Nadya Syarifa

line vector design

Musisi/Host

Nadya Syarifa

Apa yang membuat Anda Insecure?

“Dari dulu ini adalah insecurity saya: lengan atas,” Nadya memberi tahu Cosmo. “Dulu saya selalu merasa lengan atas saya gede banget. To be honest, it’s not. Tapi saat kecil saya ingat ketika teman-teman memakai baju sleeveless, I’d get jealous.” Rasa insecure tersebut juga membuat Nadya yang pada saat itu masih duduk di bangku SD membentuk kebiasaan mengamati lengannya—yang dulu terasa sangat besar—di cermin. Selain ukurannya, keloid yang timbul akibat jahitan operasi di lengan kanan atas membuatnya semakin kurang percaya diri akan area tubuh tersebut.

Nadya Syarifa

Bagaimana Anda mengatasinya?

Cara Nadya melawan insecurity terbilang unik: ia melawan perasaan tersebut dengan body art. “Dulu saya mencoba menyembunyikan bagian lengan yang tidak saya suka dari seseorang, lalu ia berkata, ‘Kenapa tidak suka? That’s your scar, and it has a story behind it, and it makes you who you are.’ Dan kata-kata tersebut mengubah perspektif saya.” Fun fact: ia bahkan ingin memenuhi lengan atasnya dengan tato, sebagai bentuk penghormatan terhadap bagian tubuh tersebut. “Dulu sempat merasa lengan atas ini sangat membebani hidup, padahal sebenarnya biasa saja. Kini setiap tato di lengan kanan atas ini memiliki cerita. Saya sering menganggapnya sebagai sebuah galeri atau wall of art.” Meski telah menemukan cara yang pas untuk melawan rasa insecure, Nadya sendiri mengaku bahwa ia menganggap insecurity bukanlah sesuatu yang bisa dilawan. “Karena datangnya suka-suka,” ungkapnya. “It comes and goes. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. So right now I choose to make peace with it. Berdamai dengan insecurity dan menerima kalau ini adalah tubuh saya.”

...

Experts said…

Jadi, normalkah jika seseorang melihat penampilannya di cermin berbeda dengan kondisi aslinya? Honestly, hal ini pasti dialami oleh banyak perempuan (dan laki-laki, siapa saja!). Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, mengungkapkan bahwa ini menunjukan bias atau penilaian subjektif terhadap diri sendiri. Setiap orang memiliki ciri kepribadian yang sudah terbentuk sejak usia 18 tahun, dan ini bukanlah sebuah gangguan. “Cermin kan memang pantulan jadi terbalik. Jelas berbeda.” Lagipula, all bodies are beautiful, right?

Lesson learned from Nadya

Nadya percaya bahwa untuk bisa memiliki self-love, kita harus menerapkan self-awareness terlebih dahulu. Cobalah berkenalan dengan diri sendiri dan cari tahu hal-hal apa yang sebenarnya bisa kita dapatkan—dari kepribadian, sampai sesuatu yang menimbulkan rasa benci. “Setelah itu, kalian bisa bertanya, ‘Kenapa saya seperti ini?’, ‘Apakah ada faktor dari lingkungan?’. Saya yakin ini bisa membuat kita lebih bijaksana terhadap diri sendiri—mentally, emotionally, physically.” Satu lagi filosofi yang Nadya percayai adalah bahwa ‘self-love is a journey, not an end goal’. Baginya, mencintai diri sendiri itu tidak jauh berbeda dari mencintai pasangan. Akan ada momen manis, tapi akan ada pula momen di mana Anda merasa kurang senang. “But it’s life. Tentu saja akan ada ups and downs,” jelasnya.