Penyebab Bell’s Palsy, Kondisi Wajah Lumpuh Sebelah yang Dialami Aktris Ahn Eun Jin

Redaksi 2 ● 13 Oct 2026

Bagi kamu pencinta K-Drama The Good Bad Mother atau A Love Other Than Yours, pasti sudah tidak asing dengan akting memukau Ahn Eun Jin. Tapi, tahu tidak sih, di balik layar, aktris cantik berusia 35 tahun ini ternyata pernah melewati masa-masa penuh stres akibat wajahnya mendadak lumpuh sebelah?

Yes, Eun Jin baru-baru ini spill perjuangannya melawan Bell’s Palsy saat syuting, yang bahkan membuatnya kesulitan menahan air saat berkumur. Tak hanya Ahn Eun Jin, beberapa bintang Hollywood termasuk Angelina Jolie dan Justin Bieber pun pernah mengalami kondisi serupa.

Kalau para bintang itu saja bisa mengalaminya secara tiba-tiba, sebenarnya apa sih pemicu kondisi misterius ini?

Mengenal Bell’s Palsy vs. Gejala Stroke

Dalam dunia medis, kelumpuhan otot pembentuk ekspresi wajah ini sering kali merujuk pada Bell's Palsy, yang merupakan kelumpuhan saraf wajah perifer (tepi). Kondisi ini terjadi ketika saraf kranial ketujuh, saraf yang mengontrol otot wajahmu, mengalami kelainan, peradangan, atau pembengkakan.

Banyak orang yang langsung panik dan mengira ini adalah gejala stroke (kelumpuhan saraf pusat). Padahal, ada perbedaan mendasar yang bisa kamu cek sendiri.

Pada kasus kelumpuhan sentral seperti stroke atau tumor otak, pasien biasanya kehilangan kendali di bagian bawah wajah, tetapi masih bisa mengerutkan dahi atau menutup mata dengan normal. Sebaliknya, pada penderita Bell’s Palsy, satu sisi wajah akan lumpuh total dari dahi hingga ke mulut.

Jadi, jika kelumpuhan wajah diiringi oleh kesulitan bicara, lemas pada lengan atau kaki, itu bisa jadi tanda stroke dan kamu harus segera ke UGD. Namun, jika hanya wajah saja yang bermasalah hingga kamu tidak bisa menutup satu kelopak mata, kemungkinan besar itu adalah Bell’s Palsy.

Apa Saja Penyebab dan Pemicunya?

Meski Bell’s Palsy sering muncul tanpa aba-aba, para ahli kesehatan telah mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memicunya. Berdasarkan riset dan informasi dari berbagai institusi kesehatan terkemuka seperti Mayo Clinic dan National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), berikut adalah dalang di balik Bell's Palsy:

1. Peradangan Saraf yang Misterius (Idiopatik)

Penyebab paling umum dari Bell's Palsy sayangnya sering kali tidak diketahui secara pasti (idiopatik). Para dokter berasumsi bahwa saraf wajah yang melewati celah tulang sempit di tengkorak mengalami peradangan dan pembengkakan. Karena ruangnya sempit, saraf tersebut terjepit, membuat sinyal dari otak ke otot wajah terputus.

2. Infeksi Virus yang "Bangun" Kembali

Menurut Mayo Clinic, infeksi virus adalah tersangka utama yang memicu peradangan saraf ini. Beberapa virus yang sering dikaitkan dengan Bell’s Palsy meliputi:

  • Virus Herpes simplex (penyebab luka lepuh di bibir/cold sores).
  • Virus Epstein-Barr (penyebab mononukleosis).
  • Virus influenza tipe B atau Adenovirus (penyakit pernapasan).

Selain itu, ada juga kondisi bernama Ramsay Hunt syndrome, di mana virus Varicella-zoster (virus yang sama penyebab cacar air dan herpes zoster) menyerang saraf wajah.

3. Penyakit Bawaan (Diabetes & Darah Tinggi)

Gula darah yang tidak terkontrol ternyata punya efek domino pada saraf. Sebuah studi berskala besar dari tim peneliti Hanyang University College of Medicine menganalisis data ratusan ribu pasien. Hasilnya? Orang dengan diabetes memiliki risiko 1,43 kali lebih tinggi terkena Bell’s Palsy dibandingkan mereka yang tidak.

Alasannya, komplikasi mikrovaskular (kerusakan pembuluh darah kecil) akibat diabetes dapat mengganggu aliran darah yang menutrisi saraf wajah, sehingga fungsinya menurun drastis.

4. Stres Berat & Sistem Imun Lemah

Hustle culture terkadang membuat kita lupa istirahat. Stres berkepanjangan dan kurang tidur dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh secara drastis. Saat imun tubuh sedang drop, virus-virus yang berdiam diri di dalam tubuh (dorman) bisa kembali aktif dan memicu peradangan saraf.

5. Kehamilan (Khususnya Trimester Ketiga)

Informasi tambahan dari NINDS mencatat bahwa wanita hamil, terutama yang berada di trimester ketiga atau pada minggu pertama setelah melahirkan, memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap Bell's Palsy. Hal ini diduga berkaitan dengan perubahan sistem imun dan retensi cairan tubuh selama kehamilan yang bisa menekan saraf wajah.

The Golden Rule: Semakin Cepat Diobati, Semakin Baik!

Kabar baiknya, girls, Bell's Palsy biasanya bersifat sementara dan bisa sembuh dengan sendirinya seiring waktu. Namun, jangan pernah menyepelekan atau menunda pengobatan! Jika pengobatan terlambat atau tingkat kelumpuhannya parah, pasien bisa mengalami gejala sisa (sequelae) permanen, seperti otot wajah yang asimetris, hingga mata yang tidak bisa menutup sempurna sehingga memicu iritasi kronis.

Ketika gejala muncul, golden period atau masa emas pengobatan adalah 72 jam pertama. Dokter biasanya akan meresepkan obat kortikosteroid untuk meredakan pembengkakan saraf secara cepat, dan mungkin obat antivirus jika dicurigai ada keterlibatan virus seperti pada sindrom Ramsay Hunt.

Pada akhirnya, tidak ada cara mutlak untuk mencegah Bell's Palsy. Tapi, menjaga gaya hidup sehat, mengelola stres agar imun tubuh tetap prima, dan rutin mengecek kondisi kesehatan terutama gula darah dan tekanan darah adalah langkah preventif terbaik.

Listen to your body, Cosmo Babes! Jika tubuhmu meminta istirahat, berhentilah sejenak. Kesehatanmu jauh lebih berharga dari apa pun.