Fashion Nation 2026 Angkat Tema New Mode Bersama Empat Desainer Indonesia
Karena fashion bersifat subjektif, sebuah koleksi harus punya perspektif yang kuat. Dan perspektif bisa lahir dari eksplorasi dan juga kolaborasi. Peran fashion dalam menyuguhkan perspektif, baik itu dalam hal berbusana maupun gaya hidup, menjadi perhatian Senayan City yang menjadikannya sebagai tema pada gelaran Fashion Nation pada 25 September 2026.
Bertajuk New Mode, Senayan City menggandeng empat label dengan empat perspektif berbeda dalam hal eksplorasi kreativitas dan kolaborasi di ranah fashion. Keempat label tersebut adalh Ddrue, Studio Vian Heritage, Yosafat Dwi Kurniawan, dan Dibba.
Energi Baru Gaya Sporty dari Ddrue

Ddrue menjadi bukti bagaimana kolaborasi dua desainer dengan visi estetika yang berbeda bisa menciptakan sebuah entitas kreatif yang sinergis. Dana Maulana dari label Danjyo Hiyoji dan Dery Rizkianto dari The Rizkianto menampilkan perspektif baru dalam hal gaya sporty dari label yang mereka namai Ddrue.
Danjyo Hiyoji identik dengan kreasi yang ekspresif dalam hal warna dan siluet, sementara The Rizkianto adalah label dengan garis desain yang feminin, klasik, dan glamor. Ddrue mengetengahkan ciri khas masing-masing dalam nuansa yang berbeda.
Seperti jumpsuit klasik dalam warna beige dan sentuhan neon pada kerah. Lalu padanan kaus dengan rok asimetris dan jaket aksen fringe yang menampilkan gaya bohemian secara lebih kasual namun tetap dramatis tanpa berlebihan.
Fringe menjadi focal point dari koleksi ini. Keduanya menampilkan fringe dalam berbagai busana bergaya modern dan eklektik seperti celana denim, atasan off-shoulder yang dramatis, dan rok panjang mulitwarna.
Studio Vian Heritage Hadirkan Nuansa Glamor yang Sinematik

Fotografi menjadi pilihan kolaborator sekaligus inspirasi dari rancangan Studio Vian Heritage. Bekerja sama dengan Ray Gracious, label ini menjadikan fotografi sebagai bagian dari narasi. Gaun-gaun klasik dengan sentuhan elemen khas Tiongkok tampil elegan.Ada nuansa sinematik yang menyertainya.
Warna-warna redup yang menjadi pilihan juga seolah membuktikan bahwa nuansa glamor dan elegan tak harus selalu berteriak. Selain itu membuatnya memberi Anda ruang kebebasan untuk bereksplorasi dengan perhiasan maupun untuk memadukan dengan busana lainnya.
Yosafat Dwi Kurniawan Bawa Sensualitas di Menswear

Berbicara film, Yosafat Dwi Kurniawan menjadikan film Arisan! 2 sebagai sumber inspirasi koleksi menswear terbarunya. Jika di ranah busana perempuan Yosafat lekat dengan kreasi gaun glamor, di lini busana pria, ia menerapkan pendekatan yang lebih kasual dan sensual.
Film Arisan! 2 mengupas tentang petualangan pencarian jati diri masyarakat urban dan juga keinginan menemukan sebuah sanctuary di tengah segala hiruk pikuk kehidupan. Yosafat menerjemahkannya dalam busana santai seperti kemeja, atasan tanpa lengan, dan celana kulot. Warna biru menjadi penanda laut yang juga menjadi latar dari film sekaligus eskapisme.
Yosafat juga mengemas rancangannya dalam nuansa yang seksi dan sensual. Keseksian tidak selalu dihadirkan secara eksplisit namun lewat detail cut-out. Eksplorasi juga terlihat dalam detail motif grafis yang terinspirasi wastra pada kemeja.
Menilik dari aspek pragmatis, variasi busana yang ditampilkan menjadi bukti sensibilitas Yosafat dalam menghadirkan koleksi yang menjawab kebutuhan masyarakat urban yang dinamis: mudah dipadupadankan.
Di sisi lain, hal tersebut juga menunjukkan kontemplasi panjang sang desainer akan sejauh mana ia dapat bereksplorasi tanpa melupakan narasi dan tentunya estetika pribadi. Dalam keterangan pers, sang desainer mengaku bahwa koleksi ini merefleksikan kegelisahan pribadi. “Di kala saya diselimuti kegelisahan, saya menemukan pencerahan dikala travelling”, jelasnya.
Hidup adalah tentang pencarian identitas diri dan mode menjadi cara untuk mengekspresikannya.
Dibba Eksplorasi Gaya Era ‘80-an

Dibba adalah tentang mode yang ekspresif. Untuk koleksi terbarunya, Faisal Shah selaku desainer bereksplorasi dengan era ‘80-an dengan menampilkan siluet bahu tegas, warna mencolok, dan gaun berpotongan seksi. Tiap busana tampil selayaknya sebuah karakter. Dalam pengerjaannya, Dibba juga bekerja sama dengan Purwarupa dalam hal detail tiga dimensi.
Era ‘80-an adalah tentang gaya glamor yang penuh warna dan dramatis. Ia juga menjadi simbol bagaimana tiada batasan dalam merayakan pencapaian diri. Namun koleksi ini bukan tentang hedonis atau pun nostalgia. Ada gaya konservatif yang mungkin coba didobraknya. Lebih lanjut lagi, Dibba menunjukkan bahwa mode adalah medium ekspresi tanpa batas.