Mengenal Istilah ‘Fearmongering’ dan Bagaimana Cara Menghadapinya

Redaksi 2 23 Jul 2026

Cosmo babes, scroll media sosial belakangan ini rasanya semakin membuat cemas bukan? 

Entah itu berita soal kesehatan yang bikin panik, konten yang membesar-besarkan bahaya suatu produk, atau postingan yang terus-terusan memperingatkan tentang sesuatu yang "katanya" sangat berbahaya, padahal faktanya belum tentu seperti itu.

Nah, kalau kamu sering merasa gelisah atau takut setelah membaca konten-konten seperti itu, ada kemungkinan kamu sedang jadi korban ‘fearmongering’.

Fearmongering secara sederhana adalah praktik menyebarkan rasa takut yang berlebihan, sering kali dengan cara membesar-besarkan risiko, memilih fakta yang sepotong-sepotong, atau bahkan menyebarkan informasi yang salah, dengan tujuan memengaruhi emosi dan keputusan orang lain.

Ini bisa muncul di mana saja, mulai dari media sosial, berita, iklan, bahkan obrolan sehari-hari.

Kalau tidak disikapi dengan bijak, fearmongering bisa membuat kamu terus-menerus hidup dalam kecemasan yang tidak perlu.

Untuk itu, yuk, kenali dan pelajari cara menghadapinya!


Mengenal Istilah ‘Fearmongering’ dan Bagaimana Cara Menghadapinya!


1. Kenali ciri-ciri konten fearmongering

Langkah pertama adalah belajar mengenali seperti apa fearmongering itu.

Beberapa tandanya yang paling umum antara lain judul atau konten yang sangat provokatif dan penuh kata-kata seperti "bahaya!", "waspada!", atau "segera hentikan!" tanpa penjelasan yang berimbang.

Selain itu, konten fearmongering biasanya hanya menyajikan satu sisi cerita, minim sumber yang kredibel, dan sering kali memicu respons emosional yang kuat sebelum kamu sempat berpikir jernih.

Semakin kamu terlatih mengenali pola ini, semakin mudah kamu menyaring mana informasi yang benar-benar penting dan mana yang hanya dirancang untuk membuat kamu panik.

Baca juga: Deretan Makanan yang Wajib Dihindari untuk Mencegah Perut Kembung 


2. Pause sebelum bereaksi

Salah satu trik paling ampuh untuk menghadapi fearmongering adalah memberi jeda antara kamu membaca sesuatu dengan kamu bereaksi terhadapnya.

Fearmongering bekerja paling efektif ketika kamu langsung terpancing secara emosional, seperti langsung merasakan panik, langsung share konten ke grup-grup, atau langsung mengambil keputusan berdasarkan rasa takut.

Coba biasakan untuk pause dulu setiap kali membaca konten yang membuatmu cemas. Tarik napas, dan tanya ke diri sendiri: "Apakah ini fakta atau opini? Apakah sumbernya terpercaya? Apakah aku sedang bereaksi dari rasa takut atau dari logika?

Pertanyaan-pertanyaan kecil ini bisa jadi filter yang sangat powerful untuk kamu.


3. Cari sumber informasi yang kredibel

Setelah menemukan konten yang membuat was-was, jangan langsung percaya begitu saja, apalagi kalau sumbernya tidak jelas.

Biasakan untuk cross-check informasi ke sumber-sumber yang lebih terpercaya, seperti situs resmi lembaga kesehatan, jurnal ilmiah, atau media berita yang punya reputasi baik.

Kalau kamu tidak sempat atau tidak yakin cara memverifikasinya, pilihan paling aman adalah menahan diri untuk tidak meneruskan informasi tersebut.

Ingat, menyebarkan konten fearmongering tanpa sadar juga berarti kamu ikut andil dalam menyebarkan rasa takut yang mungkin tidak perlu ke orang-orang di sekitarmu.

Baca juga: 8 Kesalahan Cuci Muka yang Sering Dilakukan 


4. Batasi konsumsi konten yang memicu kecemasan

Kalau kamu merasa media sosial atau konsumsi beritamu belakangan ini lebih banyak membuat cemas daripada memberi informasi yang berguna, itu tanda bahwa kamu perlu melakukan digital boundaries.

Kamu tidak harus tahu semua hal yang terjadi di dunia setiap saat, dan itu sepenuhnya oke.

Coba atur waktu konsumsi berita dan media sosialmu, unfollow atau mute akun-akun yang sering menyebarkan konten negatif dan menakutkan, dan ganti dengan konten yang lebih konstruktif dan positif.

Pilihanmu tentang apa yang masuk ke dalam kepalamu setiap hari sangat memengaruhi kondisi mentalmu secara keseluruhan.


5. Bicara dengan orang yang kamu percaya

Kalau kamu sudah terlanjur merasa cemas atau takut akibat konten fearmongering, jangan pendam sendiri.

Ceritakan ke teman, keluarga, atau orang yang kamu percaya. Karena terkadang, hanya dengan membicarakannya, rasa takut itu langsung terasa lebih ringan dan lebih mudah dilihat secara proporsional.

Selain itu, perspektif dari orang lain juga bisa membantu kamu melihat situasi dengan lebih jernih. Kadang kita butuh seseorang yang bisa bilang, "Hei, itu tidak semenyeramkan yang kamu pikir, kok" dan itu sudah cukup untuk memutus siklus kecemasan yang dipicu oleh fearmongering.

Baca juga: Mengenal Pola Avoidant di Dunia Kerja 



So, girls, fearmongering ada di mana-mana dan makin mudah menyebar di era media sosial seperti sekarang. Akan tetapi, kamu tidak harus jadi korbannya!

Dengan belajar mengenali cirinya, melatih diri untuk pause sebelum bereaksi, selalu cek sumber yang kredibel, membatasi konsumsi konten negatif, dan tidak ragu untuk cerita ke orang terdekat, kamu bisa menghadapi fearmongering dengan jauh lebih tenang dan bijak. 

Karena tidak semua yang membuat takut itu benar-benar perlu ditakuti!


(Fishya Elvin/Images: Tima Miroshnichenko, Liza Summer, and Ketut Subiyanto on Pexels)