Better You

Semua Yang Perlu Kamu Tahu Soal Neopronouns

  by: Alexander Kusumapradja       14/9/2021
  • Semakin terbukanya ruang diskusi soal ekspresi dan identitas gender di media sosial, banyak hal baru juga yang menarik untuk kita simak bersama, salah satunya adalah masalah kata ganti alias pronouns. Pencantuman kata ganti di profil media sosial jadi hal yang makin lumrah saat ini. Pilihannya pun tidak lagi cuma kata ganti he/him/his untuk lelaki dan she/her/hers untuk perempuan, kini banyak juga orang yang menggunakan kata ganti they/them/their/theirs yang netral atau bahkan yang lebih unik lagi seperti xe/xem/xeir dan ze/zir/zirs yang termasuk dalam neopronouns. Wait, neopronouns? Apa lagi itu? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini!




    First thing first, pronouns itu apa sih?

    Dalam pelajaran Bahasa Inggris di sekolah, kita diajarkan kalau pronoun adalah kata yang dipakai untuk menggantikan kata benda atau orang dalam sebuah kalimat dan disesuaikan dengan jenis kelaminnya, yaitu he/him/his untuk kata ganti dia laki-laki (maskulin) dan she/her/hers untuk kata ganti dia perempuan (feminin), serta they/them/their/theirs untuk kata ganti jamak dan it/its untuk kata ganti benda/binatang.

    Penggunaan pronoun sendiri berfungsi menghindari pengulangan kata benda/orang yang telah disebut sehingga kalimat jadi lebih efektif. Tapi pada perkembangannya, penggunaan pronoun juga menjadi bagian dari identitas seseorang. Gerakan menaruh pronoun di profil media sosial sendiri lahir dari kepedulian kaum LGBTQ+, terutama transgender dan non-biner, untuk isu tersebut karena pronoun semestinya tidak harus mengikuti jenis kelamin biologis saat kita dilahirkan, tapi sesuai dengan ekspresi dan identitas gender yang paling pas untuk kita.


    Hal ini untuk menghindari terjadinya misgendering, yaitu memanggil seseorang dengan pronoun yang salah dan membuat mereka tidak nyaman. Bagi rekan trans yang telah mengidentifikasi gendernya, dipanggil dengan pronoun sesuai keinginan mereka adalah bentuk respek dan dukungan pada identitas gender mereka. Begitu pun dengan para non-biner yang mungkin tidak nyaman kalau mengidentifikasi mereka dengan panggilan maskulin atau feminin, sehingga banyak yang memilih they/them/their/theirs sebagai pronoun yang inklusif dan netral secara gender.


    Oke, jadi kalau neopronouns itu apa?

    Banyak yang merasa pronoun yang ada sekarang tidak ada yang bisa mewakili identitas dan ekspresi gendernya, sehingga mereka pun mencari atau bahkan membuat kata ganti alternatif sendiri yang kemudian dikategorikan sebagai neopronouns. Umumnya kata ganti alternatif ini bersifat netral gender. Beberapa contohnya adalah:

    • xe/xem/xyrs

    • ey/em/eirs

    • ze/zir/zirs

    • fae/faer/faers

    • per/per/pers

    • e/em/ems

    • ze/hir/hirs

    • hir/hir/hirs

    • ve/vir/vis



    • ne/nem/nir

    Menurut laporan The Trevor Project tahun ini, satu dari empat anak muda LGBTQ+ mengidentifikasikan dirinya sebagai non-biner dan menggunakan pronoun selain “she” atau “he” untuk diri mereka. Sekitar 5% memakai kata ganti “xe/xim” atau “fae/faer” dengan xe/xem sebagai neopronoun yang paling umum dipakai.


    Sejak kapan ada neopronouns?

    Walau neopronouns terlihat seperti fenomena era internet, tapi sebetulnya kata ganti alternatif yang lebih netral gender sudah ditemukan dari 200 tahun lalu. Dalam buku “What’s Your Pronoun?” Dennis Baron menulis ada lebih dari 200 gender-neutral pronouns yang diajukan antara abad ke-19 sampai 1970-an dan kebanyakan memang dari dunia literatur. Contohnya David Lindsay yang menciptakan pronoun ae/aer/aers untuk ras alien yang terlahir dengan third sex di novel “A Voyage to Arcturus” karyanya di tahun 1920.

    Ada sejarah panjang tentang kata ganti yang tidak spesifik mengacu pada gender tertentu dalam dunia literatur, termasuk dalam karya-karya klasik seperti "The Canterbury Tales" karya Chaucer, "Comedy of Errors" karya Shakespeare, dan "Pride and Prejudice" karya Jane Austen.


    Biar apa sih pakai neopronouns?

    Alasan utama tentu bentuk self-expression seseorang. Banyak yang merasa pronoun di luar pakem heteronormatif membuat mereka lebih bebas mengeksplor ekspresi gender dan aspek identitas lain yang sesuai dengan diri mereka sebenarnya. Memakai pronoun di luar “he” atau “she” juga bisa menjadi bagian penting dalam proses penerimaan diri rekan-rekan trans dan genderqueer dan membawa efek positif untuk kesehatan mental mereka juga. Pada intinya, pronoun adalah bagian dari ekspresi dan identitas gender yang harusnya membuat kita nyaman menjadi diri sendiri dan tak ada aturan khusus untuk itu. Mau gonta-ganti atau mengombinasikan pronoun yang ada? Boleh-boleh saja. Tidak mau pakai pronoun sama sekali dan lebih nyaman dipanggil dengan nama saja? Itu juga boleh. Bahkan ada orang yang pronoun-nya berupa emoji di media sosial.

    Karena tidak ada aturan baku tersebut, kadang sulit dibedakan mana yang memakai neopronoun secara serius dan mana yang buat fun atau ikut tren saja. Dan banyak juga orang, terutama dari generasi sebelumnya yang merasa hal ini tidak penting atau mencemooh penggunaan kata ganti di luar pakem tradisional yang makin marak dipakai oleh milenial dan Gen Z.


    Memang penting ya, hal ini di Indonesia?

    Banyak juga yang merasa isu pronoun ini tidak relevan dengan Indonesia karena dalam bahasa Indonesia memang kita menggunakan kata ganti “dia” yang netral gender. Tapi kalau mau diperhatikan lebih dalam, isu soal kata ganti juga terjadi di Indonesia, lho. Tidak semua orang nyaman dipanggil “mbak”, “mas”, dan variasi kata ganti dalam bahasa daerah lainnya yang heteronormatif. Banyak yang lebih nyaman dipanggil “kak” yang lebih netral gender, walaupun di beberapa tempat di Indonesia, kata ganti “kak” justru dipakai untuk kaum perempuan saja. Lagi pula, di media sosial kita juga tak hanya berhubungan dengan orang Indonesia saja, dong? Jadi tak ada salahnya untuk menambah wawasan soal pronoun ini. Setuju?


    (Alexander Kusumapradja / Image: Sharon McCutcheon on Unsplash)