Seberapa dalam Anda mengenal Agnez Mo? Kita mungkin cukup fasih merunut perjalanan kariernya. Dari seorang pembawa
acara musik anak, berevolusi menjadi aktris di layar kaca, hingga akhirnya menjadi musisi yang telah merilis lima
album studio. Setiap album merefleksikan musikalitasnya yang terus bergerak mengeksplorasi berbagai genre, dari
pop, R&B hingga hip hop. Kita juga menyaksikan transformasi personal style Agnez Mo, yang kerap
terasa selaras dengan musik yang tengah ia garap. Sesekali, melalui laman Instagram pribadinya, kita bahkan bisa
mengintip kesehariannya.
Tapi apakah kita benar-benar mengenal Agnez Mo, setidaknya dalam hal ambisi karier? Ternyata tidak. And that’s
a good thing.
Media sosial membuat kita semakin terobsesi untuk merasa dekat dengan selebriti seperti mengetahui apa yang mereka
lakukan, pikirkan, makan, kenakan, hingga hampir setiap detail personal dalam hidup mereka. Padahal, sedikit
misteri—atau dalam hal ini, batasan—bukan berarti menciptakan jarak. Justru sebaliknya, batasan memberi ruang
untuk kejutan.
Hampir 15 tahun vakum dari dunia akting tentu membuat kita berpikir bahwa musik telah menjadi jalan hidup yang ia
pilih seterusnya. Namun, kembalinya Agnez Mo sebagai aktris bukanlah sebuah keputusan impulsif. Ada perencanaan
yang matang di baliknya, terutama dalam hal pemilihan karakter yang ingin ia perankan.
“Saya ingin sesuatu yang menantang dan membuat saya sedikit tidak nyaman, dalam arti yang baik,”
jelasnya.
Tantangan tersebut ia temukan dalam karakter Lila. “Ada begitu banyak lapisan dalam dirinya yang tidak
langsung terlihat, dan saya menyukai kenyataan bahwa saya tidak bisa menjelaskan Lila hanya dalam satu kalimat.
Saya suka bagaimana karakter Lila menuntut saya untuk memberikan performa yang begitu nuanced.”
Totalitasnya dalam memerankan Lila di Reacher pun menuai pujian, salah satunya lewat caranya menampilkan
kompleksitas karakter tersebut melalui ekspresi wajah. Hal ini tidak terlepas dari apa yang ia pelajari selama
mengobservasi Lila.
“Lila membuat saya mengingat akan prinsip bahwa kekuatan tidak harus selalu ditunjukkan secara lantang. Lila
membuat saya percaya akan ketenangan,” jelasnya. “Sometimes doing less can actually say
more,” tambahnya.
Reacher juga mempertemukan Agnez Mo dengan Anggun, yang memerankan karakter ibunya. Beradu akting dengan
sosok yang sudah lama ia kenal tentu membawa energi yang berbeda dan kesenangan tersendiri di sela-sela kesibukan
syuting.
“Kami mengobrol, bercanda, dan membicarakan makanan Indonesia yang harus kami coba di Toronto.”
Agnez Mo mungkin masih menyimpan cukup banyak hal yang ingin ia simpan untuk dirinya sendiri. Namun, ia juga tak
sungkan berbagi hal-hal yang sifatnya personal. Misalnya, pernahkah terpikir bahwa penggunaan nama Agnes Monica
dan Agnez Mo menandai babak baru, bukan hanya dalam karier, tetapi juga dalam cara ia melihat dirinya sendiri?
Dan mungkin, ini salah satu hal yang paling tak Anda sangka sekaligus membuat penasaran: dalam perbincangannya
dengan Cosmo, Agnez Mo juga bisa berbicara panjang lebar tentang value dalam hubungan
percintaan. “Saya sangat bahagia akhirnya bisa mengatakan bahwa saat ini saya berada dalam hubungan yang
sangat membahagiakan, stabil, dan solid,” ungkapnya.
So many things to know, yet so little we realize we know about her. Simak wawancara Agnez Mo bersama
Cosmo berikut.
Di awal karier, Anda menekuni dunia musik dan akting dalam waktu yang hampir bersamaan. Apakah pengalaman Anda
sebagai seorang aktris memengaruhi kreativitas Anda dalam bermusik? Dan begitu juga sebaliknya?
Seratus persen. Saya tidak pernah benar-benar memisahkan keduanya secara kreatif.
Musik mengajarkan saya tentang ritme, timing, emosi, dan bagaimana menyampaikan sesuatu tanpa harus
selalu menjelaskannya. Sementara akting mengajarkan saya perspektif—bagaimana keluar dari diri sendiri dan
memahami mengapa orang lain berperilaku seperti itu.
Contohnya, bahkan ketika sedang merekam lagu, saya memikirkan intensinya. Siapa saya ketika mengucapkan lirik ini?
Kepada siapa saya berbicara? Apa yang terjadi lima menit sebelum momen ini? Secara teknis, itu adalah
“akting”.
Begitu pula ketika saya berakting, saya memahami ritme karena saya seorang musisi. Keheningan memiliki ritme.
Dialog memiliki ritme. Bahkan sebuah tatapan pun memiliki timing. Jadi, keduanya selalu saling memberi
pengaruh.
Karakter atau genre film seperti apa yang ingin Anda eksplorasi selanjutnya?
Saya ingin memainkan karakter yang tidak mudah dikategorikan. Saya menyukai perempuan yang bisa feminin sekaligus
berbahaya, rentan sekaligus kuat, cerdas tetapi tetap memiliki kekurangan.
Saya tidak ingin istilah “strong female character” berarti seorang perempuan yang masuk ke
setiap ruangan dan sudah memiliki semua jawabannya. Bagi saya, itu tidak menarik.
Saya ingin mencoba psychological thriller, action, elevated sci-fi, mungkin sesuatu yang lebih gelap. Dan
saya tentu ingin terus mengambil peran yang menantang saya. Saya menemukan bahwa saya sangat menikmati bagian
tersebut dari pekerjaan ini. Pada akhirnya, yang saya kejar adalah kompleksitas karakter, bukan genrenya.
Bagaimana Anda melihat perkembangan industri musik Indonesia saat ini?
Saya rasa ini adalah sesuatu yang perlu dipahami orang. Ketika saya mulai berkarier di musik, media sosial belum
memiliki pengaruh dan jangkauan sebesar sekarang. Saya ingat, saya benar-benar harus “berjuang” untuk
mendapatkan kebebasan bernyanyi dalam bahasa Inggris—bahkan terkadang sekadar berbicara dalam bahasa
Inggris.
Saya pernah disebut tidak patriotik karena berbicara dalam bahasa Inggris, atau dianggap
“terlalu
kebarat-baratan” karena cara saya membuat musik, berpakaian, atau mengekspresikan diri.
Tapi coba lihat sekarang. Begitu banyak musisi Indonesia yang berbicara dalam bahasa Inggris, bernyanyi dalam
bahasa Inggris, bereksperimen dengan berbagai sound, berpakaian lebih bebas, dan mengekspresikan diri
dengan cara mereka sendiri—dan saya menyukai itu.
Karena artinya, beberapa hal yang dulu harus saya perjuangkan tidak lagi menjadi pertarungan yang harus dihadapi
generasi berikutnya. Dan bagi saya, itu adalah progress!
Sekarang ada lebih banyak kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Anda tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa
mengekspresikan diri dengan cara yang berbeda membuat Anda menjadi kurang Indonesia. Anda bisa menjadi orang
Indonesia sekaligus tetap memiliki perspektif global. Bagi saya, kedua hal itu tidak pernah saling bertentangan.
Jika setiap proyek kreatif adalah sebuah autobiografi, bagaimana Anda menggambarkan bab kehidupan Anda saat
ini?
Saya rasa bab ini adalah tentang ekspansi—tetapi berkembang sambil tetap sepenuhnya menjadi diri saya
sendiri.
Ini tentang memberikan kebebasan kepada diri saya untuk melakukan apa yang saya inginkan secara kreatif. Musik,
akting, bisnis, storytelling. Saya tidak lagi melihat semuanya sebagai dunia yang terpisah. Semuanya
adalah bagian yang berbeda dari diri saya, dan saya ingin memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi
semuanya.
Bagi saya, berkembang tidak selalu berarti menjadi seseorang yang berbeda. Terkadang, berkembang berarti memiliki
lebih banyak ruang untuk menjadi lebih banyak dari diri Anda yang sebenarnya.
Dan saya rasa, di situlah saya sekarang. Saya sedang membangun dan berekspansi, tetapi saya melakukannya sebagai
diri saya sendiri. Seperti yang selalu saya katakan, saya sedang membangun sebuah legacy. Legacy
saya.
Bagaimana Anda melihat perubahan cara musisi membangun karier sekarang ini?
Kecepatan adalah sebuah kesempatan sekaligus jebakan. Para musisi memiliki akses yang lebih besar dari sebelumnya.
Anda bisa merilis musik kapan saja, berkomunikasi langsung dengan audiens, membuat sesuatu hari ini dan berpotensi
dilihat jutaan orang besok.
Namun, hal itu juga bisa menciptakan tekanan untuk terus-menerus memberi makan algoritma. Saya tidak percaya bahwa
terus-menerus terlihat sama dengan membangun karier atau legacy. Terkadang, menghilang dan benar-benar
menjalani hidup juga merupakan bagian dari proses menciptakan sesuatu. Anda membutuhkan pengalaman untuk ditulis.
Anda membutuhkan waktu untuk mengembangkan selera. Anda membutuhkan ruang untuk menjadi lebih baik.
Saya lebih memilih menciptakan sesuatu yang memiliki longevity daripada merilis sesuatu hanya karena
internet mengharapkan saya untuk terus aktif.
Di atas kertas, Agnes Monica dan Agnez Mo adalah pribadi yang sama. Apakah menurut Anda sebenarnya ada
perbedaan persona atau karakter antara Agnes Monica dan Agnez Mo?
Mereka adalah orang yang sama, hanya saja berada di babak kehidupan yang berbeda. Agnes Monica sangat mewakili
asal-usul dan masa lalu saya. Saat itu, dia sangat berambisi, disiplin, dan mungkin agak gila karena berani
mempercayai hal-hal nekat di usianya yang masih amat muda, haha.
Kehadiran Agnez Mo bukan berarti saya meninggalkan sosok Agnes Monica. Agnez Mo ada justru berkat dia.
Perbedaannya mungkin terletak pada sudut pandang. Dulu, pikiran saya selalu tertuju pada, “Saya harus sampai
ke sana.” Sekarang, saya jauh lebih tertarik untuk bertanya, “Apa yang sebenarnya ingin saya bangun
selama saya ada di sini?”. Dapat dikatakan alasan di baliknya adalah tentang pendewasaan diri.
Apakah Agnez Mo pernah melakukan pencarian namanya sendiri di Google ?
Tentu saja, haha. Siapa pun yang mengaku tidak pernah Google nama mereka sendiri, rasanya agak sulit
dipercaya, hahaha. Tapi buat saya, biasanya itu cuma karena ingin melihat lagi penampilan saya dulu, atau mencari
rekaman wawancara lama dan karya-karya yang pernah saya buat.
Hanya saja, saya sudah belajar sejak lama bahwa sekadar mencari nama sendiri di Google dan mempercayai semua hal
yang kita baca tentang diri kita adalah dua hal yang sangat berbeda.
Privacy adalah salah satu hal yang cukup Anda jaga. Namun, bagaimana cara Anda menerapkan batasan
sekaligus tetap membangun kedekatan dengan penggemar?
Saya belajar bahwa menjadi autentik bukan berarti memberikan akses terhadap segala hal. Saya bisa sepenuhnya tulus
kepada penggemar tanpa harus membagikan setiap bagian dari kehidupan pribadi saya.
Ada hal-hal yang saya bagikan karena memang ingin orang-orang mengalaminya bersama saya—musik saya, pekerjaan
saya, humor saya, terkadang juga perjuangan yang saya hadapi.
Namun, ada pula hubungan, percakapan, dan bagian-bagian tertentu dari kehidupan saya yang saya lindungi. Dan
menurut saya, batasan justru memungkinkan saya untuk menjadi lebih autentik. Karena ketika saya memilih untuk
membagikan sesuatu, itu karena saya memang menginginkannya—bukan karena merasa berkewajiban.
Bagaimana Anda menggambarkan gaya personal Anda saat ini?
Freedom. (I’ve always dressed with freedom though). Ada hari ketika saya sangat tomboi,
oversized, streetwear, dan sneakers. Di hari lain, saya ingin terlihat sangat feminin. Terkadang
saya ingin mengenakan tailoring, terkadang saya justru ingin seperti menghilang di balik jaket berukuran
sangat besar.
Saya rasa para penggemar saya sekarang sudah mengenal saya. Saya tidak mengenakan sesuatu karena ingin meyakinkan
orang bahwa saya edgy, feminin, atau sophisticated. Kalau saya merasa nyaman dan merasa baik di
dalamnya, itulah style saya.
Apakah ada kebiasaan atau ritual yang selalu Anda lakukan ketika kembali ke Indonesia?
Makanan. Saya selalu langsung mencari makanan. Ada makanan-makanan tertentu yang tidak peduli seberapa lama
penerbangan saya atau jam berapa saya tiba, begitu kembali ke Jakarta, saya harus menyantapnya.
Tapi lebih dari itu, ada sesuatu tentang kembali mendengar Bahasa Indonesia di mana-mana, berada di sekitar
keluarga dan orang-orang yang sudah mengenal saya sejak lama. Ada versi diri saya yang langsung kembali muncul
ketika berada di rumah.
Tidak peduli sudah berapa lama saya tinggal di luar negeri, Indonesia tetap terasa seperti rumah dengan cara yang
tidak perlu dijelaskan.
Apa satu nilai yang paling Anda pegang teguh dalam hubungan percintaan?
Wah, ini pertanyaan yang menarik. Bagi saya, kunci utamanya adalah kesetiaan, peka, dan kebaikan hati. Jujur, saya
tidak percaya bahwa rasa percaya itu sesuatu yang otomatis diberikan begitu saja. Rasa percaya itu harus
diusahakan dan itu ditempa oleh waktu, konsistensi, serta kesetiaan yang teruji oleh waktu.
Salah satu hal terpenting bagi saya adalah saling tenggang rasa dengan pasangan, dan saling memberikan rasa aman
secara emosional. Perasaan tenang karena tahu bahwa pasangan kita menghargai kita dan menjaga hubungan ini, baik
saat kita berada di sampingnya maupun tidak.
Lalu tentang kebaikan hati. Baik hati bukan berarti kita tidak pernah bertengkar atau menghindari pembahasan
hal-hal yang sulit. Bagi saya, kebaikan hati justru terlihat dari cara kita berbicara satu sama lain, terutama
saat sedang bertengkar. Ketika berbeda pendapat, tujuannya tidak pernah untuk sengaja menyakiti, membalas dendam,
atau “menang” dalam perdebatan. Karena kalau saya menang argumen tapi menyakiti orang yang saya
sayangi dalam prosesnya, apakah saya benar-benar menang?
Ini lebih tentang bertanya, “Apa yang sebenarnya terbaik untuk kita dan untuk hubungan ini?”
Bahkan saat sedang kesal satu sama lain, kita harus ingat bahwa kita masih berada di tim yang sama.
Saya juga percaya bahwa hubungan yang sehat tidak seharusnya menuntut menjadi “lebih kecil” hanya agar
orang lain merasa “lebih besar”. Anda harus bisa bertumbuh sebagai individu, sekaligus bertumbuh
bersama.
Namun, pertumbuhan itu harus dijalani dengan niat baik dan tenggang rasa terhadap perasaan satu sama lain. Anda
mengkomunikasikan banyak hal, saling melibatkan, dan memikirkan bagaimana pilihan Anda bisa berdampak pada
pasangan. Anda tetap menjadi diri sendiri, tetapi Anda tidak lagi hanya memikirkan diri Anda sendiri.
Dan saya sangat bahagia akhirnya bisa mengatakan bahwa saat ini saya berada dalam hubungan yang sangat
membahagiakan, stabil, dan solid. He truly is my soulmate.
Terakhir, lengkapi kalimat ini: “Agnez Mo is entering her ______ era.”
Ownership. Bukan hanya ownership dalam arti bisnis—meskipun itu jelas merupakan bagian darinya.
Ini adalah ownership atas pilihan saya. Kreativitas saya. Waktu saya. Cerita saya.
Saya menghabiskan begitu banyak bagian dalam hidup saya untuk mendobrak batasan, dan sejujurnya, saya masih
melakukannya. Saya sudah membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya bisa masuk ke ruang-ruang yang dulu hanya bisa
saya impikan.
Namun, yang sangat menarik dari era ini adalah sekarang saya membangun ruang saya sendiri. Dan saya membangunnya
bersama orang-orang yang dulu hanya bisa saya impikan untuk bekerja sama. Isn’t that crazy? Haha.
Ada masa ketika saya hanya bermimpi bisa berada di satu ruangan bersama orang-orang tersebut. Sekarang kami duduk
bersama, membangun sesuatu bersama, menciptakan sesuatu bersama.
Bagi saya, itulah ownership. Bukan hanya tentang akhirnya mendapatkan kursi di meja milik orang lain. Ini
tentang mampu membangun meja Anda sendiri—lalu memilih dengan siapa Anda ingin membangunnya.
CREDITS
Photography: Glenn Prasetya at Studio 47
Fashion Stylist: Dheniel Algamar
Text: Rayoga Akbar Firdaus / DA
Retoucher: Nugroho Adi at Studio 47
Photo Asst: Nugroho Adi, Bandi Ahmad at Studio 47
Set & Props: Reihan, Risky
Assistant Fashion Stylist: Elizabeth Alicia Terisno, Aurel Naila
Makeup: Rhay David
Hair: Kiefer Lippens
Location: Studio Empat Tujuh
Cover Layout: Rhani Shakurani, Lingga Adhinagara
Web Developer: Sulthan Taqi Rabbani
Cover Look: Coat, Lanvin; boots, Stuart Weitzman.
© 2026 Cosmopolitan Indonesia