Kamu Suka ‘The Bell Jar’ Karya Sylvia Plath? Ini Rekomendasi Novel yang Serupa!
Cosmo babes, kalau kamu pernah membaca novel ‘The Bell Jar’ dan merasa seperti buku itu ditulis khusus untukmu… selamat datang di klub yang cukup besar tapi jarang berbincang secara terbuka.
Novel semi-autobiografi Sylvia Plath yang pertama kali terbit pada 1963 ini mengisahkan Esther Greenwood, seorang mahasiswi berbakat yang perlahan kehilangan pijakannya di tengah ekspektasi dunia yang tidak pernah terasa cukup ramah untuknya.
Gelap, jujur, dan ditulis dengan prosa yang indah sekaligus menyayat hati, ‘The Bell Jar’ adalah buku yang sulit dilupakan.
Kabar buruknya, girls, Sylvia Plath hanya menulis satu novel. Dan ketika halaman terakhir dari ‘The Bell Jar’ sudah tertutup, rasanya seperti ada lubang yang tidak mudah diisi.
Kabar baiknya, penulis-penulis generasi sekarang terus mewarisi kejujuran yang sama yang membuat ‘The Bell Jar’ begitu powerful. Beberapa di antaranya bahkan berhasil memperbarui percakapan itu untuk dunia yang kita tinggali sekarang.
Yuk, cek buku yang telah Cosmo kurasi untuk kamu di bawah ini:
Kamu suka ‘The Bell Jar’ Karya Sylvia Plath? Ini Rekomendasi Novel yang Serupa!
1. My Year of Rest and Relaxation oleh Ottessa Moshfegh

Kalau ‘The Bell Jar’ adalah versi tahun 1960-an, ‘My Year of Rest and Relaxation’ adalah versi yang lahir di era TikTok, Xanax, dan New York yang mahal, dan sama menyakitkan hatinya…
Novel Ottessa Moshfegh ini berkisah tentang seorang perempuan yang di permukaan tampak punya segalanya. Muda, menarik, lulusan Columbia University, dengan pekerjaan santai di galeri seni yang keren.
Tapi alih-alih menjalani hidupnya, ia memutuskan untuk menghabiskan satu tahun penuh tidur, dengan bantuan koktail obat-obatan yang diresepkan oleh psikiater yang lebih eksentrik dari dirinya sendiri.
Moshfegh menulis dengan humor gelap yang sangat khas, dan detachment tokohnya terhadap dunia di sekitarnya akan terasa sangat familiar bagi siapapun yang pernah merasa bahwa cara termudah untuk menghadapi hidup adalah dengan tidak menghadapinya sama sekali.
Baca juga: Rekomendasi Buku yang Dibaca Hanni NewJeans!
2. Conversations with Friends oleh Sally Rooney

Sebelum ‘Normal People’ meledak jadi series HBO, Sally Rooney menulis debut novel ini. Dan dalam banyak hal, ini adalah karya Rooney yang paling tajam dan paling dingin secara emosional.
‘Conversations with Friends’ mengikuti Frances, seorang mahasiswi Dublin yang cerdas dan sarkastik, yang terjebak dalam hubungan yang semakin rumit dengan pasangan suami istri yang lebih tua.
Rooney menulis tentang keinginan, kekuasaan dalam hubungan, dan cara perempuan muda belajar (atau gagal belajar) untuk mengartikulasikan apa yang mereka rasakan dan butuhkan.
Frances punya kesamaan yang kuat dengan Esther Greenwood, yaitu keduanya adalah perempuan yang sangat observatif, sangat sadar diri, dan sangat tidak yakin tentang siapa mereka sebenarnya di balik semua kecerdasan yang mereka miliki.
3. Freshwater oleh Akwaeke Emezi

‘Freshwater’ karya Akwaeke Emezi adalah novel semi-autobiografi yang mengisahkan Ada, seorang perempuan Nigeria-Amerika yang lahir dengan beberapa entitas berbeda di dalam dirinya, masing-masing dengan suara dan keinginan mereka sendiri.
Di mana ‘The Bell Jar’ mengeksplorasi perpecahan identitas lewat lensa psikiatri Barat, ‘Freshwater’ mendekatinya lewat mitologi Igbo dan spiritualitas.
Gaya penulisannya sangat lirikal dan kadang terasa seperti mimpi, tapi justru itulah yang membuatnya begitu kuat.
Percaya deh, buku ini akan menjadi buku yang mengubah cara kamu memikirkan identitas, tubuh, dan kesehatan mental.
Baca juga: Rekomendasi Buku yang Dibaca Karina aespa
4. The Collected Schizophrenias oleh Esmé Weijun Wang

Untuk pembaca yang suka ‘The Bell Jar’ karena kejujurannya yang tidak disaring tentang pengalaman hidup dengan gangguan mental, buku esai Esmé Weijun Wang ini adalah lanjutan yang sangat sempurna.
‘The Collected Schizophrenias’ adalah kumpulan tiga belas esai personal tentang hidup Weijun Wang dengan schizoaffective disorder, dari proses diagnosis yang panjang dan melelahkan, hingga cara ia belajar menavigasi dunia yang tidak selalu ramah pada mereka yang pikirannya bekerja dengan cara yang berbeda.
Wang menulis dengan presisi dan keindahan yang luar biasa, yang dimana seakan menyerukan bahwa ia juga penulis, bukan hanya penderita.
Buku ini adalah salah satu karya paling penting dalam literatur kesehatan mental kontemporer. Bagi pembaca yang mencari eksplorasi kontemporer berbasis esai tentang penyakit mental, buku ini adalah pilihan yang tak terlupakan.
5. Tender is the Flesh oleh Agustina Bazterrica

Buku terakhir ini adalah peringatan… bahwa ini bukan untuk pembaca yang mudah terguncang.
Tapi untuk fans ‘The Bell Jar’ yang menghargai cara Plath menggunakan fiksi untuk mengkritik struktur sosial yang menekan, ‘Tender is the Flesh’ karya penulis Argentina Agustina Bazterrica akan terasa seperti menemukan saudara yang sangat berbeda tapi sangat satu frekuensi.
Berlatar di dunia distopia di mana penyakit telah memusnahkan semua hewan, manusia mulai membangun industri untuk "mengonsumsi" sesama manusia. Semuanya dilegalkan, diatur, diberi merek, dan dinormalisasi.
Bazterrica tidak menulis ini sebagai horror murni, tapi sebagai kritik sosial yang sangat pedas tentang dehumanisasi, kapitalisme, dan cara masyarakat membangun sistem untuk membuat hal-hal yang paling kejam pun terasa wajar.
Tidak nyaman, tidak mudah dilupakan, dan justru karena itulah ia layak ada di daftar ini.
Baca juga: Rekomendasi Buku yang Dibaca Gawon MEOVV!
So, girls, dari perempuan yang memilih tidur selama setahun penuh, sampai novel distopia tentang dehumanisasi, kelima buku ini punya satu benang merah yang menghubungkan mereka dengan ‘The Bell Jar’, yakni keberanian untuk mengatakan hal-hal yang tidak nyaman tentang dunia dan tentang diri sendiri.
Kalau ‘The Bell Jar’ membuat kamu merasa dilihat, buku-buku ini siap melanjutkan percakapan itu dengan cara yang sangat relevan untuk zaman sekarang.
Happy reading, Cosmo babes~
(Fishya Elvin/Images: Sam Lion on Pexels and Goodreads)