Love & Sex

Ternyata Long Covid Bisa Memengaruhi Kehidupan Seks

  by: Nadhifa Arundati       9/9/2021
  • Dia berada di sampingku, hembusan napas itu sangat terasa secara halus di kuping dan leherku. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku menghadapkan badan ke arahnya, memandang matanya dengan tajam. Secara sensual, aku menarik rambutku ke satu sisi; sebagai petunjuk agar dia mulai menyentuh bagian leherku. Saat aku membiarkan dia untuk melakukannya, aku menggenggam penuh rambutku dalam satu tangan.

    Aku mengarahkan genggamannya untuk menyentuh bagian pinggang, suasana semakin intense, kami saling berkecup. Pikiran serasa seperti menyusuri lautan indah. Aku membayangkan suara kembang api, ini menjadi perayaan bagiku setelah sembuh dari penyakit Long Covid. Dua bulan lalu aku benar-benar lemas dan terbaring di kasur. Selama tiga minggu badanku terasa sakit. Tetapi sekarang, I’m not that girl anymore, aku bukan seorang pasien, I feel sexy and excited, rasanya seperti hidup kembali.

    Sampai pada akhirnya, aku kembali merasa sesak saat bernapas, hal yang bisa aku lakukan adalah mengatakan, “tunggu sebentar...” Kemudian aku bergegas menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Yep, aku nyatakan secara resmi: Long Covid adalah tembok penghalang untuk berhubungan seks.

    - Hannah Van-De-Peer -


    Berhubungan Seks Setelah Terjangkit Long Covid

    Kamu pasti sudah tak asing lagi dengan tiga gejala umum penyakit COVID-19 – batuk secara berkala, demam tinggi, mengalami anosmia (kehilangan indra penciuman). Namun tiap orang punya efek yang bebeda-beda saat terjangkit virus COVID-19. Penyakit ini dapat memengaruhi kesehatan secara general, bahkan dapat mengakibatkan kerontokan rambut dan sariawan. Namun bagi mereka yang mengalami Long Covid, tubuh rasanya jadi lemas terus, sulit bernapas – hal ini biasanya masih terjadi selama sepuluh hari, setelah masa penyembuhan.

    Seperti yang dialami oleh freelance writer di Cosmopolitan UK, Hannah Van-De-Peer, berusia 22 tahun, salah satu pejuang Long Covid. Post-COVID-syndrome merupakan istilah yang dipakai saat seseorang masih mengalami beberapa gejala dalam sepuluh hari setelah masa penyembuhan. Dua bulan lalu Ia melakukan test COVID-19 dan gejalanya malah semakin memburuk – tanpa ada peringatan, semua rasa sakit tersebut muncul begitu saja.

    “Seks merupakan hal paling krusial untuk membangun self-connection.”


    Kalau sudah terbukti sembuh dari COVID-19, tandanya semua hal akan kembali normal, termasuk kehidupan seks. Namun mengapa sih, manusia tak pernah jauh dari aktivitas seksual? “Karena sejatinya seks merupakan aktivitas yang esensial dalam kehidupan,” jelas Silva Neves, seorang terapis psikoseksual. “Dalam padangan psikologi, kegiatan seks mampu meningkatkan kesenangan dan menjadi ‘bumbu’ pokok dalam hidup. Seks merupakan hal paling krusial untuk membangun self-connection.

    Berhubungan seks – dalam situasi yang intim – telah menjadi pokok utama manusia secara biologis, namun berbeda hal bagi seseorang yang sedang mengalami penyakit kronis, rutinitas seks tidak lagi menjadi prioritas. “Banyak rencana dan kegiatan yang tertunda jika kamu telah terkena virus COVID-19,” ucap Silva. “Mereka terkadang tidak menyadari kalau rasa sakit yang dirasakan merupakan bagian dari gejala COVID-19, hal ini bisa menjadi sebuah alasan bagi suatu individu yang mengalami long COVID-19.”

    Alex (nama disamarkan), seorang perempuan berusia 21 tahun – tinggal bersama pasangannya dan sempat terkena virus COVID-19 pada bulan Desember tahun lalu, mengaku bahwa gejala yang Ia alami membuatnya merasa tak percaya diri untuk kembali beraktivitas di luar rumah – atau bahkan sekadar beranjak dari kasur. “Aku mengalami penyakit COVID-19 selama empat minggu, dan sampai sekarang, aku belum mampu kembali melakukan kegiatan seks,” ucapnya. “Gejala secara fisik yang aku alami – sulit bernapas, mudah merasa lelah, kepala masih terasa sangat berat – semua hal ini membuatku semakin mawas diri.”

    Beberapa gejala Long Covid tak seutuhnya hilang, rasa percaya diri dan libido pun menurun…. Will sex ever look the same for us again?

    Isolasi Mandiri dan Hasrat Seksual

    Dua hari sebelum Hannah dinyatakan positif COVID-19, Ia diharuskan untuk melakukan isolasi mandiri. Realitanya, Long Covid tak hanya memberikan rasa takut akibat dari gejala yang dirasakan, namun perasaan gelisah jadi semakin muncul, didukung dari lingkungan yang membuat para pengidap jadi semakin pesimis untuk sembuh. Hannah selalu bertanya-tanya, bagaimana caranya, agar Ia bisa bertahan melewati penyakit ini? Apakah penyakit ini akan berlangsung dalam jangka panjang? Bagaimana kalau daya tahan tubuh malah semakin memburuk meski sudah dinyatakan sembuh? Well, sudah sangat jelas kalau penyakit COVID-19 itu sangat, sangat mempengaruhi kesehatan mental manusia.

    Kegelisahan Hannah kian meningkat, dalam beberapa waktu, Ia menyikapinya dengan melakukan masturbasi sebagai bentuk self-care. Bisa dikatakan, langkah tersebut adalah hal yang tepat, hasrat seksual jadi semakin terdorong – meki kepuasaannya tak seperti waktu lalu, saat tubuh masih terasa sehat. Beberapa dari kita menjadikan masturbasi sebagai 'jalan pintas' untuk keluar dari masalah sejenak – lebih tepatnya, mengurangi rasa gelisah dan stres yang sedang mendominasi pikiran, it’s like our coping mechanism.

    Rasa sakit yang dialami memberikan dampak buruk bagi Hannah, Ia bahkan tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri, it was like disconnected. Namun dengan melakukan solo sex (masturbasi), cara ini telah menjadi penghubung yang akurat antara Hannah dengan tubuhnya, Alex pun setuju, “situasi membuatku ingin melakukan kegiatan yang mampu membebaskan pikiran. Salah satu cara yang aku lakukan adalah melakukan masturbasi, khususnya di saat masa-masa sulit.”

    Silva merekomendasikan masturbasi bagi mereka yang sedang stres dan gelisah akibat dari Long Covid. “Masturbasi merupakan opsi terbaik untuk menghubungkan batin bagi masing-masing individu,” ucapnya.

    “Otak manusia bereaksi secara kimia saat sedang mencapai orgasme (serotonin, dopamin, endorfin, dan oksitosin), disebut sebagai feel-good hormones. Oksitosin (hormon penenang) dan juga endorfin (hormon pelepas rasa stres) menjadi dua komponen yang sangat membantu untuk meningkatkan hasrat seksual.”



    "Body Confident and Sex Drive"

    Lima hari setelah menjalani isolasi mandiri, Hannah memutuskan untuk mengumpulkan energinya untuk mandi, mebilas rambut yang sempat tak terurus. Saat sedang menyisir, Ia menemukan beberapa helai rambut yang terbawa oleh jemari Hannah, Ia mengalami kerontokan yang cukup parah… And it was totally a nightmare.


    Telogen effluvium, atau kerontokan rambut, merupakan bagian dari salah satu gejala penyakit Long Covid yang disebabkan oleh rasa stres tinggi. Kejadian yang menimpa Hannah membuatnya merasa semakin tak percaya diri – hasrat seksual menjadi semakin menurun, mengingat kondisi tubuhnya yang tidak fit. Bahkan kerontokan rambut masih ‘menghantui’ kehidupan Hannah, meski sudah dua bulan sembuh dari COVID-19.

    Kepercayaan diri sekejab hilang begitu saja, melihat gejala Long Covid yang tak kunjung usai. Sama halnya dengan yang dialami Alex, “semenjak mengalami Long Covid, rasa laparku malah semakin meningkat!” Alex menambahkan, “pola makanku jauh lebih banyak dibanding sebelumnya, aku concern terhadap hal ini, karena setelah makan, perut serasa begah, yang pada akhirnya membuat hasrat seksualku menurun. It was very unexpected.”

    Tenang, dari segala masalah, pasti ada solusinya! Silva mengatakan, “gunakan kesempatan ini agar bisa lebih mengenal tubuhmu sendiri. It’s okay to not feel sexual, karena dalam kondisi sakit, tubuhmu sedang fokus untuk masuk ke dalam proses penyembuhan. Self-love adalah kuncinya, kalau urusan libido, itu bisa kita bicarakan setelahnya. Ingat, kesehatan itu tetap nomor satu.”




    Long Covid, Rasa Lelah yang Tak Kunjung Usai

    Kesulitan bernapas sudah Hannah rasakan sejak pertama kali dinyatakan positif COVID-19… Akan tetapi, semua gejala ini seperti tak memiliki garis finish, badan masih terasa lemah, tidak ada perkembangan secara signifikan untuk sembuh. Selain menganggu kehidupan seks, Hannah merasa tak memiliki banyak energi untuk berkomunikasi dengan orang lain.

    Pengakuan lain dari perempuan berusia 25 tahun soal seks dan Long Covid, “setelah selesai melakukan hubungan seks dengan pasangan, energiku seperti dikuras habis, semua ini aku rasakan sejak aku dinyatakan sembuh dari COVID-19. Kehidupan seks aku dan pasangan benar-benar terganggu, selama enam bulan kami berdua tak pernah melakukan penetrasi, lantaran kondisi tubuhku yang terlalu lelah. Perlahan semua bisa kembali seperti semula, meski harus melewati proses panjang.”

    Para pejuang COVID-19 seutuhnya hanya menginginkan hidup normal, kembali merasa sehat secara jiwa dan raga. “Tentu saja ada solusi untuk melewati rasa lelah yang diakibatkan dari Long Covid,” ujar Silva. “Kalau kamu diberikan penyakit, pertanda bahwa kesabaran kamu itu sedang diuji. Jika kita mau membuat perubahan untuk sembuh total, kita bisa memulainya dengan langkah kecil, berolahraga misalnya, yang mampu mengeluarkan serotonin dan memicu kembali hasrat seksual. Coba-lah untuk lebih terbuka dengan pasangan perihal kegelisahan yang kamu alami saat ini. Katakan dengan jujur kalau kamu belum bisa melakukan aktivitas seksual dikarenakan kondisi tubuh yang belum mendukung, agar kalian bisa mencari jalan keluar bersama.”

    Masturbasi dan berhubungan seks dengan pasangan, keduanya memiliki peran penting dalam hidup – ibarat 'alat' untuk membangkitkan semangat. Dari penyakit Long Covid, Hannah belajar banyak hal tentang kesabaran dan bagaimana kita harus menerima diri sendiri secara utuh, loving yourself is the main reason to heal. 


    (Artikel ini disaduri dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh penulis / Alih bahasa: Nadhifa Arundati / Image: Dok. Malvestida Magazine on Unsplash)