Stronger Together

Cinta selalu punya definisi yang luas bagi siapa pun yang memaknainya. Dan pada kisah cinta Mikha Tambayong bersama Deva Mahenra, kita tidak hanya mendengar kisah trope friends to lovers yang manis, tetapi bagaimana pada akhirnya dua pribadi dengan background kehidupan yang berbeda ini bertemu, merangkul kasih dan saling bertumbuh menjadi satu.

Tafsir tentang cinta selalu punya bentuk yang beragam dan subjektivitas yang luas bagi siapa pun yang memaknainya. Kehadirannya yang pun membawa berbagai macam emosi yang menebar tawa dan juga perih di saat yang bersamaan. Begitu banyak definisi tentang cinta dan merasakan cinta yang sesungguhnya. Hingga membuat Cosmo tertarik untuk mendengar cerita dan sudut pandang lain tentang cinta pada pasangan yang selalu berhasil membawa energi positif bagi siapa pun yang melihatnya: Mikha Tambayong dan Deva Mahenra.

Tahun lalu, saat sesi press conference film Setetes Embun Cinta Niyala bersama Netflix (di mana Deva Mahenra menjadi pemeran utamanya), saya melihat bagaimana support dari Mikha begitu nyata. Ia menyempatkan diri untuk hadir dan mendukung sang suami. Hal-hal yang terus tersimpan di otak saya, bahwa aksi manis ini adalah bentuk cinta yang indah bagi sepasang suami istri yang berkecimpung di dunia hiburan penuh spotlight bagi pelakonnya.

Tapi mari kita flashback kembali, kisah cinta Mikha dan Deva tumbuh secara organik. Datang dari persahabatan sebelum resmi berpacaran hampir tiga tahun sebelum memutuskan untuk serius masuk ke jenjang pernikahan pada 28 Januari 2023 silam. “Sebelum memutuskan untuk menjadi pasangan, kami mulai dari partner kerja, lalu berteman, bahkan sempat jadi brand ambassador sebuah brand bersama,” jelas Mikha tentang runutan proses kisah cinta keduanya.

“Proyek pertama kita iklan bareng lalu ada kesempatan main film bersama juga dan syuting di luar negeri. Deva juga kenal dan bestie sekali dengan Alm. mama saya. Kita sempat lama juga tidak bertemu dan berkomunikasi ya? Lalu saat kita bertemu lagi dan connect! Seiring dengan berjalannya waktu kami memutuskan untuk menjadi pasangan. Bahkan kayaknya saat itu tidak ada agenda tembak-menembak segala deh. Hubungan ini bisa terjadi mungkin karena saat itu kami sudah berada di usia yang sama-sama matang,” terang Mikha.


Dave-Mikha Kemeja, jaket dan celana jeans, Valentino;; jam tangan, Bvlgari; (Mikha) Atasan dan celana, Valentino. Kursi, Pring Studio.

Ryan Ogilvy sang makeup artist yang memoles wajah Mikha dan Deva juga ikut tersenyum saat mendengar sesi interview Cosmo ini. Ia adalah salah satu saksi bagaimana kisah cinta keduanya berjalan dan bertumbuh seiring berjalannya waktu.

Saat photoshoot ini berlangsung, pasangan ini baru saja pulang dari liburan ke Seoul, Korea Selatan untuk merayakan wedding anniversary mereka yang ketiga. Selain apa yang Anda lihat dari Instagram pribadi keduanya (bersiaplah untuk merasa jealous dengan chemistry manis keduanya!), ternyata ada cerita manis yang hadir dari momen liburan kedua insan yang sama-sama berkecimpung di dunia hiburan Tanah Air tersebut. Tentang bagaimana ternyata pasangan berzodiak Aries (Deva) dan Virgo (Mikha) ini dalam mempersiapkan keberangkatan mereka secara mendadak di awal tahun 2026 silam. “Liburan kali ini memang cukup random sekali, di awal tahun 2026 kita memutuskan untuk liburan. Kali ini kita ingin suasana yang berbeda, itu mengapa kita memilih Seoul,” ujar Mikha dengan ceria.

“Kita memang jarang planning trip dari jauh-jauh hari. Karena realistis saja, apalagi kalau sedang ada syuting belum lagi di fase post production dan schedule lain. Akan sulit memang untuk merencanakan semuanya dari jauh-jauh hari. Makanya saat ada waktu yang pas, kita langsung berangkat. Dan wedding anniversary kali ini spesial karena sedang winter,” tambah Deva.

Sesi interview hari itu bersama Mikha dan Deva sejatinya seperti sebuah obrolan menarik tentang memaknai cinta dengan sudut pandang baru. Tentang cinta yang pada akhirnya bertemu dan menyatu, menjadikan kita sebagai rumah untuk pulang dari balik dunia penuh spotlight. Ada canda dan tawa yang menghangatkan hati bercampur kekaguman yang besar antara satu sama lain.

Love is in the air is real! Melalui percakapan Cosmo bersama keduanya, mari menyimak point of view dari Mikha Tambayong dan Deva Mahenra tentang cinta yang menyatukan mereka.

Hai Mikha & Deva, sedang sibuk apa?
Deva: Sekarang saya sedang bersantai menikmati waktu istirahat. Jadi memang setelah proyek Ipar adalah Maut the Series selesai, saya mengobrol dengan management untuk memutuskan mengambil waktu istirahat sejenak. Sebelum masuk ke persiapan persiapan promo series terbaru saya di Netflix.

Mikha: Sebenarnya ada alasan tersendiri mengapa Deva break. Kita berdua selalu berusaha kalau yang satu sedang ada proyek besar dan serius, maka yang satunya untuk tidak mengambil proyek yang sama-sama heavy. Sebisa mungkin kami menerapkan hal tersebut dan sejauh ini bersyukur kita bisa me-manage itu. Kalau saya sendiri saat ini sedang akan persiapan film dan album juga. Di album terbaru saya ini, saya juga ikut berpartisipasi sebagai Co-Producer dan songwriter. Jadi di album kali ini saya lumayan in charge, makanya kali ini gantian suami saya sedang full support. Kemarin saat ia yang full syuting dengan jangka waktunya panjang, saya yang menemani.

Deva: Karena kalau syuting kan waktunya memang panjang dan habis di lokasi syuting. Anyway kita juga sedang membangun sports center berupa lapangan padel yang rencananya akan dibuka dalam waktu dekat.

Ini menarik karena kalian berdua adalah pasangan yang sama-sama mencintai olahraga!
Mikha: Founder utamanya suami saya, saya ikut support, haha.. Saat ia mengajak saya, saya juga suka ide tersebut. Keinginan kita berdua memang ingin membangun infrastruktur olahraga dan involve di ekosistem olahraga. Dimulai dari membangun lapangan badminton, lalu lapangan padel kali ini. Mungkin selanjutnya bisa fokus pada sesuatu yang lebih akademik.

Deva: Tidak bisa dipungkiri memang itu juga karena kesiapan dari masing-masing kami. Begitu bertemu dengan orang pas, ya sudah langsung gas! Pacaran kena pandemi 3 tahun.


Dave-Mikha (Deva dan Mikha) Outer, kemeja dan celana, STUDIO 133 BIYAN.

Happy 3rd wedding anniversary! Kalian baru saja kembali dari berlibur ke Korea Selatan untuk merayakannya. Apakah ada kisah seru selama di sana dan memilih negara tersebut?
Mikha: Ini untuk pertama kalinya kita ke Korea bukan buat pekerjaan ya? Karena terakhir kita ke sana untuk Busan Film Festival.

Deva: Itu kenapa kita memutuskan berangkat ke Seoul, karena Mikha sudah pernah beberapa kali ke sana sedangkan saya belum pernah. Sementara Busan dan Seoul ternyata vibes-nya berbeda sekali.

Mikha: Yang serunya karena kita liburan, jadi tidak ada itinerary yang terlalu serius. Tentu berbeda kalau kita bekerja ya. Kita menjalani liburan kali ini dengan bersantai penuh bersama papa saya. Rasanya sungguh rileks bisa menikmati waktu sambil jalan dan makan. Karena saya suka sekali musim dingin, jadi saya enjoy sekali di liburan kali ini. Meski ternyata Seoul se-dingin itu!

Deva: New York dan Korea di bulan yang sama dinginnya benar-benar beda!

Mikha: Saya juga sempat saya memaksa Deva dan papa saya menggunakan foto lalu kita ke Gyeongbokgung Palace. Lucunya kita agak jumpa fans ya di tempat rental hanbok, karena banyak orang Indonesia, Brunei dan Filipina di sana. Banyak yang kalau melihat Deva, pada memanggil “Mas Aris.. Mas Aris!” 1. Sampai orang hanbok rentalnya juga minta foto bersama karena melihat banyak yang minta foto. Itu kenangan yang lumayan memorable.

Selanjutnya, apakah kalian sudah berdua sudah memiliki rencana untuk berkunjung ke destinasi impian berikutnya? Negara mana yang ingin Mikha dan Deva kunjungi sebagai pasangan?
Mikha: Kemana sayang? Saya ingin bisa melihat aurora sih. Tapi itu sepertinya lumayan sulit karena ada bulan-bulannya, kan. Jadi memang mencari waktu yang pas, karena setiap bulan aurora muncul eh kita berdua yang tidak bisa. Selanjutnya, mungkin Eropa kali ya? Karena beberapa destinasi Asia sudah sempat kita kunjungi. Saya juga ingin mengajak suami saya nonton konser BTS. Mungkin bisa nonton di luar negeri biar sekalian liburan.

Deva: Kayaknya saat itu terjadi, saya cuma sampai di depan pintu gerbang konsernya deh, haha..

Kalau begitu Deva sudah harus siap menghafal lagu BTS dan nama-nama membernya.
Deva: Sekarang saya cuma tahu 1 nama member BTS, Jung Kook! Oh tapi SUGA juga keren!

Menurut kalian, selain cinta dan komitmen apa hal yang paling esensial dalam pernikahan dan hubungan ini?
Deva: Respect. Itu adalah hal yang penting untuk dijaga. Karena semakin lama kita kenal dengan seseorang, tentu itu mengikis banyak layer perasaan. Bagi saya meski terus bersama dengan orang tersebut dalam waktu yang lama, respect harus berada di tempat yang sama. Respect mengajarkan kita untuk bisa memaklumi banyak hal. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa di dalam hubungan ini, kami juga bertumbuh dan mengalami perubahan dalam cara berpikir. Kalau respect-nya ada, saat pasangan saling bertumbuh kita tidak akan terkejut dengan perubahan yang ada dan menimbulkan masalah baru.

Mikha: Saya setuju. Respect adalah yang pertama. Lalu yang kedua adalah semakin bertambah usia dan banyak melihat di sekeliling, yang tak kalah penting adalah memiliki sense of humor dalam hubungan. Tujuannya supaya hubungannya tetap fun apalagi saat hubungan ada di fase yang berat. Untuk bisa saling tertawa bersama itu adalah privilege buat saya, karena tidak semua orang bisa melakukan itu. Itu penting! End of the day kita bersama dengan orang tersebut dalam waktu yang lama. Saya tidak bisa membayangkan jika harus berada dalam hubungan di mana kita tidak bisa saling tertawa dan bercanda bersama. Deva itu pelawak. Setiap saya marah atau ngomel, ia cuma ketawa. Dan itu bisa membuat saya jadi tidak marah lagi.

Deva: Dulu waktu pacaran, kalau Mikha marah saya juga bisa ikutan lebih marah balik. Sekarang saya merasa tidak ada poinnya kalau marah dilawan marah. Jadi ya makanya saya lebih memilih untuk tertawa saja.

Pada akhirnya dalam hubungan harus terutama ketika terjadi konflik, harus tetap ada satu pihak yang saling mengalah…
Mikha: Iya betul. Sekarang kalau Deva juga sedang marah, saya juga cuma diam saja. Kalau dulu masih bisa baper. Sekarang ujung-ujungnya ikut tertawa. Karena mungkin masa pengenalan kita juga lumayan lama, jadi itu membantu kami saling mengenal karakter asli pasangan.

Deva: Hidup itu tidak sudah banyak masalah dan ribet. Jadi kita sebisa mungkin laid back saja.


Dave-Mikha (Deva) Jas dan celana jeans, CELINE, kalung dan jam tangan, Bvlgari. (Mikha) Atasan dan rok, CELINE;anting dan gelang Bvlgari. Kursi, Pring Studio.

Kini pernikahan kalian memasuki tahun ketiga. Masih adakah kebiasaan atau sifat dari pasangan yang terus kalian pelajari dan mungkin membuat kalian masih saling mencoba beradaptasi satu sama lain?
Deva: Kalau dari saya, yang paling notice Mikha. Dulu saya gampang ke-trigger dengan emosi Mikha yang kadang suka berubah-ubah.

Mikha: Padahal dari dulu saya memang tipe yang santai ya.

Deva: Mikha itu lebih tidak peduli sih, haha.. Itu dua hal berbeda.

Mikha: Sekarang saya lebih peka. Saya belajar dari Deva, ia sangat observant. Ia bisa tahu, “Kayaknya orang ini tidak nyaman deh”, atau hal-hal yang harus menggunakan kepekaan lainnya. Sementara di sisi lain, saya dulu tidak punya sense seperti itu.

Deva: Saya orangnya sangat sensitif sekali.

Mikha: Sedangkan saya orangnya bodo amat. Tapi semenjak sama ia, Deva tidak pernah mendikte saya harus ini dan itu. Namun, saya belajar dari melihat caranya memperlakukan sekitar. Dan belajar memerhatikan perasaan orang lain. Yang paling noticeable dari diri saya itu. Saya juga belajar mengungkapkan perasaan saya. Sebab ternyata tidak baik juga karena pasangan tidak tahu apa yang salah dari dirinya dan faktor yang membuat kita kesal. Sekarang saya harus membicarakan hal itu dan ternyata ya, dalam hubungan kita tidak selalu bisa menghindari konflik. Semuanya harus dibicarakan bersama agar clear Sekarang Deva juga lebih santai, tidak mudah tersulut emosi.

Bagaimana cara kalian mengatasi ada kemungkinan bahwa dalam pernikahan, cinta terkadang bisa bukan lagi berada di posisi nomor satu yang melandasi hubungan?
Deva: Sejak awal kita memutuskan untuk bersama, kami berdua sudah saling tahu bahwa kita berdua tetaplah individu yang tidak berhenti bertumbuh. Seiring berjalannya waktu tentu karakter akan bertumbuh, pemahaman kita atas sesuatu jadi berbeda dan cara memperlakukan cinta pada akhirnya akan ikut berbeda. Tapi rumusnya simple buat kami berdua yaitu kembali lagi respect antar pasangan harus selalu ada. Respect seperti membungkus segala bentuk perasaan entah itu marah, kesal, bosan itu tidak menjadi menyakitkan satu sama lain. Tapi jadi hal yang bisa kita toleransi bersama.

Mikha: Buat saya pribadi, makna cinta itu tidak pernah berubah dari awal. Cinta itu komitmen. Dan segala yang ada di sekitarnya bisa berubah, perasaan itu tumbuh dan berubah. Tapi dari awal buat saya cinta itu komitmen. Komitmen untuk saya memilih pasangan setiap hari. Itu adalah janji saya terhadap pasangan dan Tuhan. Mau apapun yang terjadi kembali lagi itu adalah komitmen saya saat menjalani hubungan ini.

Deva: Luar biasa! Love it! (tepuk tangan).

Sebagai pasangan yang ada di industri hiburan dan hidup penuh sorotan, kalian termasuk couple yang jauh dari terpaan gosip. Bagaimana cara kalian saling bekerja sama untuk membuat hubungan yang sehat dan menghindari gosip-gosip tersebut?
Deva: Kita berdua itu sangat memilih membagikan momen mana yang harus dibagikan kepada publik dan orang lain. Tetapi most of the time, momen yang kita pilih untuk dinikmati sendiri. Kita tidak ingin apapun yang terjadi pada hidup kita menjadi konsumsi untuk publik secara terus menerus. Karena kembali lagi kita ingin ada limitasi untuk tidak selalu menampilkan apapun tentang hubungan ini. Kalau kita harus menampilkan sesuatu, biasanya itu telah kami pilih dan sesuatu yang positif. Bukan berarti juga hubungan kami selalu baik-baik saja ya. Karena menurut saya, paparan sosial media dan internet yang paling negatif bisa ada di sana. Kita tidak ingin juga menyumbang hal negatif di sana. Kami ingin menunjukkan bahwa there is a hope for relationship.

Mikha: Sebelum saling mengenal kita sudah menjadi pribadi tersendiri di dunia entertainment. Kita berdua sudah tahu seperti apa konsekuensi terjun di industri ini. Tetapi ketika pulang ke rumah, kami akan kembali menjadi sepasang suami dan istri seperti pada umumnya. Justru itu yang kita butuhkan untuk selalu grounded. Di luar kita memang publik figur dan punya konsekuensi menjadi terkenal tapi ketika pulang kita selalu bisa jadi diri sendiri tanpa embel-embel keartisan yang dipunya. Itu yang membuat relationship terasa spesial karena kita selalu punya tempat dan orang yang membuat kita bisa menjadi diri sendiri tanpa harus memikirkan banyak hal.


Dave-Mikha

Sebagai sesama aktris dan aktor. Apakah kalian juga saling memberi saran akting satu sama lain? Atau menyaksikan bagaimana satu sama lain saling memberi pendekatan pada akting?
Mikha: Kalau saya pribadi, saya biasa ngobrol dengan Deva untuk urusan bank emosi. Karena saya terkadang suka cuek kan dan jarang punya banyak emosi.

Deva: Mikha tuh AI tau!

Mikha: Tembok banget memang, haha.. Kadang misalnya saya bertanya, untuk scene sedih ini harus bagaimana ya? Sebab Deva, secara pengalaman hidup lebih banyak karena dia perantau dan sudah lama hidup sendiri. Ia begitu survive untuk hidupnya. Itu yang membuat bank emosinya jauh lebih banyak dibandingkan saya. Saya banyak bertanya juga tentang pengalaman hidup ke Deva untuk membantu pendalaman karakter.

Deva: Biasa yang kami diskusikan lebih ke arah input-input yang meyakinkan, apakah benar kamu memang ingin mengambil proyeknya? Apakah kamu benar-benar suka karakternya? Lebih ke arah sana. Karena sebagai pasangan, tentu kami ingin melihat ia bisa menjadi versi terbaiknya.

Mikha: Benar, diskusi kita juga tidak hanya dalam urusan mengambil karakter. Kita berdua juga berdiskusi dalam hal tidak mengambil proyek yang datang. Tahun lalu saya sempat merasa overwhelmed dan burnout, lalu Deva mengingatkan untuk istirahat saja dan fokus kembali ke musik karena waktunya bisa lebih fleksibel. Dan menurut saya itu juga penting untuk mengingatkan satu sama lain untuk mengambil waktu beristirahat. Itu privilege buat kita berdua juga. Karena pekerjaan ini kalau kita ambil waktunya bisa berbulan-bulan, membuat kita tidak punya waktu pada diri sendiri dan keluarga. Saat sudah selesai kita selalu berdiskusi. Terutama Deva ke saya sih, karena sebagai perempuan lebih sering capek dan butuh me time. Apalagi kalau pria kan me time-nya gampang. Buat Deva ia cukup main games. Kalau perempuan kan lebih kompleks.

Apakah setiap memilih sebuah peran dan proyek, kalian juga saling berkomunikasi dan berkonsultasi satu sama lain?
Mikha: Sebenarnya kita respect each other dan boundaries sebagai pasangan dan dunia kreatif masing-masing. Kita paling hanya diskusi tentang “menurut kamu bagaimana kalau aku ambil proyek ini?” dengan POV yang berbeda sebagai istri dan aktor. Kacamatanya dua. Tapi mostly kita pakai kacamata sebagai sesama aktor. Kalau sebagai suami istri, kami sangat membebaskan proyek yang diambil. Sebagai istri saya malah ikutan bahagia ia bisa mengambil proyek yang benar-benar ia senangi. Saya juga bisa mendukung dan memberi POV sebagai sesama aktor. Dari pacaran tidak pernah seperti itu.

Dulu Cosmo pernah interview Mikha dan ia bilang kalau sebagai anak tunggal ada kalanya menyelesaikan semua hal sendiri karena tidak suka merepotkan orang lain. Buat Deva, apakah ini sempat jadi suatu hal yang challenging karena sifat dasar pria yang senang pasangannya bisa mengandalkan dirinya?
Deva: Tidak. Justru karena di fase perkenalan saya sudah tahu dari awal karakternya seperti itu. Saya bisa menerimanya, toh menurut saya itu juga bukan hal yang buruk. Saya anggap ia memang bisa melakukan banyak hal secara mandiri.

Mikha: Jangan salah, saya juga tetap mengandalkan Deva. Ia sangat handy masalah domestik di rumah seperti misalnya urusan bola lampu.

Deva: Saya memang senang hal-hal yang berkaitan dengan mekanik kan.


Dave-Mikha (Deva dan Mikha) Outer, kemeja, celana dan sepatu, STUDIO 133 BIYAN.

Mikha, Deva selalu menulis caption yang manis dan deep di setiap postingan pencapaian Anda. Apakah Deva memang selalu seromantis ini?
Deva: Saya sebenarnya bukan orang yang romantis malah. Tapi dikombinasikan dengan minat menulis dan bahan menulis saya bagus maka jadilah tulisan itu.

Mikha: Deva itu bukan yang romantis seperti itu. Ada kalanya bunga juga saya yang request untuk beli, haha..

Adakah hal yang unexpected romantic yang pernah ia lakukan untuk Anda?
Mikha: Kalau hal yang unexpected banyak sekali. Misalnya saat kita berapa bulan pacaran saya diberikan kado Valentine. Tapi pas saya ulang tahun malah tidak diberi kado apa-apa, haha.. Buat Deva, tidak perlu menunggu ulang tahun atau momen tertentu sebenarnya untuk memberikan kado. Bisa tiba-tiba ia pulang kerja di mal beli charm bracelet karena teringat saya. Pas di Korea juga bertanya saya mau apa? Mau potong rambut? Kalau di Jakarta belum tentu. Random banget memang! Tapi ia jarang beli buat dirinya sendiri, kebanyakan beli untuk istrinya.

Deva: Sebenarnya saya tidak ingin apapun yang saya berikan jadi hal-hal yang dituntut. Kadang memang lagi ada occasion, ada waktu yang pas atau bahkan tidak ada sama sekali. Konsepnya kalau saya ingin berikan ya saya beri. Saya pernah random pulang main padel saya beli bunga buat Mikha. Begitu habis main masih ada waktu jadi saya mampir beli bunga.

Mencintai pasangan adalah hal yang penting. Tapi tentu kita juga tidak boleh melupakan rasa cinta pada diri sendiri. Bagaimana cara kalian belajar tetap mencintai diri sendiri meski dalam sebuah hubungan?
Deva: Kita berdua tidak pernah membatasi untuk melakukan sesuatu yang memang disukai. Kuncinya tetap lakukan apa yang diri kita sendiri cintai . Keep doing thing we love! Seperti saya yang random ingin tiba-tiba belajar bahasa Korea.

Mikha: Haha..

Deva: Terus Mikha yang arrange semuanya mulai dari cari guru. Random sekali ya?

Mikha: Itu memang adalah selalu kita diskusikan dari sebelum menikah. Deva selalu bilang, “Ingat kita walau menikah kita tetaplah pribadi yang punya interest berbeda-beda. And that’s okay! Tidak harus selalu dipaksakan sama.” Ada banyak hal yang kita berbeda misalnya saya suka pilates, tapi Deva mau pingsan pas coba sekali. Saya juga tidak bisa jadi gamer seperti Deva. Tapi meski begitu bukan berarti jadi masalah. Misalnya saya suka binge watch F1, Deva mungkin tidak suka. Tapi yang saya hargai, Deva selalu semangat mendengar cerita saya tentang F1. Sebaliknya ia juga selalu bercerita tentang games, saya memang tidak main tapi tetap excited untuk mendengarnya. Itu penting juga passionate tentang kesukaan satu sama lain. Bagi kami itu adalah salah satu bentuk mengapresiasi kesukaan pasangan. Kalau kamu happy, saya juga ikut happy!


Dave-Mikha

Apa best traits dan hal yang kalian kagumi satu sama lain sampai detik ini?
Mikha: Deva itu resourceful! Ia juga sangat knowledgeable yang membuat dirinya resourceful dan punya wawasan serta ilmu yang wow kok kamu tahu. Terlepas dari pengalaman dan background hidupnya. Deva itu juga suka sekali membaca artikel yang random dan itu membuat dia banyak ilmu. Selain itu ia juga punya Emotional Intelligence yang tinggi dan itu juga bagian dari resourceful dari dirinya banyak mulai dari secara emosi, pengalaman intelegensi.

Deva: Mikha itu pintar. Untuk orang yang sensitif dan perasa seperti saya, orang pintar itu perfect compliment. Dan saya tahu saya tidak sepintar ia. Dan itu yang membuat saya suka sama ia. Mikha itu pintar tau!

Mikha: Emang gitu sayang? Tapi kita selalu diskusi ya kita berdua sepertinya punya different kind of smart. Kalau Deva smart soft skill dan pengalaman hidupnya. Kalau saya mungkin dari sisi akademik. Mungkin itu yang membuat kita compliment each other.

Di tahun ini, apa goals yang ingin kalian raih baik sebagai pasangan maupun secara personal..
Deva: Kalau goals kita keep scoring! Maksudnya di karier kehidupan pribadi, relationship dan karier kalau kita breakdown kan semua ada checklist-nya. Maka kita make sure semuanya tercapai, yang tahu goals-nya kita berdua dan kita make sure yang kita mau semuanya tercapai.

Mikha: Betul keep scoring di segala hal. Sebab semakin bertambah usia rasanya tidak ada hal yang terlalu spesifik apa yang diinginkan. Dalam karier kami pun sudah memiliki tim jadi sudah ada goals tertentu yang ingin dicapai. Secara individual, checklist-nya sudah tidak terlalu banyak. Yang penting mau terus evolving,open minded dan adaptasi. Kita bersama-sama menjadi versi yang lebih baik sebagai individu dan pasangan,.

Terus, apa sih proyek akting favorit kalian dari satu sama lain?
Mikha: Saya punya cerita, Deva kan terkenal sekali lewat series Tetangga Masa Gitu?. Jujur saya belum pernah menonton series itu sampai sekarang. Tapi ada satu film Deva yang membuat saya merasa kagum sekali dengan aktingnya yaitu Sabtu Bersama Bapak. Saat menonton film itu saya bersama para perempuan di keluarga saya dan film itu sangat related. Itu pertama kali saya melihat aktingnya Deva. Sebelumnya saya hanya tahu Deva Mahenra sebagai aktor. Sampai sekarang, film Deva yang paling suka itu. Dan filmnya tentang keluarga juga kan. Film itu berkesan sekali untuk saya.

Deva: Proyek favorit dari Mikha? Semuanya, haha... Cuma yang paling membekas buat saya adalah Kepompong. Karena saya menonton itu zaman sekolah. Dari sekian cast saya sudah memerhatikan Mikha.

Jika kisah cinta kalian menjadi sebuah film, maka itu adalah film…..
Deva: Avatar!

Mikha: Benar Avatar, haha.. Karena itu satu-satunya film yang Deva mau ulang berulang-ulang kali. Saya tipe yang suka yang menonton film berulang kali, sedangkan Deva sebaliknya!

1. Nama peran Deva Mahenra dalam film Ipar adalah Maut dan Ipar adalah Maut the Series.




CREDITS


© 2025 Cosmopolitan Indonesia