Agnez Mo Reaching New Heights

Nobody knows Agnez Mo other than herself. Ketika semua orang menantikan proyek musik terbarunya, Agnez Mo justru mengejutkan lewat kembalinya ia ke dunia akting dalam Reacher, 15 tahun setelah terakhir kali tampil sebagai aktris. Namun, ini bukan sekadar comeback atau babak baru dalam perjalanan kreatifnya. Ada tujuan yang lebih besar yang ingin ia capai dan perjalanan yang ingin ia maknai lebih dalam. But one thing is for sure: there’s always something unexpected and exciting.

Seberapa dalam Anda mengenal Agnez Mo? Kita mungkin cukup fasih merunut perjalanan kariernya. Dari seorang pembawa acara musik anak, berevolusi menjadi aktris di layar kaca, hingga akhirnya menjadi musisi yang telah merilis lima album studio. Setiap album merefleksikan musikalitasnya yang terus bergerak mengeksplorasi berbagai genre, dari pop, R&B hingga hip hop. Kita juga menyaksikan transformasi personal style Agnez Mo, yang kerap terasa selaras dengan musik yang tengah ia garap. Sesekali, melalui laman Instagram pribadinya, kita bahkan bisa mengintip kesehariannya.

Tapi apakah kita benar-benar mengenal Agnez Mo, setidaknya dalam hal ambisi karier? Ternyata tidak. And that’s a good thing.

Media sosial membuat kita semakin terobsesi untuk merasa dekat dengan selebriti seperti mengetahui apa yang mereka lakukan, pikirkan, makan, kenakan, hingga hampir setiap detail personal dalam hidup mereka. Padahal, sedikit misteri—atau dalam hal ini, batasan—bukan berarti menciptakan jarak. Justru sebaliknya, batasan memberi ruang untuk kejutan.

Hampir 15 tahun vakum dari dunia akting tentu membuat kita berpikir bahwa musik telah menjadi jalan hidup yang ia pilih seterusnya. Namun, kembalinya Agnez Mo sebagai aktris bukanlah sebuah keputusan impulsif. Ada perencanaan yang matang di baliknya, terutama dalam hal pemilihan karakter yang ingin ia perankan.

“Saya ingin sesuatu yang menantang dan membuat saya sedikit tidak nyaman, dalam arti yang baik,” jelasnya.

Tantangan tersebut ia temukan dalam karakter Lila. “Ada begitu banyak lapisan dalam dirinya yang tidak langsung terlihat, dan saya menyukai kenyataan bahwa saya tidak bisa menjelaskan Lila hanya dalam satu kalimat. Saya suka bagaimana karakter Lila menuntut saya untuk memberikan performa yang begitu nuanced.”

Totalitasnya dalam memerankan Lila di Reacher pun menuai pujian, salah satunya lewat caranya menampilkan kompleksitas karakter tersebut melalui ekspresi wajah. Hal ini tidak terlepas dari apa yang ia pelajari selama mengobservasi Lila.

“Lila membuat saya mengingat akan prinsip bahwa kekuatan tidak harus selalu ditunjukkan secara lantang. Lila membuat saya percaya akan ketenangan,” jelasnya. “Sometimes doing less can actually say more,” tambahnya.


Agnez Mo Gaun, Givenchy; heels, Stuart Weitzman.

Reacher juga mempertemukan Agnez Mo dengan Anggun, yang memerankan karakter ibunya. Beradu akting dengan sosok yang sudah lama ia kenal tentu membawa energi yang berbeda dan kesenangan tersendiri di sela-sela kesibukan syuting.

“Kami mengobrol, bercanda, dan membicarakan makanan Indonesia yang harus kami coba di Toronto.”

Agnez Mo mungkin masih menyimpan cukup banyak hal yang ingin ia simpan untuk dirinya sendiri. Namun, ia juga tak sungkan berbagi hal-hal yang sifatnya personal. Misalnya, pernahkah terpikir bahwa penggunaan nama Agnes Monica dan Agnez Mo menandai babak baru, bukan hanya dalam karier, tetapi juga dalam cara ia melihat dirinya sendiri?

Dan mungkin, ini salah satu hal yang paling tak Anda sangka sekaligus membuat penasaran: dalam perbincangannya dengan Cosmo, Agnez Mo juga bisa berbicara panjang lebar tentang value dalam hubungan percintaan. “Saya sangat bahagia akhirnya bisa mengatakan bahwa saat ini saya berada dalam hubungan yang sangat membahagiakan, stabil, dan solid,” ungkapnya.

So many things to know, yet so little we realize we know about her. Simak wawancara Agnez Mo bersama Cosmo berikut.


Agnez Mo Coat, Lanvin; boots, Stuart Weitzman.

Di awal karier, Anda menekuni dunia musik dan akting dalam waktu yang hampir bersamaan. Apakah pengalaman Anda sebagai seorang aktris memengaruhi kreativitas Anda dalam bermusik? Dan begitu juga sebaliknya?

Seratus persen. Saya tidak pernah benar-benar memisahkan keduanya secara kreatif.

Musik mengajarkan saya tentang ritme, timing, emosi, dan bagaimana menyampaikan sesuatu tanpa harus selalu menjelaskannya. Sementara akting mengajarkan saya perspektif—bagaimana keluar dari diri sendiri dan memahami mengapa orang lain berperilaku seperti itu.

Contohnya, bahkan ketika sedang merekam lagu, saya memikirkan intensinya. Siapa saya ketika mengucapkan lirik ini? Kepada siapa saya berbicara? Apa yang terjadi lima menit sebelum momen ini? Secara teknis, itu adalah “akting”.

Begitu pula ketika saya berakting, saya memahami ritme karena saya seorang musisi. Keheningan memiliki ritme. Dialog memiliki ritme. Bahkan sebuah tatapan pun memiliki timing. Jadi, keduanya selalu saling memberi pengaruh.

Karakter atau genre film seperti apa yang ingin Anda eksplorasi selanjutnya?

Saya ingin memainkan karakter yang tidak mudah dikategorikan. Saya menyukai perempuan yang bisa feminin sekaligus berbahaya, rentan sekaligus kuat, cerdas tetapi tetap memiliki kekurangan.

Saya tidak ingin istilah “strong female character” berarti seorang perempuan yang masuk ke setiap ruangan dan sudah memiliki semua jawabannya. Bagi saya, itu tidak menarik.

Saya ingin mencoba psychological thriller, action, elevated sci-fi, mungkin sesuatu yang lebih gelap. Dan saya tentu ingin terus mengambil peran yang menantang saya. Saya menemukan bahwa saya sangat menikmati bagian tersebut dari pekerjaan ini. Pada akhirnya, yang saya kejar adalah kompleksitas karakter, bukan genrenya.


Agnez Mo Gaun, Givenchy; heels, Stuart Weitzman.

Bagaimana Anda melihat perkembangan industri musik Indonesia saat ini?

Saya rasa ini adalah sesuatu yang perlu dipahami orang. Ketika saya mulai berkarier di musik, media sosial belum memiliki pengaruh dan jangkauan sebesar sekarang. Saya ingat, saya benar-benar harus “berjuang” untuk mendapatkan kebebasan bernyanyi dalam bahasa Inggris—bahkan terkadang sekadar berbicara dalam bahasa Inggris.

Saya pernah disebut tidak patriotik karena berbicara dalam bahasa Inggris, atau dianggap “terlalu kebarat-baratan” karena cara saya membuat musik, berpakaian, atau mengekspresikan diri.

Tapi coba lihat sekarang. Begitu banyak musisi Indonesia yang berbicara dalam bahasa Inggris, bernyanyi dalam bahasa Inggris, bereksperimen dengan berbagai sound, berpakaian lebih bebas, dan mengekspresikan diri dengan cara mereka sendiri—dan saya menyukai itu.

Karena artinya, beberapa hal yang dulu harus saya perjuangkan tidak lagi menjadi pertarungan yang harus dihadapi generasi berikutnya. Dan bagi saya, itu adalah progress!

Sekarang ada lebih banyak kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Anda tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa mengekspresikan diri dengan cara yang berbeda membuat Anda menjadi kurang Indonesia. Anda bisa menjadi orang Indonesia sekaligus tetap memiliki perspektif global. Bagi saya, kedua hal itu tidak pernah saling bertentangan.

Jika setiap proyek kreatif adalah sebuah autobiografi, bagaimana Anda menggambarkan bab kehidupan Anda saat ini?

Saya rasa bab ini adalah tentang ekspansi—tetapi berkembang sambil tetap sepenuhnya menjadi diri saya sendiri.

Ini tentang memberikan kebebasan kepada diri saya untuk melakukan apa yang saya inginkan secara kreatif. Musik, akting, bisnis, storytelling. Saya tidak lagi melihat semuanya sebagai dunia yang terpisah. Semuanya adalah bagian yang berbeda dari diri saya, dan saya ingin memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi semuanya.

Bagi saya, berkembang tidak selalu berarti menjadi seseorang yang berbeda. Terkadang, berkembang berarti memiliki lebih banyak ruang untuk menjadi lebih banyak dari diri Anda yang sebenarnya.

Dan saya rasa, di situlah saya sekarang. Saya sedang membangun dan berekspansi, tetapi saya melakukannya sebagai diri saya sendiri. Seperti yang selalu saya katakan, saya sedang membangun sebuah legacy. Legacy saya.


Agnez Mo Quote

Bagaimana Anda melihat perubahan cara musisi membangun karier sekarang ini?

Kecepatan adalah sebuah kesempatan sekaligus jebakan. Para musisi memiliki akses yang lebih besar dari sebelumnya. Anda bisa merilis musik kapan saja, berkomunikasi langsung dengan audiens, membuat sesuatu hari ini dan berpotensi dilihat jutaan orang besok.

Namun, hal itu juga bisa menciptakan tekanan untuk terus-menerus memberi makan algoritma. Saya tidak percaya bahwa terus-menerus terlihat sama dengan membangun karier atau legacy. Terkadang, menghilang dan benar-benar menjalani hidup juga merupakan bagian dari proses menciptakan sesuatu. Anda membutuhkan pengalaman untuk ditulis. Anda membutuhkan waktu untuk mengembangkan selera. Anda membutuhkan ruang untuk menjadi lebih baik.

Saya lebih memilih menciptakan sesuatu yang memiliki longevity daripada merilis sesuatu hanya karena internet mengharapkan saya untuk terus aktif.


Agnez Mo Gaun, Diesel; boots, Stuart Weitzman.

Di atas kertas, Agnes Monica dan Agnez Mo adalah pribadi yang sama. Apakah menurut Anda sebenarnya ada perbedaan persona atau karakter antara Agnes Monica dan Agnez Mo?

Mereka adalah orang yang sama, hanya saja berada di babak kehidupan yang berbeda. Agnes Monica sangat mewakili asal-usul dan masa lalu saya. Saat itu, dia sangat berambisi, disiplin, dan mungkin agak gila karena berani mempercayai hal-hal nekat di usianya yang masih amat muda, haha.

Kehadiran Agnez Mo bukan berarti saya meninggalkan sosok Agnes Monica. Agnez Mo ada justru berkat dia. Perbedaannya mungkin terletak pada sudut pandang. Dulu, pikiran saya selalu tertuju pada, “Saya harus sampai ke sana.” Sekarang, saya jauh lebih tertarik untuk bertanya, “Apa yang sebenarnya ingin saya bangun selama saya ada di sini?”. Dapat dikatakan alasan di baliknya adalah tentang pendewasaan diri.

Apakah Agnez Mo pernah melakukan pencarian namanya sendiri di Google ?

Tentu saja, haha. Siapa pun yang mengaku tidak pernah Google nama mereka sendiri, rasanya agak sulit dipercaya, hahaha. Tapi buat saya, biasanya itu cuma karena ingin melihat lagi penampilan saya dulu, atau mencari rekaman wawancara lama dan karya-karya yang pernah saya buat.

Hanya saja, saya sudah belajar sejak lama bahwa sekadar mencari nama sendiri di Google dan mempercayai semua hal yang kita baca tentang diri kita adalah dua hal yang sangat berbeda.


Agnez Mo Jaket dan tanktop, Loewe.

Privacy adalah salah satu hal yang cukup Anda jaga. Namun, bagaimana cara Anda menerapkan batasan sekaligus tetap membangun kedekatan dengan penggemar?

Saya belajar bahwa menjadi autentik bukan berarti memberikan akses terhadap segala hal. Saya bisa sepenuhnya tulus kepada penggemar tanpa harus membagikan setiap bagian dari kehidupan pribadi saya.

Ada hal-hal yang saya bagikan karena memang ingin orang-orang mengalaminya bersama saya—musik saya, pekerjaan saya, humor saya, terkadang juga perjuangan yang saya hadapi.

Namun, ada pula hubungan, percakapan, dan bagian-bagian tertentu dari kehidupan saya yang saya lindungi. Dan menurut saya, batasan justru memungkinkan saya untuk menjadi lebih autentik. Karena ketika saya memilih untuk membagikan sesuatu, itu karena saya memang menginginkannya—bukan karena merasa berkewajiban.

Bagaimana Anda menggambarkan gaya personal Anda saat ini?

Freedom. (I’ve always dressed with freedom though). Ada hari ketika saya sangat tomboi, oversized, streetwear, dan sneakers. Di hari lain, saya ingin terlihat sangat feminin. Terkadang saya ingin mengenakan tailoring, terkadang saya justru ingin seperti menghilang di balik jaket berukuran sangat besar.

Saya rasa para penggemar saya sekarang sudah mengenal saya. Saya tidak mengenakan sesuatu karena ingin meyakinkan orang bahwa saya edgy, feminin, atau sophisticated. Kalau saya merasa nyaman dan merasa baik di dalamnya, itulah style saya.


Agnez Mo Quote

Apakah ada kebiasaan atau ritual yang selalu Anda lakukan ketika kembali ke Indonesia?

Makanan. Saya selalu langsung mencari makanan. Ada makanan-makanan tertentu yang tidak peduli seberapa lama penerbangan saya atau jam berapa saya tiba, begitu kembali ke Jakarta, saya harus menyantapnya.

Tapi lebih dari itu, ada sesuatu tentang kembali mendengar Bahasa Indonesia di mana-mana, berada di sekitar keluarga dan orang-orang yang sudah mengenal saya sejak lama. Ada versi diri saya yang langsung kembali muncul ketika berada di rumah.

Tidak peduli sudah berapa lama saya tinggal di luar negeri, Indonesia tetap terasa seperti rumah dengan cara yang tidak perlu dijelaskan.


Agnez Mo Coat, Lanvin; boots, Stuart Weitzman.

Apa satu nilai yang paling Anda pegang teguh dalam hubungan percintaan?

Wah, ini pertanyaan yang menarik. Bagi saya, kunci utamanya adalah kesetiaan, peka, dan kebaikan hati. Jujur, saya tidak percaya bahwa rasa percaya itu sesuatu yang otomatis diberikan begitu saja. Rasa percaya itu harus diusahakan dan itu ditempa oleh waktu, konsistensi, serta kesetiaan yang teruji oleh waktu.

Salah satu hal terpenting bagi saya adalah saling tenggang rasa dengan pasangan, dan saling memberikan rasa aman secara emosional. Perasaan tenang karena tahu bahwa pasangan kita menghargai kita dan menjaga hubungan ini, baik saat kita berada di sampingnya maupun tidak.

Lalu tentang kebaikan hati. Baik hati bukan berarti kita tidak pernah bertengkar atau menghindari pembahasan hal-hal yang sulit. Bagi saya, kebaikan hati justru terlihat dari cara kita berbicara satu sama lain, terutama saat sedang bertengkar. Ketika berbeda pendapat, tujuannya tidak pernah untuk sengaja menyakiti, membalas dendam, atau “menang” dalam perdebatan. Karena kalau saya menang argumen tapi menyakiti orang yang saya sayangi dalam prosesnya, apakah saya benar-benar menang?

Ini lebih tentang bertanya, “Apa yang sebenarnya terbaik untuk kita dan untuk hubungan ini?” Bahkan saat sedang kesal satu sama lain, kita harus ingat bahwa kita masih berada di tim yang sama.

Saya juga percaya bahwa hubungan yang sehat tidak seharusnya menuntut menjadi “lebih kecil” hanya agar orang lain merasa “lebih besar”. Anda harus bisa bertumbuh sebagai individu, sekaligus bertumbuh bersama.

Namun, pertumbuhan itu harus dijalani dengan niat baik dan tenggang rasa terhadap perasaan satu sama lain. Anda mengkomunikasikan banyak hal, saling melibatkan, dan memikirkan bagaimana pilihan Anda bisa berdampak pada pasangan. Anda tetap menjadi diri sendiri, tetapi Anda tidak lagi hanya memikirkan diri Anda sendiri.

Dan saya sangat bahagia akhirnya bisa mengatakan bahwa saat ini saya berada dalam hubungan yang sangat membahagiakan, stabil, dan solid. He truly is my soulmate.


Agnez Mo Gaun, Givenchy.

Terakhir, lengkapi kalimat ini: “Agnez Mo is entering her ______ era.”

Ownership. Bukan hanya ownership dalam arti bisnis—meskipun itu jelas merupakan bagian darinya. Ini adalah ownership atas pilihan saya. Kreativitas saya. Waktu saya. Cerita saya.

Saya menghabiskan begitu banyak bagian dalam hidup saya untuk mendobrak batasan, dan sejujurnya, saya masih melakukannya. Saya sudah membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya bisa masuk ke ruang-ruang yang dulu hanya bisa saya impikan.

Namun, yang sangat menarik dari era ini adalah sekarang saya membangun ruang saya sendiri. Dan saya membangunnya bersama orang-orang yang dulu hanya bisa saya impikan untuk bekerja sama. Isn’t that crazy? Haha.

Ada masa ketika saya hanya bermimpi bisa berada di satu ruangan bersama orang-orang tersebut. Sekarang kami duduk bersama, membangun sesuatu bersama, menciptakan sesuatu bersama.

Bagi saya, itulah ownership. Bukan hanya tentang akhirnya mendapatkan kursi di meja milik orang lain. Ini tentang mampu membangun meja Anda sendiri—lalu memilih dengan siapa Anda ingin membangunnya.




CREDITS


© 2026 Cosmopolitan Indonesia