Bye Quiet Luxury, Hello Loud Luxury! Ini Dia Deretan Tren Loud Luxury Favorit Cosmo
Setelah didominasi oleh quite luxury, kini tren mode berbuah ke arah yang berlawanan. Lupakan sejenak gaya minimalis dalam warna-warna redup. Saatnya mengenakan warna vibran, corak ramai, dan detail yang berkilauan. Say hello to loud luxury.
Tren Loud Luxury
Gaya loud luxury sebenarnya bukan hal yang baru. Sederhananya, apa pun gaya yang lebih eksperimental dibandingkan dengan quite luxury masuk ke dalam kategori ini. Namun, di musim Fall/Winter 2026, pendekatannya tetap subtle. Meski kaya akan warna dan detail, gayanya tetap terlihat elegan.
Sequins, Gems, Repeat

Pada koleksi musim Fall/Winter 2026, para desainer membawa kembali era opulence lewat tren yang mengusung prinsip maximalism, unfiltered.
Munculnya mood kemewahan ini terlihat jelas melalui aplikasi embellishment di atas permukaan kain yang sudah “ramai”, seperti pada koleksi Dries Van Noten yang memadukan bordir emas antik di atas material jacquard dan flora yang kaya warna.
Sementara itu, Rabanne menghidupkan kembali energi era 80-an dengan pendekatan more is more yang memadukan ornamental brooch dan multicolor gem di atas dress penuh payet menyerupai sisik ikan yang sangat taktil.
Eksplorasi tekstur yang dramatis juga hadir pada koleksi Etro melalui perpaduan sequins paisley dan aplikasi bulu-bulu berwarna putih, pink dan koral, serta koleksi Shuting Qiu yang memadukan dress payet dengan dimensional rosettes.
Go Purple or Go Home

Musim ini, Runway Fall/Winter 2026 merayakan warna-warna yang lebih eksentrik dan berani, salah satunya melalui warna Royal Purple. Warna legendaris para bangsawan dan aristokrat ini menjadi pilihan utama rumah-rumah mode paling berpengaruh di dunia — dari Gucci hingga Loewe.
Ferragamo memberikan interpretasi warna Royal Purple yang lebih kontemporer dibandingkan dengan desainer lainnya — gaun sheer asimetris berdetail lace-up yang dipadukan dengan sepatu pumps tonal. Berbeda dengan Ferragamo, Loewe memilih pendekatan maksimalis pada tekstur: gaun mini tekstur rajutan berlapis dengan train asimetris panjang yang menyapu lantai, menghadirkan dimensi dan drama dalam satu tampilan.
Chloé, dengan kekhasan bohemian-nya, menerjemahkan Royal Purple dalam siluet yang voluminous dan berlapis ruffle, dipadukan dengan aksesori emas dan silver yang memperkuat kesan kemewahan yang effortless.
Menutup perayaan warna aristokrat ini, Gucci menginterpretasikan Royal Purple lewat gaun one-shoulder yang tertutup penuh kilau payet untuk malam hari. Dengan potongan high-slit yang provokatif, gaun ini mengubah Royal Purple menjadi vibe disko yang mewah dan ultra-glamor.
Characterful knits

Say goodbye to plain cashmere! Para desainer di Paris menghadirkan beragam knitwear yang penuh dengan unconventional spirit. Tren ini memadukan berbagai inspirasi, mulai dari estetika artisanal hingga sentuhan bohemian era 70-an yang berjiwa bebas.
Chemena Kamali di Chloe menampilkan kardigan rajut dengan detail bordir bunga kecil yang memberikan tekstur 3D.
Sementara itu, Stella McCartney bereksplorasi dengan teknik crochet warna-warni yang disusun dalam motif geometris untuk kesan playful.
Berbeda dengan penggunaan beragam warna di Stella McCartney, Acne Studios menghadirkan teknik lace stitch openwork dalam knit set monokrom berwarna pastel kuning. Perpaduan cropped cardigan di atas lace stitch knit dan rok midi yang serasi membuktikan bahwa tampilan monokrom pun tetap bisa berkarakter melalui permainan detail rajutan yang taktis.
Etro menampilkan aksi impresif lewat atasan knitwear berwarna merah marun yang kaya akan detail tapestri dan bordir emblem mahkota bergaya vintage. Tidak berhenti di situ, detail tali temali dan aksen tassel yang menjuntai pada bagian lengan memberikan sentuhan bohemian-regal yang sangat berkarakter.
Heirloom In Bloom

Tren loud luxury juga menghidupkan kembali pesona romantis melalui Heritage Floral, sebuah interpretasi modern atas motif bunga klasik yang kaya akan keahlian.
Nardos memimpin dengan gaun pesta bervolume yang menampilkan corak floral vibran di atas material satin mewah, sementara Prada memberikan sentuhan artistik lewat rok midi bermotif mawar kuning keemasan yang kontras yang terlihat seperti lukisan cat minyak di atas kanvas gelap.
Untuk kesan lebih edgy, Roberto Cavalli mengeksplorasi flora monokromatik pada blus sheer transparan yang dramatis, sedangkan Dries Van Noten menampilkan kemewahan lewat coat bermotif mawar tekstur jacquard dengan detail bordir emas yang megah. Tren ini membuktikan bahwa motif bunga klasik tetap bisa tampil berkarakter saat dihadirkan dalam skala yang lebih berani.
Eclectic Clash

Musim ini, gerakan loud luxury melegitimasi tren "Eclectic Clash", sebuah keberanian untuk menabrakkan berbagai motif berbeda dalam satu tampilan yang provokatif namun tetap harmonis.
Antonio Marras mendefinisikan tren ini lewat mantel maksimalis yang menggabungkan motif mawar emas, bordir barok, hingga kerah bulu leopard dalam satu look yang dramatis. Zankov mengeksplorasi teknik rajutan berlapis dengan menumpuk kardigan geometris kuning-hitam di atas celana bermotif checkerboard, dipermanis aksesori kerah payet polkadot.
Pendekatan yang lebih fluid hadir dari Area lewat gaun halter neck yang menampikan teknik draping menggunakan berbagai kain sutra motif polkadot dalam ukuran dan warna biru yang berbeda.
Sementara itu, Marni memberikan sentuhan taktil dengan memadukan atasan sheer polkadot besar di atas rok midi bertekstur floral emboss lembut. Tren ini membuktikan bahwa saat kamu berani bermain dengan "Eclectic Clash", batas antara kekacauan visual dan mahakarya fashion hanyalah soal kepercayaan diri.