Mengenal Istilah ‘Male-Centered Girl’, Apakah Kamu Salah Satunya?

Redaksi 2 21 Jul 2026

Cosmo babes, belakangan ini, istilah ‘male-centered girl’ makin sering muncul di media sosial dan jadi bahan obrolan yang cukup ramai.

Tapi sebenarnya, apa sih artinya? Dan yang lebih penting, apakah tanpa sadar kamu atau orang di sekitar kamu termasuk di dalamnya?

Secara sederhana, male-centered girl adalah perempuan yang nilai-nilai, minat, pilihan, bahkan keinginannya seringkali berputar di sekitar laki-laki. Tujuan utama mereka, secara sadar atau tidak, adalah mencari validasi dan persetujuan dari laki-laki.

Ini bukan soal tertarik sama cowok ya girls, karena kalau begitu semua menjadi wajar. Tapi hal ini lebih ke arah menjadikan pandangan laki-laki sebagai pusat dari identitas dan cara pandang mereka terhadap dunia.

Tapi sebelum masuk ke ciri-cirinya, penting banget untuk mengerti terlebih dahulu dari mana pola ini sebenarnya datang.


Dari Mana Pola Ini Datang?


Coba ingat-ingat lagi, kamu pernah tidak mendengar kalimat seperti ini waktu kecil, "Belajar masak yang benar, nanti gak ada cowok yang mau sama kamu." atau "Duduk yang sopan, nanti gak ada laki-laki yang suka."

Kalimat-kalimat kecil yang kelihatannya cuma nasihat biasa itu, ternyata punya dampak yang jauh lebih besar dari yang kita sadari.

Tanpa disengaja, pesan yang ditanamkan sejak kecil adalah bahwa nilai seorang perempuan diukur dari seberapa dia diinginkan oleh laki-laki.

Masak bukan untuk diri sendiri, tapi untuk dapat pasangan. Berpenampilan rapi bukan untuk rasa percaya diri, tapi untuk dilirik laki-laki.

Padahal, kalau pesannya diganti menjadi, "belajar masak supaya bisa makan enak dan hidup mandiri", hasilnya jauh berbeda.

Perempuan tumbuh dengan pemahaman bahwa kemampuan itu untuk dirinya sendiri, bukan untuk memenuhi standar orang lain.

Inilah yang disebut para psikolog sebagai internalized male gaze, yaitu kondisi di mana perempuan tanpa sadar sudah menjadikan sudut pandang laki-laki sebagai standar utama dalam menilai diri mereka sendiri.

Dan ini bukan salah perempuan itu sendiri kok. Ini adalah hasil dari pola pengasuhan dan norma sosial yang sudah berlangsung lama dan perlu kita sama-sama sadari, girls.

Nah, sekarang yuk kenali ciri-cirinya!


Mengenal Ciri-ciri ‘Male-Centered Girl’

1. Selalu butuh validasi dari laki-laki

Perempuan dengan pola male-centered cenderung mengukur harga dirinya dari seberapa banyak perhatian atau pujian yang dia dapat dari laki-laki.

Pilihan gaya berpakaian, cara bicara, bahkan hobi pun bisa berubah-ubah tergantung siapa cowok yang lagi ada di sekitarnya.

Kalau cowok itu suka sepak bola, tiba-tiba dia juga jadi penggemar bola. Bukan karena memang suka, tapi karena ingin terlihat relevan di mata dia.

Baca juga: Mengenal Pola Avoidant dalam Hubungan


2. Melihat perempuan lain sebagai kompetitor

Salah satu tanda paling khas dari male-centered girl adalah kecenderungan merendahkan perempuan lain, terutama saat ada laki-laki di sekitarnya.

Mereka ingin jadi satu-satunya yang dipandang baik oleh laki-laki, sehingga perempuan lain dianggap sebagai saingan, bukan teman.

Kalau kamu sering merasa tidak nyaman saat teman perempuanmu mendapat perhatian dari cowok yang sama, ini bisa jadi salah satu sinyal yang perlu kamu refleksikan.


3. Selalu prioritaskan laki-laki di atas segalanya

Mereka cenderung selalu ingin berada di dekat laki-laki, bahkan rela meninggalkan girls night atau membawa laki-laki ke acara yang seharusnya khusus perempuan, karena buat mereka kehadiran laki-laki jauh lebih penting daripada waktu bersama teman perempuan. 

Pertemanan sama sesama perempuan sering jadi nomor sekian, dan hubungan itu hanya terasa penting kalau ada kaitannya dengan laki-laki.

Baca juga: Cara Berdamai dengan Hubungan yang Tidak Bisa Kembali


4. Topik pembicaraan selalu berujung ke laki-laki

Kalau semua percakapan, tanpa terkecuali, selalu berputar ke topik tentang laki-laki, itu bisa jadi pertanda.

Bahkan dalam konteks film pun, mereka mungkin tidak akan lolos ‘Bechdel Test’, yaitu standar di mana dua perempuan harus setidaknya punya satu percakapan tentang topik selain laki-laki.

Membicarakan karir, mimpi, atau hal-hal lain di luar hubungan terasa hambar kalau tidak ada unsur laki-laki di dalamnya.


5. Identitasnya berubah tergantung laki-laki yang dia dekati

Male-centered girl sering membentuk seluruh identitas dan cara pandangnya agar sesuai dengan selera laki-laki yang sedang dia tuju.

Ini yang membuat mereka seringkali terlihat tidak konsisten. Kepribadiannya seperti mengikuti siapa yang sedang ada di depannya, bukan benar-benar mencerminkan dirinya sendiri.

Baca juga: Kata-kata untuk Pacar yang Lagi Sakit


Lalu, Apa Bedanya dengan ‘Pick-Me Girl’?

Dua istilah ini memang sering dipakai bergantian, tapi ada sedikit perbedaan nuansanya. Male-centered woman tidak melulu tentang perempuan yang terlalu patuh ke pasangannya. 

Ini juga bisa berupa perempuan yang tidak bisa menghargai batasan orang lain dan lebih memilih mendapat perhatian dari laki-laki daripada dari sesama perempuan.

Di sisi lain, pick-me girl lebih spesifik ke arah perempuan yang merendahkan sesama perempuan untuk terlihat "berbeda" atau lebih disukai laki-laki.


Jadi, Apakah Kamu Salah Satunya?


Sebelum langsung defensif, penting banget untuk diingat bahwa pola ini hampir selalu terbentuk tanpa disadari, dan seringkali berakar dari pesan-pesan kecil yang kita terima sejak kecil, seperti contoh tadi.

Jadi, ini bukan soal menghakimi ya girls, tapi soal mengenali dan memutus siklusnya.

Kalau kamu merasa beberapa poin di atas relate, itu justru langkah awal yang bagus. Perempuan yang sadar akan polanya sendiri adalah perempuan yang sedang bertumbuh.

Good luck, Cosmo babes!


(Fishya Elvin/Images: Cup of Couple, Ron Lach, and www.kaboompics.com on Pexels)