Mengenal Istilah ‘Tall Poppy Syndrome’, Apakah Kamu Salah Satunya?

Redaksi 2 26 Jul 2026

Cosmo babes, pernah tidak kamu merasa tidak enak hati saat harus cerita soal pencapaianmu sendiri?

Atau justru pernah tanpa sadar ikut berkomentar sinis saat teman atau rekan kerja kamu sukses atau ketika mereka mulai ‘kelihatan’ di media sosial?

Kalau iya, kamu mungkin sudah bersinggungan dengan fenomena yang disebut ‘Tall Poppy Syndrome’.

Tall Poppy Syndrome (TPS) adalah istilah yang menggambarkan kecenderungan sosial di mana orang-orang yang menonjol, sukses, atau berprestasi justru dikritik, direndahkan, atau ‘dipangkas’ oleh lingkungan sekitarnya.

Hal ini persis seperti bunga poppy yang terlalu tinggi kemudian dipotong agar sama rata dengan yang lain.

Fenomena ini bisa terjadi di mana saja. Mulai dari tempat kerja, circle pertemanan, bahkan di dalam keluarga.

Yuk, kenali lebih dalam melalui rangkuman Cosmo di bawah ini!

Baca juga: Mengenal Pola Avoidant di Dunia Kerja 


Mengenal Istilah ‘Tall Poppy Syndrome’, Apakah Kamu Salah Satunya?


1. Bisa jadi bermula dari komentar kecil yang terkesan bercanda

Tall Poppy Syndrome tidak selalu muncul dalam bentuk yang obvious. Kadang ia hadir dalam komentar kecil yang terkesan bercanda, seperti, "Ih, sombong banget sekarang," atau "Emang enak ya jadi kamu," saat seseorang baru saja meraih sesuatu yang membanggakan.

Bentuk lainnya bisa berupa gosip di belakang, sikap dingin yang tiba-tiba muncul setelah seseorang naik jabatan, atau bahkan downplaying pencapaian orang lain dengan kalimat seperti "Ah, itu mah kebetulan aja."

Kalau kamu sering melihat atau merasakan pola seperti ini di lingkunganmu, kemungkinan besar TPS sedang bekerja di sana.


2. Berawal dari insecurity

Tall Poppy Syndrome sebenarnya berakar dari rasa tidak aman atau insecurity, dan perbandingan sosial.

Ketika seseorang di sekitar kita berhasil, tanpa sadar otak kita membandingkan pencapaian mereka dengan diri kita sendiri. Dan kalau hasilnya membuat kita merasa ‘kurang’, reaksinya bisa berubah jadi sikap negatif terhadap orang tersebut.

Selain itu, ada juga faktor budaya yang berperan. Di banyak komunitas, menonjol dianggap sebagai hal yang ‘tidak sopan’ atau ‘terlalu show off’, sehingga orang yang sukses justru ditekan untuk tetap rendah hati sampai ke titik menyembunyikan pencapaiannya.

Padahal, ada perbedaan besar antara rendah hati dan merendahkan diri sendiri loh, girls.

Baca juga: 8 Kesalahan Cuci Muka yang Sering Dilakukan 


3. Menyembunyikan keberhasilan agar tidak jadi bahan omongan jadi jalan ninja

Buat orang yang jadi sasaran Tall Poppy Syndrome, dampaknya bisa cukup menyakitkan. 

Mereka bisa mulai merasa harus menyembunyikan keberhasilan agar tidak menjadi bahan omongan, kehilangan kepercayaan diri, atau bahkan menahan diri untuk berkembang karena takut dijauhi lingkungan.

Dalam jangka panjang, ini bisa menghambat potensi seseorang secara signifikan. Bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena tekanan sosial membuat mereka memilih untuk mengecilkan diri.

Ini jelas bukan sesuatu yang sehat, baik untuk individu maupun untuk lingkungan secara keseluruhan.


4. Akibat normalisasi, bisa dilakukan tanpa sadar

Ini bagian yang butuh kejujuran. Coba refleksi sebentar, pernahkah kamu merasa sedikit annoyed saat teman kamu cerita soal pencapaian barunya?

Atau pernah downplay keberhasilan seseorang dengan bilang "Ah, itu kan karena dia beruntung"?

Kalau iya, itu bukan berarti kamu orang jahat. Tapi menyadarinya adalah langkah pertama yang penting.

Coba ganti respons seperti itu dengan rasa ingin tahu. Misalnya, apa yang bisa kamu pelajari dari perjalanan mereka, bagaimana pandangan mereka terkait kesuksesan yang telah mereka raih…

Karena kesuksesan orang lain bukan ancaman. Justru bisa jadi inspirasi kalau kamu mau melihatnya dari sudut pandang yang berbeda~

Baca juga: Mengenal Istilah ‘Fearmongering’ dan Bagaimana Cara Menghadapinya 


5. Jangan biarkan komentar negatif mendefinisikan nilai dirimu

Kalau kamu yang jadi target, hal terpenting adalah jangan biarkan komentar negatif orang lain mendefinisikan nilai dirimu.

Tetap rayakan pencapaianmu dengan cara yang nyaman buatmu, lalu kelilingi dirimu dengan orang-orang yang genuinely senang melihatmu berkembang.

Kalau lingkunganmu memang toksik dan terus-menerus menjatuhkanmu setiap kali kamu maju, itu sinyal kuat untuk mulai memperluas circle atau setidaknya membatasi energi yang kamu berikan ke lingkungan tersebut.

Kamu berhak untuk tumbuh tanpa harus merasa bersalah karenanya!



So, girls, Tall Poppy Syndrome adalah fenomena sosial yang lebih umum dari yang kamu kira. Bahayanya, ini bisa datang dari orang-orang terdekat sekalipun.

Kenali tandanya, pahami akar penyebabnya, dan yang paling penting, jangan biarkan ia menghentikan langkahmu.

Sukses bukan sesuatu yang perlu kamu sembunyikan, dan keberhasilan orang lain bukan sesuatu yang perlu kamu takutkan.

Fighting, Cosmo babes~


(Fishya Elvin/Images: Kadir Akman, Елена Климович, and olia danilevich on Pexels)