Suka ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati'? Ini 5 Rekomendasi Novel Lain tentang Merayakan Kehidupan!
Cosmo babes, ada buku-buku yang tidak hanya kita baca, tapi juga kita rasakan. ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ karya penulis Indonesia Brian Khrisna adalah salah satunya.
Cerita yang sederhana, tapi diam-diam mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dan benar-benar hidup.
Kalau kamu suka buku dengan tema reflektif, menyentuh, dan penuh makna tentang kehidupan, 5 rekomendasi dari Cosmo ini bisa jadi “teman duduk” yang hangat.
Buku-buku ini tidak selalu bahagia, tapi mereka tahu cara mengingatkan kita bahwa hidup, dengan segala kekurangannya, tetap layak dirayakan.
Suka ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati'? Ini 5 Rekomendasi Novel Lain tentang Merayakan Kehidupan!
1. Sisi Tergelap Surga oleh Brian Khrisna

Kalau kamu sudah familiar dengan gaya penulisan Brian Khrisna, buku ini akan terasa seperti pulang.
‘Sisi Tergelap Surga’ membawa kita ke cerita yang lebih kelam, tapi tetap penuh refleksi tentang hidup, luka, dan harapan.
Ceritanya menggali sisi manusia di sisi Jakarta yang jauh dari ingar-bingarnya. Tentang berbagai macam manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda, sehingga memberikan kita perspektif kehidupan yang lebih luas.
Buku ini akan mengajak kamu berdamai dengan sisi gelap dalam diri, dan menemukan cahaya kecil di tengahnya.
Baca juga: Deretan Soundtrack 'Boyfriend on Demand' Yang Wajib Kamu Dengarkan
2. I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki oleh Baek Se-hee

Judulnya mungkin terdengar kontras, tapi justru di situlah kekuatannya.
Buku ini adalah kumpulan percakapan antara penulis dan terapisnya, membahas kecemasan, overthinking, dan rasa hampa yang sering sulit dijelaskan.
Bahasanya ringan, jujur, dan sangat relatable, seperti membaca isi pikiran sendiri.
Buku ini akan mengingatkan kita bahwa tidak apa-apa merasa tidak baik-baik saja, selama kita tetap memilih untuk bertahan… bahkan jika itu hanya karena hal kecil seperti seporsi tteokbokki.
3. The Midnight Library oleh Matt Haig

Bagaimana kalau kamu bisa mencoba semua versi hidup yang tidak kamu pilih?
Novel ini mengikuti Nora yang menemukan perpustakaan misterius di antara hidup dan mati, di mana setiap buku adalah kemungkinan hidup yang berbeda. Dari sana, ia mulai memahami arti penyesalan, pilihan, dan kesempatan kedua.
Karena buku ini akan membuat kamu melihat hidup dengan perspektif baru, bahwa tidak ada hidup yang benar-benar sempurna, dan mungkin, yang kamu jalani sekarang sudah cukup berarti.
Baca juga: Suka Buku Keigo Higashino? Ini Dia Penulis Buku Misteri Lain yang Harus Kamu Baca…
4. Days at the Morisaki Bookshop oleh Satoshi Yagisawa

Novel ini terasa seperti pelukan yang tenang. Mengisahkan seorang perempuan yang “melarikan diri” dari hidupnya dan menemukan ketenangan di toko buku kecil milik pamannya.
Tidak banyak konflik besar, tapi justru di situlah keindahannya. Cerita ini bergerak pelan, mengajak kita menikmati momen sederhana, seperti membaca, diam, dan menyembuhkan diri.
Buku ini mengajarkan bahwa hidup tidak harus selalu bergerak cepat. Kadang, berhenti sejenak adalah cara terbaik untuk kembali menemukan diri. Seperti di perpustakaan!
5. Tuesdays with Morrie oleh Mitch Albom
[]
Sebuah kisah nyata yang sederhana tapi sangat menyentuh. Buku ini mengikuti pertemuan rutin antara Mitch dan mantan dosennya, Morrie, yang sedang menghadapi akhir hidupnya.
Dari percakapan mereka, kita belajar tentang cinta, kehilangan, pekerjaan, dan arti hidup yang sebenarnya.
Buku ini seperti pengingat lembut bahwa hidup bukan tentang seberapa sibuk kita, tapi tentang seberapa dalam kita mencintai dan menghargai waktu yang ada.
Baca juga: Suka ‘The Poppy War'? Ini 5 Rekomendasi Novel Lain dari R. F. Kuang!
So, girls, buku seperti Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati tidak hanya bercerita, tetapi mereka juga menemani.
Daftar di atas mengingatkan kita bahwa hidup tidak harus besar untuk berarti. Kadang, kebahagiaan hadir dalam hal-hal kecil yang sering kita lewatkan.
Buku-buku ini mungkin tidak akan langsung mengubah hidupmu. Akan tetapi, mereka bisa membuatmu berhenti sejenak, menarik napas, dan berkata, “Oh… ternyata hidupku tidak seburuk itu.”
Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup!
Happy reading, Cosmo babes~
(Fishya Elvin/Images: Nam Phong Bùi from Pexels and Goodreads)