Mengapa Kita Terus Terjebak dengan Tipe Pasangan yang Mirip?

Redaksi 2 02 Jun 2026

Cosmo babes, pernah tidak sih kamu melihat kembali riwayat hubunganmu dan tiba-tiba menyadari sesuatu?

Mungkin nama mereka berbeda. Penampilan mereka juga berbeda. Cara mereka mendekatimu pun tidak selalu sama.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ternyata mereka memiliki pola yang mirip.

Sama-sama sulit berkomitmen. Sama-sama kurang konsisten. Sama-sama membuatmu overthinking. Atau mungkin sama-sama membutuhkan banyak perhatian tanpa benar-benar memberikan kepastian.

Kalau hal ini pernah kamu sadari, kamu tidak sendirian.

Banyak orang tanpa sadar terus terjebak dengan tipe pasangan yang mirip. Dan menariknya, hal ini sering kali bukan karena kebetulan. Ada alasan psikologis dan emosional yang membuat kita terus tertarik pada pola yang sama, meskipun pola tersebut belum tentu baik untuk kita.

Nah girls, yuk cari tahu kenapa hal ini bisa terjadi.


Mengapa Kita Terus Terjebak dengan Tipe Pasangan yang Mirip?


1. Kita sering tertarik pada sesuatu yang terasa familiar

Salah satu alasan terbesar adalah karena otak manusia menyukai hal-hal yang terasa familiar.

Anehnya, familiar tidak selalu berarti sehat.

Kalau sejak dulu kamu terbiasa dengan hubungan yang penuh ketidakpastian, pasangan yang sulit ditebak, atau orang yang harus "dikejar", tanpa sadar otakmu bisa menganggap pola itu sebagai sesuatu yang normal.

Akibatnya, saat bertemu seseorang yang benar-benar stabil, konsisten, dan jelas, kamu malah merasa aneh atau bahkan kurang tertarik.

Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kamu sedang berhadapan dengan sesuatu yang belum terbiasa kamu rasakan.

Baca juga: Cara Mengubah Pola Cinta yang Obsesif Jadi Lebih Sehat 


2. Kita sering jatuh cinta pada potensi, bukan realita

Pernah merasa tertarik pada seseorang karena kamu melihat "potensinya"?

Misalnya, kamu berpikir,

"Kalau dia lebih dewasa sedikit, dia pasti pasangan yang baik."
"Kalau dia lebih terbuka, hubungan ini pasti berhasil."
"Kalau dia berubah, semuanya akan sempurna."

Masalahnya, kamu akhirnya jatuh cinta pada versi dirinya yang belum tentu ada.

Dan ketika hubungan berakhir, kamu kembali menemukan orang lain dengan masalah yang mirip karena lagi-lagi kamu melihat potensi yang sama.

Tanpa sadar, kamu terus mengulang siklus memperbaiki orang yang sebenarnya belum siap untuk berubah.


3. Ada pola emosional yang belum selesai dalam diri kita

Kadang yang membuat kita memilih pasangan yang mirip bukan karena mereka spesial, melainkan karena mereka memicu luka atau kebutuhan emosional yang sama.

Misalnya, seseorang yang selalu mencari validasi mungkin cenderung tertarik pada pasangan yang sulit memberikan kepastian.

Kenapa?

Karena saat akhirnya mendapatkan sedikit perhatian dari orang tersebut, rasanya seperti kemenangan besar.

Padahal hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat kita terus-menerus berjuang untuk mendapatkan cinta yang layak.

Sering kali kita bukan sedang mencari pasangan baru, tapi sedang mencoba "menyelesaikan" luka lama melalui orang yang berbeda.

Baca juga: Cara Berdamai dengan Hubungan yang Tidak Bisa Kembali 


4. Kita mengira chemistry adalah tanda kecocokan

Ini salah satu kesalahpahaman yang paling umum.

Saat bertemu seseorang yang membuat jantung berdebar, kita langsung berpikir, "Wah, ini chemistry banget."

Padahal chemistry dan compatibility adalah dua hal yang berbeda.

Terkadang chemistry yang sangat kuat justru muncul karena orang tersebut mengaktifkan pola hubungan yang sudah familiar bagi kita.

Makanya ada hubungan yang terasa sangat intens di awal, tapi selalu berakhir dengan cara yang sama.

Sementara hubungan yang sehat sering kali terasa lebih tenang, stabil, dan tidak penuh drama.


5. Kita belum benar-benar mengubah standar yang dimiliki

Setelah putus, banyak orang berkata, "Aku tidak mau ketemu orang seperti mantanku lagi."

Tapi saat mulai mengenal orang baru, mereka tetap tertarik pada karakteristik yang sama. Misalnya, suka orang yang misterius, orang yang sulit didekati, ataupun orang yang memberikan perhatian secara tidak konsisten.

Akhirnya, walaupun orangnya berbeda, hasilnya tetap mirip.

Karena yang belum berubah bukan hanya pilihan pasangan, tetapi juga standar dan pola ketertarikan yang ada di dalam diri.

Baca juga: Tanda Pasangan Tidak Menghargai Batasan 


6. Kita takut pada hubungan yang benar-benar sehat

Ini mungkin terdengar aneh, tapi cukup sering terjadi.

Saat terbiasa dengan hubungan yang penuh naik turun emosi, hubungan yang stabil bisa terasa membosankan. Tidak ada drama, tidak ada tarik-ulur, dan tidak ada rasa cemas menunggu balasan chat.

Dan justru karena terlalu tenang, kita mengira tidak ada spark.

Padahal yang hilang bukan chemistry, melainkan kecemasan yang selama ini kita salah artikan sebagai cinta.



So, girls, kalau kamu merasa terus bertemu dengan tipe pasangan yang mirip, jangan langsung menyalahkan nasib atau menganggap dirimu tidak beruntung dalam cinta.

Sering kali, pola tersebut muncul karena ada sesuatu dalam diri kita yang masih memilih hal-hal yang familiar, meskipun tidak selalu sehat.

Kabar baiknya, pola bisa diubah.

Semakin kamu mengenal diri sendiri, memahami kebutuhan emosionalmu, dan berani menetapkan standar yang lebih sehat, semakin besar peluangmu untuk memilih pasangan yang berbeda dari sebelumnya.

Karena terkadang, perubahan terbesar dalam hubungan yang kita jalani bukan dimulai dari menemukan orang baru, tetapi dari berani memilih sesuatu yang berbeda dari pola lama yang selama ini terus kamu ulangi.


(Fishya Elvin/Images: MART PRODUCTION, Vika Glitter, and cottonbro studio on Pexels)