Better You

Memahami Hubungan Parasosial di Fandom K-Pop

  by: Alexander Kusumapradja       8/9/2021
  • Dear Cosmo babes, apakah kamu termasuk yang nge-fans banget dengan seorang idola sampai merasa punya ikatan emosional dengannya walaupun ia mungkin tak mengetahui keberadaanmu di antara jutaan fans lainnya? Kalau iya, artinya kamu sedang berada dalam hubungan parasosial.

    Wait, hubungan parasosial? Apa itu?
    Hubungan atau interaksi parasosial adalah fenomena psikologi di mana hubungan satu arah tercipta ketika seseorang mencurahkan energi emosional, minat, waktu, dan tenaganya kepada sosok yang ia lihat di media (baik media massa maupun media sosial), meskipun sosok tersebut mungkin tidak tahu keberadaan dirinya.
    Siapapun yang menyebut dirinya sebagai seorang fan (atau istilah zaman sekarang “stan”) dari seorang public figure sesungguhnya berada di hubungan parasosial ini yang tidak bisa seutuhnya dianggap negatif tapi memang bisa berbahaya kalau melewati batasan yang wajar.

    Bukan fenomena yang baru
    Istilah hubungan parasosial pertama kali dicetuskan oleh antropolog Donald Horton dan sosiolog Richard Wohl di tahun 1956 saat mereka meneliti interaksi penikmat media massa yang menganggap diri mereka punya hubungan sosial dengan sosok yang mereka lihat di media.
    Tapi kalau dulu orang hanya bisa melihat idola mereka melalui TV dan media tradisional lainnya, kini dengan kemajuan media sosial terutama yang video-based, kita seolah punya akses lebih dengan public figure yang tak segan secara detail menceritakan aktivitas harian mereka hingga hal-hal lain yang sebetulnya lebih personal dengan cara seolah mereka berbicara langsung ke penonton. Hal ini yang kemudian makin membuat banyak orang merasa relate dan membangun hubungan parasosial tersebut.

    via GIPHY




    Hubungan parasosial sebagai komoditas dagang

    Pada awalnya, public figure cenderung menjaga jarak dan sengaja punya kesan misterius agar membuat penggemarnya penasaran. Tapi ketika industri hiburan makin berkembang, dinamika hubungan antara fans dan idola pun ikut berubah. Perusahaan entertainment sadar kalau menciptakan ilusi kedekatan emosional antara fans dan idola membuat penggemar jadi lebih loyal dan tak ragu mengeluarkan uang untuk mendukung idolanya tersebut.
    Maka dibuatlah berbagai strategi untuk membangun hubungan parasosial tersebut dan mengeruk nilai ekonominya. Salah satu caranya adalah mendirikan fans club resmi dengan privilege spesial untuk para anggota yang rela mengeluarkan uang untuk biaya anggota, menggelar fan meeting atau fan signing, dan gimmick personal lain bersama fans. Para idola, baik diarahkan perusahaannya atau atas keinginan sendiri, juga berusaha menjaga hubungan tersebut dengan menggunakan sapaan atau bahasa yang mengesankan kalau mereka bicara secara personal dengan fans.
    Beberapa grup atau idola pun berhasil meraih popularitas tak hanya dari produksi karyanya saja, tapi karena mereka berhasil membangun fanbase yang loyal lewat hubungan parasosial tersebut. Di saat beberapa agensi utama masih terkesan eksklusif, menjaga image yang sempurna setiap saat, dan menjaga jarak dengan fans, beberapa grup dari agensi yang lebih kecil justru menunjukkan sisi keseharian mereka yang lebih personal dan relate dengan banyak orang pada umumnya.
    Tak sekadar hubungan parasosial biasa, hal ini membuat banyak orang yang mendukung grup tersebut dari zaman rookie yang belum diperhitungkan merasa ikut punya andil dalam kesuksesan grup tersebut nantinya. Ada kepuasan tersendiri dari mendukung sebuah grup atau sesosok idola yang tadinya bukan siapa-siapa menjadi kian populer dan hal ini bisa membuat fans jadi sangat protektif dan obsesif pada sosok tersebut. Salah satu fenomena yang belakangan ramai adalah ajang survival seperti serial Produce di mana penonton bisa ikut voting dalam menentukan idola mereka dapat debut atau tidak.

    Tiga tahapan hubungan parasosial
    Giles dan Maltby di tahun 2006 mendefiniskan tiga tingkat dari hubungan parasosial yang terdiri dari:
    1. Entertain-Social
    Tingkat pertama yang paling umum dialami dalam hubungan parasosial biasanya dimulai dari rasa ketertarikan pada seorang public figure (mostly dari fisik atau karyanya dulu) namun tidak berinteraksi lebih dari sekadar mengagumi dan membicarakan sosok tersebut baik bersama orang lain maupun melalui unggahan di media sosial pribadi.
    2. Intense-Personal
    Tahap kedua adalah saat kamu makin mengenal karakter si idola yang lebih personal. Kamu tak cuma suka karena fisiknya yang atraktif tapi juga kepribadian yang ia tampilkan di muka umum. Kamu tahu biodatanya, hal-hal yang ia suka dan ia benci, dan kamu merasa punya hubungan yang lebih dalam dengannya dibanding sekadar fans biasa. Kamu pun tidak suka kalau ada orang yang bicara jelek soal idolamu dan tak ragu untuk menunjukkan kesetiaanmu lewat berbagai hal. Dari mulai memberikan hadiah, ikut aksi voting dan streaming, serta membeli produk-produk yang dipakai atau di-endorse si idola.
    3. Borderline-Pathological
    Tahap ketiga adalah tahap di mana hubungan parasosial tersebut sudah mengarah ke delusional dan tidak terkontrol. Kamu merasa benar-benar punya hubungan dengan sang idola dan keberadaanmu disadari atau bahkan penting baginya. Tak sekadar berfantasi punya hubungan yang nyata dengan idola, beberapa orang bahkan nekat jadi penguntit (stalker) sang idola di dunia nyata yang dalam dunia K-pop dikenal dengan istilah sasaeng.

    Sisi positif dan negatif hubungan parasosial

    Asal masih dalam batas kewajaran, hubungan parasosial sebetulnya tidak berbahaya, bahkan ada nilai positifnya. Banyak fans yang menganggap sosok idola tak hanya sekadar menghibur tapi betulan menjadi role model dan inspirasi dalam hidup. Banyak yang menjadikan perjuangan atau kerja keras idolanya sebagai motivasi dan karateristik positif lainnya. Banyak yang menyalurkan kekaguman mereka dengan membuat karya-karya kreatif, banyak juga yang menemukan teman dari fandom yang sama. Tak selalu negatif atau buang-buang uang, beberapa fandom juga aktif membuat gerakan donasi dan aksi sosial atas nama idolanya. Banyak juga yang merasa fandom dan hubungan parasosial dengan idola adalah sumber semangat untuk tetap kuat menjalani hidup.
    Masalah baru muncul ketika ikatan emosi tersebut menjadi ketergantungan emosional di mana hubungan parasosial menjadi pelarian dari masalah kehidupan nyata mereka dan kalau dibiarkan hal ini bisa mengarah ke gangguan psikologis. Fenomena sasaeng sendiri terjadi ketika orang tak mampu mengontrol emosi tersebut dan berubah menjadi persona posesif dan obsesif. Mereka berpikir karena sudah menginvestasikan perasaan, waktu, dan uang, mereka jadi punya hak atas idolanya. Dari sekadar mengerubungi idola di airport, menunggu seharian di tempat idola beraktivitas, hingga teror psikologis yang sudah mengarah ke kriminal. Semata-mata karena mereka ingin keberadaan mereka diketahui oleh idola, walau dipandang negatif sekalipun.
    Salah satu akibat hubungan parasosial yang tidak sehat di K-pop lainnya adalah fans merasa berhak ikut campur dalam urusan pribadi idolanya, terutama dalam hal percintaan. Ketika hubungan personal seorang idola terungkap di media, banyak fans yang marah dan menuntut idola tersebut keluar dari grup, membakar koleksi mereka, dan menerornya di media sosial atau bahkan in real life. Sampai-sampai sang idola harus secara pribadi meminta maaf atau bahkan mengundurkan diri.

    Salah siapa?
    Hubungan parasosial yang tak sehat tidak bisa disalahkan kepada fans saja karena banyak pihak yang memang menjual fantasi itu demi keuntungan finansial dengan cara memosisikan idola sebagai “pacar idealmu”. Hal ini tentu bisa berdampak negatif tak hanya untuk fans tapi si idolanya juga.
    Yang bisa dilakukan adalah menciptakan ruang diskusi yang aman bagi fans untuk membahas hal ini. Banyak fans senior yang akhirnya lebih santai dan bisa mengetahui batas yang jelas antara kehidupan fandom dan kehidupan personal mereka. Sosok fans yang lebih dewasa bisa memberi saran kepada fans lebih muda yang sedang heboh-hebohnya untuk bisa berpikir lebih rasional. Untungnya lagi, belakangan ini sudah banyak agensi yang peduli soal kesehatan mental idolanya dan bertindak tegas untuk melindungi mereka. Di sisi lain, para idol juga banyak yang sudah berani speak up tentang apa hal yang membuat mereka tak nyaman dan menentukan batas yang jelas antara kehidupan profesional dan personal mereka.
    Dari sisi fans, kita pun harus ingat mengidolakan seseorang boleh-boleh saja, but remember that nobody is perfect. Walaupun kamu tahu semua seluk-beluk idolamu sampai letak tahi lalat di tubuhnya, mereka adalah manusia biasa yang mungkin tak bisa benar-benar kita kenal seutuhnya. And they also deserved the respect untuk menyimpan sisi personal mereka. Dan jangan lupa juga untuk membangun interaksi dan hubungan nyata dengan orang-orang di sekitarmu, ya dear.

    (Alexander Kusumapradja/Image: pikisuperstar via freepik.)