Rekomendasi Buku yang Dibaca Martin CORTIS

Redaksi 2 23 Jul 2026

Cosmo babes, sebelum CORTIS debut, sebelum nama Martin dikenal jutaan orang, Hwang Woo-joo, atau yang kini kita kenal sebagai Martin Jonathan Edwards, sudah sibuk menulis lagu untuk nama-nama besar di HYBE.

Mulai dari ‘Magnetic’ milik ILLIT, ‘Deja Vu’ dan ‘Beautiful Strangers’ milik TXT, ‘Pierrot’ milik LE SSERAFIM, sampai ‘Outside’ milik ENHYPEN, semuanya ada sentuhan tangan Martin di dalamnya. Dan ia belum genap 18 tahun!

Lahir 20 Maret 2008 dari ayah berdarah Kanada dan ibu Korea, Martin tumbuh sebagai sosok yang unik di dunia K-pop. Ia bukan hanya performer, tapi juga seorang kreator sejati. 

Selain musik, Martin dikenal suka menggambar, bermain synthesizer, dan tentu saja membaca.

Pilihan bukunya pun mencerminkan siapa dia, dimana ia bukan sekadar idol, tapi seorang seniman muda yang terus-terusan mencari cara untuk memahami dirinya sendiri dan proses kreatifnya.

Penasaran buku apa yang ada di reading list Martin? Yuk, kita intip!

Baca juga: Intip Bacaan Sunoo ENHYPEN, dan Rekomendasi Buku yang Mirip! 


Rekomendasi Buku yang Dibaca Martin CORTIS

1. The Subtle Art of Not Giving a F*ck oleh Mark Manson


Judulnya memang blak-blakan, tapi justru itulah yang membuat buku ini langsung menarik perhatian, persis seperti Martin yang dikenal jujur dan punya pendirian.

‘The Subtle Art of Not Giving a F*ck’ karya Mark Manson adalah buku self-help yang menolak formula self-help pada umumnya.

Buku ini tidak menyuruhmu untuk selalu positif, selalu semangat, atau selalu percaya bahwa kamu bisa mencapai segalanya. Sebaliknya, Manson berargumen bahwa hidup yang bermakna justru dimulai ketika kamu belajar memilih hal apa yang benar-benar layak kamu pedulikan, dan hal apa yang sebaiknya kamu lepaskan.

Untuk seorang Martin yang sejak usia muda sudah menanggung tekanan sebagai leader, produser, dan wajah dari grup debutan besar seperti CORTIS, pesan buku ini terasa sangat relevan…

… bahwa tidak semua ekspektasi perlu ditanggung, dan bahwa menjadi diri sendiri sering kali membutuhkan keberanian untuk tidak peduli pada hal-hal yang salah.

Baca juga: Rekomendasi Buku yang Dibaca Member BTS! 


2. The Creative Act: A Way of Being oleh Rick Rubin


Kalau ada satu buku di daftar ini yang paling mencerminkan sisi Martin sebagai seorang kreator, ini dia.

‘The Creative Act: A Way of Being’ karya Rick Rubin, seorang produser legendaris yang pernah bekerja sama dengan nama-nama seperti Jay-Z, Johnny Cash, Red Hot Chili Peppers, sampai Adele, adalah buku tentang apa artinya menjadi seorang seniman.

Tapi buku ini bukan panduan teknis tentang cara membuat musik atau karya seni. Rubin justru menulis tentang sesuatu yang lebih dalam, yaitu bagaimana cara hidup sebagai seorang seniman.

Mulai dari bagaimana cara membuka diri terhadap inspirasi, menghadapi hambatan kreatif, melepaskan ego dari proses berkarya, dan tetap setia pada visi kamu bahkan ketika dunia di sekitar kamu memiliki ekspektasi yang berbeda.

Buat Martin yang sejak remaja sudah terjun ke dunia produksi musik secara profesional, buku ini bukan sekadar bacaan. Rasanya pasti seperti menemukan bahasa baru untuk hal-hal yang selama ini ia rasakan tapi belum bisa ia ungkapkan.


3. No Longer Human oleh Osamu Dazai


Duh, kalau kamu sudah sering membaca artikel Cosmo tentang rekomendasi buku yang dibaca idol-idol K-Pop, nama Osamu Dazai pasti selalu muncul.

‘No Longer Human’ adalah novel yang terus-terusan ditemukan kembali oleh generasi muda yang punya kedalaman emosi dan rasa ingin tahu tentang kondisi manusia, dan Martin jelas masuk dalam kategori itu.

No Longer Human mengisahkan Yozo Oba, seorang pria yang sejak kecil merasa tidak mampu benar-benar memahami manusia di sekitarnya.

Karena takut dikucilkan, ia memilih untuk memakai topeng, mulai dari berpura-pura bahagia, berpura-pura cocok, berpura-pura normal.

Novel ini ditulis Osamu Dazai dengan cara yang sangat personal dan jujur sampai menyakitkan, karena sebagian besar ceritanya adalah refleksi dari hidupnya sendiri.

Buat Martin yang tumbuh antara dua budaya dan menemukan tempatnya di dunia yang sangat kompetitif seperti industri K-pop, tema tentang identitas dan rasa "tidak cocok" di buku ini mungkin terasa lebih dekat dari yang kita kira.

Baca juga: Rekomendasi Buku yang Dibaca Hyunjin Stray Kids 


So, girls, dari buku yang mengajak kita memilih prioritas dengan lebih bijak, panduan hidup sebagai seorang seniman dari salah satu produser terbesar di dunia, sampai novel Jepang klasik yang mempertanyakan apa artinya menjadi manusia… selera baca Martin ternyata dalam dan sangat mencerminkan siapa dirinya.

Kalau kamu ingin sedikit lebih dekat dengan cara berpikir leader CORTIS yang satu ini, tiga buku ini adalah titik awal yang sempurna!


(Fishya Elvin/Images: @cortis from Instagram and Goodreads)