“But first… let’s talk about your new hair!” tanya Cosmo antusias ketika akhirnya bisa duduk berbincang dengan Enzy Storia setelah sesi pemotretan.
Rasanya memang cukup unexpected melihat Enzy dengan potongan rambut pendek, terlebih karena rambut panjang sudah begitu lekat dengan penampilannya.
“Yes! Saya jarang sekali memotong rambut pendek.
Saya ingin kelihatan lebih fresh sekaligus merawat rambut supaya jauh lebih sehat karena kemarin sempat terlibat dalam pekerjaan yang mengharuskan rambut saya dicat dua kali dalam sebulan,” jelasnya.
Ketika kami bertemu di akhir Juli 2026, Enzy baru seminggu tampil dengan gaya rambut barunya. “Saya merasa lebih muda dan lebih ringan. Semuanya menjadi lebih ringkas. Saya sampai takut ketagihan dan tiba-tiba benar-benar bondol,” candanya. “Tapi pixie haircut juga terlihat cute sih.”
Rambut baru mungkin menjadi perubahan yang paling terlihat, tetapi bukan satu-satunya hal yang tengah berubah dalam diri Enzy.
Di industri hiburan, kita mengenalnya sebagai sosok multitalenta yang terus mencoba berbagai hal, dari akting, menjadi presenter,
hingga sempat menjajal dunia tarik suara. Baginya, berpindah dari satu bidang ke bidang lain merupakan bagian dari proses untuk terus menemukan skill baru.
Ambisi jelas masih menjadi bagian dari dirinya. “Itu adalah karakter yang paling Leo dalam diri saya,”
ujar perempuan yang merayakan ulang tahunnya pada 10 Agustus ini. Namun, kini Enzy mulai melihat kesuksesan dengan cara yang berbeda.
Jika dulu ia lebih sibuk membuktikan diri dan mengejar berbagai kesempatan, kini hidup yang lebih seimbang justru menjadi prioritas.
Bukan hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam hubungannya dengan pasangan, sahabat, dan, yang tak kalah penting, dirinya sendiri.
Berbicara persahabatan, sudah bukan rahasia bila Enzy dikenal sebagai sosok dengan lingkaran pertemanan yang luas.
Tak sulit untuk menebak alasan di baliknya.
Di tengah terik matahari dan kesibukan sesi pemotretan, Enzy membuat suasana terasa lebih rileks.
Ia juga selalu mendengar dan menaruh atensi pada lawan bicara dan tahu kapan harus menghidupkan suasana dengan humor dan pembawaannya yang hangat.
She’s a best friend that everyone deserves.
So, enjoy our conversation with Enzy, just like getting to know a friend a little better.
Agustus ini Anda genap 34 tahun. Seiring bertambahnya usia, apa yang paling berubah dari cara Anda memandang diri sendiri?
Di usia 20-an, saya lebih fokus untuk membuktikan diri. Saya ingin menunjukkan bahwa saya bisa melakukan ini dan itu. Saya lebih ambisius.
Ini mungkin karakter paling kuat saya sebagai seorang zodiak Leo. Tetapi, sekarang saya lebih tenang dan tidak terlalu berambisi.
Mungkin saya lebih menginginkan hidup yang seimbang.
Apakah Anda sekarang merasa semakin nyaman menunjukkan diri apa adanya, atau justru semakin selektif membagikan kehidupanmu ke publik?
Dua-duanya. Saya merasa lebih nyaman menjadi diri sendiri tapi tidak semua hal saya akan bagikan.
Dulu mungkin saya lebih sering membagikan hidup saya di media sosial, tapi makin ke sini saya dan teman-teman saya juga semakin jarang dan lebih suka untuk ‘hadir’ di setiap momen.
Tanpa melihat status Anda sebagai seorang selebriti, bagaimana Anda mendeskripsikan sosok Enzy?
Saya orang yang playful dan gampang beradaptasi di setiap keadaan. Sebelum menjadi artis pun sebenarnya saya sudah seperti itu.
Jadi saya ingin dikenal sebagai orang yang tulus dan genuine kepada semua orang yang saya kenal, baik itu teman maupun orang yang hanya saya kenal sesaat. Saya ingin menjadi orang yang tulus.
Anda dikenal sebagai sosok yang ceria dan mudah menghidupkan suasana. Apa sisi diri Anda yang masih sering disalahpahami orang?
Orang melihat saya selalu ceria setiap saat. Padahal saya juga pasti punya masa-masa sulit. Saya pernah merasa gagal, pernah merasa sendiri. Tapi sekarang saya lebih memilih untuk memproses semuanya sendiri, ke dalam.
Di satu sisi Anda harus hadir dan profesional ketika bekerja, tetapi di sisi lain Anda juga pasti punya hari ketika sedang lelah atau bad mood. Bagaimana cara Anda menjaga keduanya?
Saya belajar bahwa profesional bukan berarti kita harus memaksakan diri sendiri. Saat bekerja, saya bisa memberikan yang terbaik dan tidak mengeluh, selama itu masih sesuai dengan norma-norma yang saya percaya.
Tapi setelah itu saya pasti memberikan ruang untuk diri sendiri, benar-benar untuk istirahat dan olahraga. Itu penting banget sekarang.
Setelah 16 tahun berkarier, banyak orang melihat Anda sebagai seseorang yang sudah sampai di titik yang sangat mapan. Kalau mengingat kembali perjalanan tersebut, apa tantangan terbesar yang Anda hadapi ketika membangun karier?
Banyak sekali yang dilalui. Tapi satu kunci yang saya tanamkan dari dulu sampai sekarang adalah saya selalu menikmati proses.
Kebanyakan generasi muda sekarang ini mau serba instan. Tapi menurut saya, menikmati setiap proses, mulai dari kegagalan sampai mencoba mencari kesempatan, adalah sebuah ilmu yang tidak tergantikan.
Dulu saya mulai dari banyak mengikuti casting sampai akhirnya mendapat tawaran film. Lalu masuk ke sinetron. Di dunia sinetron saya menyadari bahwa saya suka akting, tapi saya harus mencoba hal baru. Saya memberanikan diri menjadi presenter, kembali ke film, lalu mencoba sketsa komedi. Semua saya coba sampai menemukan hal yang benar-benar membuat saya penasaran.
Saya gagal berkali-kali. Saya juga punya kendala kesehatan dan finansial karena bekerja juga membutuhkan modal. Tapi ketika saya yakin, saya terus belajar dan tidak malu bertanya kepada yang lebih senior. Selain itu, menurut saya, attitude penting sekali untuk dijaga di mana pun kita bekerja.
Sudah mencoba berbagai bidang di industri hiburan, namun pernahkah ada titik ketika Anda merasa, “Sepertinya saya tidak bisa lanjut”?
Ada, ketika saya mencoba menyanyi. Itu era pandemi. Saya ingin mencoba mengeluarkan karya karena saya juga suka menyanyi. Jadi saya coba membuat single. Ternyata memang saya suka menyanyi, tapi bukan di depan publik.
Saya suka menyanyi, seru-seruan dengan teman, mendengarkan musik, dan sangat suka mendengarkan lagu. Tapi ketika itu menjadi pekerjaan, saya kehilangan ruang untuk berekspresi karena semuanya menjadi pekerjaan. Mungkin untuk sekarang tidak diteruskan, tapi bukan berarti suatu hari nanti saya tiba-tiba menjadi suka dan ingin mendalaminya lagi.
Dari semua profesi yang Anda jalani sekarang, apakah pekerjaan masih terasa sebagai passion atau sudah menjadi tanggung jawab dan rutinitas?
Saya sangat bersyukur ini masih menjadi passion buat saya. Saya beruntung berada di industri hiburan yang pilihan pekerjaannya sangat luas. Saya bertemu orang-orang baru, anak-anak muda, dan terus berproses. Selalu ada tantangan baru. Itu yang membuat saya tidak kehilangan spark terhadap pekerjaan.
Saya juga tidak berhenti belajar. Tahun ini, misalnya, saya belajar menjadi presenter acara kompetisi terbesar di Indonesia. Itu sesuatu yang berbeda. Padahal saya sudah menjadi host sejak 2014, tetapi berbeda.
Masih banyak hal yang sebenarnya bisa saya kulik. Misalnya bermain teater, yang belum pernah saya lakukan. Lalu akting yang senatural mungkin tetapi membuatnya menjadi sesuatu yang berbeda dari Enzy juga menjadi tantangan tersendiri.
Jadi, bagi Anda setiap pekerjaan adalah kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru?
Iya. Saya masih gugup setiap bekerja. Bahkan sekarang photoshoot pun pasti masih merasa gugup.
Malah saya senang ketika masih ada rasa nervous. Tandanya kita benar-benar really into it.
Menjadi perempuan yang berkarya selama 16 tahun di industri hiburan tentu datang dengan berbagai ekspektasi. Apa ekspektasi yang paling sering Anda hadapi, baik dari publik maupun dari industri?
Kayaknya karena standar kecantikan itu sendiri. Mungkin di era saya mulai berkarier sekitar 2010, itu eranya banyak orang menginginkan perempuan blasteran. Ketika orang mengatakan saya blasteran karena keturunan papa saya orang Polandia, itu dianggap privilege buat saya.
Padahal menurut saya, ketika punya skill, itu baru menjadi privilege. Yang lain adalah soal kesempurnaan, yang menurut saya standarnya berbeda-beda. Tapi makin ke sini saya merasa orang lebih menghargai keunikan itu sendiri.
Contohnya, beberapa tahun terakhir saya merasa, ternyata suara ketawa saya mungkin menurut sebagian orang berisik dan mengganggu.
Tapi menurut sebagian orang lain, suara itu justru bisa menghidupkan hari mereka. Jadi saya bisa mengambil sisi positifnya.
Ketidaksempurnaan saya ternyata bisa menjadi modal untuk bekerja. Karena di industri hiburan, kita butuh sesuatu yang unik dari diri kita yang bisa ditonjolkan.
Di titik sekarang, bagaimana Anda memaknai kesuksesan?
Dulu mungkin kesuksesan adalah saya bisa bekerja terus-menerus dan mengambil semua kesempatan yang ada. Sekarang kesuksesan buat saya adalah bisa menjalani semuanya secara seimbang. Setiap mengambil pekerjaan, saya bertanya kepada diri sendiri tentang pekerjaan ini membawa dampak apa untuk diri saya? Tantangan seperti apa yang akan saya hadapi dan bagaimana dampaknya untuk orang lain?
Misalnya ketika saya menjadi host acara musik. Mungkin menurut orang itu biasa saja. Tapi bagi saya itu sesuatu yang besar karena saya bisa menemani para finalis untuk mencapai mimpi mereka.
Hal-hal kecil yang mungkin orang orang lewatkan justru bisa menjadi besar buat saya. Saya jadi lebih menghargai kesuksesan karena melihat orang-orang yang berjuang dari nol untuk mencapai mimpi mereka. Itu mengingatkan saya pada diri saya dulu.
Adakah satu momen ketika Anda tersadar bahwa ternyata apa yang Anda lakukan benar-benar memberi dampak kepada penggemar?
Menjadi diri sendiri itu sih. Ternyata dengan saya jujur sama diri saya, menerima kekurangan saya, membuat saya jadi relatable sama orang-orang yang menonton saya. Mereka merasa dekat dengan apa yang saya alami.
Ketika saya bertemu mereka, mereka mengatakan, “Kak, terima kasih ya sudah bercerita tentang ini. Saya melalui masa-masa berat yang ternyata kamu juga merasakan itu ya. Saya pikir kamu jaraknya terlalu jauh karena kamu artis.”
Saya bilang, “Tidak, tidak sama sekali. Saya pun pernah mengalami apa yang kalian rasakan.”
Rata-rata sebenarnya masalah kita sama-sama. Hanya caranya berbeda, waktunya berbeda, dan segala macam. Contohnya kegagalan. Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Tapi yang terpenting bagaimana kita bisa bangkit dari kegagalan itu.
Mungkin saya beruntung karena saya memulainya dari nol. Benar-benar sudah hidup susah. Jadi saya mengerti rasanya seperti mereka.
Banyak orang mengatakan pasangan seharusnya saling melengkapi. Menurut Anda, apakah hubungan yang sehat tentang saling melengkapi atau tentang dua orang yang sudah sama-sama utuh?
Menurut saya, dua orang yang sama-sama terus bertumbuh. Pasangan bukan untuk melengkapi kekurangan, tetapi menjadi teman perjalanan yang saling mendukung.
Suami saya sangat mendukung saya, saya pun mendukung dia. Saya siap menemani dia kalau nanti dia pindah lagi karena profesinya memang seperti itu.
Dia juga sama. Dia melihat jam kerja saya dan segala macam. Jadi memang harus saling mendukung supaya kita bertumbuh menjadi orang yang lebih baik lagi.
Sebelum memutuskan menikah, apa percakapan paling penting yang Anda dan pasangan bicarakan?
Biasanya saya membahas value hidup, seperti cara menyelesaikan konflik, keluarga, karier, dan keuangan. Serta mimpi kita masing-masing. Buat saya, itu adalah fondasi yang paling penting.
Sesimpel saya suka sekali traveling. Kalau mendapatkan pasangan yang tidak suka traveling, itu bisa menjadi masalah.
Ternyata suami saya bukan tipe yang bisa traveling tiga bulan sekali. Tapi ketika dia bisa traveling, setidaknya sekali setahun bersama dan dalam waktu yang lama, dia benar-benar memberikan waktunya untuk saya tanpa diganggu pekerjaan.
Saya sangat mengapresiasi hal tersebut.
Apa satu hal yang Anda pelajari dari pasangan yang membuat Anda berkembang menjadi pribadi yang lebih baik?
Kesabaran. Saya belajar bahwa tidak semua hal harus langsung direspons. Dia tidak meledak-ledak. Saat merasa kesal, kita juga perlu mendengarkan lebih banyak dan memberikan jeda sebelum memberikan reaksi. Karena kadang kalau langsung bereaksi, sebenarnya ada marah dan ego di situ.
Anda sempat memutuskan pindah ke luar negeri. Sebagai seseorang yang adaptif, tentu tetap ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Apa yang Anda pelajari tentang kompromi dari pengalaman tersebut?
Saya belajar bahwa kompromi bukan berarti kita harus mengalah terus. Kompromi adalah sama-sama mau mendengar dan mencari jalan tengah tanpa kehilangan diri sendiri.
Ketika saya di luar negeri, saya benar-benar memberikan jeda untuk diri sendiri untuk beristirahat. Tapi saya lebih mengenal diri sendiri, memberikan jeda dan istirahat bahwa slow living is fine.
Di masa itu memang saya tidak bisa bekerja, sementara saya terbiasa bekerja. Itu sesuatu yang aneh buat saya sebenarnya.
Menurut Anda, apa miskonsepsi terbesar tentang pernikahan yang baru Anda sadari setelah menjalaninya?
Menurut orang-orang, menikah akan membuat hidup terasa lebih lengkap, seperti sempurna.
Padahal buat saya, pernikahan justru tempat untuk terus belajar dan bertumbuh bersama. Harapannya, kita bisa mempertahankan pernikahan itu sendiri sampai akhir hayat.
Jangan sampai menyerah di tengah jalan karena ego masing-masing. Harus kembali ke roots awal: kenapa kita ingin menikah dengan orang ini. Dan saya bersyukur merasa menikahi sahabat saya sendiri.
Anda dikenal memiliki lingkaran pertemanan yang luas. Menurut Anda, apa yang membuat sebuah persahabatan bisa bertahan meski kehidupan masing-masing sudah berubah?
Kejujuran itu penting sekali. Saya dan teman-teman tidak menuntut untuk selalu hadir setiap saat. Kita sering menyebutnya low-maintenance friends, tetapi selalu tahu bahwa kita ada ketika dibutuhkan.
Di setiap kelompok, misalnya delapan orang, setiap orang punya perannya masing-masing. Pasti ada momen saya berdua dengan masing-masing orang itu. Saya merasa waktu yang kita jalani bersama itu berarti sekali.
Pertemanan sebenarnya juga mengalami proses seleksi. Kalau melihat orang-orang yang masih bertahan dalam hidup Anda sekarang, apa kesamaan yang mereka miliki?
Semuanya punya selera humor yang sama. Kami memiliki perjalanan hidup yang sama. Cara menghadapi cobaan hidupnya juga sama, yakni dengan senyumin dulu aja.
Teman-teman saya begitu. Walaupun kami sudah sakit banget atau sedang stres, kami masih bisa mencari cara untuk menertawakan itu tanpa harus meninggalkan rasa sakit, sedih, atau marahnya. Tapi kami selalu punya cara untuk bilang, “Yuk, bisa yuk. Kita jalanin ini bareng-bareng.”
Traveling sepertinya memang sudah menjadi bagian penting dari hidup Anda. Dari semua perjalanan yang pernah dilakukan, mana yang paling mengubah cara pandang Anda tentang hidup?
Sebenarnya saat saya pindah ke Washington, D.C. Walaupun cuma setahun, itu pertama kalinya saya benar-benar jauh dari keluarga dan sahabat-sahabat saya. Saya hidup berdua dengan suami dan itu baru banget menikah. Dua minggu langsung pindah.
Cara untuk menikmati hidup sendirian dan mencari kesenangan ketika saya sendirian menjadi salah satu pelajaran yang sangat berarti buat saya. Saya jadi lebih kenal diri sendiri. Saya pikir saya selalu suka hidup yang hiruk-pikuk. Ternyata tidak. Saya menikmati sekali kesunyian.
Terakhir, kalau Anda bisa bertemu kembali dengan Enzy Storia saat remaja, apa yang paling ingin Anda katakan kepadanya?
“Pelan-pelan saja. Kamu tidak perlu harus membuktikan apa pun kepada semua orang. Tidak perlu membuat semua orang bahagia, tidak perlu terlalu memikirkan omongan orang. Karena semua yang kamu lewati dulu itu membentuk kamu menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih lembut, dan lebih bersyukur sama hal-hal kecil.”
Menurut saya, mensyukuri hal-hal kecil itu lebih susah daripada mensyukuri hal-hal besar. Ada orang yang ketika ditanya, “Hal apa saja yang kamu syukuri dari hari ini?” malah menjawab, “Tadi macet lagi, tadi ini.” Padahal, ya, bersyukur macet tapi selamat sampai tujuan. Saya merasa beruntung karena saya bisa mensyukuri hal-hal kecil.
CREDITS
Photography: Glenn Prasetya @Studio47
Videographer: Rudy Ferdianrus
Fashion Stylist: Astriana Gemiati
Text: Rayoga Akbar Firdaus / FT
Retoucher: Nugroho Adi @Studio47
Photo Asst: Bandi Ahmad @Studio47
Assistant Fashion Stylist: Elizabeth Alicia Terisno, Aurel Naila
Makeup: @Kunsoomakeupartist
Hair: Eva Pical
Location: Casa Semaii
Cover Layout: Rhani Shakurani, Lingga Adhinagara
© 2026 Cosmopolitan Indonesia