Memahami Artinya Life After Breakup, Istilah Putus Hubungan dari Gen Z

Redaksi 08 Apr 2026

Life after breakup merupakan salah satu istilah yang populer digunakan belakangan ini. Istilah tersebut kerap kali digunakan oleh para Gen Z, yang hendak menggambarkan situasi kehidupan mereka setelah mengakhiri suatu hubungan percintaan.

Kebiasaan atau momen dengan orang yang spesial dianggap tidak dapat dilakukan bersama lagi, karena berbagai faktor. Hubungan yang berakhir biasanya dapat membuat perasaan dan kebiasaan seseorang berubah.

Berikut, Cosmo ajak kamu memahami artinya life after breakup.

1. Apa itu life after breakup?

Putus atau mengakhiri suatu hubungan dengan seseorang yang kamu sayangi merupakan salah satu perasaan yang paling menyakitkan. Rasa sakitnya bahkan terasa lebih dalam jika semuanya berakhir secara tiba-tiba, terutama saat kamu tidak mengantisipasinya.

Namun kehidupan harus tetap berlanjut bukan? Fase selanjutnya, dikenal dengan istilah life after breakup. Dipopulerkan oleh para Gen Z, istilah ini menggambarkan masa setelah sebuah hubungan asmara berakhir. Fase ini merujuk pada kondisi emosional dan mental yang dialami seseorang usai putus cinta. Dalam periode tersebut, seseorang bisa merasakan berbagai emosi, mulai dari sedih, marah, dan penyesalan, hingga perasaan lega.

2. 6 Tahapan setelah putus

Setelah memutuskan suatu hubungan, orang-orang akan merasakan hal yang berbeda dari satu sama lainnya. Jika seseorang putus dari hubungan yang toxic, ia mungkin akan merasa lega dan bebas. Berbeda dengan orang yang tiba-tiba diputuskan ketika masih sayang, ia akan merasa sedih dan hancur.

Namun, secara umum, seseorang yang telah mengakhiri suatu hubungan akan merasakan duka atau kehilangan. Menurut David Kessler, seorang spesialis rasa duka, kini terdapat tahapan ke enam, yang merupakan lanjutan dari teori original milik Elizabeth Kubler-Ross, yang diperkenalkan pada tahun 1969.

Ke enam tahapan tersebut adalah penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, penerimaan, dan menemukan makna. Saat Babes melalui enam tahapan tersebut, tak apa untuk memiliki sistem pendukung–baik itu orang-orang terkasih atau keyakinan yang kamu miliki. 

3. Terima perasaanmu

Pada beberapa minggu pertama yang membingungkan, praktik menenangkan yang dapat kamu coba adalah menerima emosi apa adanya. Berakar pada terapi penerimaan dan komitmen (ACT), pendekatan ini mendorong kamu untuk merasakan tanpa menghakimi diri sendiri, membantu Babes memproses apa yang sedang dialami.

Daripada mencoba memperbaiki semuanya, fokuslah pada saat ini dan akui keadaanmu saat ini. Kamu dapat mengubah ini menjadi ritual harian singkat–luangkan beberapa menit tenang untuk duduk bersama perasaanmu, jujur ​​pada diri sendiri, dan biarkan emosi itu ada tanpa menganalisis atau menolaknya.

4. Fokus pada diri sendiri

Setelah mengakhiri hubungan, penting untuk kamu memberi diri ruang untuk beristirahat dari kewajiban sehari-hari dan memprioritaskan diri. Saat Babes mulai bergerak menuju penerimaan dan menemukan makna, ini juga bisa menjadi momen berharga untuk merenungkan dan menilai kembali nilai-nilai dan prioritas hidupmu.

Namun, jika kamu merasa terjebak, jangan ragu untuk mencari bantuan dari orang-orang di sekitarmu, bahkan seorang profesional.

5. Berolahraga

Sebuah poster di pusat kebugaran yang bertuliskan, “Saat tubuhmu sibuk, pikiranmu tidak,” merangkum bagaimana olahraga dapat membantu menjernihkan pikiran dan mengurangi stres. Penelitian juga mendukung hal ini, studi yang melibatkan hampir 20.000 orang menemukan bahwa aktivitas fisik dikaitkan dengan penurunan tekanan psikologis, bahkan dari tugas-tugas ringan seperti membersihkan atau berkebun.

Namun, memulai aktivitas fisik bisa terasa sulit, terutama saat kamu patah hati dan kekurangan energi. Wajar jika ingin menarik diri, jadi tidak perlu memaksakan diri terlalu keras. Mulailah dari hal kecil seperti berjalan kaki 10 menit setiap hari, kegiatan tersebut sudah dapat membuat perbedaan. Sedikit demi sedikit, gerakan membantu menurunkan kadar kortisol, yang dapat mengurangi stres.

6. Alihkan perhatian

Pengalihan perhatian dapat membantu menenangkan pikiran setelah putus cinta. Sebuah studi dari Universitas Missouri-St. Louis meminta peserta yang patah hati untuk mengalihkan fokus mereka dari perpisahan tersebut, ke hal-hal seperti musik, film, atau rencana perjalanan. Setelah melakukan ini, mereka melaporkan suasana hati yang lebih baik dan kesejahteraan secara keseluruhan.

Pengalihan perhatian nggak selalu harus dengan memikirkan hal-hal yang lebih menyenangkan. Kadang, cukup dengan melakukan aktivitas sederhana atau nonton film juga bisa bantu. Ini bukan berarti kamu mengabaikan perasaan atau berpura-pura hubungan itu nggak berarti, tapi lebih ke memberi jeda buat pikiran saat mulai overthinking. Kenangannya memang nggak akan hilang, tapi menjauh sebentar dari itu semua bisa bikin perasaan terasa sedikit lebih ringan.

7. Kurangi kebiasaan cek media sosial mantan

Setelah putus, seringkali ada keinginan kuat untuk terus cek media sosial mantan. Itu normal,tetapi akan lebih baik jika kamu menguranginya secara bertahap. Beberapa orang melacak seberapa sering mereka memeriksa dan menetapkan tujuan kecil untuk menguranginya dari waktu ke waktu.

Apakah akan tetap terhubung secara online atau tidak adalah pilihan pribadi. Bagi sebagian orang, menghapus apapun yang membuatnya teringat akan mantan, memudahkannya untuk move on, sementara yang lain tidak terpengaruh. Semuanya tergantung pada apa yang terasa tepat bagi mereka.

8. Hal yang Sebaiknya Dihindari Setelah Putus Cinta

Ada beberapa kebiasaan yang kelihatannya seperti “pelarian”, tapi justru bisa bikin proses move on jadi lebih lama, lho Babes. Coba untuk hindari hal-hal ini, deh.

  1. Jangan Ambil Keputusan Besar Secara Tiba-tiba
    Sebaiknya tunda dulu hal-hal besar seperti potong rambut ekstrem atau pindah tempat tinggal. Saat emosi masih naik turun, keputusan impulsif sering berujung penyesalan.
  2. Jauhi Zat Adiktif
    Mengandalkan alkohol atau zat lain mungkin terasa membantu sesaat, tapi efeknya nggak bertahan lama. Justru bisa memperparah kondisi emosional dalam jangka panjang.