Love & Sex

Inilah 19 Fase Hubungan yang Dialami Setiap Pasangan

  by: Givania Diwiya Citta       2/9/2019
  • Menjalin hubungan itu punya beberapa highlights, tapi dalam sebuah hubungan juga tak bisa dipungkiri terdapat bumbu naik turun lain yang membuat kita bertanya-tanya apakah ia adalah orang yang tepat untuk menghabiskan hidup bersama kita selamanya. Jadi bagi beberapa orang yang anxious, berikut adalah 19 fase universal – yang didukung oleh sains – dalam sebuah hubungan yang akan dilalui setiap pasangan. Mungkin urutannya tidak akan sama persis, tapi pasangan yang ‘sukses’ akan mencentang semua daftar boks berikut.


    1. Menyadari bahwa pasangan ada sebagai opsi romantis.

    Ini adalah fase “Huh, bagaimana kalau…???” Mungkin ada seorang teman yang chat Anda secara sangat manis dan perhatian, sampai kamu tidak tahu apakah sebenarnya kamu sedang dekat dengannya. Mungkin mereka adalah rekan kerja yang selalu mendampingi dan tidak kamu sadari sampai para rekan lain memaparkannya untuk kamu. Mungkin ia adalah seorang match dari aplikasi kencan. Siapa pun ia, hei, sekarang kamu tahu: Orang ini ada di area ‘maybe’.




    2. Selalu berkirim pesan seperti, “Bagaimana akhir pekan kamu?”

    Kamu mungkin telah bertukar pesan bercandaan atau, tergantung dari level keberanian kamu, hal yang agak flirty. Tapi sebagian besarnya, otak kamu ada dalam mode, “JANGAN ANEH-ANEH DULU, JANGAN RUSAK HUBUNGAN INI.” Jadi kamu seolah-olah memainkan pesan versi garing, padahal kamu sangat ingin mengiriminya pesan selezat taco. Pelan-pelan, girls. Ada waktunya.



    3. Stalking kehidupannya di media sosial, duh!

    Sebelum kamu makin menginvestasikan hidup pada hubungan ini, kamu pasti akan melakukan scan cepat dari media sosialnya untuk memastikan bahwa ia bukan sociopath. Sedikit mengintip Instagram, Twitter, Snapchat, Facebook, (atau favorit personal Cosmo) LinkedIn, bisa mengungkapkan bagaimana opini politik mereka atau mereka refer dirinya sebagai apa.


    4. Menemukan foto-foto kuliahnya dari 2013 dan menemukan fotonya bersama mantan pacarnya semasa SMA.

    LOL, pasti kamu tidak bisa stop membaca tweet di profilnya bahkan yang sudah lebih dari dua tahun lalu! Girls, kamu sudah terjerumus dalam. Sampai-sampai kamu bisa menemukan fotonya di tim olahraga semasa ia sekolah. Kamu tidak suka bahwa mantan-mantannya tampak mirip (tapi tidak ada yang mirip dengan kamu sama sekali), dan membuat kamu bingung apakah artinya itu. Tinggalkan sebentar iPhone kamu, girls.


    5. Pergi untuk kencan pertama dan tidak mengingatnya karena kamu sangat nervous.

    Yang kamu ingat: Kencannya berjalan seru, kamu pesan soda vodka yang sulit kamu minum karena perut kamu mulas berbunga-bunga. Yang kamu tidak ingat: Rasa selain kencan yang ‘nice’ tadi. Keesokannya kamu mencurahkan krisis mini tentang kencan ini pada sahabat.


    6. Membedah pesan darinya dengan grup the girls.

    Ia bilang bahwa ia ingin sekali bertemu lagi tapi butuh tiga jam untuk mendapatkan respon. Ini adalah kasus yang ditangani FBI (alias sahabat-sahabat kamu), yang akan segera menenangkan kamu dari kepanikan ini.



    7. Mengirimkan meme yang edgy untuk tahu apakah ia memahami kamu.

    Sekarang kamu tahu bahwa ia juga suka menonton kompilasi YouTube Vine, kamu akan merasa lebih aman untuk mengiriminya candaan nonsense yang kamu sukai di Twitter. Menyukai bercandaan yang konyol bersama-sama itu sungguh romantis.


    8. Berkencan dengannya lagi setelah kamu merasa lebih nyaman.

    Kegugupan kamu telah mereda dan membuat kamu bisa memproses bahwa kamu sekarang sedang piknik dengan gaya cute, dan dress warna merah tua yang sedang kamu kenakan disukai oleh calon-pasangan kamu. Good job!


    9. Kencan panas yang membuat kamu berpikir, Oh, yeah, I can work with THIS.

    Baik ini kencan intim yang ketiga atau kelima, ada sesuatu yang membuat kamu berpikir bahwa caranya menghidupkan kencan intim ini membuatnya seorang keeper.


    10. Menggali lebih mendetail tentang hubungan masa lalunya untuk memastikan bahwa ia bukan monster.

    Kamu tahu bahwa ia pernah menjalin hubungan dengan seseorang lebih dari setahun lalu, tapi dominannya berakhir menyedihkan...tapi mengapa? Apakah itu karena perpisahan alami, perbedaan visi, atau ia yang tidak bisa berkomitmen, atau karena ia laki-laki yang menelantarkan piring kotor? Kamu mesti tahu!


    via GIPHY




    11. Memperkenalkan mereka ke manusia lain untuk mengkonfirmasi ulang bahwa ia bukanlah monster.

    Baik itu pada sahabat kamu, keluarga, atau rekan kerja, menjadi krusial untuk mengetahui apakah orang yang sedang kamu kencani bisa diterima dalam lingkaran terdekat kamu. Jika ia bisa membuat BFF kamu tertawa tulus, kasus ini bisa ditutup dan kamu siap melanjutkan hubungan lebih jauh.


    12. Bertengkar pada objek yang remeh karena perasaanmu sudah campur aduk sekarang.

    Bisa seremeh karena ia bengong selama kamu ceramah tentang album Lover Taylor Swift yang genius, dan kamu menuduhnya tidak bisa memahami kamu dan ah, apakah harus putus sekarang? Tenang, girls. Ia menyukai kamu dan kamu juga menyukainya, tapi kalau kamu tidak berpikir jernih bisa menyeramkan, lho!


    13. Merencanakan trip yang ambisius bersama dan mencoba survive.

    Kamu ingin tes kekompakan ikatan kalian lewat pergi berkemah, tapi juga, memang karena kamu selalu ingin pergi berlibur ke danau sedari lama. Untuk apa sebuah hubungan jika bukan untuk mewujudkan bucket list!


    14. Akhirnya menyadari bahwa hubungan kalian itu resmi.

    Tradisinya, fase ini muncul setelah perbincangan klasik tentang, “Hubungan kita ini apa?” Tapi terkadang hanya butuh sesederhana salah satu dari kalian memanggil sebutan “pacar” atau secara spontan terlontar kata, “I love you,” sampai membuat kamu merasa, wow, saya resmi terlibat dalam hubungan ini.


    15. Semakin bertumbuh dan berkembang bersama (ketimbang menjauh).

    Sekarang perasaan kamu sudah dipersenjatai dengan rasa stabil, kalian berdua semakin banyak menghabiskan waktu berdua, menikmati kebersamaan sampai 80 hingga 90 persen dari waktu kalian, dan menghadapi beberapa sedikit perubahan selama perjalanan hubungan itu. Inilah hubungan yang setara dengan maraton-Friends-sepanjang-Minggu – mungkin ini bukan fase yang membuat kamu exciting atau berjuang mati-matian, tapi damn, fase ini sangat nyaman dan BAGUS.



    16. Mengalami pertengkaran serius dan berulang sampai kamu mempertanyakan hubungan ini.

    Semoga kamu menikmati fase 15, karena fase 16 akan hadir untuk membumbui hubungan. Fase ini timbul bermacam-macam pada setiap pasangan dengan masalah demi masalah, tapi umumnya, ini adalah isu yang lebih besar yang akan kamu hadapi dan selesaikan, seperti misalnya sadar bahwa kalianlah yang harus mengarahkan jalan hubungan ini.


    17. Rindu akan masa-masa pendekatan dan mungkin bermimpi tentang mantan yang membuat kamu BERGEJOLAK.

    Lagi, fase 15 itu bagus, tapi bisa terasa agak stagnan ditambah kalau tiba-tiba kamu terpikirkan dengan mantan dari lima tahun lalu yang kini tampaknya lebih glowing up. Jadi sekarang kamu tidak tahu apakah hubungan ini masih tepat untuk kamu. Tapi ketahuilah, sesekali terlintas pikiran tentang orang lain tidak dihitung sebagai perselingkuhan, kecuali kamu beraksi sungguhan.


    18. Melewati perubahan yang besar, seperti memutuskan untuk menikah atau mengalami masa-masa berat yang semakin mendekatkan kalian.

    Berbagi kamar tidur, menjelajah IKEA dengan keranjang penuh, berpindah kota, mengadopsi anak anjing, atau bahkan jika salah satu dari kalian mengalami kesedihan dalam pekerjaan, akan membuat kalian semakin dekat.


    19. Menyadari bahwa ia memang berantakan dalam bersantap sementara kamu pun berantakan dalam menata ruang, dan kamu hanya harus berdamai dengan hal itu karena KAMU PUN TAHU, ia menggemaskan.

    Kamu meninggalkan berbagai berkas kertas di lantai, yang membuat pasangan terganggu, tapi setidaknya kamu tidak makan secara berantakan seperti meninggalkan remah-remah Oreo di meja kopi. HUFF. Hal ini tidak akan pernah berubah, tapi kamu terlalu senang dengan sesi santap cemilan bersama sampai tak ingin berpisah.



    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan US / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih Bahasa: Givania Diwiya / Images: Dok. Cosmopolitan US)