Seniman Perempuan Indonesia Ini Menjadi Pemenang Max Mara Art Prize for Women

Rayoga Akbar 19 May 2026

Max Mara Art Prize for Women akhirnya mengumumkan pemenangnya! Dian Suci terpilih sebagai pemenang Max Mara Art Prize for Women edisi kesepuluh. Sebagai pemenang, Suci akan melakukan residensi di sejumlah kota di Italia untuk mendalami berbagai macam seni dan keterampilan serta untuk keperluan riset karya terbarunya. 

Sekilas mengenai Max Mara Art Prize for Women, program yang digagas label Italia ini. Sudah dua dekade berjalan, program ini berfokus untuk membina sekaligus memberikan platform kepada para seniman perempuan di seluruh dunia. Pada edisi kali ini, Max Mara Art Prize for Women bekerja sama dengan Museum MACAN. 

Dian Suci, yang masuk dalam daftar lima finalis bersama Betty Adii, Dzikra Afifah, Ipeh Nur, dan Mira Rizki, dipilih oleh dewan juri yang dibentuk dan diketuai oleh Cecilia Alemani, dengan anggota Direktur Museum MACAN Venus Lau, kurator Amanda Ariawan, galeris Megan Arlin, kolektor Evelyn Halim, dan perupa Melati Suryodarmo.


Mengenal Sosok Dian Suci dan Karyanya

Max Mara Art Prize for Women

Dian Suci - Is It a Body Has No Walls and Has No Collapses , 2020

Narasi yang vokal tentang berbagai isu perempuan menjadi fondasi dalam setiap karya Dian Suci. Pengalamannya sebagai ibu tunggal membentuk perspektifnya dalam isu-isu seperti domestikasi politik perempuan, otoritarianisme dan fasisme, patriarki, serta kapitalisme. Seniman basis Yogyakarta ini menggunakan medium seperti instalasi, lukisan, patung, dan video.

Proposal proyek yang mengantarkan sang perupa memenangkan Max Mara Art Prize for Women edisi kesepuluh berjudul Crafting Spirit: Cultural Dialogues in Heritage and Practice. Proyek ini berangkat dari hasratnya untuk menelusuri dampak pertemuan antara tradisi keagamaan para perajin dengan sistem kapitalis, melalui studi komparatif antara Italia dan Indonesia.

Max Mara Art Prize for Women

Dian Suci - Searching Land in the Land Word, 2022

Suci akan melakukan residensi di empat kota. Pertama ia akan mengunjungi Assisi, Umbria untuk mempelajari cara hidup para biarawan dan mengkaji mengenai kontradiksi antara agama dan komersialisasi keyakinan.

Perjalanan akan berlanjut ke Roma, Lazio untuk menghadiri misa khusus di Basilika Santo Petrus, mengeksplorasi dan menganalisis simbolisme serta makna tersembunyinya.

Di Lecce, Apulia, ia akan mendalami kerajinan dan sejarah papier-mâché (bubur kertas), melalui program pelatihan yang dirancang khusus untuknya.

Periode terakhir residensinya akan berbasis di Firenze, Toskana. Di sini, Suci akan berkesempatan mempelajari teknik dan evolusi historis tempera telur, menguasai keterampilan tenun tangan kuno, dan memperluas pengetahuannya tentang penerapannya dalam konteks gerejawi.

Kemenangan Suci ini tentu tak hanya menjadi momentum tersendiri bagi dunia seni Indonesia. Tapi juga membuktikan bahwa seni bisa memberi ruang yang lebih bebas bagi perempuan dalam mengeluarkan aspirasi sekaligus mengeksplorasi insting kreativitasnya. Big congrats!