Celebrity

Stephanie Poetri tentang I Love You 3000, Idolanya dan K-Pop

  by: Givania Diwiya Citta       11/9/2019
  • Dalam edisi anniversary Cosmopolitan Indonesia yang ke-22 tahun, Stephanie Poetri hadir untuk berbicara tentang karier dalam musik, I Love You 3000, idolanya, K-Pop, dan musisi perempuan yang bisa membuatnya starstruck. Meet one of our most wanted Gen Z in Indonesia!


    Ingatkah apa gig menyanyi pertama kamu?



    Saat usia 10 tahun, saya diajak nyanyi dengan ibu saya dan kakak saya di sebuah waterpark. Setiap kami latihan, kami selalu skip intro, jadi saat live, saya bernyanyi terlalu cepat. And as a kid, it traumatized me. Untuk beberapa waktu, saya sempat takut dengan panggung. Lalu baru saat di sekolah saya mau naik panggung lagi, dan mulai merasa bahwa ini menyenangkan. Yang membantu saya untuk berani naik panggung lagi adalah sahabat saya. Ia punya suara yang sangat bagus, dan selalu mendorong saya untuk bernyanyi, jadi saya tak pernah naik panggung sendiri, ia selalu ada. Ia membantu saya melewati anxiety di atas panggung.


    Apa musik yang paling memberi kamu kesan mendalam, dan bisa membuat kamu termotivasi untuk berkarya?

    Selain Toothbrush oleh DNCE yang impactful pada gaya musik saya, setelahnya saya pun mulai terekspos dengan K-Pop, saya terkejut bagaimana mereka memproduksi musik-musik mereka, dan bagaimana mereka menyanyikannya. Saya bisa berdiam di kamar berhari-hari mendengarkan semua musiknya!




    Boleh jelaskan lebih dalam tentang single terbaru kamu yang berjudul I Love You 3000

    Saat itu saya baru saja rilis single pertama, jadi sedang santai dari rehat tersebut, saya iseng membuat QnA di Instagram. Banyak orang memberi saya kata demi kata, lalu saya buatkan lagu dari berbagai kata tersebut. Saat itu, banyak yang baru saja menonton Avengers End Game, dan banyak yang bilang untuk buatkan lagu dengan lirik I love you 3000. Dalam satu hari saya mengerjakannya, lalu saya perdengarkan pada mama, ia bilang bagus! Lalu kami langsung memproduksinya, dan ternyata banyak orang yang menyukainya. I’m such a people pleaser! Untuk konsep MV-nya, saya minta izin mama untuk melakukannya secara DIY bersama dengan kakak saya. Kami hanya pakai handphone, berjalan-jalan, bahkan saya mengeditnya sendiri. I never expect it to go BIG. Saya masih tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Karena saya masih mencari the right balance antara humble dan confident, saya tidak ingin terlalu fokus pada kesuksesan, tapi saya harus berterima kasih pada semua orang yang sudah share, hingga melambungkan nama saya. Jadi yang saya lakukan adalah do as good as much as I can.


    Siapa mentor terbaik kamu dalam menjalani karier dalam musik? Dan apa nasihat terbaik darinya untuk mengarungi industri ini?

    Mama saya. Ia punya banyak sekali pelajaran hidup, tidak pernah ada yang mengajarkan saya itu selain beliau. Yang saya bisa pelajari darinya adalah tentang staying true to yourself as a musician. “Akan selalu ada orang-orang dari industri yang ingin mengarahkan kamu jadi lebih komersil, tapi jika kamu tidak genuine, pendengar akan tau dan merasakannya, lalu kamu jadi tidak akan menikmati apa yang kamu kerjakan. Jika dalam lagu ada yang ingin kamu ganti, tidak apa asalkan kamu suka dengan yang diganti. Kamu harus bisa stand up for yourself, terutama di industri yang pada dasarnya ada untuk menciptakan uang,” ujarnya. Banyak orang yang lupa bahwa musisi memulai langkahnya dari menciptakan musik, dan jika kalian mengubah musik mereka, kalian juga akan mengubah diri mereka. 



    Karya musik seperti apa yang sangat kamu idamkan untuk ciptakan?

    Gaya penulisan lagu saya adalah story-telling. Saya belajar menulis dari ayah saya, he loves country music, dan country music seluruhnya merupakan proses bercerita. Seperti I Love You 3000, lagu itu adalah wujud dari cerita yang saya buat.




    Jika bisa berkolaborasi dengan satu musisi/penyanyi, siapa yang akan kamu ajak, dan yang mungkin akan membuat kamu starstruck?

    NIKI. Selain punya suara yang bagus, ia menulis lagunya sendiri, she’s so amazing and great role model for young people. Her creativity really shines. Ia khas. Anda akan tahu lagu dan identitasnya saat Anda mendengar musiknya. Karena di antara banyak genre yang ingin dicoba, ia justru bisa sangat baik menggarap RnB miliknya, which I think is really hard to do.


    Fotografer: Insan Obi

    Stylist: Dheniel Algamar

    Stylist Assistant: Yovita Pratiwi

    Makeup Artist: Archangela Chelsea

    Hair Stylist: Osha Puspita Sari

    Digital Imaging: Ragamanyu Herlambang

    Wardrobe: Amot Syamsurimuda

    Headpiece: Rinaldy Yunardy

    Accessories: Hian Tjen


    Baca wawancara Cosmo dan Stephanie Poetri lainnya di majalah Cosmopolitan Indonesia edisi September 2019 dalam artikel “The Most Wanted Gen Z in Indonesia”.


    (Givania Diwiya / FT / Image: Dok. Cosmopolitan Indonesia)