Lifestyle

10 Seniman Perempuan Bicara Seni di Jakarta Art Week 2019

  by: Alvin Yoga       13/9/2019
  • Akhir bulan Agustus kemarin, Jakarta Art Week 2019 resmi digelar untuk umum oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Acara ini sendiri merupakan pekan perayaan seni rupa di kota Jakarta yang diinisiasi oleh MRA Media, dan didukung oleh Pemprov DKI Jakarta, Enjoy Jakarta, MRT Jakarta, Trans Jakarta serta Dove Indonesia. Diadakan pada 26 Agustus sampai 15 September 2019 nanti, Jakarta Art Week 2019 mengajak masyarakat Jakarta - khususnya para pejalan kaki - untuk bisa menikmati karya seni di sepanjang jalan Sudirman. Di tahun pertama penyelenggaraannya ini, pagelaran ini menampilkan 10 karya seniman perempuan di 21 titik halte sepanjang jalan Sudirman dengan tema Perempuan Bicara Seni.

    Sepuluh seniman perempuan yang berpartisipasi adalah Patricia Untario, Theresia Agustina Sitompul, Budi Asih, Cempaka Surakusumah, Dian Suci, Kalya Risangdaru, Maharani Mancanagara, Ajeng Martia Saputri, Sanchia dan Hanggita Dewi. Mengangkat tema "Rambut Aku. Kata Aku." Dove Indonesia bersama dengan sepuluh seniman perempuan yang mendukung Jakarta Art Week memiliki harapan dapat memberikan kepercayaan diri kepada semua perempuan apapun gaya rambut yang mereka pilih.

    Ingin lebih mengenal sepuluh seniman perempuan yang berkontribusi di Jakarta Art Week 2019? Simak profil mereka di bawah ini:




    1. Patricia Untario


    Makna "Rambut Aku, Kata Aku" bagi Patricia adalah setiap perempuan memiliki karakter yang berbeda dan berhak untuk menyuarakan pikirannya serta menentukan jalan hidupnya. Rambut adalah mahkota perempuan yang memiliki keindahan tersendiri seperti apapun bentuknya. Seperti seorang perempuan yang memberikan perhatian lebih untuk merawat rambutnya, seorang perempuan juga harus mampu mempunyai pendirian yang kuat dan memiliki rasa cinta yang besar kepada diri sendiri. Melalui karyanya, Patricia Untario ingin menunjukkan bahwa cara mengekspresikan diri dari setiap individu tidak bisa menjadi penentu atau halangan dalam mencapai prestasi dan tujuan hidup setinggi-tingginya. Patricia Untario merupakan seniman perempuan yang konsisten menggunakan material kaca yang digabung dengan permainan cahaya sehingga membuat karya-karyanya mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri.


    2. Budi Asih


    Mengambil tema Tulus, Budi Asih memaknai karya seni "Rambut Aku, Kata Aku" menjadi sebuah sarana untuk mengungkapkan rasa syukur atas anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa dalam memaknai hidup dan kehidupan. Karya ini bercerita tentang perempuan tangguh yang di tengah berbagai macam kesibukan dan tanggung jawabnya, dia selalu menjadi penghibur bagi keluarganya dan menjadi pusat perhatian karena rasa. Makna itu juga yang terdapat pada rambut, yang tumbuh dan hidup penuh cinta hingga akhirnya tergerai indah penuh pesona, menyebar kagum pada setiap mata yang melihat. Bagi Budi Asih, seorang perempuan yang konsisten dalam menciptakan karya seni merupakan pilihan dan tantangan hidup tanpa mengesampingkan tugasnya sebagai seorang istri maupun seorang ibu yang menjadi penyeimbang di dalam rumah tangga. Menurutnya, melalui karya seni, seorang perempuan bisa mengekspresikan suaranya, idenya, dan gagasannya berdasarkan imajinasinya yang tanpa batas sehingga mampu memberikan energi positif, semangat, dan harapan bagi dirinya sendiri maupun orang lain sehingga mampu menjadikannya manusia yang memberikan keberkahan bagi semesta alam.  Budi Asih adalah seniman asal Yogyakarta yang karya-karyanya banyak bercerita tentang perjalanan hidup dan kehidupan manusia di alam, yang di dalamnya terdapat harapan untuk menuju kehidupan yang damai sejahtera.


    3. Dian Suci



    Mengambil tema "Mengeja tubuh, Menyelami ruh", bagi Dian Suci arti dari "Rambut Aku, Kata Aku" adalah proses menyelami diri sebagai seorang perempuan - yang sejujurnya tak pernah mudah karena ia tersusun dari lapis-lapis kenyataan yang menyusun tubuhnya. Perempuan, sebagaimana Drupadi di meja perjudian, adalah lembaran kain yang tak ada habisnya dibuka dan dibaca. Seperti bertukar tangkap dengan lepas, nilai tak akan pernah tepat dan tamat meski seberapa dekat kita dengannya. Hingga di ujung hari, ia melepas gelung rambutnya dan berbagi rahasia. Menurut pandangan Dian Suci, seorang perempuan memiliki rambut yang indah dan wajah nan ayu yang bersatu padu menjadi sebuah karya terbaik yang mungkin Tuhan ciptakan padanya, menjadikan rambut perempuan karya yang sangat berharga untuk menghiasi indahnya keseluruhan dari seorang perempuan. Dian Suci adalah seniman asal Yogyakarta yang dalam karya-karyanya secara keseluruhan kerap membicarakan dunia perempuan dan hal-hal yang melingkunginya. 


    4. Hanggita Dewi



    Mengambil tema Anatomical Senses, Hanggita mengartikan "Rambut Aku, Kata Aku" seperti mengalami krisis eksistensi yang bukan hal mudah bagi seseorang berumur dua puluhan, ataupun bagi segala umur. Bagi Hanggita, masalah kesehatan mental masih tidak dianggap serius di kalangan masyarakat Indonesia, namun hal ini harus lebih diperhatikan dan ditelusuri lebih lanjut demi berkembangnya pribadi yang lebih aktif dan produktif. Kurangnya kecintaan pada diri sendiri juga menjadi salah satu alasan menurunnya kesehatan mental pada pribadi kita. Akibatnya, energi yang dikeluarkan kepada aktivitas dan produktivitas menjadi menurun. Inspirasi karya Hanggita Dewi ini diangkat dari self-love atau kecintaan kepada diri sendiri yang merupakan bibit tumbuhnya pribadi yang bisa berkembang untuk lebih mengharumkan nama bangsa kita. Baginya, self-love bisa hadir dalam berbagai dimensi. Faktor eksterior bisa menjadi acuan seseorang mencintai dirinya. Tak hanya merawat wajah dan tubuh, menjaga keindahan rambut pun juga merupakan bentuk cinta terhadap diri. Bukankah ada pepatah, “Rambut adalah mahkota seorang perempuan”? Hanggita Dewi adalah seorang seniman kelahiran tahun 1995 yang telah banyak berkarya dan berpartisipasi di berbagai pameran bersama. Hanggita juga beberapa kali memenangkan lomba mural di tahun 2015 dan 2016.


    5. Kalya Risangdaru



    Karya "Rambut Aku, Kata Aku" dari Kalya Risangdaru dibuat dari sebuah pandangan personal sebagai seorang perempuan yang terlahir dengan rambut ikal, tebal, mengembang, dan sulit rapi. "Sejak di sekolah dulu, teman-teman sering mengejek karena aku punya rambut singa. Karena itu, aku selalu lebih percaya diri saat menguncir rambut. Namun belakangan, dengan perlahan aku mulai belajar mencintai tekstur natural rambut  tanpa dicatok atau di-blow. Dari situ, aku belajar mendapatkan kembali kepercayaan diri untuk membiarkan rambut terurai dan menunjukkan tekstur rambut," ujar Kalya. Baginya, seorang perempuan harus percaya bahwa ia punya kekuatan untuk menentukan tampilan fisik sendiri tanpa diganggu gugat opini orang lain. "Apapun kata mereka, hidup saya harus terus berjalan. Meskipun kalian potong rambut ikal nan tak rapi ini, mereka nanti akan tumbuh kembali kan? Berkatalah sesuka mereka sebab hidup yang terus maju ini tidak ditentukan oleh opinimu." Kalya Risangdaru yang lahir di Jakarta pada tahun 1993 ini ingin menyampaikan isu-isu yang terjadi di dalam diri perempuan dan lukisan menjadi sebuah medium tepat bagi para penikmat karya yang bebas untuk menginterpretasi sendiri visual yang dihadirkan dan mencari kedekatannya dengan diri masing-masing.




    6. Maharani Mancanagara


    Bagi Maharani, "Rambut Aku, Kata Aku" menghadirkan perihal kebebasan ekspresi perempuan dengan ragam latar belakang kultur yang berbeda. Sama seperti rambut yang beragam, apapun bentuknya, seorang wanita akan tetap terlihat indah dan anggun. Dengan mengambil gerakan berdansa, karya ini menjadi simbol bahwa kebebasan berekspresi tidak ditentukan oleh rambut panjang, pendek, keriting atau pun lurus. Maharani Mancanagara adalah seorang seniman kelahiran Padang tahun 1990 yang di setiap karyanya kerap mengeksplorasi sejarah Indonesia yang sesuai dengan pengalaman pribadi dan keluarganya.


    7. Ajeng Martia Saputri



    Dengan karya "Rambut Aku, Kata Aku", Ajeng ingin menunjukkan bahwa sebagai perempuan, Ajeng hidup di tengah tuntutan untuk memiliki fisik sesuai standar yang ada di masyarakat. Menurut Ajeng Martiasa Putri, proses berkarya membantu dia untuk dapat mendefinisikan arti indah menurut dirinya sendiri. Karyanya bercerita tentang rambut perempuan dibuat dengan susunan bunga serupa sulaman bunga yang menggambarkan proses dalam memaknai arti kata indah. Proses mengerjakannya pun tidak mudah seperti menjahitkan benang helai demi helai hingga membentuk citra yang diinginkan. Dengan tema "Be You, Do you, For You", Ajeng ingin berbagi pesan bahwa definisi indah kembali kepada diri sendiri, dari diri sendiri, dan untuk diri sendiri. Ajeng Martia Saputri adalah seniman kelahiran Semarang. Karyanya banyak membicarakan ranah personal karena baginya berkarya memiliki efek terapeutik. Ia mulai mengeksplorasi berbagai medium mulai dari kain hingga resin, 3 dimensi maupun 2 dimensi.


    8. Sanchia


    Mengambil tema "Helai yang Liar", karya "Rambut Aku, Kata Aku" dari Sanchia bercerita mengenai pengalaman pribadi dirinya. "Seperti rambutku yang kadang kupaksa diam, kupaksa berombak, kupaksa tetap hitam dan kupotong-potong, namun ada saja sehelai dua helai yang selalu liar, menolak kesempurnaan," ujarnya. Bagi Sanchia, rambutnya takkan pernah lupa mengingatkan aslinya kepada dunia. Seperti wanita yang harus selalu menjadi lambang keindahan bagaimanapun ia dibentuk. Meski terkadang liar, rambutnya juga sangat penurut. Rambutnya tak pernah memberontak terlalu keras. Memang tak sempurna tapi kuat, hebat, hidup penuh kasih, dan taklukkan dunia. Sanchia Hamidjaja lahir pada tahun 1983 di Jakarta. Dalam berkarya dia sangat terinspirasi dari komik, kartun, dan dialog kehidupan sehari-hari. Bentuk karyanya banyak berupa gambar dan mural.


    9. Theresia Sitompul



    Theresia bercerita bahwa inspirasi "Rambut Aku, Kata Aku" memiliki pesan: siapa pun dirimu, kamu mempunyai gayamu sendiri, kamu mempunyai kepribadianmu sendiri, kamu mempunyai sikapmu sendiri, dan orang lain akan melihat dan menghormatimu. Theresia Agustina Sitompul adalah seniman kelahiran Pasuruan yang seringkali memasukkan unsur kepedulian terhadap lingkungan di dalam karya seni. Sebagai seorang seniman, Theresia tidak lupa mengajak kita untuk bersama menjaga lingkungan sebagaimana kita menjaga kita sendiri.


    10. Cempaka Surakusumah



    Lewat karya "Rambut Aku Kata Aku", Cempaka ingin menunjukkan bahwa yang membuat seorang perempuan itu berbeda adalah bila ia memiliki andil dalam menentukan apa yang ingin ia lakukan dan apa yang ingin dia pilih dalam menjalani kehidupannya. Seorang perempuan berhak memiliki statement dan kebebasan dalam menjadi dirinya sendiri. Rambut adalah salah satu persona perempuan, di mana karakteristik seorang perempuan dapat juga dilihat dari rambutnya. Penggambaran karya melalui komposisi abstrak geometrik menyerupai potongan rambut yang berbeda-beda merupakan visualisasi dari rasa indah yang terpancar dari seorang perempuan ketika ia menentukan pilihannya dan yakin akan dirinya sendiri. Cempaka Surakusumah merupakan seniman kelahiran tahun 1987. Karyanya banyak terpengaruh oleh emosi atau perasaan. Sesuatu yang tidak bisa digambarkan dalam bentuk yang realis, yang hanya bisa dirasa, dan yang dapat dikembangkan ke berbagai macam bentuk dan pendekatan.


    (Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Cosmopolitan)