Rekomendasi Novel dari Penulis ‘The Vegetarian’, Han Kang!
Cosmo babes, kalau kamu sudah membaca ‘The Vegetarian’ dan merasa seperti buku itu membutuhkan waktu untuk dicerna, kamu tidak salah.
Han Kang memang bukan penulis yang menulis untuk membuatmu nyaman. Ia menulis untuk membuatmu berpikir, merasa, dan duduk diam dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu punya jawaban mudah.
Lahir 27 November 1970 di Gwangju, Korea Selatan, Han Kang tumbuh dalam keluarga sastrawan. Ayahnya, Han Seung-won, adalah salah satu novelis paling dihormati di Korea.
Ia mulai berkarir sebagai penyair sebelum beralih ke prosa, dan sejak debutnya ia selalu dikenal dengan satu hal, yaitu kemampuan untuk menulis tentang tubuh, trauma, dan kondisi manusia dengan prosa yang sangat puitis.
Pada Oktober 2024, Han Kang menjadi perempuan Asia pertama yang memenangkan Nobel Prize in Literature, sebuah pengakuan atas seluruh karyanya yang, menurut komite Nobel, menghadapi trauma sejarah sambil mengekspos kerapuhan kehidupan manusia.
Jadi penasaran dengan semua karya-karyanya bukan, Cosmo babes?
Kalau ‘The Vegetarian’ adalah pintu masukmu ke dunia Han Kang, ini empat novel berikutnya yang menunggumu di balik pintu tersebut…
Rekomendasi Novel dari Penulis ‘The Vegetarian’, Han Kang!
1. Human Acts (2014)

Kalau ‘The Vegetarian’ adalah Han Kang yang paling intim dan psikologis, ‘Human Acts’ adalah Han Kang yang paling marah, dan mungkin yang paling penting untuk dibaca.
‘Human Acts’ berlatar di Gwangju, kota kelahiran Han Kang sendiri, di sekitar peristiwa Gwangju Uprising pada Mei 1980, ketika tentara rezim militer Korea Selatan menumpas demonstrasi mahasiswa dengan kekerasan yang brutal dan meninggalkan ratusan korban jiwa.
Novel ini mengisahkan banyak suara berbeda. Mulai dari seorang anak laki-laki yang mencari jenazah sahabatnya, seorang gadis yang selamat dan membawa luka itu seumur hidup, bahkan arwah yang berkeliaran di antara tumpukan mayat.
Han Kang menulis tentang kekerasan negara dengan cara yang sangat langsung tapi tidak pernah terasa eksploitatif, dan hasilnya adalah sebuah novel yang membuatmu bertanya, “Apa artinya menjadi manusia di tengah dunia yang bisa sebegitu kejamnya?”
Baca juga: Rekomendasi Buku yang Dibaca Lily NMIXX!
2. The White Book (2016)

Ini adalah karya Han Kang yang berisikan prosa-prosa pendek. Seperti sebuah meditasi panjang yang hanya menuliskan tentang satu warna… yaitu putih.
Salju. Bulan. Kapas. Kertas. Garam. Han Kang mengumpulkan benda-benda putih dan menggunakannya sebagai jendela untuk menceritakan sesuatu yang sangat personal.
Buku ini tentang kakak perempuannya yang meninggal hanya dua jam setelah lahir, bertahun-tahun sebelum Han Kang sendiri lahir ke dunia.
Seorang saudara yang tidak pernah ia kenal, tapi kehadirannya (atau ketidakhadirannya) terus terasa sepanjang hidupnya.
‘The White Book’ adalah buku yang paling tenang dari semua karya Han Kang, tapi justru karena itu ia bisa menghantam di momen yang paling tidak terduga.
Tipis, bisa dibaca dalam satu duduk, tapi tidak akan hilang dari kepalamu dalam waktu lama.
3. Greek Lessons (2011, terjemahan Inggris 2023)

Novel ini adalah yang paling ‘sunyi’ dari semua karya Han Kang. Dan dalam kesunyannya, ia menjadi sangat indah.
‘Greek Lessons’ mengisahkan dua orang yang bertemu di sebuah kelas bahasa Yunani kuno di Seoul. Dua orang ini terdiri dari seorang perempuan yang secara perlahan kehilangan kemampuan bicaranya setelah serangkaian kehilangan besar dalam hidupnya, dan seorang pengajar laki-laki yang secara perlahan kehilangan penglihatannya.
Keduanya berkomunikasi melalui keterbatasan. Tulisan tangan di telapak tangan, gerakan kecil, kata-kata yang dipilih dengan sangat hati-hati.
Han Kang menulis tentang bahasa, ketubuhan, dan cara manusia mencari koneksi bahkan ketika alat-alat untuk terhubung perlahan diambil dari mereka. Novel ini adalah pertanyaan yang sangat panjang tentang, “Apa yang tersisa dari kita ketika kata-kata tidak lagi bisa menjangkau?”
Baca juga: Suka Novel ‘We Were Liars’? Ini Rekomendasi Novel Lain dari E. Lockhart
4. We Do Not Part (2021, terjemahan Inggris 2025)

Ini adalah novel Han Kang yang paling baru dan paling ambisius, serta yang pertama kali terbit dalam terjemahan Inggris pada Januari 2025, tepat beberapa bulan setelah ia menerima Nobel.
‘We Do Not Part’ mengisahkan seorang penulis bernama Kyungha yang melakukan perjalanan ke Pulau Jeju di tengah badai salju untuk merawat burung peliharaan sahabatnya yang sedang dirawat di rumah sakit.
Di sana, ia mulai menggali sejarah kelam yang pernah terjadi di pulau itu. Jeju Uprising 1948-1949, di mana puluhan ribu penduduk sipil dibunuh oleh pemerintah dalam operasi anti-komunis yang brutal dan selama puluhan tahun nyaris tidak pernah dibicarakan secara terbuka.
Seperti ‘Human Acts’, Han Kang menulis tentang luka kolektif yang diwariskan turun-temurun, tapi kali ini dengan cara yang lebih personal.
Novel yang sangat tepat untuk dibaca setelah kamu sudah akrab dengan cara bercerita Han Kang.
So, girls, dari trauma sejarah yang gelap, meditasi tentang kehilangan yang sangat personal, hingga dua jiwa yang mencari koneksi dalam kesunyian, karya-karya Han Kang selalu kembali pada pertanyaan yang sama.
Apa yang membuat kita tetap manusia di tengah hal-hal yang seharusnya bisa menghancurkan kita?
Tidak ada jawaban mudah, tapi perjalanan mencarinya bersama Han Kang selalu layak untuk ditempuh.
Happy reading, Cosmo babes!
Baca juga: Kamu Suka ‘The Bell Jar’ Karya Sylvia Plath? Ini Rekomendasi Novel yang Serupa!
(Fishya Elvin/Images: Armin Rimoldi on Pexels and Goodreads)