Career

Bicara Soal Keuangan Pada Teman Bukanlah Hal yang Tabu, Ini Caranya!

  by: Alvin Yoga       5/9/2021
  • Kita berani bicara terbuka mengenai politik, kesehatan, bahkan hubungan cinta pada sahabat, namun entah mengapa percakapan mengenai uang dan gaji masih dianggap tabu. Mayoritas orang masih enggan berbicara seputar berapa nominal gaji yang mereka dapatkan, atau memberitahukan masalah keuangan yang mereka hadapi karena takut mendapatkan "penilaian" buruk dari orang-orang di sekitar. Padahal sebetulnya (seriously, girls), it shouldn't be. Mengapa? Karena sejujurnya, semakin banyak literasi keuangan yang kita miliki dan semakin banyak topik seputar keuangan yang kita perbincangkan—apalagi bagi kita para perempuan yang masih sering menerima diskriminasi dalam hal gaji dan sebagainya—maka semakin banyak yang bisa kita perjuangkan.

    Kalau kamu merasa takut untuk langsung membicarakan soal gaji, okay, we understand. Mari kita mulai dari hal-hal yang lebih kecil, semisal soal menagih utang, atau menolak sharing bill ketika kamu memang sebenarnya tak perlu melakukannya.

    Kita semua pasti pernah berada dalam situasi ini: di mana salah seorang teman tak keberatan membayar lebih atas makanan yang bahkan tidak mereka sentuh, “Eh, engga apa-apa, kita sharing aja,” ujar temanmu, dan hal tersebut justru membuat kita merasa tidak enak hati. Hal ini terkadang membuat situasi menjadi awkward, karena jujur saja, jika saya yang diminta untuk membayar makanan yang tidak saya makan, saya pasti akan langsung menolaknya.



    Masalahnya, tak semua orang berani melakukan hal yang saya lakukan, alias menolak membayar, atau mengatakan secara terang-terangan mengapa saya tak ingin membayar lebih. Alasannya? Beberapa orang ingin menghindari argumen dan malas menghadapi konfrontasi, terutama jika acara makan-makan tersebut bersama dengan teman-teman dekat.

    Jika kamu merasa bahwa kamu adalah salah satu dari mereka yang ingin menolak membayar namun sulit mengutarakannya, tenang, Cosmo telah bertanya pada para ahli, dan mereka memberitahu cara terbaik yang bisa kita lakukan ketika menghadapi skenario tersebut. Saatnya menyelamatkan isi dompet dan persahabatan kita—dua-duanya sekaligus!



    DILEMA KEUANGAN PERTAMA:
    Saya meminjamkan uang sebesar Rp5.000.000,- pada sahabat dan mereka belum mengembalikan uangnya.

    The solution: Hal ini memang membuat frustasi, dan kenyataannya kejadian seperti ini merupakan skenario yang cukup sering terjadi. Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Jakpat bersama dengan Danafix pada 500 responden Indonesia berumur 18-55 tahun di tahun 2019 lalu, 71% responden mengaku bahwa teman merupakan sumber dana darurat mereka, dan 64% responden perempuan mengaku bahwa mereka mengandalkan teman sebagai sumber dana darurat meski mereka sebisa mungkin menghindari situasi tersebut.

    Selain itu, studi berbeda yang dilakukan oleh Lloyds Bank juga menunjukkan bahwa 30% orang dewasa mengaku mereka pernah berargumen dengan teman perihal uang, lebih tepatnya, karena meminjamkan uang. “Tanyakan pada diri sendiri—apakah kamu memang membutuhkan uang tersebut sekarang atau kamu ingin temanmu memahami situasi bahwa mereka masih berutang,” ujar Alex Holder, penulis buku Open Up: Why Talking About Money Will Change Your Life.

    Terkadang, yang kamu butuhkan hanya sekadar mengingatkan temanmu bahwa mereka masih mempunyai utang, dan hanya dengan mengetahui bahwa temanmu ternyata belum melupakan utang tersebut bisa membuat kita merasa lebih baik. Jika temanmu mengatakan bahwa ia akan membayar utangnya bulan depan atau dua bulan ke depan, tanyakan pada temanmu apakah tak masalah jika kamu mengingatkan mereka soal utang tersebut kembali di bulan berikutnya.

    Namun jika uang ini mulai menjadi masalah (baca: ia terus menunda membayar utangnya) dan kekesalanmu mulai memengaruhi persahabatan kalian, then speak up. “Jika kamu tak bertanya pada temanmu, skenario ini hanya akan berputar di kepalamu dan memengaruhi hubungan kalian,” tambah Alex.

    Jika temanmu belum bisa mengembalikan uang tersebut, buat rencana dengannya sehingga ia bisa melunasi utang tersebut. Mulai dengan bertanya: “Apakah Rp500.000,- sebulan akan lebih mudah bagimu, dibanding langsung melunasi seluruhnya dalam satu waktu?”

    Jika kamu tak ingin mengatakan hal tersebut pada temanmu secara langsung, mintalah lewat cara lain. Beberapa bank digital seperti Jenius misalnya, memiliki fitur Pay Me yang memudahkanmu menagih utang. Kamu cukup mengirim notifikasi permintaan uang dari daftar kontak, and that’s it. Mudah, cepat, dan gratis—dan begitu utang tersebut lunas, kamu tak perlu membicarakannya lagi. “Carilah cara semudah mungkin yang membuat mereka dapat mengembalikan uang tersebut,” tambah Alex.


    DILEMA KEUANGAN KEDUA:
    Saat berangkat liburan bersama, bagaimana cara memastikan bahwa kita semua bisa membagi pengeluarannya secara adil?

    The solution: Siapa sih yang ingin menodai sebuah liburan asyik dengan argumen: Siapa harus membayar apa atau siapa belum membayar apa. Girls, gunakan kemajuan teknologi.

    Buat semuanya mudah dan adil dengan fitur Split Bill. Saat ini, setidaknya ada empat aplikasi yang menyediakan fitur tersebut: LINE, Jenius, GoPay, dan DANA.

    kAMU cukup membuat grup atau menambahkan nama teman setiap kali melakukan transaksi pembelian atau pembayaran. Semisal, kamu dan teman-temanmu baru saja makan siang bersama dengan menu yang berbeda-beda, kamu cukup memberi tanda siapa memesan apa pada aplikasi tersebut, lalu pilih kalian harus membayar pada siapa. Notifikasi akan langsung masuk pada aplikasi begitu kamu atau temanmu sudah melunasinya. Mudah, kan?


    DILEMA KEUANGAN KETIGA:
    Ketika kami makan di sebuah restoran, saya biasa memilih menu yang porsinya lebih sedikit karena saya tidak bisa makan dalam jumlah besar, dan biasanya saya tidak memesan minum, tapi teman saya tetap membagi tagihannya sama rata. Bagaimana cara saya mengatakan bahwa saya hanya ingin membayar makanan yang saya pesan?

    The solution: Masih ingatkah kamu dengan salah satu episode dari serial TV "Friends" dimana sebuah tagihan restoran dibagi sama rata; dan Phoebe, Joey dan Rachel mengungkapkan bahwa mereka memesan menu yang lebih kecil karena mereka tidak bisa makan sebanyak Monica, Ross dan Chandler? Adegan tersebut menunjukkan pada kita sebuah kenyataan yang tricky: terkadang teman-teman kita tidak menyadari bahwa setiap orang memiliki bujet yang berbeda, dan kita sebenarnya hanya ingin membayar apa yang kita pesan.

    Pelajaran yang bisa dipetik dari hal ini adalah: jangan menunggu sampai tagihannya datang lalu berkata pada teman kalian bahwa kamu hanya ingin membayar apa yang kalian makan. “Bersikaplah jujur sejak awal. Jika kamu tak mengatakan apa-apa, mereka juga tidak bisa mengetahui kebenarannya,” ujar Alex.



    “Kalau kalian memiliki teman yang menyebalkan, yang gemar memesan lima macam menu pembuka, maka triknya: lakukan pembayaran secara tunai. Ketika memesan, katakan bahwa kamu hanya membawa uang dalam jumlah terbatas, maka dari itu kamu hanya akan memesan porsi yang kecil. Jangan merasa malu ketika menaruh uang tersebut saat membayar. Katakan, ‘Ini uang yang saya bawa hari ini, tapi sepertinya cukup untuk membayar makanan dan minuman yang saya pesan.’ “

    DILEMA KEUANGAN KEEMPAT:
    Teman saya mengobrol mengenai gaji, tapi saya mendapatkan gaji yang lebih sedikit, dan khawatir bahwa mereka akan menilai saya berdasarkan fakta tersebut.

    The solution: Menurut survei dari Money & Pensions Service di Inggris, rasa malu merupakan alasan utama mengapa orang dewasa menghindari berbicara seputar gaji bersama para teman dan keluarga (18%), dan merasa bahwa mereka seharusnya bisa lebih sukses (13%) menjadi alasan berikutnya.

    “Mendapat gaji yang lebih banyak tak berarti seseorang lebih cerdas atau lebih sukses darimu, kok,” ujar Alex. “Beberapa industri memang memberikan bayaran yang lebih besar. Kamu bisa saja berada di level yang setara dan tetap memiliki perbedaan dalam hal gaji. Jika kamu menyukai pekerjaan yang kamu lakukan, memiliki fleksibilitas lebih dalam hal jam kerja, atau memiliki banyak benefit yang menguntungkan, apakah masih menjadi masalah jika kamu mendapatkan uang yang lebih sedikit?”

    Jika kamu benar-benar merasa tidak nyaman membagikan besaran gajimu, tak perlu merasa tertekan untuk membicarakan hal tersebut. “Alih-alih, diskusikan keuntungan pekerjaan yang kamu dapatkan (seperti jaminan kesehatan, jumlah cuti yang lebih banyak, potongan harga untuk merek tertentu), kebiasaan berbelanjamu, atau pengalaman personal kamu di kantor,” ujar Emilie Bellet, founder podcast “The Wallet” dan Vestpod.com. “Dengan begitu, kamu akan merasa lebih bahagia mendiskusikan hal yang kamu dapatkan dari pekerjaan tersebut.”


    DILEMA KEUANGAN KELIMA:
    Saya tak ingin ketinggalan bersenang-senang dengan teman-teman saya—namun saya juga tak ingin berutang.

    The solution: Bicara soal bersenang-senang dengan sahabat, FOMO itu memang nyata—tapi, menurut Emilie, mengikuti godaan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan bujet tidak sepadan dengan utang yang muncul nantinya. “Buat rencana pengeluaran dengan menciptakan sebuah bujet yang nyata,” sarannya.

    “Ketika kamu menerima gaji, langsung alokasikan uang tersebut untuk tagihan bulanan, pengeluaran yang wajib, serta tabungan. Barulah sisanya kamu gunakan untuk bersenang-senang. Setiap kali kamu keluar rumah bersama the girls, kamu hanya boleh menghabiskan uang dari pengeluaran ‘bersenang-senang’ tersebut.”

    Demi mengatasi tekanan yang muncul, Emilie menyarankan untuk berbagi tujuan finansial dengan para sahabat, dan katakan pada mereka bahwa kamu sedang mencoba menabung sejumlah uang dalam periode yang spesifik—semisal, katakan untuk membayar uang muka karena kamu ingin membeli rumah. Dengan begitu, kamu tak perlu merasa tidak enak hati jika kamu sering menolak ajakan mereka.

    “Jika kamu ingin mengikuti acara tersebut namun pengeluarannya lebih besar dari bujetmu, beri solusi berupa tempat makan atau tempat nongkrong yang lebih terjangkau—kamu mungkin akan menemukan bahwa salah satu temanmu ternyata ikut merasakan hal yang sama denganmu, namun mereka terlalu takut untuk mengatakannya.”


    DILEMA KEUANGAN KEENAM:
    Teman saya benar-benar buruk dalam mengelola uang. Apa yang dapat saya sampaikan padanya?

    The solution: Pertama-tama, jangan langsung menyampaikan pandanganmu dan memberinya saran secara gamblang. Perlakukan subjek sensitif tersebut dengan penuh hati-hati—dan bahas hanya jika kamu merasa mereka benar-benar menderita karenanya.

    “Dibanding menyiratkan bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, tanyakan pada mereka apakah mereka ingin ‘mengobrol’ soal keuangan. Kamu bisa membuka percakapan dengan mengatakan bahwa kamu sedang membutuhkan bantuan, dan tanyakan apakah mereka berminat menjadi ‘sahabat yang bisa dipercaya’ atau ‘mendukung kamu untuk menabung’. Kamu juga bisa bertanya pada mereka untuk berbagi tujuan finansial bersama,” ujar Emilie.

    Hal ini akan membantu temanmu mempelajari beberapa hal dari pengalamanmu dan menemukan langkah yang lebih baik dalam mengatur keuangan mereka. Ini juga memberi kamu alasan yang lebih baik untuk membuka sebuah percakapan mengenai keuangan ketika kamu ingin membahasnya.

    Jika kamu merasa sedikit kurang nyaman, berlatihlah dengan apa yang kamu katakan. Dan ingat, jangan langsung menghakimi temanmu jika yang ia lakukan ternyata salah. “Butuh waktu untuk bisa mengubah pola pikir seseorang, terutama karena uang adalah suatu hal yang personal dan kita semua memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai hal tersebut,” ujar Emilie. You’ve got this, pal!


    (Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Freepik)