Better You

Menurut Ahli, Ini Penyebab Menstruasi Dua Kali dalam Sebulan

  by: Nadhifa Arundati       15/9/2021
  • Di masa pandemi ini, pertanyaan seputar: "Apakah menstruasi dua kali dalam sebulan itu normal?” Semakin sering dicari... Faktor stres, mungkin? Faktanya, ada lebih dari 2,400% - mempertanyakan tentang apa penyebab dari siklus menstruasi yang terjadi dua kali dalam sebulan, serta hal apa saja yang harus kita perhatikan.

    Mencari pertolongan dari para ahli menjadi cara yang tepat. Maka dari itu, Cosmo bertanya pada Dr. Sarah Jarvis, yang juga merupakan pemimpin advokat untuk femtech, Livia. Ia telah memberikan penjelasan seputar siklus menstruasi dua kali dalam sebulan (well, sambil menunggu appointment dengan dokter, kamu bisa baca artikel ini supaya lebih jelas!).

    Pertama, Dr Jarvis menjelaskan, ada baiknya kamu memastikan kalau yang kamu alami ini adalah menstruasi, bukan hanya sekadar bercak mens yang tersisa (bercak biasanya berwarna lebih terang dari darah mens yang seharusnya, jika tidak melibatkan banyak darah, kamu tak perlu menggunakan tampon atau sanitary pad).



    “Bercak atau jenis pendarahan lain yang terjadi selama dua kali, harus sesegera mungkin untuk cek ke ahli, karena ada banyak kemungkinan, bisa jadi terindikasi penyakit menular seksual, atau gejala kanker serviks, though it’s a rare case,” sebut Dr. Jarvis. “Nah, sebelum kamu menghubungi dokter, ada baiknya kamu pastikan dahulu, apakah pendarahan ini menjadi salah satu efek samping dari obat yang kamu konsumsi? Semisal alat kontrasepsi hormon berbentuk pil, implan, atau spiral yang menjadi penyebab terjadinya pendarahan.”



    Lantas, apakah normal mengalami menstruasi selama dua kali dalam sebulan?

    Setelah kamu cek, ternyata pendarahan bukan cuma sekadar bercak – sudah bisa dipastikan, kamu mengalami mens selama dua kali dalam sebulan – ada beberapa kemungkinan, jelas Dr. Jarvis, “banyak wanita berasumsi bahwa siklus menstruasi yang ‘normal’ hanya akan berlangsung sekali dalam sebulan, padahal kenyataannya, jarak menstruasi selama 21 sampai 40 hari itu juga termasuk normal.” Ia menambahkan, beberapa wanita kerap mengalami menstruasi selama dua kali dalam periode waktu 28 hari – karena biasanya siklus yang mereka alami lebih pendek, jadi sangat memungkinkan jika mens terjadi dalam waktu dekat.

    Pendarahan ekstra layaknya mens dapat kamu alami saat melewati beberapa dosis dari kombinasi pil kontrasepsi. “Kamu dapat mengalami pendarahan yang mirip dengan mens saat mengonsumsi pil kontrasepsi darurat,” ujar Dr. Jarvis. Ia menekankan bahwa pil kontrasepsi hormon yang dikonsumsi (apalagi kalau jenisnya implan) dapat memicu terjadinya bercak dan mens jauh lebih sering dibanding biasanya.

    If that so, nampaknya kamu perlu segera menghubungi dokter – jika kamu mengganti jenis kontrasepsi yang membuat mens jadi tidak teratur (contoh: alat kontrasepsi hormon non-pill), lebih baik kamu pantau terlebih dahulu siklus mensnya, jelas Dr. Jarvis. Tetapi kalau sudah menyangkut gejala lain dan bikin kamu merasa gelisah, then book your appointment.

    “Bagi mereka yang mengalami menstruasi ekstra, tanpa diiringi dengan gejala aneh, ada baiknya untuk menerapkan hal-hal yang sudah saya jelaskan sebelumnya”, lanjut Dr. Jarvis. “Obat painkiller memang efektif untuk menghilangkan rasa nyeri saat mens, namun kamu bisa menggunakan alat yang drug-free, yakni perangkat kecil bernama Livia, mampu ‘memblokir’ rasa nyeri, jauh lebih ampuh daripada obat-obatan.”

    Sebenarnya usia adalah salah satu faktor, mengapa kamu bisa mengalami menstruasi dua kali dalam sebulan, hal ini diperjelas oleh Dr. Jarvis. “Saat seseorang sudah mulai menopause, mereka akan berhenti berovulasi, sehingga menyebabkan proses menstruasi jadi lebih lama, lebih cepat, atau bahakan tak menentu.” Ada pun pengaruh lain dari mens yang tidak teratur; tiroid yang terlalu aktif, kekurangan atau kelebihan berat badan, dan megalami stres tingkat tinggi. “Bahkan kista ovarium dapat memberikan dampak buruk bagi siklus menstruasi,” ucapnya.


    Apakah stres dan diet menjadi pengaruh utama?

    Sangat berpotensi. “Rasa stres berlebih tentu memengaruhi keseimbangan hormon, yang kemudian berdampak pada proses ovulasi dan siklus mens,” ucap Dr. Jarvis. “Kalau kamu sedang melewati masa traumatis yang membuatmu stres, atau seketika merubah gaya hidup (lebih sering melakukan olahraga, bertambah atau berkurangnya berat badan) otomatis pola mens kamu berubah.”

    Another fact: Dr. Jarvis menegaskan bahwa bercak juga dapat dialami oleh ibu hamil (saat hal ini terjadi, segera hubungi dokter atau ambulans, ASAP!). “Keguguran saat masa kehamilan dapat memberikan efek pendarahan yang gejalanya serupa dengan mens,” jelasnya. “Sebisa mungkin, hubungi dokter kandungan secara intense jika kamu sudah sering mengalami bercak, sikluk mens yang tidak wajar, pendarahan setelah melakukan hubungan seks, bau tak sedap dari vagina, nyeri di bagian rahim, atau bahkan gumpalan hitam yang muncul di darah mens.”

    OK, mari kita rangkum secara singkat: perubahan hormon sangat memengaruhi siklus menstruasi, namun jika timbul berbagai gejala yang membuatmu merasa gelisah, segera cek ke dokter!




    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.uk / Perubahan telah dilakukan oleh penulis / Alih Bahasa: Nadhifa Arundati / Image: Dok. Cliff Booth from Pexels)