkat ke-20 dari 65 negara untuk jumlah wirausaha wanita dalam satu negara. Eits, tak hanya itu, menurut riset dari NUS Entrepreneurship Center, wanita Indonesia juga dinilai lebih berani dalam membuka usaha baru dibandingkan para pria.

    Selain itu, menurut laporan terakhir yang diterbitkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia, jumlah wirausaha wanita di Indonesia bahkan telah meningkat dari 14,3 juta orang menjadi 16,3 juta di tahun 2017. Setidaknya, 51% bisnis mikro dan kecil di Indonesia serta 34% kategori bisnis menengah kini dimiliki oleh wanita. Kamu ingin ikut menjadi salah satu dari wanita tersebut? Ambil pena dan kertas, lalu catat panduan Cosmo berikut untuk memulai bisnismu.




    Temukan Bisnis yang Tepat

    (Image: Ahmet Misirligul©123RF.com)

    1. Langkah pertama, cari ide...

    Mulai dengan mencari ide: Hal apa yang sulit didapat di area tempat tinggalmu? Apa yang biasanya sering dibutuhkan oleh teman-temanmu? “Cari tahu apa kekurangan di area sekitarmu,” ujar Amy Wilkinson, pengarang The Creator's Code sekaligus dosen Stanford Graduate School of Business. Mungkin saja kotamu memiliki banyak tempat wisata namun tidak ada tour guide yang resmi, atau mungkin ada banyak studio yoga di kota kamu namun jarang ditemukan kelas cycling. Nah, dari sekian banyak opsi, pilih satu jenis bisnis yang sekiranya paling kamu minati. “Ketika kamu ingin membangun suatu bisnis, kamu harus sudah siap untuk berkomitmen penuh terhadap bisnis tersebut. Maka dari itu pilih yang paling sudah pasti kamu sukai,” ujar Amy.


    2. ...kemudian cari tahu siapa saja kompetitormu...

    “Cari tahu siapa saja sainganmu,” ujar Tina Wells, CEO dan founder Buzz Marketing Group. Semisal, kamu ingin membangun kafe burger yang gluten-free, cari tahu ada berapa banyak restoran burger dalam jarak 10 kilometer dari kafemu, lalu lihat seberapa banyak yang gluten-free. Tidak ada? Berarti ide tersebut boleh dicoba. Tapi ingat, kamu mungkin harus berkompetisi dengan kafe lainnya yang serupa di luar jarak tersebut. Pastikan kamu memiliki kelebihan lainnya, semisal pesan antar 24/7.


    3. ...serta seperti apa pelangganmu

    Jika kamu tak bisa menyebutkan kira-kira siapa lima pembeli produk atau jasamu, maka ide tersebut mungkin kurang menarik. Cara lainnya, tutup matamu, lalu bayangkan bahwa kamu adalah si pelanggan. Kira-kira, seperti apa profilmu? “Nama saya Hana, saya suka sekali kopi, dan saya ingin menempuh gelar master di Inggris. Selama ini orangtua saya masih mampu membantu saya dalam hal finansial. Minimal seminggu sekali, saya pasti akan membeli kopi di kafe favorit. Kopi yang saya suka seperti...” Dengan memosisikan diri kamu sebagai si pelanggan, kamu bisa mencari tahu apa yang sebenarnya para pelanggan inginkan.


    Kumpulkan tim intimu!

    Tak semua bisnis memerlukan hal ini, namun ada baiknya kamu memiliki satu rekanan kontak yang bisa kamu hubungi untuk membantu di saat-saat tertentu; semisal seorang akuntan untuk mengurus finansial kamu selama beberapa bulan pertama, seorang notaris atau pengacara untuk membantu kamu dalam hal sewa dan kontrak kerja, serta seorang agen asuransi untuk memastikan bahwa bisnis dan karyawan kamu aman.


    Cari Tahu Apakah Bisnis Tersebut Menguntungkan


    (Image: Galina PeshkovaC123RF.com)

    Yes, karena ini adalah sebuah bisnis, maka kamu perlu merencanakannya sematang mungkin. Studi dari University of Virginia menemukan bahwa 78% bisnis yang gagal biasanya tidak memiliki rencana awal yang baik. Elizabeth Gore, presiden dari Alice – sebuah digital business adviser bagi para wanita, memberi tips sebagai berikut.


    1. Lakukan research

    Di tahap ini, kamu harus mengumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai bisnis yang serupa. Semisal kamu ingin membuka kafe smoothie, kunjungi sebanyak mungkin kafe yang serupa dan buat catatan mengenai keadaan toko tersebut. Seberapa lama biasanya mereka membutuhkan waktu untuk menyiapkan pesanan dari masing-masing pelanggan, apa menu yang populer di tiap toko, berapa banyak karyawan yang bekerja dalam satu waktu, bagaimana harganya, dan bagaimana mereka bisa sepopuler itu. Apakah karena tempatnya instagrammable? Begitu kamu tahu alasannya, kamu bisa mengaplikasikan ide kreatif yang serupa di tokomu. But remember, jangan langsung menyalin ide tersebut mentah-mentah. Buat ide tersebut menjadi lebih relevan, sesuai dengan konsep bisnismu.


    2. ...lalu buat estimasi awal mengenai bisnismu

    Buat dokumen Excel berisi estimasi modal yang kamu butuhkan untuk memulai bisnis. Berapa banyak dana yang perlu kamu keluarkan di tahun pertama, serta berapa banyak yang kira-kira bisa kamu hasilkan di tahun pertama (ingat, angka yang mampu kamu hasilkan, bukan yang kamu impikan). Setelah itu bandingkan jumlahnya, dan lihat apakah kamu sudah bisa mengambil untung setelah tahun pertama. Semisal kamu ingin membuka sebuah toko es krim; berapa harga satuannya? Jika kamu menjual kira-kira 20 es krim per hari, berapa yang bisa kamu dapatkan tiap harinya? Apakah jumlah uang yang kamu dapatkan cukup untuk membeli bahan-bahan es krim, menggaji para karyawan, membayar biaya sewa, sekaligus mengambil untung untuk diri kamu sendiri tiap bulannya?


    Tips bagi pebisnis pemula:

    Jika bisnis kamu bergerak di bidang produk (bukan jasa), manfaatkan media sosial sebagai tempat untuk berpromosi secara gratis, seperti di Instagram atau website pribadi. Jangan lupa juga untuk mempromosikan produk kamu di berbagai local market serta pameran-pameran serupa yang biasanya “ramah” terhadap para pebisnis baru.


    Persiapan Utama dalam Membangun Bisnis

    (Image: rawpixel©123RF.com)

    1. Cari nama bisnis yang menarik

    Cari nama yang singkat, unik, dan bisa dicari dengan mudah di internet. Tips untukmu, coba pikirkan nama yang menarik dengan dua suku kata (seperti Twitter, Facebook, Tinder, Starbucks, atau Lacoste). Akan lebih baik lagi jika kamu bisa menemukan nama yang memiliki arti personal sehingga kamu bisa mempromosikannya lebih mudah. Setelah itu, cari apakah merek dagang tersebut sudah pernah digunakan. Cek website http://e-statushki.dgip.go.id/ atau di situs http://www.asean-tmview.org/tmview/welcome. Opsi lainnya, (jika kamu tidak ingin repot mencari merek dagang itu all by yourself) kamu bisa menghubungi jasa konsultan HKI.


    2. ...kemudian persiapkan semua dokumen bisnisnya...

    Siapkan gambaran yang jelas mengenai konsep dan model bisnis kamu; nama merek dagangnya, slogan serta desain yang diinginkan, serta seperti apa bisnis tersebut nantinya. Setelah itu, daftarkan di kantor Dirjen Hak Kekayaan Intelektual. Baiknya, kamu memiliki notaris selama proses tersebut, dan jangan gunakan PT jika perusahaan kamu bukan Perseoran Terbatas. Biaya pendaftarannya berkisar antara Rp2.000.000,- sampai Rp10.000.000,-. Cek http://www.dgip.go.id/tarif-merek untuk kisaran harganya.


    3. ...pastikan kamu juga memiliki website khusus...

    Nama website yang baik pastinya adalah nama produk kamu sendiri, semisal MILKmakeup.com atau KopiYuk.com. Namun, cek kembali apakah nama domain tersebut sudah pernah digunakan sebelumnya. Lagi, jangan pernah malu jika kamu memang membutuhkan bantuan. Gunakan jasa pembuatan website jika kamu kurang mengerti prosesnya. Biayanya sangat beragam, mulai dari Rp3.000.000,- hingga Rp10.000.000,-, sesuai dengan tampilan situs.


    4. ...dan daftarkan bisnismu...

    Ini yang paling penting, pastikan kamu mendaftarkan usaha tersebut di Direktorat Jenderal Pajak untuk mendapatkan ijin dan NPWP. Siapkan Tanda Daftar Perusahaan, Surat Ijin Usaha Perdagangan, Rapat Umum Pemegang Saham, serta Surat Keterangan Domisili Perusahaan. Tidak mengerti apa saja surat-surat tersebut? Berarti kamu membutuhkan notaris untuk mengurus hal-hal itu. Oh ya, di tahap ini, pastikan kamu juga mengasuransikan bisnis tersebut.


    5. ...terakhir, buka akun bank khusus untuk bisnis tersebut

    Siapkan Surat Ijin Usaha Perdagangan, NPWP, Akte Pendirian dan dokumen lainnya untuk membuka rekening perusahaan. Gunakan akun ini – bukan akun pribadi – untuk membayar pajak dan asuransi perusahaan. Rekening ini juga bisa kamu gunakan untuk membeli keperluan bulanan bisnismu, membayar gaji karyawan, dan berbagai keperluan lainnya. Dengan begitu, kamu tak perlu pusing membagi uang antara bisnis dan keperluan pribadi. Oh ya, pastikan kamu juga menyisakan minimum Rp10.000.000,- di akun bisnis kamu tiap bulannya sebagai saldo minimum.


    Sudah Punya Dana Bisnisnya?

    (Image: pogonici©123RF.com)



    Menurut survei yang dilakukan oleh Intuit – sebuah perusahaan software bisnis dan finansial asal Amerika Serikat – sekitar 64% bisnis dimulai dengan modal Rp150.000.000,-. Nah, kamu mungkin bisa memulainya dengan modal yang lebih sedikit atau lebih banyak, bergantung dari ide kamu. Berikut ada dua cara untuk mengumpulkan “pundi-pundi” uang tersebut.


    1. Maksimalkan dana pribadi

    Menurut data dari Small Business Administration, sekitar 57% bisnis menggunakan dana pribadi sebagai modal awal perusahaan. Nah, jika kamu memiliki tabungan yang cukup banyak, membiayai bisnismu sendiri merupakan cara yang paling mudah untuk memastikan bahwa kamu memegang otoritas penuh atas perusahaanmu sendiri. Namun catat, Tonya Rapley, founder dari My Fab Finance, mengatakan, “Bukan keputusan yang bijaksana untuk menggunakan seluruh uang tabungan kamu sebagai modal bisnis.” Pastikan kamu juga memiliki sisa tabungan untuk biaya hidup selama kurang lebih enam bulan sampai setahun ke depan. Semisal kamu biasa menghabiskan sekitar Rp8.000.000,- tiap bulannya, maka pastikan bahwa kamu memiliki minimum Rp50.000.000,- pada akun tabunganmu.


    Mengenai kartu kredit

    Menggesek si kartu “ajaib” ketika tabungan Anda banyak “terkuras” untuk modal usaha memang terdengar “menggiurkan”. “Ah, pakai saja dulu, nanti kalau bisnis sudah lancar, kan bisa dilunasi.” Ladies, proceed with caution. Jika saat ini saja Anda kesulitan melunasi biaya kartu kredit tiap bulannya, maka jangan ajukan kredit untuk bisnis Anda. Tak ingin kan, skor kredit Anda tercatat macet nantinya?


    2. ...atau gunakan dana pinjaman

    Berdasarkan data dari Bank Indonesia, besaran kredit yang diberikan kepada UMKM angkanya selalu meningkat setiap tahun. Hingga tahun 2016 saja, kredit yang disalurkan kepada pelaku bisnis sudah mencapai Rp900,4 triliun. Jika kamu ingin meminjam uang dari bank, menurut data dari Bank Indonesia, bank-bank persero selalu menempati posisi pertama dalam menyalurkan kredit.


    Apakah saya membutuhkan partner bisnis?”

    Yes, kamu mungkin membutuhkannya. Studi menemukan bahwa bisnis yang baik biasanya dipimpin oleh dua atau tiga orang petinggi. Namun ingat, jika kamu ingin 50/50 dengan seorang partner, pastikan rekan bisnis kamu memiliki kemampuan yang sama sekali berbeda dengan yang kamu miliki. Katakan saja, kamu memiliki aura karismatik yang tinggi dan pandai memimpin, namun kamu tak pandai mengenai urusan teknis dan membutuhkan bantuan dalam hal tersebut, maka rekrut seseorang sesuai dengan kriteria yang kamu cari. “Selain itu, pastikan bahwa rekanmu juga memiliki visi yang sama,” ujar Sarah LaFleur, founder dan CEO dari brand MM.LaFleur. Tanyakan apa etos kerjanya, dan bagaimana caranya memperlakukan bawahan. Jika kamu setuju dengan jawabannya, then it's a match.


    Ready, Set, Launch!

    (Image: snake3d©123RF.com)

    Nyatanya, kamu tak akan pernah merasa seratus persen siap untuk membuka sebuah bisnis. Tapi jika kamu sudah mengikuti setiap langkah di atas dengan baik, maka ini saatnya untuk membuat suatu perubahan. “Seseorang pernah memberitahu saya, 'Jika kamu merasa terharu dan bangga begitu melihat produk pertama kamu meluncur di pasaran, maka sejujurnya kamu menunggu terlalu lama untuk memulai sebuah bisnis,'” ujar Elizabeth Gore, seorang digital business adviser. Menurut Elizabeth, kamu akan mempelajari banyak hal soal dunia bisnis di beberapa minggu pertama ketika bisnis tersebut dimulai, dan dijamin pengalaman tersebut akan jauh lebih sulit dibanding ketika kamu masih dalam tahap membangun bisnis kemarin.


    Sebarkan informasi mengenai bisnismu di media sosial

    “Media sosial merupakan cara terbaik untuk mempromosikan bisnis kamu pada orang awam,” ujar Lucy Wallace Eustice, cofounder dari label aksesoris MZ Wallace. Pastikan bahwa akun media sosialmu 'rajin' melakukan update di waktu yang sama tiap harinya. Dengan begitu orang-orang bisa mengetahui bahwa bisnis kamu masih aktif. Selain itu, masukkan juga informasi seputar produk terbaru serta promosi-promosi yang kamu miliki untuk terus “menjaring” pelanggan. 


    Facebook

    Buat sebuah Page dengan informasi-informasi sebagai berikut; alamat bisnis kamu, lalu nomor telepon yang mudah dihubungi, serta alamat email. Kemudian pastikan bahwa kamu juga mengaktivasi tombol Send Message, See Menu dan Book Appointment. Punya dana lebih? “Boost” dengan membayar Facebook agar halaman kamu muncul lebih sering ketika orang-orang membuka feed.


    Instagram

    Ubah profilmu menjadi Business Profile di bagian Settings. “Sekarang kamu bisa mengumpulkan data soal followers dan sekaligus mempromosikan post-mu – all for free!” ujar Katherine Shappley, direktur tim Small Business dari Facebook North America. “Selain itu, kamu juga bisa mendapatkan informasi dari masing-masing unggahan, dan kapan waktu terbaik untuk mengunggah post terbaru.”


    IRL - In Real Life

    Yes, mempromosikan bisnis kamu dari “mulut ke mulut” juga penting!” ujar Jeni Britton Bauer, penulis sekaligus pemilik bisnis Jeni's Splendid Ice Cream. Dengan begitu, akan selalu ada orang baru yang bisa ikut membantu mempromosikan bisnis baru kamu. Jika produkmu menarik, teman dari temanmu bisa ikut mempromosikannya ke teman mereka, dan begitu seterusnya. Be unavoidable, ladies!


    Hindari Hal-Hal Berikut!

    (Image: lightfieldstudios©123RF.com)

    Untuk tugas-tugas yang ringan, bagikan pada bawahan

    Bagikan pekerjaan yang mengonsumsi banyak waktu seperti membalas e-mail dari pelanggan, membayar tagihan, serta menjawab pertanyaan dari pelanggan di media sosial pada bawahan.


    ...dan pilah karyawanmu dengan cermat...

    Kamu mungkin ingin mendapatkan karyawan tetap secepatnya, namun bisa saja karyawan pertamamu tidak sesuai dengan harapan. “Mulai dengan part-timer atau karyawan kontrak untuk sebuah bisnis baru,” ujar Elizabeth Gore, seorang digital business adviser. “Masalahnya, bisnis bisa berubah dalam sekejap, dan rasanya tidak adil untuk memberitahu seseorang bahwa mereka tidak bisa melanjutkan pekerjaannya padahal ia baru mulai bekerja.”


    ...jangan lupa untuk tetap rendah diri...

    Kamu mungkin saja gagal, but that's okay! Kamu hanya harus memiliki ide yang lebih baik. Sarah LaFleur, pemilik brand MM.LaFleur berkata bahwa ia sempat gagal ketika pertama kali membangun bisnisnya di tahun 2013. “Saya kemudian mengubah model bisnis saya dari e-commerce menjadi butik pakaian,” ujarnya. Enam bulan kemudian, ia sukses membuat bisnisnya sukses di pasaran.


    ...jika bisnismu tidak berjalan mulus, hey, that's okay!

    Katakan pada dirimu sendiri bahwa 1 dari 10 pelanggan mungkin akan tidak menyukai produkmu. Semisal kamu akan membuka toko pizza, 1 dari 10 mungkin tidak akan kembali ke tokomu. Gunakan hal tersebut untuk mencari tahu mana pizza yang jadi favorit. Dengan begitu kamu bisa terus membangun bisnismu ke arah yang lebih baik.


    Bagaimana? Sudah siap memulai bisnismu sendiri, ladies?

    (Alvin Yoga / FT / Image: Dok. rawpixel©123RF.com)