Suka Novel ‘Laut Bercerita’? Ini Rekomendasi Novel Lain yang Tidak Kalah Sedih!
Cosmo babes, kalau kamu pernah membaca ‘Laut Bercerita’ karya Leila S. Chudori dan merasa seperti ada sesuatu yang berat tertinggal di dadamu jauh setelah buku itu ditutup, kamu tidak sendirian.
Novel yang mengisahkan Biru Laut, seorang aktivis mahasiswa yang hilang di tangan rezim Orde Baru, ini memang bukan buku yang bisa kamu baca lalu lupakan begitu saja.
Ia menyayat dengan perlahan, memperkenalkanmu pada orang-orang yang kamu cintai, lalu mencabut mereka dari hadapanmu. Persis seperti yang terjadi di dunia nyata.
Tapi apa yang kamu lakukan setelah selesai membaca buku seperti itu? Kadang, yang paling kamu butuhkan justru bukan mengalihkan perhatian, tapi menemukan buku lain yang bisa duduk bersamamu di dalam kesedihan yang sama.
Ini lima novel yang sudah Cosmo kurasikan untuk kamu…
Suka Novel ‘Laut Bercerita’? Ini Rekomendasi Novel Lain yang Tidak Kalah Sedih!
1. Pulang oleh Leila S. Chudori

Sebelum ‘Laut Bercerita’, Leila S. Chudori menulis ‘Pulang’. Dan kalau kamu belum membacanya setelah selesai dengan ‘Laut Bercerita’, inilah saatnya.
Keduanya lahir dari tangan dan hati yang sama, dan keduanya bicara tentang luka sejarah Indonesia yang belum benar-benar sembuh.
‘Pulang’ mengisahkan Dimas Suryo, seorang wartawan Indonesia yang terjebak di Paris saat peristiwa 1965 meletus dan tidak bisa kembali ke tanah airnya seumur hidup, karena ia dicap sebagai simpatisan PKI.
Ia membangun hidup baru di Prancis, tapi "pulang" tidak pernah berhenti menjadi kata yang paling berat di kamusnya. Cerita kemudian dilanjutkan oleh putrinya, Lintang, yang akhirnya bertolak ke Indonesia untuk mencari jejak ayahnya.
Leila S. Chudori menulis tentang pengasingan, identitas, dan kerinduan akan rumah dengan cara yang sangat indah dan sangat menyakitkan. Bagi yang sudah akrab dengan ‘Laut Bercerita’, membaca ‘Pulang’ terasa seperti menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang.
Baca juga: Kamu Suka ‘The Bell Jar’ Karya Sylvia Plath? Ini Rekomendasi Novel yang Serupa!
2. A Thousand Splendid Suns oleh Khaled Hosseini

Kalau ‘Laut Bercerita’ membuatmu marah pada kekuasaan yang menghancurkan manusia, ‘A Thousand Splendid Suns’ akan membuatmu merasakan hal yang sama, tapi kali ini dari perspektif dua perempuan Afghanistan yang hidup di bawah tiga rezim berbeda selama lebih dari tiga dekade.
Mariam dan Laila adalah dua perempuan dari generasi berbeda yang dipertemukan takdir dalam satu rumah tangga yang penuh kekerasan. Dari pemerintahan komunis hingga Taliban, kehidupan mereka terus dibentuk ulang oleh kekuatan-kekuatan besar yang tidak pernah mereka minta.
Hosseini menulis tentang persahabatan dan solidaritas perempuan dengan cara yang sangat hangat di tengah latar yang sangat kelam, dan itulah yang membuat buku ini begitu sulit untuk dilupakan.
Kamu perlu menyiapkan tisu!
3. The Kite Runner oleh Khaled Hosseini

Masih dari Khaled Hosseini, dan masih dari Afghanistan, tapi kali ini kamu akan diajak masuk ke dalam sebuah pengkhianatan yang akan terus menghantui tokoh utamanya selama puluhan tahun.
‘The Kite Runner’ mengisahkan Amir, seorang anak lelaki dari keluarga kaya Kabul, dan Hassan, putra pembantu rumah tangganya yang juga sahabat karibnya.
Satu kejadian di musim dingin 1975 mengubah segalanya, dan rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar dihadapi Amir terus mengikutinya bahkan setelah ia pindah ke Amerika dan membangun kehidupan baru.
‘The Kite Runner’ adalah novel tentang pengecut dan penebusan, tentang betapa mahalnya harga dari diam di saat yang salah. Kalau di ‘Laut Bercerita’ kamu menangis karena kehilangan, di sini kamu mungkin akan menangis karena pengkhianatan… yang kadang terasa lebih menyakitkan.
Baca juga: Rekomendasi Buku yang Dibaca Hanni NewJeans!
4. As Long As Lemon Trees Grow oleh Zoulfa Katouh

Novel debut Zoulfa Katouh ini berlatar di Homs, Suriah, di tahun-tahun awal perang saudara yang menghancurkan negeri itu.
Ia memilih momen yang paling gelap dari sejarah kontemporer sebagai latar untuk sebuah kisah tentang bertahan hidup dan memilih antara melarikan diri atau tetap berjuang.
Salama adalah seorang mahasiswi farmasi yang bekerja di rumah sakit darurat di tengah bom yang jatuh setiap hari. Ia bermimpi untuk pergi, tapi ada bagian dari dirinya yang tidak bisa meninggalkan orang-orang yang membutuhkan bantuannya.
‘As Long As Lemon Trees Grow’ memang ditulis dengan tone YA romance, dimana ada unsur cinta di dalamnya, tapi jangan biarkan itu menipu kamu. ‘Laut Bercerita’ pun juga memiliki unsur romansanya sendiri, tetapi akhirnya tragis.
Konteks perangnya sangat nyata dan sangat berat, dan Katouh menulis tentang trauma kolektif sebuah bangsa dengan kejujuran yang menghantam.
Bagi yang pernah membaca ‘Laut Bercerita’ dan penasaran dengan bagaimana rakyat biasa bertahan di tengah kekacauan politik, buku ini menjawab pertanyaan itu dari sudut yang sangat personal.
5. A Little Life oleh Hanya Yanagihara

Sebuah peringatan sebelum membaca buku ini, ‘A Little Life’ adalah salah satu novel paling berat yang pernah ditulis dalam sastra kontemporer.
Bukan berat dalam artian membosankan, tapi berat dalam artian ia akan menguras kamu secara emosional dengan cara yang tidak bisa kamu persiapkan sepenuhnya, tidak peduli seberapa banyak yang sudah kamu baca tentangnya sebelumnya.
‘A Little Life’ mengikuti empat sahabat yang pindah ke New York setelah lulus kuliah, dan secara perlahan fokus cerita menyempit pada Jude St. Francis, seorang pengacara berbakat dengan masa lalu yang perlahan terungkap sepanjang lebih dari 700 halaman.
Yanagihara menulis tentang trauma, bertahan hidup, dan arti persahabatan yang sangat mendalam. Seperti ‘Laut Bercerita’, buku ini membuatmu jatuh cinta pada tokoh-tokohnya, lalu membuatmu menanggung bersama mereka hal-hal yang tidak seharusnya harus ditanggung siapapun.
Tidak untuk semua orang, tapi kalau kamu siap, ini adalah pengalaman membaca yang tidak akan terlupakan seumur hidup.
Baca juga: Rekomendasi Buku yang Dibaca Gawon MEOVV!
So, girls, lima novel dengan lima latar dan lima jenis kesedihan yang berbeda, tapi semuanya punya satu hal yang sama dengan ‘Laut Bercerita’, yaitu keberanian untuk tidak memalingkan muka dari kenyataan yang paling sulit.
Kalau kamu siap untuk itu, salah satu dari buku di atas menunggumu.
(Fishya Elvin/Images: Nhà văn on Pexels and Goodreads)