Otak Kanan Lebih Dominan, Artinya?

Redaksi 2 ● 26 Oct 2026

Cosmo babes, pernah ikut tes kepribadian di media sosial yang menyebutkan bahwa kamu "dominan otak kanan"?

Biasanya hasilnya terdengar menyenangkan. Kamu kreatif, imajinatif, penuh intuisi, dan jago berpikir di luar kotak. Sementara si "dominan otak kiri" digambarkan lebih logis, rapi, dan analitis.

Wajar kalau kamu jadi penasaran, sebenarnya ini benar atau cuma seru-seruan?

Jawabannya cukup menarik. Istilah ini memang sangat populer, tapi penjelasan ilmiahnya tidak sesederhana yang sering kamu lihat di internet.

Yuk, kita kenali apa arti sebenarnya, supaya kamu tidak salah paham soal dirimu sendiri!


Otak Kanan Lebih Dominan, Artinya?


1. Maksud dari "dominan otak kanan"?

Menurut anggapan populer, otak kita terbagi dua sisi dengan tugas berbeda. Otak kanan dikaitkan dengan kreativitas, imajinasi, seni, dan intuisi. Otak kiri dikaitkan dengan logika, bahasa, angka, dan analisis.

Orang yang disebut "dominan otak kanan" dianggap lebih sering memakai sisi kreatifnya.

Makanya, orang dengan label ini biasanya digambarkan suka menggambar, menulis, bermusik, berpikir secara visual, dan lebih nyaman mengikuti perasaan daripada aturan yang kaku.

Baca juga: 8 Kesalahan Cuci Muka yang Sering Dilakukan 


2. Asal teorinya

Teori ini berawal dari penelitian ahli saraf Roger Sperry pada tahun 1960-an.

Ia mempelajari pasien yang kedua belahan otaknya dipisahkan lewat operasi, dan menemukan bahwa masing-masing sisi memang punya spesialisasi tertentu. Penelitian ini bahkan membawanya meraih Nobel pada tahun 1981.

Sayangnya, temuan tersebut kemudian disederhanakan secara berlebihan di budaya populer. Dari "kedua sisi otak punya spesialisasi" berubah menjadi "setiap orang punya satu sisi otak yang lebih dominan."

Nah, di sinilah mulai terjadi salah kaprah.


3. Menurut sains masa kini…

Ini bagian yang paling penting. Para ilmuwan menyebut anggapan bahwa seseorang punya otak kanan atau kiri yang dominan sebagai mitos.

Sebuah studi dari University of Utah yang diterbitkan pada tahun 2013 memindai otak lebih dari seribu orang, dan hasilnya tidak menemukan bukti bahwa seseorang lebih banyak memakai satu sisi otak dibanding sisi lainnya.

Faktanya, kedua belahan otak bekerja sama sepanjang waktu lewat jaringan saraf yang saling terhubung. Saat kamu melukis, sisi logikamu ikut bekerja. Saat kamu menghitung, sisi kreatifmu juga terlibat.

Jadi, tidak ada orang yang benar-benar "hanya otak kanan" atau "hanya otak kiri."

Baca juga: Apa Itu Arti ‘Mindfulness’ yang Sesungguhnya? 


4. Alasan mengapa hasil tes terasa cocok

Kalau teorinya sudah dipatahkan, kenapa hasil tesnya sering terasa pas?

Karena deskripsinya dibuat umum dan positif, sehingga mudah membuat kita merasa "ini aku banget!" Fenomena ini dikenal sebagai efek Barnum, yaitu kecenderungan menganggap deskripsi yang samar sebagai gambaran akurat tentang diri sendiri.

Selain itu, memang benar bahwa setiap orang punya gaya berpikir dan kecenderungan yang berbeda. Ada yang lebih suka berpikir visual, ada yang lebih nyaman dengan data dan struktur.

Hanya saja, itu soal kebiasaan dan latihan, bukan soal sisi otak tertentu yang lebih besar atau lebih aktif.


5. Cara menyikapinya yang tepat

Tidak ada salahnya menikmati tes semacam ini sebagai hiburan atau bahan refleksi. Kalau kamu merasa dirimu kreatif dan intuitif, rayakan sifat itu!

Yang perlu digaris bawahi adalah jangan jadikan label "otak kanan" atau "otak kiri" sebagai alasan untuk membatasi diri. Misalnya, "aku otak kanan, jadi pasti tidak bisa matematika."

Kemampuan apa pun bisa dilatih. Orang yang kreatif bisa belajar berpikir analitis, dan orang yang analitis bisa mengasah imajinasinya.

Otakmu jauh lebih fleksibel dari yang kamu kira, dan terus berkembang selama kamu mau belajar!

Baca juga: Deretan Makanan yang Cocok untuk Dikonsumsi Malam Hari, Tidak Memberatkan Lambung 



So, girls, “dominan otak kanan" memang terdengar keren dan mudah dipahami, tapi secara ilmiah itu lebih mirip mitos populer daripada fakta.

Kedua sisi otakmu bekerja bersama setiap saat, dan kreativitas maupun logika bisa dimiliki siapa saja.

Jadi, nikmati tesnya sebagai bahan seru-seruan, tapi jangan biarkan sebuah label menentukan seberapa jauh kamu bisa berkembang!


(Fishya Elvin/Images: Thirdman, KATRIN BOLOVTSOVA, and cottonbro studio on Pexels)