Rekomendasi Buku yang Dibaca Juhoon CORTIS
Cosmo babes, di antara lima member CORTIS, Juhoon mungkin adalah member yang paling low-key, tapi justru itulah yang bikin sisi-sisi tersembunyinya mengejutkan.
Kim Juhoon, lahir 3 Januari 2008, dikenal sebagai sosok yang tenang, thoughtful, dan punya selera yang jauh lebih dalam dari kesan pertama. Salah satu contoh paling nyata? Hobinya membaca buku.
Yang membuat Juhoon spesial adalah alasannya membaca. Ia menjadikan buku sebagai cara untuk mengurangi waktu screen time-nya. Di era di mana hampir semua orang susah lepas dari HP, Juhoon justru dengan sadar memilih buku sebagai penggantinya.
Dan, bukan cuma sesekali loh, girls. Fan account yang rutin mendokumentasikan aktivitasnya mencatat setidaknya sembilan buku yang sudah ia baca dan bagikan kepada penggemar, mulai dari Honmono karya Seong Haena, I Said Goodbye karya Kim Ae Ran, Live Cherishing Yourself karya Na Tae Joo, sampai Übermensch karya Nietzsche.
Sembilan buku loh, dan ia baru debut Agustus 2025!
Nah, dari semua buku di daftar panjang Juhoon, ini lima yang paling menarik untuk kamu ketahui~
Rekomendasi Buku yang Dibaca Juhoon CORTIS
1. Demian oleh Hermann Hesse

Kalau kamu mengikuti dunia K-pop dan literasi, Demian karya Hermann Hesse bukan nama yang asing. Ada alasan kuat kenapa buku ini terus-terusan muncul di reading list para idol yang punya kedalaman berpikir, termasuk Juhoon.
Demian mengisahkan perjalanan Emil Sinclair, seorang remaja yang merasa terjebak di antara dua dunia, yaitu dunia terang yang penuh aturan sosial dan ekspektasi, serta dunia gelap yang penuh kebebasan dan pertanyaan-pertanyaan besar tentang diri sendiri.
Lewat persahabatannya dengan Max Demian yang misterius, Emil perlahan menemukan jalannya sendiri.
Buat Juhoon yang pernah mengaku bahwa keputusan untuk menjadi idol diambil dengan menimbang penyesalan mana yang lebih besar (meninggalkan sepak bola atau mencoba dunia musik) tema Demian tentang menemukan identitas di tengah persimpangan hidup pasti sangat terasa dekat.
Baca juga: Rekomendasi Buku yang Dibaca Hyunjin Stray Kids
2. Pavane for a Dead Princess oleh Park Min-gyu

Ini adalah salah satu novel Korea kontemporer yang paling dibicarakan, dan Juhoon rupanya sudah lebih dulu membacanya.
Menariknya, buku ini juga sudah diadaptasi menjadi film Netflix Korea yang tayang Februari 2026. Jadi, kalau kamu baca bukunya sekarang, bisa sekalian nonton filmnya!
Pavane for a Dead Princess mengisahkan tiga orang yang bekerja di sebuah department store dan merasa kesepian dengan cara masing-masing. Mereka bertemu secara kebetulan, dan perlahan menjadi cahaya satu sama lain.
Buku ini meminjam judulnya dari komposisi piano klasik Maurice Ravel, dan gaya penulisan Park Min-gyu memang punya kualitas yang musikal dan puitis.
Cerita yang tampak sederhana di permukaan, tapi punya kedalaman emosi yang diam-diam menghantam. Definitely a must read~
3. The Art of Loving oleh Erich Fromm

Di antara semua buku di daftar Juhoon, ini mungkin yang paling serius secara intelektual… dan itu justru bikin makin menarik.
The Art of Loving karya Erich Fromm, psikolog dan filsuf Jerman-Amerika, bukan buku tentang tips pacaran atau cara mendapatkan seseorang. Jauh dari itu.
Fromm berargumen bahwa mencintai adalah sebuah seni yang harus dipelajari dan dipraktikkan, sama seperti seni musik atau melukis.
Kebanyakan orang fokus pada dicintai atau menemukan orang yang tepat, padahal masalah sebenarnya ada pada kapasitas kita untuk mencintai itu sendiri.
Fromm membahas berbagai bentuk cinta, mulai dari cinta romantis, cinta terhadap sesama manusia, cinta terhadap Tuhan, dan yang paling mendasar adalah cinta terhadap diri sendiri.
Buku yang tipis tapi sangat padat, dan mungkin salah satu buku tentang cinta yang paling jujur yang pernah ditulis!
Baca juga: Rekomendasi Buku yang Dibaca Martin CORTIS
4. Goethe Said Everything oleh Yui Suzuki

Fakta bahwa Juhoon membaca buku ini cukup mengejutkan dan menyenangkan.
Goethe Said Everything karya Yui Suzuki adalah buku Jepang yang mengumpulkan dan menafsirkan kutipan-kutipan dari Johann Wolfgang von Goethe, salah satu penulis dan filsuf terbesar Jerman, dalam bahasa yang ringan dan mudah dicerna untuk pembaca modern.
Goethe adalah sosok yang hidupnya sangat produktif dan penuh dengan pemikiran tentang cinta, kreativitas, alam, dan kondisi manusia, dan Yui Suzuki berhasil membuat pemikiran-pemikirannya terasa relevan bahkan untuk Gen Z.
Pilihan yang cukup unik untuk seorang idol 17 tahun, dan justru itulah yang membuatnya menarik.
5. The Subtle Art of Not Giving a F*ck oleh Mark Manson

Buku ini juga ada di reading list Martin, member CORTIS lainnya, dan ada kemungkinan besar mereka saling merekomendasikannya satu sama lain.
The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson memang buku yang susah untuk tidak direkomendasikan ke orang-orang sekitar setelah membacanya.
Berbeda dari buku self-help pada umumnya yang mendorongmu untuk selalu berpikir positif, Manson justru mengajak pembaca untuk berhenti berpura-pura bahwa hidup selalu baik-baik saja.
Menurutnya, kebahagiaan yang sejati bukan berasal dari menghindari masalah, tapi dari belajar memilih masalah mana yang benar-benar layak kamu pedulikan. Buat Juhoon yang mengambil keputusan besar dalam hidupnya dengan cara yang sangat bijak dan terukur, pesan buku ini mungkin sudah ia praktikkan bahkan sebelum membacanya.
Baca juga: Intip Bacaan Sunoo ENHYPEN, dan Rekomendasi Buku yang Mirip!
So, girls, dari filsafat Goethe yang ratusan tahun lalu, novel Korea yang baru diadaptasi jadi film Netflix, sampai buku self-help yang viral di seluruh dunia, Juhoon membuktikan bahwa mengurangi screen time bukan harus membosankan.
Kalau kamu juga lagi berusaha lepas dari HP tapi bingung mulai dari mana, coba deh contek cara Juhoon. Ganti scroll-an dengan salah satu buku di atas!
(Fishya Elvin/Images: @cortis from Instagram and Goodreads)