Bintang Masa Kini: Merayakan
Sosok Perempuan
di Garda Depan

Meski terekspos dan menjadi garda depan dalam masa pandemi yang menantang, keempat perempuan street workers lintas profesi berikut melaksanakan tugasnya penuh determinasi, demi melindungi kita menjalani masa-masa gaya hidup adaptasi baru dengan aman dan nyaman. Mereka adalah para pahlawan perempuan yang peranannya tak lagi bisa kita pandang sebelah mata. Nah, sejalan dengan kampanye #BintangMasaKini dari LUX, tak salah bila mereka disebut sebagai bintang yang sesungguhnya!

image line separator

Gambar Perempuan di Garda Depan Dai Lentari

Dai Lentari

SecurityBaca Di sini
Gambar Perempuan di Garda Depan Ummi Heni

Ummi Heni

Pasukan OranyeBaca Di sini
Gambar Perempuan di Garda Depan Sania

Sania

Ojek PangkalanBaca Di sini
Gambar Perempuan di Garda Depan Salsabila

Salsabila

Petugas ParkirBaca Di sini

Dai Lentari

Security
Gambar Perempuan di Garda Depan Dai Lentari Dengan Cover Cosmopolitan

Setiap pagi sebelum orang lain datang ke gedung perkantoran untuk bekerja, Dai telah datang terlebih dahulu untuk bertugas mengamankan lapangan kerja tersebut selama 12 jam ke depan. Ia menjadi orang pertama yang hadir di gedung, dan menjadi orang terakhir pula yang pulang setelah gedung selesai beroperasi. Baginya, profesi Security adalah serupa dengan Polisi, yaitu mengemban tugas untuk mengamankan lapangan supaya tempat itu damai lingkungannya. Tak luput, ia pun bertugas spesifik untuk mengecek tas semua orang yang masuk ke wilayah gedung, hingga melakukan pengecekan suhu tubuh saat pandemi COVID-19 merebak di Indonesia. Ia menjadi garda terdepan dalam lapisan perlindungan pertama di lapangan.

Rasa takut itu ada, ia khawatir jika penyakit itu muncul dalam dirinya karena setiap hari ia bertemu dan harus melayani banyak macam orang. “Tapi yang jadi prinsip saya sebagai Security, saya bertugas untuk menjaga orang lain, maka saya juga harus bisa menjaga diri saya sendiri,” ungkap Dai yang lantas memperlengkapi dirinya dengan atribut masker, face shield, sarung tangan, hand sanitizer, dan metode jaga jarak dengan customer. Apalagi sebagai Security, ia pun menjadi orang pertama yang akan ditanya oleh pengunjung tentang virus Corona, seperti, ‘Kalau ada yang terkena virus Corona itu seperti apa?’ atau ‘Kenapa suhu badan saya panas?’ bahkan ‘Kenapa suhu saya malah dingin?’. Ia pun harus memberi pemahaman tentang informasi gejala penyakit tersebut, memberi mereka masker, dan memberi anjuran untuk pergi ke dokter saat ada yang memiliki gejalanya. Semuanya ia lakukan sesuai perintah tugasnya.

Gambar Profile Perempuan di Garda Depan Dai Lentari

“Inilah di mana saya merasa pekerjaan sebagai Security itu masih dipandang sebelah mata,” ujar Dai. Ia bercerita bahwa ada saja customer yang bicara dengan kata-kata kasar. Begitu pula pada kasus yang tampak sepele: “Setiap pagi saya menyapa, ‘Pagi, Bu, Pak’ pada semua yang lewat, tapi mereka melintasi saya begitu saja tanpa senyum atau membalasnya. Bahkan ada pula yang berpura-pura tak melihat saya padahal seharusnya melakukan bag check, hingga saya terpaksa harus menegurnya lalu akhirnya ia berkata kasar. Kadang itu sedikit menusuk hati saya, dan kadang saya pun masih terbawa emosi. Tapi kemudian saya bersabar.”

Quote dari Dai Lentari

Sekarang yang perlu kita tahu, profesi sebagai Security tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Pelatihan sebagai Security tak jauh berbeda dengan Polisi, lho. Dai harus push up, lari puluhan keliling, berenang, serta latihan berjemur untuk stamina. Ia juga dilatih karate dan silat untuk bela diri, lalu belajar pegang tongkat dan borgol untuk perlindungan. Saat libur pun, ada pula tambahan les bahasa Inggris untuknya. “Yang saya senangi dari pekerjaan ini adalah saya mendapat banyak ilmu sekaligus rasa kekeluargaan yang kuat,” ujarnya sambil bercerita tentang dunia Security yang tak membedakan ataupun menyisihkannya meski ia satu-satunya anggota perempuan dalam grup. “Dulu saya pernah jadi SPG di mall, tapi saya senang melihat Security karena ada lebih banyak kegiatan. Ditambah bisa dapat seragam yang gagah dan keren! Cita-cita saya dulu adalah menjadi Polwan, dan meski tidak kesampaian, tapi sekarang saya 11-12 dengan Polisi,” tuturnya. Her dream shines through beyond the uniform!

image button back to top BACK TO TOP

Ummi Heni

Pasukan Oranye
Gambar Perempuan di Garda Depan Ummi Heni Dengan Cover Cosmopolitan

Sebagai Pasukan Oranye, Heni bertugas untuk membersihkan lingkungan di bilangan Lenteng Agung, Jakarta, sesuai yang ditugaskan oleh Kantor Kelurahan tempatnya bekerja. Ia akan memulai kerja ke lapangan jam tujuh pagi hingga jam tiga sore selama hari Senin sampai Sabtu. Saat pandemi COVID-19 merebak, ia pun membekali dirinya mengenakan masker, lebih sering mencuci tangan, berganti pakaian setiap hari, bahkan menjaga jarak dengan teman-teman Pasukan Oranye di satu lingkungan kerja. Heni pun mengaku jadi lebih hati-hati saat bekerja, karena ia tak bisa kerja sembarangan terutama saat berinteraksi dengan orang lain – “Karena gejala pandemi ini bukan dilihat dari orang yang sakit, orang yang tampak sehat pun ternyata ada yang sakit,” tuturnya.

Ia pun mengakui rasa cemasnya saat bekerja di lapangan: “Virus ini mungkin tidak berdampak pada pekerjaan kami sebagai Pasukan Oranye, tapi rasa takut akan terjangkit penyakit itulah yang jadi kesulitan tersendiri saat bekerja di lapangan.” Apalagi sebagai Pasukan Oranye yang berhadapan tugas langsung dengan kebersihan, Heni pun dituntut untuk menjaga diri agar selalu tetap bersih. Meski begitu, Heni menyebutkan bahwa ia bersyukur masih dipercayakan untuk bertugas sebagai Pasukan Oranye. “Saya bangga menjadi Pasukan Oranye! Karena saya menjadi orang terdepan yang membersihkan lingkungan,” ujarnya mantap. Ada kebanggaan tersendiri bagi Heni dalam membuat Jakarta bersih, apalagi Pasukan Oranye berdiri atas nama pemerintah, jadi peranan Heni benar-benar membantu negara.

Gambar Profile Perempuan di Garda Depan Ummi Heni

Heni sudah memulai bekerja sebagai Pasukan Oranye pada awal pembentukan PPS di tahun 2015. Ia pun menceritakan pengalamannya tentang satu momen yang membutuhkan kerja keras untuk membersihkan suatu lingkungan, yaitu pada saat banjir Jakarta. Ia bisa masuk ke kali ataupun got, untuk mengambil sampah sekaligus membantu para warga untuk angkat barang-barangnya. “Begitu juga saat banjir Jakarta tahun baru lalu, kami para Pasukan Oranye langsung dipanggil untuk turun dan membantu para warga yang membutuhkan. Kami langsung siaga!” jelasnya. Bahkan kekuatannya sebagai Pasukan Oranye perempuan (Heni adalah salah satu dari empat perempuan dalam total 16 anggota Pasukan Oranye) terpancar dari tugasnya membersihkan lingkungan sehari-hari. Jika para anggota laki-laki ada yang bisa saling bantu – semisal ada yang membawa karung, ada yang menyauk sampah – namun para anggota perempuan seperti Heni, ia sendirilah yang menyapu, membawa karung sendiri, dan bawa sauk sendiri. A real superwoman!

Quote dari Ummi Heni

Selain itu, kerja keras Heni pun akan terbayar saat hasil kebersihannya mendapat pujian ‘Bagus!’ dari Kantor Kelurahan. Bagaimana tidak, ia layak mendapatkan penghargaan tersebut! Terlebih, suntikan semangat Heni pun bersumber dari anak-anaknya yang seluruhnya merupakan perempuan. “Saya ingin menjadi contoh bagi anak-anak saya, agar saat mereka melihat ibunya rajin bekerja, mereka pun jadi ikut semangat untuk bekerja,” ujarnya, yang sekali lagi membuka mata Cosmo tentang kekuatan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Heni pun melayangkan doanya, “Harapan saya, semoga pekerjaan saya sebagai Pasukan Oranye bisa menjadi PNS, bukan hanya sebagai pegawai kontrak. Dan semoga saya diberikan kesehatan dan umur yang panjang untuk membersihkan Jakarta!”

image button back to top BACK TO TOP

Sania

Ojek Pangkalan
Gambar Perempuan di Garda Depan Sania Dengan Cover Cosmopolitan

Selain menjadi Ojek Pangkalan, Sania pun biasa menerima pesanan khusus seperti langganan antar-jemput anak sekolah, bahkan antar barang dagangan ataupun kue yang kadang bisa berlokasi jauh dari tempatnya mangkal. Tapi saat pandemi COVID-19 merebak, orang-orang yang khususnya tinggal di kompleks perumahan tempatnya mangkal, tidak ada yang berani keluar. Apalagi anak-anak sekolah yang dulu jadi pelanggannya, kini seluruhnya belajar dari rumah. Alhasil, jika ia biasanya meraup pendapatan 150 ribu lebih dalam sehari, kini mungkin hanya dapat 20 ribu atau bahkan tak ada pemasukan sama sekali, meski ia telah mangkal dari jam enam pagi hingga lima sore. Belum lagi ada tambahan rasa cemas saat mengangkut penumpang yang baru pulang kerja. Ia takut akan tertular penyakit, karena jika ia sakit, ia hanya mengkhawatirkan anak perempuan bungsunya yang tinggal bersamanya di rumah.

Meski begitu, Sania tetap membekali dirinya dengan masker, sarung tangan, jaket, dan hand sanitizer yang selalu tersedia di motornya. Ia pun bersyukur bahwa sekarang saat masyarakat mulai kembali beraktivitas, ia setidaknya bisa mendapatkan lima kali tarikan, bahkan ada juga pelanggan yang memintanya untuk berbelanja saat mereka belum berani keluar dari rumah. Sania sudah tujuh tahun bekerja jadi Ojek Pangkalan, bahkan sebelum ojek online muncul! Ia bersyukur bahwa ia tak pernah menghadapi kesulitan saat bekerja, karena baginya, “Yang saya senangi dari pekerjaan ini adalah saya jadi dapat banyak pengalaman dan banyak teman. Jadi walau kita tidak saling kenal nama, tapi ada satu ‘bahasa’ yang kita sama-sama mengerti.” Ia pun bercerita saat ia sedang ngojek di tempat jauh, ada saja yang bisa mengenalinya dengan bilang, ‘Oh, Ibu kan yang pernah ngojek dengan saya waktu itu!’. “Ibaratnya, saya mencari nafkah di jalanan. Jadi, jalan satu-satunya untuk membuatnya lancar adalah dengan tidak berperilaku sombong dengan orang lain,” ungkapnya.

Gambar Profile Perempuan di Garda Depan Sania

Berada di pangkalan pun bisa jadi momen bahagia saat semua anggota ojek berkumpul (Sania adalah perempuan satu-satunya dari 20 ojek!). Karena saat ada satu yang dapat penghasilan, maka semua pun bergilir akan dapat penghasilan. Pangkalan sudah seperti keluarga bagi Sania, dan menjadi salah satu penyemangatnya untuk tidak putus asa, apalagi saat melewati masa menantang dari dampak kondisi pandemi ini. Mengingat ia pun menghadapi tantangan untuk mengatur keuangan demi sekolah anaknya, biaya paket internet untuk belajar dari rumah, biaya makan, sampai pembayaran motornya. Namun yang menjadi penyemangat utama Sania untuk berangkat kerja setiap hari adalah putrinya: “Ia yang mendukung saya untuk ngojek. Ia bilang, ‘Aku akan doakan semoga Mama dapat banyak rezeki’.” Saat pulang ke rumah pun, ia bersyukur bahwa putrinya sudah membantu merapikan rumah – kadang ia sudah mengepel rumah, bahkan sudah memasak – “Itu pula yang jadi semangat saya untuk bekerja lagi keesokan harinya.”

Quote dari Sania

Sania bekerja tujuh hari non-stop, meski terkadang ia ambil istirahat dua sampai tiga jam untuk pergi ke pengajian. Tapi ia selalu menikmati kesibukannya dengan santai. Bahkan saat di rumah pun ia gemar memasak, apalagi dengan menu favorit (sederhana namun sedap!) sayur asem, sambal, dan ikan asin. Setiap hari Minggu, Sania dan putrinya juga kerap olahraga pagi untuk jogging keliling kompleks sebelum Sania berangkat kerja. “Harapan saya, semoga saya tidak harus ngojek sampai tua. Tapi saya akan terus semangat bekerja untuk bisa menyekolahkan anak saya, bahkan kalau bisa sampai kuliah. Semoga saya sehat dan dapat rezeki setiap harinya,” tutur Sania. Her strength and beauty is radiating, indeed!

image button back to top BACK TO TOP

Salsabila

Petugas Parkir
Gambar Perempuan di Garda Depan Salsabila Dengan Cover Cosmopolitan

Bagi seorang petugas parkir, sebelum mulai bekerja, yang pertama ada dalam pikiran teratasnya adalah menjaga kebersihan. “Jika di sekeliling area kerja kami kotor dan tidak enak dilihat, maka tugas kami yang pertama adalah untuk membersihkannya terlebih dahulu. Lalu barulah kami bekerja untuk bertugas parkir,” ujar Salsabila. Apalagi saat pandemi COVID-19 merebak, kini ada lebih banyak hand sanitizer yang tersedia di pos, ia pun lebih sering membersihkan kaca, dan khusus untuk pintu utama, jika tampak kotor, maka ia pun langsung segera membersihkannya. Girls, di saat kita punya privilege untuk aman berada di rumah, Salsabila justru tetap melaksanakan tugasnya meski terekspos kondisi yang belum kondusif, lho.

Ia pun menceritakan bahwa ada perubahan yang terjadi dalam pekerjaannya saat kondisi pandemi muncul. Jika biasanya ia bisa bersalaman dengan customer, maka sekarang tak lagi dilakukan, “Bahkan, saat ada customer yang memberikan saya uang saat bayar parkir, mereka pun langsung buru-buru pakai hand sanitizer. Jadi mungkin dampaknya bagi saya adalah perasaan tidak nyaman yang ditimbulkan itu,” ujarnya. Ditambah, ada rasa takut terhadap virus yang sepertinya bisa berada di mana pun, terlebih bagi Salsabila yang bekerja di area umum, di mana ada banyak orang yang lalu lalang ataupun bolak-balik keluar dan masuk melaluinya. “Tapi yang namanya pekerjaan, ini adalah bagian dari rintangan yang harus dilewati,” ungkapnya.

Gambar Profile Perempuan di Garda Depan Salsabila

Saat PSBB diberlakukan, Salsabila pun sempat terkena dampak langsung karena tempat kerjanya dulu, sebuah mal di wilayah Bogor, ditutup dan ia pun dirumahkan selama satu bulan. Akhirnya pada bulan Juni, ia bisa masuk dan bekerja di tempat baru, di sebuah gedung perkantoran di Jakarta. “Yang paling saya syukuri adalah saya masih dipercayakan untuk bekerja, apalagi di masa pandemi ini, di mana rata-rata orang di luar sana banyak yang butuh pekerjaan, atau ada juga yang sudah kerja, tapi dikeluarkan dari perusahaan,” ungkapnya. Ia pun menceritakan berbagai pengalamannya selama bertugas parkir, apalagi saat pekerjaan sedang sibuk-sibuknya sebelum pandemi. Ia ingat hari-hari di mana dalam pos, semuanya benar-benar penuh dengan uang, bahkan pernah kejadian ia harus menyimpan uangnya di 20 boks hingga ditata di luar pos! “Saya pun pernah merasakan diomeli oleh customer, tapi ada juga yang memberi saya tip. Sekarang tantangan kami adalah memperkenalkan sistem parkir baru ‘no touch’ pada semua customer, ini pun cukup menuntut kesabaran, lho,” ceritanya.

Quote dari Salsabila

Setelah usai bekerja, Salsabila pun akan melepas lelahnya saat ia bisa bertemu orangtuanya, “Saya memang bekerja untuk orangtua. Bahagia saya adalah bahagianya orangtua, jadi ketika saya pulang, saya hanya ingin ibu dan ayah bisa melihat saya di sana,” tuturnya. Kedua orangtua serta adik-adiknya pula yang menjadi penyemangatnya bekerja, karena baginya, merekalah yang selalu mendukung langkahnya untuk maju. Saat sedang libur bekerja, ia pun akan refresh pikiran dengan bermain futsal sebagai hobinya! Mungkin seperti itulah versi superwoman dalam kehidupan nyata, persis seperti harapan yang ia ucapkan untuk dirinya: “Semoga saya jadi lebih baik lagi, menjadi perempuan yang lebih dewasa lagi, dan menjadi perempuan yang bertanggung jawab. Karena cantik saja tak cukup, kita harus menjadi perempuan tangguh!” And we couldn’t agree more to that. Salute!

image button back to top BACK TO TOP